Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Kau menangis?” Ia terdengar terkejut. Aku tidak sadar air mataku telah menetes. Bergegas aku menyekanya, dalam hati sangat yakin tak bisa menahannya lagi.

“Tidak,” kataku, tapi suaraku parau.

Aku melihatnya hendak mengulurkan tangan kanannya, ragu-ragu ingin meraihku, tapi kemudian mengurungkannya dan pelan-pelan meletakkannya lagi di roda kemudi.

“Maafkan aku.” Suaranya sarat penyesalan. Aku tahu ia tidak sekadar minta maaf atas kata-katanya yang telah membuatku sedih.

Kegelapan menyusup diantara keheningan.

“Katakan,” ia bertanya setelah beberapa menit, dan aku bisa mendengarnya berusaha lebih ceria.

“Ya?”

“Apa yang kaupikirkan malam ini, sebelum aku muncul? Aku tak bisa mengerti ekspresimu—kau tidak terlihat setakut itu, kau seperti sedang berkonsentrasi keras pada sesuatu.”

“Aku sedang mencoba mengingat bagaimana cara menghadapi serangan—kau tahu kan, ilmu bela diri. Aku bermaksud mengjandurkan hidungnya hingga melesak ke kepalanya.” Aku membayangkan cowok berambut gelap itu dengan penuh kebencian.

“Kau akan melawan mereka?” Ini membuatnya kecewa. “Tidakkah kau ingin melarikan diri?”

“Aku sering terjatuh kalau lari,” aku mengakuinya.

“Bagaimana kalau berteriak minta tolong?”

“Aku juga bermaksud melakukannya.”

Ia menggeleng. “Kau benar—aku jelas-jelas melawan takdir karena mencoba menjagamu tetap hidup.”

Aku menghela napas. Lalu mobil memelan, melewati perbatasan Forks. Hanya butuh kurang dari dua puluh menit.

“Apakah besok kita akan bertemu?” tanyaku.

“Ya—ada tugas yang harus dikumpulkan.” Ia tersenyum. “Aku akan menunggumu saat makan siang.”

Konyol, setelah semua yang kami lalui malam ini, janji kecil itu masih saja membuat perutku mulas, dan aku tak mampu bicara.

Kami di depan rumah Charlie. Lampu-lampunya menyala, trukku ada di tempatnya, semuanya sangat wajar. Rasanya seperti terbangun dari mimpi. Edward menghentikan mobilnya, tapi aku tidak beranjak.

“Kau janji akan datang besok?”

“Aku janji.”

Aku mempertimbangkannya beberapa saat, lalu mengangguk. Kutanggalkan jaketnya, dan menghirup

aromanya untuk terakhir kali. “Kau boleh menyimpannya—kau tidak punya jaket yang bisa kau pakai besok,” ia mengingatkanku. Kukembalikan jaket itu padanya. “Aku tak mau menjelaskannya pada Charlie.” “Oh, benar.” Ia tersenyum. Aku ragu-ragu, tanganku pada pegangan pintu, mencoba mengulur-ulur waktu. “Bella?” panggilnya dengan nada berbeda—serius, tapi ragu. “Ya?” aku berbalik padanya, terlalu antusias. “Maukah kau berjanji padaku?” “Ya,” kataku, dan langsung menyesali kesepakatan tanpa syarat itu. Bagaimana kalau ia memintak

menjauhinya? Aku tak bisa menepati janji itu. “Jangan pergi ke hutan seorang diri.” Aku menatapnya bingung. “Kenapa?” Dahinya mengerut, tatapannya tegang ketika menerawang melewatiku, terus menembus jendela. “Aku tidak selalu yang paling berbahaya di luar sana. Anggap saja begitu.” Aku agak gemetar juga mendengar suaranya yang tiba-tiba dingin, tapi lega. Ini, setidaknya, janji yang

mudah dipenuhi. “Terserah apa katamu.” “Sampai ketemu besok,” desahnya, dan aku tahu ia menginginkanku pergi sekarang. “Baik kalau begitu.” Dengan engggan kubuka pintunya. “Bella?” aku berbalik dan ia mendekat padaku, wajah tampannya yang pucat hanya beberapa senti dari

wajahku. Jantungku berhenti berdetak.

“Tidur nyenyak ya,” katanya. Napasnya menyapu wajahku, membuatku terpana. Ini aroma menyenangkan yang sama dengan yang tercium di jaketnya, namun lebih kental. Mataku mengerjap, benarbenar terpesona. Lalu ia menjauh.

Aku tak bisa bergerak hinggga otakku mengurai dengan sendirinya. Lalu aku melangkah canggung keluar, sampai harus berpegangan pada sisi pintu. Kupikir aku mendengarnya tertawa, tapi suaranya terlalu pelan jadi aku tak yakin.

