Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Cuaca di luar lebih berkabut dai biasa, udara nyaris tertutup kabut. Embun sedingin es menerpa kulit leher dan wajahku yang telanjang. Tak sabar rasanya ingin menyalakan pemanas dalam tru. Kabut sangat tebal, sehingga aku baru bisa melihat ada mobil terparkir disana, ketika hanya tinggal beberapa jengkal dari jalan raya—mobil berwarna silver. Jantungku berdetak cepat, berhenti, lalu berdebar lagi dua kali lebih cepat.

Aku tak melihat dari mana datangnya, tapi tiba-tiba ia sudah disana, membukakan pintu bagiku.

“Kau mau berangkat bersamaku hari ini?” tanyanya, tersenyum melihat ekspresiku berkat kejutan yang diberikannya lagi ini. Ada keraguan dalam suaranya. Ia benar-benar memberiku pilihan—aku bebas menolak, dan sebagian dirinya berharap begitu. Harapan yang sia-sia.

“Ya, terima kasih,” kataku, berusaha tetap tenang. Ketika masuk ke mobilnya yang hangat, aku memperhatikan jaket krem mudanya disampirkan di sandaran kursiku. Ia menutup pintu, dan lebih cepat dari seharusnya, ia sudah duduk di sebelahku, menyalakan mobil.

“Aku membawakan jaket untukmu. Aku tak ingin kau sakit atau apa.” Suaranya hati-hati. Aku melihat ia sendiri tidak mengenakan jaket, hanya kaus rajut lengan panjang berkerah V warna abu-abu muda. Lagi-lagi bahan itu melekat sempurna di dadanya yang bidang. Seperti biasa, wajahnyalah yang membuatku mengalihkan pandang dari tubuhnya.

“Aku tak selemah itu, kau tahu,” kataku, tapi kutarik jaketnya ke pangkuan, mendorong lenganku ke lengan jaket yang kelewat panjang, penasaran ingin mengetahui apakah aromanya masih seperti yang ada dalam ingatanku. Ternyata lebih baik.

“Benarkah?” Ia menyangsikannya, suaranya sangat pelan hingga aku tak yakin ia ingin aku mendengarnya.

Kami mengemudi melewati jalanan yang berselimut kabut, selalu terlalu cepat, terasa canggung. Setidaknya aku merasa begitu. Semalam semua penghalang itu lenyap… hampir semuanya. Aku tak tahu apakah hari ini kami bisa seterbuka itu. Ini membuat lidahku kelu. Aku menunggunya memulai.

Ia berbalik dan nyengir. “Apa? Tidak ada rentetan pertanyaan hari ini?”

“Apakah pertanyaan-pertanyaanku mengganggumu?” tanyaku, lega.

“Tidak seperti reaksimu.” Ia kelihatan bergurau, tapi aku tak yakin.

Aku cemberut. “Apakah reaksiku buruk?”

“Tidak, itu masalahnya. Kau menerimanya dengan tenang sekali—tidak wajar. Itu membuatku bertanyatanya, apa yang sebenarnya kau pikirkan.”

“Aku selalu mengatakan apa yang sebenarnya kupikirkan.”

“Kau mengeditnya,” tuduhnya.

“Tidak terlalu banyak.”

“Cukup untuk membuatku gila.”

“Kau tidak ingin mendengarnya,” gumamku pelan, nyaris berbisik. Begitu kata-kataku terucap, aku langsung menyesalinya. Kepedihan dalam suaraku nyaris samar, aku hanya berharap ia tidak memperhatikan.

Ia tidak bereaksi, dan aku bertanya-tanya apakah aku telah merusak suasana hatinya. Ekspresinya tak dapat ditebak ketika kami memasuki parkiran sekolah. Aku terlambat menyadari sesuatu.

“Dimana keluargamu yang lain?” aku bertanya—lebih dari bahagia bisa berduaan dengannya, mengingat biasanya mobil ini penuh dengan yang lain.

“Mereka naik mobil Rosalie.” Ia mengangkat bahu ketika memarkir mobilnya di sebelah mobil kap terbuka warna merah mengkilap. “Kelewat mencolok, kan?”

“Mmm, wow,” desahku. “Kalau Rosalie memilikinya, kenapa ia pergi bersamamu?”

“Seperti kataku, kelewat mencolok. Kami berusaha membaur.”

“Kalian tidak berhasil.” Aku tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala ketika kami keluar dari mobil. Aku tidak terlambat; cara mengemudinya yang gila-gilaan membuatku punya banyak waktu sebelum sekolah dimulai. “Jadi, kenapa Rosalie mengemudi sendiri kalau itu kelewat menarik perhatian?”

