Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Terima kasih.” Suaraku benar-benar tulus. “Sudah dua kali kau menyelamatkanku.”

Ketegangan di wajahnya mencair. “Jangan ada yang ketiga kali, oke?”

Aku cemberut, tapi mengangguk. Ia menarik tangannya dan menaruhnya di bawah meja. Tapi ia mencondongkan tubuhnya ke arahku.

“Aku membuntutimu ke Port Angeles,” akunya terburu-buru. “Aku tak pernah menjaga seseorang sebelumnya, dan ini lebih merepotkan dari yang kusangka. Tapi barangkali itu hanya karena itu adalah kau. Orang normal sepertinya bisa melewati satu hari tanpa mengalami begitu banyak bencana.” Ia berhenti. Aku bertanya-tanya apakah seharusnya aku merasa terganggu mengetahui ia membuntutiku; tapi sebaliknya aku malah senang. Ia menatapku, barangkali bertanya-tanya mengapa aku tiba-tiba tersenyum.

“Pernahkah kau berpikir mungkin takdir telah memilihku sejak pertama, pada insiden van itu, dan kau malah mencampurinya?” tanyaku berspekulasi, mengalihkan kecurigaanku.

“Itu bukan yang pertama,” katanya, suaranya sulit didengar. Aku menatapnya terpana, tapi ia menundukkan kepala. “Takdir pertama kali memilihmu ketika aku bertemu denganmu.”

Aku merasakan sekelumi perasaan ngeri mendengar kata-katanya, ditambah ingatan akan tatapan kelam matanya yang sekonyong-konyong hari itu… tapi perasaan aman yang sangat hebat berkat kehadirannya mengenyahkan semuanya. Ketika ia mendongak untuk menatap mataku, tak ada secercah pun rasa takut di dalamnya.

“Kau ingat?” tanyanya, wajahnya yang tampan berubah serius.

“Ya,” sahutku tenang.

“Tapi toh sekarang kau duduk disini.” Ada secercah keraguan dalam suaranya, salah satu alisnya terangkat.

“Ya, disinilah aku duduk… berkat dirimu.” Aku terdiam sebentar. “Karena entah bagaimana kau bisa tahu bagaimana menemukanku hari ini?” semburku.

Ia mengatupkan bibirnya erat-erat, matanya yang menyipit menatapku, kembali menimbang-nimbang. Ia memandangi piringku yang masih penuh, lalu menatapku lagi.

“Kau makan, aku bicara,” usulnya.

Aku cepat-cepat menyendok ravioli-ku lagi dan mengunyahnya.

“Mengikuti jejakmu lebih sulit daripada seharusnya. Biasanya, setelah pernah mendengar pikiran seseorang, aku bisa dengan mudah menemukannya.” Ia menatapku waswas, dan aku menyadari tubuhku mematung. Kupaksa menelan makananku, lalu menusuk ravioli-nya lagi dan menyuapnya.

“Secara tidak hati-hati aku mengikuti jejak Jessica—seperti kataku, hanya kau yang bisa mendapat masalah di Port Angeles—dan awalnya aku tidak memperhatikan ketika kau pergi sendirian. Lalu, ketika aku menyadari kau tidak bersamanya lagi, aku pergi mencarimua di toko buku yang kulihat dalam pikirannya. Aku tahu kau tidak masuk kesana, dan kau pergi ke arah selatan… dan aku tahu toh kau harus kembali. Jadi, aku hanya menunggumu, sambil secara acak membaca pikiran orang-orang di jalan—melihat apakah ada yang memperhatikanmu sehingga aku tahu dimana kau berada. Aku tak punya alasan untuk khawatir… tapi anehnya aku toh khawatir juga.” Ia melamun, tatapannya menembusku, melihat hal-hal yang tak bisa kubayangkan.

“Aku mulai bermobil berputar-putar, sambil masih… mendengarkan. Matahari akhirnya terbenam, dan aku nyaris keluar dan mengikutimu dengan berjalan kaki. Dan lalu—” Ia berhenti, menggertakkan giginya akibat amarah yang sekonyong-konyong muncul. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri.

“Lalu apa?” bisikku. Pandangannya tetap menerawang.

“Aku mendengar apa yang mereka pikirkan,” geramnya, bibir atasnya menyelip masuk diantara giginya. “Aku melihat wajahmu dalam pikirannya.” Tiba-tiba Edward mencondongkan tubuh, satu siku bertengger di meja, tangan menutupi mata. Gerakan itu begitu cepat sehingga membuatku bingung.

“Sulit… sekali—kau tak bisa membayangkan betapa sulitnya—hanya pergi menyelamatkanmu, dan membiarkan mereka.. tetap hidup.” Suaranya tidak jelas, tertutup lengannya.

