Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Setelah makan malam aku nonton TV bersama Charlie, sekadar mengisi waktu. Tak ada yang ingin kutonton, tapi ia tahu aku tidak suka baseball, jadi ia menggantinya ke sitkom membosankan. Tak satu pun dari kami menikmatinya. Meski begitu ia kelihatan senang karena bisa melakukan sesuatu bersamaku. Dan meskipn aku sedang sedih, rasanya menyenangkan bisa membuatnya senang.

“Dad,” kataku saat jeda iklan, “besok malam Jessica dan Angela ingin ke Port Angeles mencari gaun pesta, dan mereka ingin aku membantu memilih… apakah aku boleh ikut bersama mereka?”

“Jessica Stanley?” tanyanya.

“Dan Angela Webber.” Aku menghela napas ketika memberi keterangan tambahan padanya.

Ia bingung. “Tapi kau tidak akan pergi ke pesta dansa, kan?”

“Tidak, Dad, tapi aku membantu mereka memilih pakaian—kau tahu, memberi kritik yang membangun.” Aku nggak bakal perlu menjelaskan hal ini kalau ayahku perempuan.

“Well, baiklah.” Ia sepertinya menyadari dirinya tidak mengerti urusan anak perempuan. “Itu masih malam sekolah, kan?”

“Kami langsung pergi sepulang sekolah, jadi bisa pulang lebih cepat. Kau bisa menyapkan makan malam sendiri kan?”

“Bells, aku memasak makananku sendiri selama tujuh belas tahun sebelum kau datang,” ia mengingatkanku.

“Aku tak tahu bagaimana kau bisa bertahan hidup selama itu,” gumamku, lalu menambahkan sesuatu yang lebih jelas, “aku akan menyiapkan bahan-bahan sandwich di kulkas, oke? Persis di sebelah atas.”

Paginya matahari bersinar cerah lagi. Aku terbangun dengan harapan baru yang susah payah coba kutekan. Aku mengenakan pakaina yang cocok untuk udara hangat seperti sekarang, blus berpotongan V biru tua—sesuatu yang kukenakan pada musim dingin yang parah di Phoenix.

Aku telah mengatur kedatanganku di sekolah agar tidak terlalu pagi, sampai-sampai nyaris tak ada waktu untuk bergegas ke kelas. Dengan hati mencelos aku mengitari parkiran yang penuh, mencari tempat yang masih kosong, sambil mencari Volvo silver yang jelas-jelas tak ada disitu. Aku memarkir truk di baris terakhir dan bergegas ke kelas bahasa Inggris. Aku tiba terengah-engah, tapi berhasil sampai sebelum bel terakhir berbunyi.

Hari ini sama seperti kemarin—aku tak bisa menahan secercah harapan tumbuh dalam benakku, hanya untuk menyaksikannya hancur berantakan saat dengan hati hancur aku mencari-cari mereka di ruang makan siang, dan duduk sendirian di kelas Biologi.

Perjalanan ke Port Angeles akhirnya akan terwujud malam ini. Rencana itu jadi semakin menarik karena Lauren mendadak ada urusan. Aku benar-benar tak sabar lagi ingin meninggalkan kota supaya bisa berhenti menoleh ke belakang, berharap melihatnya muncul tiba-tiba seperti yang selalu di lakukannya. Aku berjanji akan bersikap ceria malam ini dan tidak merusaka kesenangan Angela dan Jessica berburu pakaian. Mungkin aku juga bisa membeli beberapa potong pakaian. Kuenyahkan ppikiran bahwa aku mungkin akan berbelanja sendirian di Seatle akhir pekan ini, tak lagi tertarik dengan kesepakatan tempo hari. Tak mungkin ia membatalkannya tanpa setidaknya memberitahuku.

Usai sekolah Jessica ikut ke rumahku dengan Mercury tuanya yang putih, jadi aku bisa meninggalkan buku-buku dan trukku. Kusisir rambutku cepat-cepat selagi di dalam, merasa sedikit senang membayangkan meninggalkan Forks. Aku meninggalkan pesan di meja untuk Charlie, kujelaskan lagi dimana kusimpan makan malamnya, Lalu aku memindahkan dompet lipatku dari tas sekolah ke tas kecil yang jarang kugunakan, lalu lari dan bergabung dengan Jessica. Selanjutnya kami pergi ke rumah Angela, ia sudah menunggu kami. Kegembiraanku meningkat cepat ketika kami akhirnya mengemudi meninggalkan batas kota.

