Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Itu lebih dari satu pertanyaan,” protesnya. Aku hanya menjalin jari-jariku dan menatapnya, menanti jawaban.

“Tidak, hanya aku yang bisa. Dan aku tak bisa mendengar siapa saja, di mana saja. Aku harus cukup dekat dengan orang itu. Semakun aku mengenal ‘suara’ seseorang, meski jauh pun aku bisa mendengar mereka. Tapi tetap saja, tak lebih dari beberapa mil.” Ia berhenti dengan penuh pertimbangan. “Kurang-lebih seperti berada di ruangan besar penuh orang, semua bicara serentak. Hanya suara senandung—suara-suara dengungan di latar belakang. Setelah aku terfokus pada satu suara, barulah apa yang mereka pikirkan menjadi jelas.

“Kebanyakan aku mendengarkan semuanya—dan itu bisa sangat mengganggu. Kemudian lebih mudah untuk terlihat normal”—dahinya berkerut ketika mengatakannya—“ketika aku sedang tidak sengaja menjawab pikiran seseorang dan bukannya apa yang dikatakannya.”

“Kenapa pikirmu kau tak bisa mendengarku?” tanyaku penasaran.

Ia menatapku, sorot matanya misterius.

“Aku tidak tahu,” gumamnya. “Satu-satunya dugaanku, adalah mungkin jalan pikiranmu berbeda dengan yang lainnya. Dengan kata lain misalnya pikiranmu ada di gelombang AM sementara aku hanya bisa menangkan gelombang FM.” Ia tersenyum jail, tiba-tiba tertawa.

“Pikiranku tidak berjalan dengan benar? Maksudmu aku aneh?” Kata-katanya lebih menggangguku lebih dari yang seharusnya—barangkali karena memang benar. Aku sendiri menduga diriku memang aneh, hingga akhirnya merasa malu bila terbukti benar.

“Akulah yang mendengar suara-suara dalam pikiranku dan justru kau yang khawatir dirimu aneh,” ia tertawa. “Jangan khawatir, itu cuma teori…” Wajahnya menegang. “Yang mengingatkan aku, sekarang giliranmu.”

Aku menghela napas. Bagaimana memulainya.

“Bukankah kita sudah melewati tahap mengelak sekarang ini?” dengan lembut ia mengingatkanku.

Untuk pertama kali aku memalingkan wajah darinya, mencoba berpikir. Kebetulan aku memperhatikan spidometernya.

“Gila!” seruku. “Pelankan mobilnya!”

“Kenapa?” Ia bingung. Tepi kecepatan mobil tidak berkurang.

“Kau melaju seratus mil per jam!” aku masih berteriak. Aku menatap panik ke luar jendela, tapi terlalu gelap sehingga tak bisa melihat apa-apa. Jalanan hanya tampak sejauh jangkauan cahaya kebiruan lampu mobil. Hamparan hutan di kedua jalan bagai dinding hitam—sekeras dinding baja bila kami melaju keluar jalan dengan kecepatan ini.

“Tenang, Bella.” Ia memutar bola matanya, masih tidak memperlambat kecepatannya.

“Apa kau mencoba membunuh kita berdua?” tanyaku.

“Kita tidak akan tabrakan.”

Aku mencoba mengubah intonasiku. “Kenapa kau terburu-buru seperti ini?”

“Aku selalu mengemudi seperti ini.” Ia berbalik, tersenyum lebar padaku.

“Jangan alihkan pandanganmu dari jalan!”

“Aku belum pernah mengalami kecelakaan, Bella—aku bahkan belum pernah ditilang.” Ia nyengir dan menepuk-nepuk dahinya. “Radar pendeteksi alami.”

“Sangat lucu,” tukasku marah. “Charlie polisi, kau tidak lupa, kan? Aku dibesarkan untuk mematuhi aturan lalu lintas. Lagipula, kalau kau menabrak pohon dan membuat kita berdua cedera, barangkali kau masih bisa selamat.”

“Barangkali,” ia menyetujui gurauanku, kemudian tertawa sebentar. “Tapi kau tidak.” Ia menghela napas, dan dengan lega aku memperhatikan jarum kecepatan perlahan-lahan menunjukkan angka delapan puluh. “Puas?”

“Hampir.”

“Aku tidak suka mengemudi pelan-pelan,” gumamnya.

“Kau bilang ini pelan?”

“Sudah cukup mengomentari cara mengemudiku,” tukasnya. “Aku masih menantikan teori terakhirmu.”

Aku menggigit bibir. Ia menunduk memandangku, matanya yang kuning keemasan tak disangka-sangka melembut.

“Aku tidak bakal tertawa,” janjinya.

“Aku khawatir kau bakal marah padaku.”

“Seburuk itukah?”

“Kurang-lebih, ya.”

Ia menunggu. Aku menunduk memandang tanganku, jadi aku tak bisa melihat raut wajahnya.

“Katakan saja.” Suaranya tenang.

“Aku tak tahu bagaimana memulainya,” akuku.

