Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Aku sampai di sudut, tapi hanya dengan pandangan sekilas aku tahu itu jalan buntu ke belakang bangunan yang lain. Aku setengah berbalik dengan siaga; aku harus bergegas berlari menyeberangi gang sempit itu, kembali ke trotoar. Jalanannya berakhir di sudut berikut, di sana ada rambu stop. Aku berkonsentrasi mendengarkan langkah-langkah samar di belakangku, memutuskan akan lari atau tidak. Mereka sepertinya tertinggal jauh di belakang, dan aku tahu kapan saja mereka bisa menyusulku. Aku yakin bakal tersandung dan terjatuh kalau berjalan lebih cepat lagi. Suara langkah kaki itu jelas sudah jauh di belakang. Aku memberanikan diri menoleh sekilas, dan dengan lega melihat mereka kurang lebih 12 meter di belakangku. Tapi kedua cowok itu sedang memadangiku.

Rasanya lama sekali baru aku sampai di sudut. Langkahku tetap stabil, dan kedua cowok di belakangku semakin tertinggal. Mungkin mereka sadar telah membuatku takut dan menyesalinya. Aku melihat dua mobil yang menuju utara melewati persimpangan yang akan kutuju, dan aku menghela napas lega. Akan ada lebih

banyak orang begitu aku keluar dai jalanan sepi ini. Aku membelok dengan helaan napas lega.

Lalu menghentikan langkah.

Di kedua sisi jalan tampak dinding kosong tanpa pintu dan jendela. Dari jauh aku bisa melihat dua persimpangan, lampu jalan, mobil-mobil, dan lebih banyak lagi pejalan kaki, tapi mereka terlalu jauh. Karena terhalang bangunan di sebelah barat, di tengah jalan berdiri dua cowok lainnya. Mereka menatapku sambil tersenyum puas, sementara aku berdiri membeku di trotoar. Aku pun tersadar, aku tidak sedang diikuti.

Aku dijebak.

Aku berhenti sedetik yang rasanya lama sekali. Kemudian aku berbalik dan berlari ke sisi lain jalan. Dengan hari ciut aku menyadari usahaku sia-sia. Suara langkah di belakangku semakin jelas sekarang.

“Disitu kau rupanya!” Suara gelegar cowok berambut gelap dan bertubuh kekar itu memecah keheningan dan membuatku kaget. Dalam kegelapan yang menyelimuti, ia seolah-olah memandang ke belakangku.

“Yeah,” suara keras menyahut dari belakangku, membuatku terperanjat sekali lagi ketika mencoba lari. “Kami hanya mengambil jalan pintas.”

Langkahku sekarang pelan. Jarak yang memisahkanku dengan dua pasang cowok itu semakin dekat. Teriakanku cukup keras dan lantang, karenanya aku menghirup napas dalam-dalam, bersiap-siap berteriak. Tapi tenggorokanku begitu kering sehingga aku tak yakin seberapa keras aku bisa berteriak. Dengan cepat aku meloloskan tapi tasku dari kepala, menggenggamnya, siap menyerahkan atau menggunakannya sebagai senjata bila perlu.

Si cowok kekar meninggalkan tembok ketika aku berhenti dengan hati-hati, dan berjalan pelan ke jalan.

“Jangan dekati aku,” aku mengingatkan dengan suara yang seharusnya lantang dan berani. Tapi aku benar tentang tenggorokan yang kering—tak ada suara yang keluar.

“Jangan begitu, Manis,” seru cowok itu, dan suara tawa liar itu terdengar lagi di belakangku.

Aku memasang kuda-kuda, kaki terbuka, dengan panik mengingat-ingat jurus bela diri yang kutahu. Kepalan tangan siap kulayangkan, mudah-mudahan bisa mematahkan hidungnya atau menghantam kepalanya. Menusukkan jari ke matanya—mencoba menusuk dan mencongkel keluar matanya. Tentu saja jurus standar, tendangan lutut ke daerah vitalnya. Suara pesimis dalam benakku terdengar lagi, mengingatkanku bahwa aku tak mungkin bisa mengalahkan salah satu dari mereka, apalagi mereka berempat. Diam! Kuperintah suara itu diam sebelum mulai ketakutan. Aku takkan menyerah sebelum mengalahkan salah satu dari mereka. Kutelan liurku supaya bisa berteriak lantang.