“Tidakkah kau tahu? Aku melanggar semua aturan sekarang.” Ia menghampiriku di depan mobil, berjalan sangat dekat di sisiku menuju gedung sekolah. Aku ingin mempersempit jarak itu, ingin menggapai dan menyentuhnya, tapi khawatir ia tidak menyukainya.

“Kenapa kalian mempunyai mobil-mobil seperti itu?” aku bertanya terang-terangan. “Kalau kalian memang menginginkan privasi?”

“Memanjakan diri,” ia mengakuinya, dengan senyum jail. “Kami semua suka ngebut.”

“Sudah kuduga,” gumamku pelan.

Di bawah naungan atap kafetaria yang menjuntai, Jessica menungguku, matanya nyaris keluar dari rongganya. Di atas lipatan lengannya ada jaketku, syukurlah.

“Hei, Jessica,” kataku ketika kami sudah dekat. “Terima kasih sudah ingat membawanya.” Ia menyerahkan jaketku tanpa bicara.

“Selamat pagi, Jessica,” sapa Edward sopan. Bukan sepenuhnya salah Edward, bahwa suaranya begitu menggoda. Atau daya sihir tatapannya.

“Err… hai.” Jessica melirik ke arahku dengan mata melotot, berusaha mengumpulkan pikirannya yang tercecer. “Kalau begitu sampai ketemu di kelas Trigono.” Ia menatapku penuh makna, dan aku mencoba tidak mengerang. Apa yang akan kukatakan padanya nanti?

“Yeah, sampai ketemu nanti.”

Ia berlalu, berhenti dua kali untuk menoleh ke arah kami.

“Apa yang akan kaukatakan padanya?” gumam Edward.

“Hei, kupikir kau tak bisa membaca pikiranku!” tukasku.

“Aku tak bisa,” katanya, terkejut. Lalu ia tampak mengerti. “Bagaimanapun, aku bisa membaca pikirannya—dia tak sabar ingin menginterogasimu di kelas.”

Aku mengerang seraya melepaskan jaketnya dan menyerahkannya padanya, kemudian mengenakan jaketku sendiri. Ia melipatnya, lalu menyampirkannya di lengan.

“Jadi, kau akan bilang apa padanya?”

“Tolong bantu sedikit,” aku memohon padanya. “Apa yang ingin diketahuinya?”

Ia menggeleng, tersenyum nakal. “Itu tidak adil.”

“Tidak, kau tidak akan memberitahu apa yang kau ketahui—itu baru tidak adil.”

Ia sengaja berdiam diri selama beberapa saat. Kami berhenti di depan pintu kelas pertamaku.

“Dia ingin tahu apakah kita diam-diam berkencan. Dan dia ingin tahu bagaimana perasaanmu terhadapku,” akhirnya ia mengatakannya.

“Iihh. Apa yang harus kukatakan?” Aku mencoba menjaga ekspresiku tetap polos. Orang-orang melewati kami menuju kelas, barangkali menatap kami, tapi aku nyaris tak menyadari keberadaan mereka.

“Hmmm.” Ia berhenti untuk meraih rambutku yang lepas dari ikatan di leherku dan menyelipkannya ke tempatnya. Jantungku memburu. “Kurasa kau bisa mengatakan ya untuk pertanyaan pertama… kalau kau tidak keberatan—itu lebih mudah daripada penjelasan lainnya.”

“Aku tak keberatan,” kataku pelan.

“Dan untuk pertanyaan yang satu lagi… well, aku akan mendengar jawabannya langsung darimu.” Salah satu ujung bibirnya membentuk senyuman yang sangat kusuka. Aku tak cukup cepat untuk menunjukkan reaksiku. Ia sudah berbalik dan berlalu.

“Sampai ketemu saat makan siang,” ujarnya seraya menoleh ke belakang. Tiga orang yang berjalan ke pintu berhenti untuk menatapku.

Aku bergegas memasuki kelas, wajahku merah padam dan malu. Dasar curang. Sekarang aku bahkan lebih khawatir lagi tentang apa yang akan kukatakan pada Jessica. Aku duduk di bangkuku yang biasa, karena kesal kubanting tasku.

“Selamat pagi, Bella,” sapa Mike, yang duduk di sebelahku. Aku mendongak dan melihat raut wajah aneh dan pasrah di wajahnya. “Bagaimana di Port Angeles?”

“Yah…” tak ada cara yang bagus untuk menyimpulkannya. “Hebat,” jawabku sekenanya. “Jessica membeli gaun yang sangat keren.”

“Apa dia bilang sesuatu tentang Senin malam?” tanyanya, matanya bersinar-sinar. Aku tersenyum mendengar pertanyaan itu.

“Katanya dia benar-benar menikmatinya,” aku meyakinkannya.

“Benarkah?” tanyanya bersemangat.

“Sudah pasti.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.