Ia menunggu hingga aku sampai di pintu depan, kemudian aku mendengar mesin mobilnya menyala

pelan. Aku berbalik dan melihat mobil silver itu menghilang di pojokan. Aku menyadari udara sangat dingin. Aku meraih kunciku tanpa berpikir, membuka pintu, dan masuk ke dalam. Charlie memanggilku dari ruang tamu. “Bella?” “Ya, Dad, ini aku.” Aku beranjak masuk untuk menemuinya. Ia sedang menonton pertandingan baseball. “Kau pulang cepat.” “Oh ya?” aku terkejut. “Sekarang bahkan belum jam delapan,” ia memberitahuku.”Apakah kalian bersenang-senang?” “Yeah—sangat menyenangkan.” Kepalaku berputar-putar ketika mencoba mengingat saat-saat belanja

tadi. “Mereka membeli gaun.” “Kau baik-baik saja?” “Aku hanya lelah. Aku cukup banyak berjalan tadi.” “Well, barangkali kau harus berbaring.” Ia terdengar waswas. Aku membayangkan bagaimana rupaku. “Aku akan menelepon Jessica dulu.” “Bukankah kau baru saja bersamanya?” ia bertanya, terkejut. “Ya—tapi jaketku tertinggal di mobilnya. Aku mau mengingatkan supaya dia membawakannya besok.” “Well, biarkan dia sampai rumah dulu.” “Benar,” aku menyetujuinya. Aku pergi ke dapur, menjatuhkan diri di kursi, kelelahan. Sekarang aku benar-benar merasa pusing. Aku

membayangkan apakah akhirnya aku bakal syok juga. Pegangan, perintahku. Tiba-tiba telepon berbunyi, mengagetkanku. Aku mengangkatnya. “Halo?” desahku.

“Bella?”

“Hei, Jess, aku baru saja mau meneleponmu.”

“Kau sudah sampai di rumah?” Suaranya terdengar lega… dan terkejut.

“Ya. Jaketku tertinggal di mobilmu—bisakah kau membawakannya besok?”

“Tentu saja. Tapi ceritakan apa yang terjadi!” pintanya.

“Mmm, besok saja—di kelas Trigono, oke?”

Ia langsung mengerti. “Oh, ayahmu ada disana ya?”

“Ya, benar.”

“Okr, kalau begitu kita ngobrol besok. Bye!” Aku tahu ia sudah tidak sabar.

“Bye, Jess.”

Aku menaiki tangga perlahan, benar-benar nyaris pingsan, Aku melakukan semua ritual persiapan tidur tanpa memperhatikan apa yang kulakukan. Baru ketika aku berada di kamar mandi—airnya terlalu panas, menyengat kulitku—aku tersadar diriku kedinginan. Selama beberapa menit tubuhku bergetar cukup keras, hingga akhirnya semburan air hangat melemaskan otot-ototku yang kaku. Lalu aku berdiri di bawah pancuran, terlalu lelah untuk bergerak, sampai air hangatnya menyembur lagi.

Aku melangkah sempoyongan, membalut diriku dengan handuk, berusaha menahan panasnya air di tubuhku supaya aku tidak gemetar lagi. Aku langsung mengenakan pakaian tidur dan menyusup ke bawah selimut, meringkuk, memeluk diriku sendiri agar tetap hangat. Beberapa kali aku sempat gemetaran. Pikiranku masih berputar-putar dipenuhi bayangan yang tak bisa kumengerti, dan beberapa yang kucoba enyahkan. Awalnya tak ada yang jelas, tapi semakin aku nyaris tertidur, beberapa kemungkinan pun menjadi nyata.

Ada tiga hal yang kuyakini kebenarannya. Pertama, Edward adalah vampir. Kedua, ada sebagian dirinya—dan aku tak tahu seberapa kuat bagian itu—yang haus akan darahku. Dan ketiga, aku jatuh cinta padanya, tanpa syarat, selamanya.

 

 

10. Interograsi

Keesokan paginya, sulit berdebat dengan bagian diriku yang yakin bahwa semalam adalah mimpi. Logika tak berpihak padaku, ataupun akal sehat. Aku bergantung pada bagian yang tak mungkin cuma khayalanku— seperti aroma tubuhnya. Aku yakin takkan pernah bisa memimpikannya dengan usahaku sendiri.

Di luar jendela cuaca gelap dan berkabut, benar-benar sempurna. Ia tak punya alasan untuk tidak ke sekolah hari ini. Aku mengenakan pakaian yang cukup hangat, teringat aku tidak memiliki jaket. Bukti lagi bahwa ingatanku benar.

Ketika aku tiba di lantai dasar, Charlie sudah pergi lagi—aku terlambat lebih dari yang kukira. Aku menelan tiga gigitan granola, dan menyapunya dengan susu yang langsung kuminum dari karton, lalu bergegas meninggalkan rumah. Mudah-mudahan hujan tidak turun sampai aku bertemu Jessica.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.