Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Jadi, ini sangat berbeda dengan di Phoenix heh?” tanyanya.

“Sangat.”

“Disana tidak sering hujan kan?”

“3 atau 4 kali setahun.”

“Wow, seperti apa rasanya?” Ia membayangkan.

“Cerah,” ujarku.

“Kulitmu tidak terlalu cokelat.”

“Ibuku setengah albino.”

Ia mengamati wajahku dengan waswas, dan aku mendesah. Kelihatannya awan dan selera humor tidak pernah selaras. Beberapa bulan saja di tempat ini, aku pasti sudah lupa bagaimana caranya bersikap sinis.

Kami berjalan lagi mengitari kafetaria, ke gedung-gedung di sebelah selatan dekat gymnasium. Eric mengantarku sampai pintu, meskipun papan tandanya jelas.

“Semoga berhasil,” katanya ketika aku meraih gagang pintu. “Barangkali kita akan bertemu di kelas lain.” Ia berharap.

Aku tersenyum samar dan masuk.

Sisa pagi itu berlalu kurang-lebih sama. Guru Trigonometriku, Mr. Vanner, yang toh bakal kubenci juga karena mata pelajaran yang diajarkannya, adalah yang satu-satunya menyuruhku berdiri di depan kelas dan memperkenalkan diri. Aku tergagap, wajahku merah padam, dan tersandung sepatu botku sendiri ketika menuju kursiku.

Setelah 2 pelajaran, aku mulai mengenali beberap wajah di masing-masing kelas. Selalu ada yang lebih berani dari yang lain, yang memperkenalkan diri dan bertanya mengapa aku menyukai Forks. Aku mencoba berdiplomasi, tapi secara keseluruhan aku hanya berbohong. Setidaknya aku tidak pernah membutuhkan peta.

Seorang gadis duduk di sebelahku baik di kelas Trigono dan Bahasa Spanyol, dan ia berjalan menemaniku menuju kafetaria saat jam makan siang. Tubuhnya mungil, lebih pendek daripada aku yang 160 senti, tapi rambut gelapnya yang sangat ikal berhasil menyamarkan perbedaan tinggi kami. Aku tak ingat namanya, jadi aku tersenyum dan mengangguk ketika ia mengoceh tentang guru-guru dan pelajarannya. Aku tak berusaha memperhatikannya.

Kami duduk di ujung meja yang dipenuhi beberapa teman-temannya. Ia memperkenalkanku kepada mereka. Aku langsung lupa nama-nama mereka begitu ia mulai mengobrol dengan mereka. Mereka tampak kagum dengan keberaniannya berbicara denganku. Cowok dari kelas bahasa Inggris, Eric, melambai padaku dari seberang ruangan.

Disanalah, duduk di ruang makan siang, berusaha memulai pembicaraan dengan 7 orang asing yang penasaran, ketika aku pertama kali melihat mereka.

Mereka duduk di sudut kafetaria, sejauh mungkin dari tempat dudukku. Mereka berlima. Mereka tidak bicara, juga tidak makan, meskipun di depan mereka masing-masing ada 1 nampan makanan yang tak tersentuh. Mereka tidak terpana menatapku, tidak seperti kebanyakan murid lainnya, jadi rasanya aman untuk memandangi mereka tanpa takut bakal beradu pandang dengan sepasang mata yang kelewat penasaran. Tapi bukan ini yang menarik perhatianku.

Mereka tidak terlihat seperti yang lain. Dari 3 cowok, yang 1 bertubuh besar—berotot seperti atlet angkat besi professional, rambutnya gelap ikal. Yang lain lebih tinggi, lebih langsing, tapi juga berotot dan rambutnya pirang keemasan. Yang terakhir kurus dengan rambut berwarna perunggu yang berantakan. Ia lebih kekanakan daripada yang 2 lagi, yang kelihatannya sudah kuliah, atau bahkan bisa menjadi guru disini dan bukannya murid.

Yang cewek-cewek kebalikannya. Yang jangkung tatapannya dingin. Tubuhnya indah, seperti yang kalian lihat di sampul Sport Illustrated edisi pakaian renang, sosok yang membuat setiap cewek di dekatnya tidak percaya diri hanya dengan berada di ruangan yang sama. Rambutnya keemasan, tergerai lembut di punggung. Gadis yang bertubuh pendek seperti peri, sangat kurus, perawakannya mungil. Rambutnya hitam kelam, dipotong pendek dan lancip.

