Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Kami beralih ke bagian sepatu dan aksesori. Sementara mereka menjajal macam-macam, aku hanya memperhatikan dan mengkritik. Aku sedang tidak ingin berbelanja, meskipun sebenarnya membutuhkan sepatu baru. Semangatku lenyap seiring munculnya perasaan sebalku terhadap Tyler, dan itu kembali menciptakan ruang untuk kesedihan.

“Angela?” ujarku ragu-ragu, sementara ia mencoba sepasang sepatu tali tumit tinggi berwarna pink—ia senang sekali pasangan kencannya cukup tinggi sehingga ia bisa mengenakan sepatu tumit tinggi. Jessica sudah pindah ke bagian aksesori, tinggal aku dan Angela sendirian.

“Ya?” Ia menjulurkan kaki, menggerakkan pergelangan kakinya supaya bisa mengamati sepatunya dari sudut pandang berbeda.

Lalu aku mendadak takut. “Aku suka yang itu.”

“Kurasa aku akan membelinya—meskipun hanya cocok dengan gaun baruku ini,” ia melamun.

“Beli saja—sedang diskon kok,” dukungku. Ia tersenyum, menutup kembali kotak sepatu putih yang kelihatannya lebih praktis.

Aku mencobal lagi. “Mmm, Angela…” Ia menatap penasaran.

“Apakah anak-anak… Cullen”—aku terus memandangi sepatu—“memang sering membolos sekolah?” Aku benar-benar gagal untuk terdengar biasa saja.

“Ya, ketika cuaca bagus mereka pergi berkemah—bahkan ayah mereka juga. Mereka benar-benar pecinta alam sejati,” ujarnya tenang, sambil mengamati sepatunya. Ia tidak menanyakan apa pun, tidak seperti Jessica yang pasti akan melontarkan ratusan pertanyaan. Aku mulai benar-benar menyukai Angela.

“Oh.” Aku tidak membahasnya lagi ketika Jessica kembali untuk memperlihatkan perhiasan yang serasi dengan sepatu silvernya.

Kami bermaksud makan malam di restoran Italia kecil di pinggir jalan, tapi acara belanjanya ternyata tak selama yang kami kira. Jess dan Angela akan membawa pakaian baru mereka ke mobil, kemudian kami akan berjalan kaki ke teluk. Kukatakan aku akan menemui mereka di restoran satu jam lagi—aku mau mencari toko buku. Mereka sebenarnya bersedia ikut denganku, tapi aku menyuruh mereka bersenang-senang—mereka tak tahu betapa asyiknya aku bila sudah dikelilingi buku-buku, sesuatu yang lebih suka kulakukan sendirian. Mereka pergi ke mobil sambil mengobrol riang, dan aku pergi ke arah yang tadi ditunjuk Jess.

Mudah bagiku menemukannya, tapi ternyata bukan toko buku itu yang kucari. Jendelanya penuh dengan kristal, penangkap mimpi, dan buku-buku penyembuhan spiritual. Aku bahkan tidak masuk. Lewat jendela kaca aku bisa melihat perempuan berumur lima puluh tahunan dengan rambut panjang beruban tergerai di punggung, mengenakan pakaian tahun ’60-an. Ia tersenyum ramah dari balik konter. Kuputuskan tidak mencoba bicara dengannya. Pasti ada toko buku normal di kota ini.

Aku menelusuri jalan demi jalan yang padat oleh orang-orang pulang kerja, berharap aku sedang menuju pusat kota. Aku tidak terlal memperhatikan arah langkahku; aku berusaha keras tidak memikirkan Edward, juga apa yang dikatakan Angela… Lebih lagi, aku mencoba mematikan harapanku untuk Sabtu nanti, khawatir akan lebih kecewa lagi. Ketika itu aku mendongak dan melihat sebuah Volvo silver di parkir di jalan. Tiba-tiba saja pikiran itu menyergapku. Dasar vampir tolol yang tak bisa dipercaya, pikirku.

Aku melangkah marah ke selatan, menuju beberapa toko berjendela kaca yang sepertinya menjanjikan. Tapi ketika tiba disana, itu hanya toko reparasi dan toko kosong. Masih ada terlalu banyak waktu sebelum bertemu Jess dan Angela, dan jelas aku perlu memulihkan suasana hatiku sebelum bertemu mereka lagi. Kusisir rambutku dengan jemari dan menarik napas dalam-dalam sebelum berbelok di sudut jalan.

