Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Aku mengerutkan hidung. “Aku pernah melakukannya… ketika ditantang,” aku mengakuinya. “Tidak terlalu buruk.”

Ia tertawa. “Kurasa aku tidak terkejut.” Sesuatu di belakangku seperti menarik perhatiannya.

“Jessica sedang memperhatikan semua tindak-tandukku—dia akan memaparkannya padamu nanti.” Ia menyorongkan sisa pizza padaku. Menyebutkan nama Jessica membuatnya menyebalkan lagi.

Aku meletakkan apel dan menggigit pizza, lalu memalingkan wajah ketika tahu ia hendak bicara.

“Jadi pelayannya cantik, ya?” tanyanya santai.

“Kau benar-benar tidak memperhatikan?”

“Tidak. Aku memikirkan banyak hal.”

“Cewek malang.” Sekarang aku bisa bersimpati dengan tulus.

“Sesuatu yang kaukatakan pada Jessica… well, itu menggangguku.” Ia menolak dialihkan perhatiannya. Suaranya parau, ia melirik dari balik bulu matanya, gelisah.

“Aku tidak terkejut kau mendengar sesuatu yang tidak kau sukai. Itu resiko suka menguping pembicaraan orang,” aku mengingatkannya.

“Aku sudah mengingatkan bahwa aku akan mendengarkan.”

“Dan aku sudah mengingatkan tidak semua yang kupikirkan baik untuk kau ketahui.”

“Memang,” ia menyetujuinya, tapi suaranya masih parau. “Meski begitu, kau tidak sepenuhnya benar. Aku ingin tahu apa yang kaupikirkan—semuanya. Aku hanya berharap… kau tidak memikirkan beberapa hal.”

Wajahku merengut. “Itu sama saja.”

“Tapi bukan itu masalahnya sekarang.”

“Lalu apa?” Sekarang kami sudah saling mencondongkan tubuh. Ia duduk dengan tangan menumpu dagu; sementara tubuhku condong ke depan, tangan kananku memegangi leher. Aku harus mengingatkan diriku bahwa kami berada di kafetaria penuh orang, dan barangkali ada banyak tatapan penasaran tertuju pada kami. Begitu mudahnya larut dalam percakapan rahasia, terutama bila menegangkan.

“Apakah kau benar-benar yakin kau lebih peduli padaku daripada aku padamu?” gumamnya, semakin mendekat saat bicara, matanya yang gelap keemasan menyorot tajam.

Aku berusaha mengingat bagaimana caranya bernapas. Aku harus berpaling sebelum hal itu terjadi lagi.

“Kau melakukannya lagi,” bisikku.

Matanya membelalak terkejut. “Apa?”

“Membuatku terpesona,” aku mengakuinya, mencoba berkonsentrasi untuk menatapnya lagi.

“Oh.” Dahinya berkerut.

“Bukan salahmu,” aku mendesah. “Kau tak bisa mencegahnya.”

“Apakah kau akan menjawab pertanyaanku?”

Aku menunduk. “Ya.”

“Ya, kau akan menjawab, atau ya, kau benar-benar berpendapat begitu?” Lagi-lagi ia jengkel.

“Ya, aku benar-benar berpendapat begitu.” Aku tetap menunduk memandang meja, mataku menelusuri kayunya. Keheningan terus berlanjut. Dengan keras kepala aku menolak menjadi yang pertama memecah keheningan. Aku berusaha keras menahan godaan untuk melihat ekspresinya.

Akhirnya ia bicara, suaranya sangat lembut. “Kau salah.”

Aku menatapnya dan mendapati sorot matanya yang lembut.

“Kau tak bisa mengetahuinya,” bantahku sambil berbisik. Aku menggeleng ragu, meskipun jantungku berdebar mendengar ucapannya, dan aku ingin sekali mempercayainya.

“Apa yang membuatmu berpikir begitu?” Mata topaz-nya sangat menusuk—menurutku sia-sia saja berusaha mencari kebenaran dalam benakku.

Aku balas menatapnya, berusaha berpikir jernih, tak pdculi seperti apa pun raut wajahnya, dan mencari cara untuk menjelaskan. Ketika aku sedang memilih kata-kataku kulihat ia mulai tidak sabar. Gelisah karena sikap diamku, ia mulai kesal. Kuangkat tanganku dari leher, dan mengacungkan satu jari.

“Biarkan aku berpikir,” aku berkeras. Ketegangan di wajahnya mencair, karena kini ia puas aku berniat menjawab pertanyaannya. Kujatuhkan tanganku ke meja, lalu mengatupkan keduanya. Aku memandangi tanganku, mengaitkan jemari lalu menguraikannya, ketika akhirnya aku bicara.

“Well, terlepas dari kenyataannya, kadang-kadang…” Aku berhenti. “Aku tidak yakin—aku tidak tahu caranya membaca pikiran—tapi terkadang rasanya seolah kau berusaha mengucapkan selamat tinggal ketika kau mengucapkan sesuatu yang lain.” Itu kesimpulan terbaik dari sensasi sedih yang sering ditimbulkan perkataannya.

