Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Oke.” Aku tersenyum, senang karena setidaknya ia mau jujur padaku. Ia menunduk menatapku dengan sorot memperhatikan, seperti yang dilakukannya sebelumnya, ketika ia khawatir aku syok. Aku tersenyum lebar, menghiburnya, dan ia cemberut.

“Jangan tertawa—tapi bagaimana kau bisa keluar di siang hari?”

Bagaimanapun juga ia tertawa. “Mitos.”

“Terbakar matahari?”

“Mitos.”

“Tidur di peti mati?”

 

“Mitos.” Ia ragu sesaat, lalu nada suaranya berubah aneh. “Aku tidak bisa tidur.”

Butuh beberapa saat bagiku untuk memahami jawabannya. “Sama sekali?”

“Tidak pernah,” katanya, suaranya nyaris tak terdengar. Ia menengok ke arahku dengan ekspresi sedih. Mata emasnya bertemu pandang denganku, dan aku tak mampu berkata-kata. Aku menatapnya sampai ia berpaling.

“Kau belum melontarkan pertanyaan paling penting.” Suaranya tegang sekarang, dan ketika menatapku lagi, tatapannya dingin.

Aku berkedip, masih terkesima. “Yang mana?”

“Kau tidak peduli dengan makananku?” tanyanya sinis.

“Oh,” gumamku, “itu.”

“Ya, itu.” Suaranya muram. “Tidakkah kau ingin tahu apakah aku minum darah?”

Aku tersentak. “Well, Jacob mengatakan sesuatu tentang itu.”

“Apa yang dikatakan Jacob?” tanyanya datar.

“Dia bilang kau tidak… memburu manusia. Katanya keluargamu seharusnya tidak berbahaya karena kalian hanya memburu binatang.”

“Dia bilang kami tidak berbahaya?” Suaranya terdengar sangat sinis.

“Tidak juga. Dia bilang kalian seharusnya tidak berbahaya. Tapi suku Quileute masih tidak menginginkan kehadiran kalian di tanah mereka, untuk berjaga-jaga.”

Ia menatap ke depan, tapi aku tak bisa menduga apakah ia sedang melihat ke jalan atau tidak.

“Jadi, apakah ia benar? Tentang tidak memburu manusia?” Aku berusaha membuat suaraku sewajar mungkin.

“Suku Quileute punya ingatan yang panjang,” bisiknya.

Aku menganggapnya sebagai pembenaran.

“Tapi jangan senang dulu,” ia mengingatkanku. “Mereka benar untuk tetap menjaga jarak dengan kami. Kami masih berbahaya.”

“Aku tidak mengerti.”

“Kami berusaha,” ia menjelaskan perlahan. “Kami biasanya sangat andal dengan apa yang kami lakukan. Tapi terkadang kami juga membuat kesalahan. Aku, contohnya, membiarkan diriku berduaan denganmu.”

“Kau sebut ini kesalahan?” aku mendengar nada sedih dalam suaraku, tapi tak tahu apakah ia mendengarnya juga.

“Kesalahan yang sangat berbahaya,” gumamnya.

Kami sama-sama terdiam. Aku mengamati lampu sorot yang meliuk mengikuti jalan. Sorot lampu itu bergerak terlalu cepat; hingga tidak tampak nyata, seperti dalam video game. Aku sadar waktu berlalu begitu cepat, seperti jalanan hitam di bawah kami, dan aku teramat sangat takut takkan ada lagi kesempatan untuk bisa bersamanya seperti ini—secara terbuka, tanpa dinding diantara kami. Kata-katanya mencerminkan nada final, dan aku tersentak dibuatnya. Aku tak boleh menyia-nyiakan setiap detik berharga bersamanya.

“Ceritakan lagi,” pintaku putus asa, tak peduli apa yang dipikirkannya, hanya supaya aku bisa mendengar suaranya lagi.

Ia menatapku, terkejut karena perubahan nada suaraku. “Apa lagi yang ingin kau ketahui?”

“Katakan kenapa kau memburu binatang dan bukan manusia,” kataku, suaraku masih memancarkan keputusasaan. Aku menyadari mataku basah, dan aku bergulat melawan kesedihan yang mencoba menguasaiku.

“Aku tidak ingin menjadi monster.” Suaranya sangat pelan.

“Tapi binatang tidak cukup bukan?”

Ia berhenti. “Aku tidak yakin tentu saja, tapi aku membandingkannya dengan hidup hanya dengan makan tahu dengan susu kedelai; kami menyebut diri kami vegetarian, lelucon diantara kami sendiri. Tidak benar-benar memuaskan lapar kami—atau dahaga tepatnya. Tapi membuat kami cukup kuat untuk bertahan. Hampir sepanjang waktu.” Suaranya berubah licik. “Kadang-kadang lebih sulit dari yang lainnya.”

“Apakah sekarang sangat sulit bagimu?” tanyaku.