“Kenapa kau tiak mulai dari awal… katamu kesimpulanmu tak muncul begitu saja.”

“Tidak.”

“Apa yang memicunya—buku? Film?” Ia mencoba menebak.

“Tidak—semuanya berawal hari Sabtu, di pantai.” Aku memberanikan diri melirik wajahnya. Ia tampak bingung.

“Aku bertemu teman lama keluargaku—Jacob Black,” aku melanjutkan. “Ayahnya dan Charlie telah berteman sejak aku masih bayi.”

Ia masih tampak bingung.

“Ayahnya salah satu tetua suku Quileute.” Aku mengamatinya dengan hati-hati. Ekspresinya masih sama. “Kami jalan-jalan—” aku mengubah ceritaku, tidak seperti rencana semula. “—dan dia menceritakan beberapa legeda tua—kurasa ia mencoba menakut-nakutiku. Dia menceritakan salah satunya…” aku berhenti, ragu-ragu.

“Lanjutkan,” katanya.

“Tentang vampir.” Aku sadar suaraku berbisik. Aku tak sanggup menatap wajahnya sekarang. Tapi aku melihat genggamannya menguat, mencengkram roda kemudi.

“Dan kau langsung teringat padaku?” Suaranya masih tenang.

“Tidak. Dia… menyebut keluargamu.”

Ia tidak mengatakan apa-apa, terus menatap jalan.

Sekonyong-konyong aku mengkhawatirkan keselamatan Jacob.

“Dia hanya menganggap itu takhayul yang konyol,” aku buru-buru berkata. “Dia tidak bermaksud supaya aku berpikir yang bukan-bukan.” Sepertinya ucapanku itu tidak cukup; aku harus mengaku. “Itu salahku, aku yang memaksanya bercerita padaku.”

“Kenapa?”

“Lauren mengatakan sesuatu tentang kau—dia mencoba memprovokasiku. Dan seorang cowok yang lebih tua dari suku itu bilang keluargamu tidak datang ke reservasi, hanya saja sepertinya ada maksud lain di balik perkataannya. Jadi aku memancing Jacob pergi berduaan denganku dan memancingnya agar mau bercerita,” aku mengakuinya.

Ia tertawa, dan aku terkejut dibuatnya. Aku menatapnya. Ia tertawa, tapi sorot matanya sengit, menatap lurus ke depan.

“Memancingnya bagaimana?” tanyanya.

“Aku mencoba merayunya—dan ternyata hasilnya lebih baik dari yang kuduga.” Saat mengingatnya lagi, suaraku memancarkan keraguan.

“Kalau saja aku melihatnya.” Ia tergelak. “Dan kau menuduhku membuat orang terpesona—Jacob Black yang malang.”

Wajahku merah padam dan aku memandang ke luar jendela menembus malam.

“Lalu apa yang kaulakukan?” ia bertanya lagi setelah beberapa saat.

“Aku mencari keterangan di Internet.”

“Dan apakah hasilnya membuatmu yakin?” Suaranya nyaris terdengar tidak tertarik. Tapi tangannay semakin kuat mencengkeram kemudi.

“Tidak. Tidak ada yang cocok. Kebanyakan konyol. Kemudian…” aku berhenti.

“Apa?”

“Kuputuskan itu tidak penting,” bisikku.

“Itu tidak penting?” nada suaranya membuatku mendongak—akhirnya aku berhasil membuatnya menunjukkan perasaannya yang sesungguhnya. Wajahnya memancarkan ketidakpercayaan, denan sedikit amarah yang membuatku waswas.

“Tidak,” kataku lembut. “Tidak penting bagiku apa pun kau ini.”

Nada mengejek terdengar dalam suaranya. “Kau tidak peduli kalau aku monster? Kalau aku bukan manusia?”

“Tidak.”

Ia terdiam, kembali memandang lurus ke depan. Wajahnya pucat dan kaku.

“Kau marah,” keluhku. “Aku seharusnya tidak mengatakan apa-apa.”

“Tidak,” katanya, tapi suaranya setegang wajahnya. “Lebih baik aku tahu apa yang kaupikirkan—bahkan meskipun pikiranmu itu tidak waras.

“Jadi aku salah lagi?” tantangku.

“Bukan itu maksudku. ‘Itu tidak penting!’” ia mengutip kata-kataku, sambil mengatupkan rahangnya erat-erat.

“Aku benar?” tanyaku menahan napas.

“Apakah itu penting?”

Aku menghela napas panjang.

“Tidak juga.” Aku diam sebentar. “Tapi aku memang penasaran.” Setidaknya aku bisa mengendalikan suaraku.

Tiba-tiba ia menyerah. “Apa yang membuatmu penasaran?”

“Berapa umurmu?”

“Tujuh belas,” ia langsung menjawab.

“Dan sudah berapa lama kau berumur tujuh belas?”

Bibirnya mengejang ketika memandang jalan. “Cukup lama,” akhirnya ia mengaku.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.