Namun toh mereka sama persis. Mereka pucat pasi, paling pucat dari semua murid yang hidup di kota tanpa matahari ini. Lebih pucat daripada aku, si albino. Mata mereka sangat gelap, begitu kontras dengan warna rambut mereka. Mereka juga memiliki kantong mata—keunguan, memar seperti bayangan. Seolah-olah mereka melewati malam panjang tanpa tidur, atau baru saja hampir sembuh dari patah hidung. Terlepas dari hidung mereka, semua garis tubuh mereka lurus, sempurna, kaku.

Tapi bukan semua itu yang membuatku tak bisa berpaling.

Aku memandangi mereka karena wajah mereka yang begitu berbeda, namun sangat mirip, semuanya luar biasa, keindahan yang memancarkan kekejaman. Mereka wajah-wajah yang tak pernah kau harapkan bakal kau lihat kecuali di halaman majalah fashion. Atau dilukis seorang pelukis ahli sebagai wajah malaikat. Sulit memutuskan siapa yang paling indah—mungkin cewek berambut pirang yang sempurna itu, atau si cowok berambut perunggu.

Mereka semua mengalihkan pandangan—dari satu sama lain, dari murid-murid lain, dari segala sesuatu sejauh yang kulihat. Ketika aku memperhatikan, si cewek mungil bangkit membawa nampan—kaleng sodanya belum dibuka, apelnya masih utuh—dan berlalu sambil melompat cepat dan indah. Gerakan yang bisa dilakukan di landas pacu. Aku terus mengawasinya, mengagumi langkah luwesnya bagai penari, sampai ia menaruh nampannya di tempat nampan kotor dan melayang lewat pintu belakang, lebih cepat dari yang kupikir mungkin dilakukannya. Mataku tertuju kembali ke yang lain, yang sama sekali tak beranjak.

“Siapa mereka?” aku bertanya pada cewek dari kelas bahasa Spanyol-ku, yang aku lupa namanya.

Ketika ia mendongak untuk melihat siapa yang kumaksud—meskipun dari nada suaraku barangkali ia sudah tahu—tiba-tiba salah satu cowok dari kelompok itu memandang ke arahnya, cowok yang bertubuh kurus dan berwajah kekanakan, mungkin yang paling muda. Ia melihat ke cewek di sebelahku hanya beberapa detik, lalu matanya yang gelap mengerjap ke arahku.

Ia berpaling dengan cepat, lebih cepat dari yang bisa kulakukan, meskipun karena malu aku langsung menunduk saat itu juga. Sekilas tadi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan—seolah temanku telah menyebut namanya, dan ia memandang sebagai reaksi spontan, telah memutuskan untuk tidak menjawab.

Gadis di sebelahku tertawa tersipu, menunduk memandangi meja seperti aku.

“Itu Edward dan Emmett Cullen, serta Rosalie dan Jasper Hale. Yang baru saja pergi namanya Alice Cullen, mereka tinggal bersama dr. Cullen dan istrinya.” Ia mengatakannya dengan berbisik.

Aku melirik cowok tampan itu, yang sekarang sedang memandangi nampannya, mencubit-cubit bagelnya dengan jari-jari panjangnya yang pucat. Mulutnya bergerak sangat cepat, bibirnya yang sempurna nyaris tidak terbuka. Yang 3 lagi masih membuang muka, namun aku merasa ia berbicara diam-diam pada mereka.

Nama-nama aneh dan tidak populer, pikirku. Nama-nama yang dimiliki generasi kakek-nenek. Tapi barangkali disini nama-nama itu populer—khas nama-nama kota kecil? Aku akhirnya ingat cewek di sebelahku bernama Jessica, nama yang sangat umum. Di kelas Sejarah di sekolah tempat asalku, ada 2 cewek yang bernama Jessica.

“Mereka… sangat tampan dan cantik.” Dengan susah payah aku menyatakan komentar yang mencolok itu.

“Benar!” Jessica setuju seraya terkekeh lagi. “Dan mereka selalu bersama-sama—Emmett dan Rosalie, dan Jasper dan Alice, maksudku. Dan mereka tinggal bersama-sama.” Suaranya mewakili keterkejutan dan ketidaksetujuan kota kecil ini, pikirku kritis. Tapi kalau mencoba jujur, harus kuakui bahkan di Phoenix pun hal seperti itu akan menimbulkan gunjingan.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.