Ia menghela napas. “Ya.”

“Tapi kau tidak sedang lapar,” kataku yakin—menyatakan, bukan bertanya.

“Kenapa kau berpikir begitu?”

“Matamu. Sudah kubilang aku punya teori. Aku memperhatikan bahwa orang-orang—khususnya cowok—lebih pemarah ketika mereka lapar.”

Ia tergelak. “Kau ini memang pengamat, ya kan?”

Aku tidak menjawab; hanya mendengarkan suara tawanya, berusaha mematrinya dalam ingatan.

“Apakah kau pergi berburu akhir pekan ini, dengan Emmett?” tanyaku memecah kesunyian.

“Ya.” Ia berhenti sesaat, seolah-olah akan mengatakan sesuatu atau tidak. “Aku tidak ingin pergi, tapi ini penting. Lebih mudah berada di sekitarmu ketika aku sedang tidak haus.”

“Kenapa kau tidak ingin pergi?”

“Itu membuatku… khawatir… berada jauh darimu.” Tatapannya lembut tapi dalam, dan sepertinya membuatku lemah. “Aku tidak bercanda ketika memintamu untuk tidak jatuh ke laut atau tidak tertabrak hari Kamis lalu. Sepanjang akhir pekan aku tak bisa berkonsentrasi karena mengkhawatirkanmu. Dan setelah apa yang terjadi malam ini, aku terkejut kau bisa melewati seluruh akhir pekan tanpa tergores.” Ia menggeleng, lalu sepertinya teringat sesuatu. “Well, tidak benar-benar tanpa tergores.”

“Apa?”

“Tanganmu,” ia mengingatkanku. Aku memandang telapak tanganku, ke guratan-guratan yang nyaris sembuh di pergelangan tanganku. Matanya tak pernah luput dari apapun.

“Aku terjatuh,” keluhku.

“Sudah kuduga.” Bibirnya tersenyum. “Kurasa, mengingat siapa dirimu, kejadiannya bisa lebih buruk lagi—dan kemungkinan itu menyiksaku selama kepergianku. Tiga hari yang amat panjang. Aku benar-benar membuat Emmett kesal.” Ia tersenyum menyesal.

“Tiga hari?” Bukankah kau baru kembali hari ini?”

“Tidak, kami kembali hari Minggu.”

“Lalu kenapa tak satupun dari kalian masuk sekolah?” Aku merasa kesal, nyaris marah memikirkan betapa kecewanya aku karena ia tidak muncul.

“Well, kau bertanya apakah matahari menyakitiku, dan memang tidak. Tapi aku tak bisa keluar jika matahari bersinar—setidaknya, tidak di tempat yang bisa dilihat orang.”

“Kenapa?”

“Kapan-kapan akan kutunjukkan padamu,” ia berjanji.

Aku memikirkannya beberapa saat.

“Kau kan bisa meneleponku,” kataku.

Ia bingung. “Tapi aku tahu kau baik-baik saja.”

“Tapi aku tak tahu dimana kau berada. Aku—“ aku ragu-ragu, mengalihkan pandanganku.

“Apa?” suaranya yang lembut mendesakku.

“Aku tidak suka tidak bertemu denganmu. Itu juga membuatku waswas.” Wajahku merona ketika mengatakannya terus terang.

Ia terdiam. Aku melirik, waswas, dan melihat ekspresi terluka di wajahnya.

“Ah,” erangnya pelan. “Ini salah.”

Aku tak bisa memahami reaksinya. “Memangnya aku bilang apa?”

“Tidakkah kau mengerti, Bella? Tidak masalah bagiku membuat diriku sendiri merana, tapi kalau kau melibatkan dirimu terlalu jauh, itu masalah lain lagi.” Ia memalingkan tatapannya yang terluka ke jalan, katakatanya meluncur terlalu cepat untuk dimengerti. “Aku tak mau mendengar kau merasa seperti itu lagi.” Suaranya pelan namun tegas. Kata-katanya melukaiku. “Ini salah. Ini tidak aman. Aku berbahaya, Bella— kumohon, mengertilah.”

“Tidak.” Aku berusaha sangat keras supaya tidak terdengar seperti anak kecil yang merajuk.

“Aku serius,” geramnya.

“Begitu juga aku. Sudah kubilang, tidak penting kau itu apa. Sudah terlambat.”

Suaranya menghardik, pelan dan parau. “Jangan pernah mengatakan itu.”

Kugigit bibirku, lega ia tidak bisa mengetahui betapa itu menyakitiku. Aku memandang jalan. Pasti kami sudah dekat sekarang. Ia mengemudi terlalu cepat.

“Apa yang kaupikirkan?” tanyanya, suaranya masih muram. Aku hanya menggeleng, tak yakin apakah aku sanggup bicara, Kurasakan tatapannya di wajahku, tapi aku tetap memandang lurus ke muka.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.