Sekonyong-konyong lampu sorot muncul dari sudut jalan dan sebuah mobil nyaris menabrak si kekar, memaksanya melompat ke trotoar. Aku berlari ke tengah jalan—mobil ini akan berhenti, atau menabrakku. Tapi mobil silver itu tak disangka-sangka menukik, lalu berhenti dengan salah satu pintu terbuka hanya beberapa jengkal dariku.

“Masuk,” terdengar suara gusar memerintahku.

Sungguh mengagumkan betapa cepatnya cekaman rasa takut itu lenyap, mengagumkan bagaimana perasaan aman tiba-tiba menyelimutiku—bahkan sebelum aku meninggalkan jalanan—hanya sedetik setelah aku mendengar suaranya. Aku melompat masuk, membanting pintu hingga tertutup.

Suasana di dalam mobil gelap, tak ada cahaya seiring pintu yang tadi terbuka, dan aku nyaris tak bisa melihat wajahnya dalam cahaya temaram yang terpancar dari dasbor. Ban mencicit ketika ia berputar menuju utara, melaju terlalu cepat, berbelok menuju keempat cowok yang terperangah itu. Sekilas kulihat mereka melompat ke trotoar saat kami melaju menuju pelabuhan.

“Pakai sabuk pengamanmu,” perintahnya, dan aku tersadar kedua tanganku meremas jok erat-erat. Aku langsung mematuhinya; suara klik ketika sabuh pengaman terpasang terdengar nyata dalam kegelapan. Ia membelok tajam ke kiri, terus melesat cepat, melewati beberapa rambu stop tanpa menghentikan laju mobil.

Tapi aku merasa sangat aman, dan sejenak aku sama sekali tak peduli kemana tujuan kami. Kutatap wajahnya dengan perasaan lega yang dalam, kelegaan yang melebihhi kebebasanku yang mendadak itu.

 

 

Kuamati rupanya yang tak bercela dalam cahaya yang terbatas, menunggu napasku kembali normal, hingga

tampak olehku ekspresinya yang amat sangat marah.

“Kau baik-baik saja?” tanyaku, terkejut mendengar betapa parau suaraku.

“Tidak,” katanya kasar, nada suaranya marah.

Aku duduk diam, memperhatikan wajahnya sementara matanya yang berkilat-kilat menatap lurus ke depan, sampai mobilnya tiba-tiba berhenti. Aku memandang berkeliling, tapi terlalu gelap untuk melihat apa pun selain barisan pepohonan di sisi jalan. Kami sudah meninggalkan kota.

“Bella?” ujarnya, suaranya tegang namun terkendali.

“Ya?” suaraku masih parau. Diam-diam aku berusaha berdeham.

“Kau baik-baik saja?”Ia masih tidak memandang ke arahku, tapi amarah tampak jelas di wajahnya.

“Ya,” jawabku lembut.

“Tolong alihkan perhatianku,” perintahnya.

“Maaf, apa katamu?”

Ia menghela napas keras-keras.

“Ceritakan apa saja yang remeh sampai aku tenang,” ia menjelaskan. Dipejamkannya matanya dan dicubitnya cuping hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk.

“Mmm.” Aku memutar otak untuk menemukan sesuatu yang remeh. “Aku akan menabrak Tyler Crowley besok sebelum sekolah dimulai?”

Ia masih memejamkan mata dengan susah payah, tapi sudut bibirnya menegang.

“Kenapa?”

“Dia memberitahu semua orang akan mengajakku ke pesta prom—entah dia itu tidak waras atau masih mencoba menebus kesalahannya karena hampir membunuhku tempo…well, kau pasti ingat, dan dia pikir pesta prom cara yang tepat. Jadi kupikir kalau aku membahayakan hidupnya, berarti kedudukan kami seri, dan dia tidak perlu terus menerus memperbaiki hubungan. Aku tidak memerlukan musuh, dan barangkali Lauren akan kembalu bersikap biasa kalau Tyler menjauhiku. Meski begitu mungkin aku perlu menghancurkan mobil Sentra-nya. Kalau tidak punya kendaraan, berarti dia tidak bisa mengajak siapa-siapa ke prom…” cerocosku.

“Aku sudah dengar.” Ia terdengar lebih tenang.

“Oh ya?” tanyaku tidak percaya, kejengkelanku menyala-nyala lagi sekarang. “Kalau dia lumpuh dari leher ke bawah, dia juga tidak bisa pergi ke prom,” gumamku, menjelaskan rencanaku.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.