Ketika menyeberang, aku tersadar telah menuju ke arah yang salah. Rambu lalu lintas yang kulihat menuju ke arah utara, dan sepertinya bangungan-bangunan disini kebanyakan gudang. Kuputuskan untuk membelok ke timur di belokan berikut, kemudian setelah beberapa blok aku berputar dan mencoba keberuntunganku dengan mengambil jalan yang berbeda.

Empat cowok muncul dari pojokan yang kutuju, berpakaian terlalu santai untuk kategori pekerja yang baru pulang kerja, tapi terlalu lusuh sebagai turis. Ketika mereka mendekat, aku menyadari umur mereka tidak telalu jauh dariku. Mereka bercanda sambil berteriak-teriak, tertawa liar dan saling menonjok lengan. Aku bergegas menyingkir sejauh mungkin, memberi jarak pada mereka, berjalan cepat, sambil menoleh ke arah mereka.

“Hei, kau!” panggil salah satu dari mereka saat kami berpapasan, dan ia pasti berbicara denganku, mengingat tak ada orang lain di sekitarku. Aku pun memandangnya. Dua dari mereka telah menghentikan langkah, dua lagi memperlambat jalannya. Sepertinya yang berbicara denganku tadi adalah yang paling dekat denganku. Tubuhnya besar, berambut gelap, kira-kira awal dua puluhan. Ia mengenakan kaus flanel diatas T-shirt kotornya, jins sobek-sobek, dan sandal. Ia melangkah ke arahku.

“Halo,” gumamku sebagai reaksi spontan. Lalu aku cepat-cepat mengalihkan pandangan dan berjalan lebih cepat menuju belokan. Bisa kudengar mereka tertawa keras di belakangku.

“Hei, tunggu!” salah satu memanggil lagi, tapi aku terus menunduk dan berbelok sambil menghela napas lega. Masih kudengar mereka tertawa tergelak-gelak di belakangku.

Aku mendapati diriku berjalan di trotoar yang melintasi bagian belakang gudang-gudang yang suram, masing-masing dilengkapi pintu untuk bongkar-muat truk, terkunci pada malam hari. Sisi selatan jalan tidak bertrotoar, hanya pagar kawat dengan kawat berduri untuk melindungi sejenis tempat penyimpanan mesin. Sepertinya aku telah sampai di badian Port Angeles yang bukan diperuntukkan bagi turis. Aku tersadar hari mulai gelap, awan-awan akhirnya berkumpul lagi di langit barat, membuat matahari terbenam lebih awal. Langit timur masih bersih, tapi mulai kelabu dengan semburat merah jambu dan jingga. Aku tadi meninggalkan jaketku di mobil, dan dingin yang sekonyong-konyong kurasakan membuatku bersedekap erat-erat. Sebuah van melintas di depanku, lalu jalanan kembali kosong.

Langit tiba-tiba menggelap, dan ketika menoleh untuk memandang awan yang semakin mengancam, aku terkejut menyadari dua cowok diam-diam mengendap-endap enam meter di belakangku.

Mereka cowok-cowok yang tadi, meski bukan yang berambut gelap yang telah bicara denganku. Aku langsung membuang muka dan mempercepat langkah. Perasaan merinding yang tak ada hubungannya dengan cuaca membuatku gemetar lagi. Tas kecilku kuselempangkan di tubuh seperti yang seharusnya dilakukan supaya tidak bisa dicuri. Aku tahu persis dimana aku menaruh semprotan ladaku—masih di ranselku di kolong tempat tidur, belum dibuka. Aku tidak membawa banyak udang, hanya selembar dua puluh dollar dan sedikit recehan. Aku berpikir akan menjatuhkan tasku dengan sengaja lalu kabur. Tapi suara ketakutan di sudut benakku mengingatkanku mereka mungkin saja lebih dari sekadar pencuri.

Aku mendengarkan langlah mereka dengan saksama, yang sekarang jauh lebih pelan daripada langkah berisik yang mereka buat tadi. Kedengarannya mereka tidak mempercepat ataupun semakin dekat denganku. Tarik napas, Bella, aku mengingatkan diri sendiri. Kau tidak tahu apakah mereka mengikutimu. Aku terus berjalan secepat mungkin tanpa benar-benar berlari, berkonsentrasi pada belokan kanan yang tinggal beberapa meter. Aku bisa mendengar mereka tertinggal jauh di belakang. Sebuah mobil biru muncul dari selatan dan meluncur cepat ke arahku. Aku berpikir untuk menyetopnya, tapi ragu, tak yakin apakah mereka benar-benar mengejarku.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.