Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Selama kata ‘kita’ dilibatkan, aku tak peduli dengan yang lainnya.

“Aku terbuka untuk tawaran lain,” kataku. “Tapi aku punya satu permintaan.”

Ia tampak waswas, seperti biasa setiap kali aku melontarkan pertanyaan terbuka. “Apa?”

“Boleh aku yang mengemudi?”

Ia merengut. “Kenapa?”

“Well, terutama karena waktu kubilang kepada Charlie akan pergi ke Seattle, dia secara spesifik bertanya apakah aku pergi sendirian, dan waktu itu, memang ya. Kalau ia bertanya lagi, barangkali aku tidak akan berbohong, tapi rasanya dia tidak akan bertanya lagi, dan meninggalkan truk di rumah akan membuatnya bertanya-tanya. Juga karena cara menyetirmu membuatku takut.”

Ia memutar bola matanya. “Dari semua hal dalam diriku yang bisa membuatmu takut, kau malah takut dengan caraku mengemudi.” Ia menggeleng-geleng tak percaya, tapi kemudian matanya berubah serius lagi. “Tidakkah kau ingin memberitahu ayahmu, kau akan melewatkan hari itu bersamaku?” Ada maksud lain yang tidak kumengerti di balik pertanyaannya.

“Dengan Charlie, berbohong selalu lebih baik.” Aku yakin soal itu. “Lagipula, memangnya kita mau kemana?”

“Prakiraan cuacanya bagus, jadi aku akan menghilang untuk sementara… dan kau bisa ikut bersamaku kalau mau.” Lagi-lagi ia membiarkanku memilih keputusanku.

“Dan kau akan memperlihatkan padaku yang kaumaksud mengenai matahari?” tanyaku, gembira oleh gagasan akan terungkapnya misteri ini.

“Ya.” Ia tersenyum, lalu terdiam. “Tapi kalau kau tidak ingin… berduaan denganku, aku tetap tak ingin kau pergi ke Seattle sendirian. Aku khawatir memikirkan masalah yang mungkin menimpamu di kota sebesar itu.”

Aku jengkel. “Phoenix tiga kali lebih besar daripada Seattle—itu baru jumlah populasinya. Untuk ukuran—“

“Tapi nyatanya,” ia menyelaku, “kecelakaan yang kau alami tidak bermula di Phoenix. Jadi, lebih baik kau berada di dekatku.” Matanya kembali menyala-nyala.

Aku tak bisa membantah, baik tatapan maupun maksudnya, lagipula dia benar. “Karena itu sudah terjadi, aku tak keberatan berdua saja denganmu.”

“Aku tahu,” desahnya, merenung. “Meski begitu, kau harus memberitahu Charlie.”

“Kenapa aku harus repot-repot melakukannya?”

Sorot matanya tiba-tiba mengeras. “Sebagai satu alasan kecil bagiku untuk memulangkanmu.”

Aku menelan ludah. Tapi setelah berpikir sesaat, aku menjadi yakin. “Kurasa aku akan mengambil resiko itu.”

Ia menghela napas marah, dan memalingkan wajah.

“Kita bicara yang lain saja,” usulku.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyanya. Ia masih kesal.

Aku memandang sekelilingku, memastikan tak seorangpun mendengarkan. Ketika menyapukan pandangan ke seluruh ruangan, aku bertemu pandang dengan adiknya, Alice, yang sedang menatapku. Yang lain memandangi Edward. Aku buru-buru mengalihkan pandangan kepada Edward, dan melontarkan hal pertama yang terlintas dalam benakku.

“Kenapa kau pergi ke Goat Rocks akhir pekan lalu… untuk berburu? Charlie bilang, itu bukan tempat yang baik untuk hiking, banyak beruang.”

Ia menatapku seolah aku melewatkan sesuatu yang sangat jelas.

“Beruang?” aku menahan napas dan ia tersenyum mencemooh. “Kau tahu, sekarang bukan musim berburu beruang,” aku menambahkan dengan tegas, untuk menyembunyikan keterkejutanku.

“Kalau kau membaca dengan teliti, peraturannya hanya mencakup berburu dengan senjata,” ia memberitahuku.

Dengan perasaan senang ia mengamati wajahku sementara perlahan-lahan aku memahami ucapannya.

“Beruang?” ulangku terbata-bata.

“Beruang Grizzly adalah kesukaan Emmett.” Suaranya masih tenang, namun matanya mengamati reaksiku. Aku mencoba mengendalikan diri.

“Hmmm,” kataku sambil menggigit pizza lagi agar bisa menunduk. Aku mengunyah perlahan lalu meminum Coke, tanpa memandang ke arahnya.