“Aku bisa saja membiarkanmu pergi dengan Jessica dan Angela, tapi aku takut kalau kau meninggalkanku sendirian, aku akan pergi mencari mereka,” ia mengakui dalam bisikan.

Aku duduk diam, kepalaku pening, pikiranku campur aduk. Tanganku terlipat di pangkuan, dan aku bersadar lemah di kursi. Tangannya masih menutupi wajah, dan ia masih tak bergerak, bagai patung batu.

Akhirnya ia mendongak, matanya mencari-cari mataku, penuh dengan pertanyaannya sendiri.

“Kau sudah siap pulang?” tanyanya.

“Ya, aku siap,” aku mengiyakan, amat sangat bersyukur dapat pulang bersamannya. Aku belum siap berpisah dengannya.

Pelayan muncul seolah ia telah dipanggil. Atau memperhatikan.

“Jadi bagaimana?” ia bertanya kepada Edward.

“Kami mau bayar, terima kasih.” Suaranya tenang, agak serak, masih tegang oleh obrolan tadi. Sepertinya ini membuat si pelayan bingung. Edward mendongak, menunggu.

“T-tentu,” ujar pelayan itu terbata-bata. “Ini dia.” Ia mengeluarkan folder kulit kecil dari saku depan celemek hitamnya dan menyerahkannya pada Edward.

Ternyata Edward sudah menyiapkan uangnya. Ia menyelipkannya ke folder itu dan menyerahkannya lagi pada si pelayan.

“Simpan saja kembaliannya.” Edward tersenyum, lalu bangkit. Aku ikut berdiri dengan susah payah.

Ia tersenyum menggoda lagi pada Edward. “Semoga malammu menyenangkan.”

Edward tidak berpaling dariku ketika mengucapkan terima kasih padanya. Aku menyembunyikan senyumku.

Ia berjalan dekat di sisiku menuju pintu, masih berhati-hati agar tidak menyentuhku. Aku teringat ucapan Jessica tentang hubungannya dengan Mike, bagaimana mereka nyaris sampai ke tahap ciuman. Aku menghela napas. Edward sepertinya mendengar, dan ia menunduk penasaran. Aku memandang trotoar, bersyukur karena ia sepertinya tidak bisa mengetahui apa yang kupikirkan.

Ia membukakan pintu untukku dan menunggu samapai aku masuk, lalu menutupnya dengan lembut. Aku memperhatikannya memutar ke depan, masih mengagumi keanggunannya. Barangkali seharusnya aku sudah terbiasa dengan itu sekarang—tapi nyatanya belum. Firasatku mengatakan tak seorang pun akan pernah terbiasa dengan Edward.

Begitu masuk ke mobil ia menyalakan mesin dan pemanas hingga maksimal. Udara dingin sekali, dan kurasa cuaca bagusnya sudah berakhir. Meski begitu aku merasa hangat dalam balutan jaketnya, menghirup aromanya ketika kupikir ia sedang tidak melihat.

Edward mengeluarkan mobilnya dari parkiran, sepertinya tanpa melirik, berputar menuju jalan tol.

“Sekarang,” katanya,” giliranmu.

 

 

9. Teori

“Boleh aku bertanya satu hal lagi?” aku memohon ketika Edward memacu mobilnya cepat sekali di jalan yang

sepi. Sepertinya ia tidak memperhatikan jalan.

Ia menghela napas.

“Satu saja,” katanya menyetujui. Bibirnya mengatup membentuk espresi hati-hati.

“Well… katamu kau tahu aku tidak masuk ke toko buku itu, dan aku pergi ke selatan. Aku hanya bertanya-tanya bagaimana kau mengetahuinya.”

Ia berpaling, sengaja.

“Kupikir kita telah melewati tahap pura-pura itu,” gerutuku.

Ia nyaris tersenyum.

“Baiklah kalau begitu. Aku mengikuti aroma tubuhmu.” Ia memandang jalan, memberiku waktu untuk mengatur ekspresi. Aku tak bisa memikirkan reaksi yang tepat untuk menanggapinya, tapi akan kusimpan jauhjauh untuk kupikirkan nanti. Aku mencoba berkonsentrasi lagi. Aku belum siap membiarkannya selesai, mengingat sekarang ia mau menjelaskan semuanya.

“Lalu kau tidak menjawab satu pertanyaanku tadi…” aku tidak menyelesaikan kalimatku.

Ia memandangku tidak setuju padaku. “Yang mana?”

“Bagaimana caranya—membaca pikiran? Bisakah kau membaca pikiran siapa saja, di mana saja? Bagaimana kau melakukannya? Apakah keluargamu yang lain bisa…” Aku merasa konyol, meminta penjelasan atas sesuatu yang tidak nyata.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.