“Peka,” bisiknya. Lagi-lagi aku menangkap kepedihan dalam kata-katanya, membenarkan ketakutanku. “Tapi justru itulah kenapa kau salah,” ia mulai menjelaskan, tapi kemudian matanya menyipit. “Apa maksudmu ‘kenyataannya’?”

“Well, lihat aku,” kataku, yang benar-benar tidak penting karena Edward sudah menatapku. “Aku sungguh-sungguh manusia biasa—well, kecuali untuk hal-hal buruk seperti pengalaman yang sangat dekat dengan kematian itu, dan aku begitu canggung sehingga bisa dibilang nyaris lumpuh. Sedangkan kau?” Kulambaikan tanganku padanya dan semua kesempurnaannya yang membingungkan.

Alisnya mengerut marah sesaat, lalu santai lagi ketika ia akhirnya mengerti. “Kau sendiri tidak melihat dirimu dengan jelas. Kuakui kau benar tentang hal-hal buruk itu,” ia tergelak ironis, “tapi kau tidak mendengar apa yang dipikirkan setiap laki-laki di sekolah ini tentangmu pada hari pertamamu disini.”

Mataku mengerjap, terperanjat. “Aku tak percaya…” aku bergumam pada diriku sendiri.

“Percayalah sekali ini saja—kau bukan manusia biasa.”

Rasa maluku lebih kuat daripada perasaan senang melihat sorot di matanya saat ia mengatakannya. Aku langsung mengingatkannya tentang agrumentasiku sebelumnya.

“Tapi aku tidak mengucapkan selamat tinggal,” tukasku.

“Tidakkah kau mengeri? Itu yang membuktikan bahwa aku benar. Akulah yang paling peduli, karena seandainya aku bisa melakukannya”—ia menggeleng, mencoba melawan pendapat itu—“seandainya meninggalkanmu adalah sesuatu yang harus kulakukan, akan kusakiti diriku sendiri demi menjagamu tidak terluka, supaya kau tetap aman.”

Aku menatapnya marah. “Dan pikirmu aku takkan melakukan hal yang sama?”

“Kau takkan pernah perlu membuat keputusan itu.”

Tiba-tiba suasana hatinya yang tidak bisa ditebak berubah lagi; senyum jail dan mempesona itu muncul di wajahnya. “Tentu saja menjagamu tetap aman mulai terasa sebagai pekerjaan purnawaktu yang senantiasa memerlukan kehadiranku.”

“Tak seorangpun mencoba membunuhku hari ini,” aku mengingatkannya, bersyukur topiknya sudah jauh lebih ringan. Aku tak ingin ia membicarakan perpisahan lagi. Kalau perlu, kurasa aku bisa dengan sengaja membahayakan diriku sendiri agar ia tetap di dekatku… Kusingkirkan pikiran itu sebelum ia bisa membacanya di wajahku. Ide itu jelas bakal mendatangkan masalah buatku.

“Belum,” ia menambahkan.

“Belum,” aku setuju. Aku bisa saja mendebatnya, tapi sekarang aku ingin ia menghadapi masalah besar.

“Aku punya pertanyaan lain untukmu.” Raut wajahnya masih kasual.

“Tanyakan saja.”

“Apakah kau benar-benar harus ke Seattle Sabtu ini, ataukah itu hanya alasan untuk menolak semua penggemarmu?”

Aku merenggut mengingat hal itu. “Kau tahu, aku belum memaafkanmu untuk masalah Tyler,” aku mengingatkannya. “Itu semua salahmu, sehingga dia mengira aku akan pergi ke prom bersamanya.”

“Oh, dia akan mengajakmu sendiri tanpa bantuanku—aku hanya benar-benar ingin melihat reaksimu,” ia tergelak. Aku pasti akan lebih marah lagi kalau tawanya tidak semenawan itu. “Kalau aku mengajakmu, apakah kau akan menolak?” tanyanya, masih tertawa sendiri.

“Mungkin tidak,” kataku jujur. “Tapi aku kemudian akan membatalkannya—berpura-pura sakit atau mengalami cedera pergelangan kaki.”

Ia bingung. “Kenapa kau melakukan itu?”

Aku menggeleng sedih. “Kau tak pernah melihatku di kelas Olahraga, tapi kupikir kau bakal mengerti.”

“Apakah kau sedang bicara tentang fakta bahwa kau tidak bisa berjalan di permukaan rata dan stabil tanpa tersandung?”

“Tentu saja.”

“Itu bukan masalah.” Ia terdengar sangat yakin. “Sudah sepantasnya.” Tahu aku akan memprotes, ia pun menyela. “Tapi kau tak pernah bilang padaku—apakah kau sudah mantap pergi ke Seattle, atau kau tidak keberatan kita melakukan sesuatu yang berbeda.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.