 

 

8. Port Angeles

Jess mengemudi lebih cepat daripada Charlie, jadi kami bisa tiba di Port Angeles pukul 14.00. Sudah lama aku tidak kumpul-kumpul dan nongkrong dengan teman-teman cewekku, hingga aliran esterogen membuatku bersemangat. Kami mendengarkan lagu-lagu rock berisik sementara Jessica berceloteh tentang cowok-cowok yang sering nongkrong bersama kami. Makan malamnya bersama Mike berlangsung sangat baik, dan ia berharap malam Minggu nanti mereka bakal berciuman. Aku tersenyum sendiri, merasa senang. Secara tidak kentara Angela juga senang akan pergi ke pesta dansa, tapi ia tidak benar-benar naksir Eric. Jess mencoba membuat Angela mengaku tipe cowok seperti apa yang disukainya, tapi aku menyela dengan menanyakan soal pakaian, untuk mengalihkan perhatiannya. Angela memandangku dengan ekspresi terima kasih.

Port Angeles adalah daya tarik yang indah bagi wisatawan. Meskipun hanya kota kecil, tempat itu lebih tertata dan menarik dibanding Forks. Tapi Jessica dan Angela sudah sangat mengenalnya, jadi mereka tidak berencana menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan di semenanjung, mengagumi keindahan kota. Jess langsung menuju department store terbesar disana, yang jaraknya hanya beberapa ruas jalan dari semenanjung yang sanagt menarik bagi pengunjung.

Pesta dansa nanti sifatnya setengah formal, dan kami tidak terlalu yakin apa maksudnya. Jessica dan Angela kelihatannya terkejut dan nyaris tidak percaya ketika kubilang aku tak pernah pergi ke pesta dansa ketika masih di Phoenix.

“Apa kau tak pernah berkencan atau apa?” Jess bertanya ragu-ragu ketika kami memasuki toko.

“Sungguh,” aku berusaha meyakinkannya, tanpa harus menceritakan masalah yang kualami ketika berdansa. “Aku tidak pernah punya pacar, atau teman dekat. Aku jarang keluar.”

“Kenapa?” tanya Jessica.

“Tidak ada yang mengajakku,” jawabku jujur.

Ia tampak ragu. “Di sini orang-orang mengajakmu berkencan,” ia mengingatkanku, “dan kau menolaknya.” Kami sekarang berada di bagian remaja, melihat-lihat rak di sekitar kami, mencari gaun.

“Well, kecuali Tyler,” ralat Angela.

“Maaf?” aku menahan napas. “Apa katamu?”

“Tyler bilang ke semua orang dia mengajakmu ke pesta prom,” Jessica memberitahuku dengan pandangan curiga.

“Dia bilang apa?” aku kedengaran seperti tersedak.

“Sudah kubilang itu tidak benar, kan,” Angela bergumam pada Jessica.

Aku terdiam, masih syok yang dengan cepat berganti jadi sebal. Tapi kami sudah menemukan pakaian yang kami cari, dan sekarang ada pekerjaan lain yang harus dilakukan.

“Itu sebabnya Lauren tidak menyukaimu,” Jessica cekikikan sementara kami memilih-milih.

Dengan geram aku berkata, “Apa kalian pikir kalau aku menabraknya dengan trukku, dia bakal berhenti merasa bersalah mengenai kejadian itu? Apakah dia akan berhenti membayar semuanya dan menganggapnya impas?”

“Mungkin?” Jess nyengir. “Kalau memang itulah alasannya mengajakmu.”

Pilihan pakaiannya tidak terlalu banyak, tapi mereka menemukan beberapa yang pas untuk dicoba. Aku duduk di kursi pendek di kamar pas, di depan cermin tiga arah, berusaha mengendalikan amarahku.

Jess bimbang diantara dua pilihan—gaun panjang hitam tanpa lengan, atau gaun warna biru elektrik dengan tali tipis di pundak. Kusarankan ia memilih yang biru; kenapa tidak mencoba sesuatu yang berbeda? Angela memilih gaun pink pucat yang membalut tubuh jangkungnya dengan indah dan menegaskan warna keemasan rambutnya yang kecoklatan. Aku memuji mereka dengan tulus dan membantu mengembalikan pakaian yang tak jadi dipilih ke rak. Proses memilih pakaian ternyata hanya berlangsung sebentar dan lebih mudah daripada yang kulakukan bersama Reneé di Phoenix. Kurasa karena pilihan disini lebih terbatas.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.