“Jadi,” kataku setelah sesaat, akhirnya menatap matanya yang gelisah. “Kesukaanmu apa?”

Alisnya terangkat dan senyum kecewa tersungging di ujung bibirnya. “Singa gunung.”

“Ah,” kataku sopan, berpura-pura tidak tertarik, sambil mencari sodaku lagi.

“Tentu saja,” katanya, nada suaranya menyamai nada suaraku, “kami harus berhati-hati agar tidak membahayakan lingkungan dengan kegiatan berburu kami. Kami berusaha fokus pada area yang jumlah populasi predatornya tinggi—menciptakan daerah jangkauan sejauh mungkin. Di sekitar sini ada banyak rusa dan kijang, dan itu sebenarnya cukup, tapi dimana kesenangannya?” Ia tersenyum menggoda.

“Ya, benar,” aku bergumam sambil menggigit pizza lagi.

“Awal musim semi adalah musim berburu beruang kesukaan Emmett—mereka baru saja selesai hibernasi, jadi lebih pemarah.” Ia tersenyum mengingat sesuatu yang lucu.

“Tak ada yang lebih menyenangkan daripada beruang Grizzly yang sedang marah.” Aku mengangguk menyetujuinya.

Ia tertawa terbahak-bahak, menggelengkan kepala. “Tolong katakan apa yang benar-benar kaupikirkan.”

“Aku mencoba membayangkannya—tapi tidak bisa,” aku mengakuinya. “Bagaimana kalian berburu beruang tanpa senjata?”

“Oh, kami punya senjata.” Ia memamerkan gigi putihnya dengan senyum mengerikan. Aku menahan tubuhku agar tidak bergidik sebelum ia melihatnya. “Pokoknya bukan jenis senjata yang terpikir oleh mereka ketika membuat peraturan berburu. Kalau kau pernah melihat beruang menyerang di acara televisi, kau seharusnya bisa membayangkan cara Emmett berburu.”

Aku tak bisa mengentikan rasa takut yang menjalari punggungku. Aku melirik ke seberang kafetaria, ke arah Emmett, untung ia tidak sedang melihat ke arahku. Otot kekar yang membungkus lengan dan torsonya sekarang bahkan lebih menakutkan lagi.

Edward mengikuti arah pandanganku dan tergelak. Aku menatapnya, ngeri.

“Apa kau juga seperti beruang?” tanyaku pelan.

“Lebih seperti singa, atau begitulah kata mereka,” katanya enteng. “Barangkali pilihan kami mencerminkan kepribadian kami.”

Aku berusaha tersenyum. “Barangkali,” aku mengulanginya. Tapi pikiranku dipenuhi bayanganbayangan yang bertolak belakang dan tak bisa kusatukan. “Apa aku akan pernah melihatnya?”

“Tentu saja tidak!” Wajahnya memucat bahkan lebih dari biasanya, dan matanya tiba-tiba berkilat marah. Aku menyandarkan tubuhku ke belakang, tertegun, dan—meskipun tak pernah mengaku padanya— takut melihat reaksinya. Ia juga menyandarkan tubuh, bersedekap.

“Terlalu menakutkan buatku?” tanyaku ketika dapat mengendalikan suaraku lagi.

“Kalau memang itu, aku akan mengajakmu keluar malam ini,” katanya, nada suaranya dingin. “Kau perlu merasakan ketakutan yang sebenarnya. Tak ada cara yang lebih baik buatmu.”

“Lalu kenapa?” desakku, mencoba mengabaikan kemarahannya.

Ia menatapku marah selama satu menit yang panjang.

“Nanti,” akhirnya ia berkata. Dengan satu gerakan kecil ia sudah bangkit berdiri. “Kita bakal terlambat.”

Aku memandang berkeliling, ia benar, kafetaria hampir kosong. Saat aku bersamanya, waktu dan keberadaanku begitu tak nyata hingga aku benar-benar tak menyadari keduanya. Aku melompat, meraih tasku dari sandaran kursi.

“Kalau begitu, nanti,” timpalku. Aku takkan lupa.

 

 

11. Kesulitan

Semua memperhatikan ketika kami berjalan bersama-sama menuju meja lab. Aku sadar ia tak lagi duduk jauhjauh seperti biasa. Sebagai gantinya, ia duduk cukup dekat. Lengan kami nyaris bersentuhan.

Mr. Banner sudah masuk kelas—betapa perencanaan waktunya sangat tepat—sambil menarik kereta beroda dengan TV dan VCR yang kelihatannya berat dan ketinggalan jaman. Hari menonton film—suasana senang di kelas nyaris nyata.

Mr. Banner memasukkan tape ke VCR dan berjalan ke dinding untuk mematikan lampu.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.