Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Rasanya mustahil berada di rumah ini, dengan tidak menyadari bahwa Charlie belum bisa melupakan ibuku. Itu membuatku tidak nyaman.

Aku tak mau terburu-buru ke sekolah, tapi aku tak bisa tinggal di rumah lebih lama lagi. Aku mengenakan jaketku—yang rasanya seperti pakaian antiradiasi—dan menerobos hujan.

Hujan masih gerimis, tapi tak sampai membuatku basah kuyup ketika meraih kunci rumah yang selalu disembunyikan di bawah daun pintu, dan menguncinya. Suara decitan sepatu bot antiairku yang baru membuatku takut. Aku merindukan bunyi keretakan kerikil saat aku berjalan. Aku tidak bisa berhenti dan mengagumi trukku lagi seperti yang kuinginkan, aku sedang terburu-buru keluar dari kabut lembab yang menyelubungi kepalaku dan hinggap di rambutku di balik tudung jaket.

Di dalam truk nyaman dan kering. Entah Billy atau Charlie pasti telah memebersihkannya, tapi dari jok berlapis kulit cokelat itu samar-samar masih tercium bau tembakau, bensin, dan peppermint. Mesinnya langsung menyala, dan aku lega karenanya, tapi derunya keras sekali. Yah, truk setua ini pasti memiliki kekurangan. Radio antiknya masih berfungsi, nilai tambah yang tidak terduga.

Menemukan letak sekolah tidaklah sulit, meskipun aku belum pernah kesana. Bangunan sekolah, seperti kebanyakan bangunan lainnya, letaknya tak jauh dari jalan raya. Tidak langsung ketahuan itu bangunan sekolah sih; hanya papan namanya yang menyatakan bangunan itu sebagai SMA Forks, yang membuatku berhenti. Bangunannya seperti sekumpulan rumah serasi, dibangun dengan batu bata warna marun. Ada banyak sekali pohon dan semak-semak sehingga awalnya aku tak bisa mengira-ngira luasnya. Di mana aura institusinya? Aku membayangkan sambil bernostagia. Di mana pagar berantai dan pendeteksi logamnya?

Aku parkir di depan bangunan pertama yang memiliki papan tanda kecil di atas pintu, bunyinya TATA USAHA. Tak ada yang parkir disana, sehingga aku yakin itu daerah parkir khusus. Tapi aku memutuskan akan bertanya di dalam, daripada berputar-putar di bawah guyuran hujan seperti orang tolol. Dengan enggan aku melangkah keluar dari trukku yang nyaman dan hangat, menyusuri jalan setapak dari bebatuan kecil berpagar warna gelap. Sebelum membuka pintu aku menghirup napas dalam-dalam.

Di dalam keadaan cukup terang, dan lebih hangat dari yang kuharap. Kantornya kecil, ruang tunggunya dilengkapi kursi lipat berjok, karpet bersemburat jingga, pemberitahuan dan penghargaan bergantungan di dinding, sebuah jam dinding besar berdetak keras. Tanaman ada di mana-mana dalam pot plastik besar, seolah pepohonan yang tumbuh rimbun di luar masih belum cukup. Ruangan itu dibagi 2 oleh konter panjang, berantakan karena keranjang-keranjang kawat penuh kertas. Pamflet-pamflet warna terang direkatkan di depannya. Ada 3 meja di balik konter, salah satunya dihuni wanita bertubuh besar, berambut merah yang menggunakan kacamata. Ia mengenakan T-shirt ungu, yang membuatku merasa pakaianku berlebihan.

Wanita berambut merah itu mendongak. “Bisa kubantu?”

“Aku Isabella Swan,” kataku. Kulihat matanya berkilat terkejut. Tak diragukan lagi, aku akan segera menjadi topik gosip. Putri mantan istri Kepala Polisi yang bertingkah akhirnya pulang.

“Tentu saja,” katanya. Ia mengaduk-aduk tumpukan dokumen di mejanya hingga menemukan apa yang dicarinya. “Ini jadwal pelajaranmu, dan peta sekolah.” Ia membawa beberapa lembar ke meja konter dan memperlihatkannya kepadaku.

Kemudian ia menjelaskan kelas-kelas yang harus kuambil, menerangkan rute terbaik menuju masingmasing kelas pada peta, dan menyerahkan lembaran kertas yang harus ditandatangani masing-masing guru. Pada akhir jam pelajaran nanti aku harus menyerahkannya kembali. Ia tersenyum dan berharap, seperti Charlie, aku senang berada disini di Forks. Aku balas tersenyum dan mengiyakan sebisaku.

Ketika aku keluar lagi menuju truk, murid-murid lain berdatangan. Aku mengemudi mengelilingi sekolah, mengikuti barisan-barisan mobil lain. Aku senang mobil-mobil lainnya juga sama tuanya seperti trukku, tak ada yang bagus. Di tempat asalku, aku tinggal di permukiman kelas bawah di distrik Paradise Valley. Melihat Mercedes baru atau Porsche di parkiran murid sudah biasa bagiku. Disini, mobil terbagus adalah Volvo yang bersih mengkilap, dan jelas mencolok. Tetap saja aku mematikan mesin begitu mendapatkan tempat parkir, sehingga suaranya yang keras tidak menarik perhatian.

Aku mempelajari petanya di dalam truk, berusaha mengingatnya; berharap aku tak perlu berjalan sambil memeganginya seharian. Aku memasukkan semua ke tas, dan menyilangkan talinya di bahu, dan menarik napas panjang. Aku bisa melakukannya, aku setengah membohongi diriku. Tak ada yang bakal menggigitku. Akhirnya aku menghembuskan napas dan melangkah keluar truk.

Kubiarkan wajahku tersamar tudung jaket ketika berjalan melintasi trotoar yang dipenuhi remaja. Jaket hitam polosku tidak mencolok, aku menyadarinya dengan perasaan lega.

Begitu sampai di kafetaria, gedung tiga dengan mudah kutemukan. Angka ‘tiga’ hitam besar dicat di kotak persegi putih di pojok sebelah timur. Aku mendapati napasku pelan-pelan berubah menjadi terengahengah begitu mendekati pintunya. Aku berusaha menahan napas ketika mengikuti dua orang yang mengenakan jas hujan uniseks melewati pintu.

Kelasnya kecil. Orang-orang di depanku berhenti tepat di muka pintu untuk menggantungkan jas hujan mereka di tiang gantungan yang panjang. Aku mencontoh mereka. Mereka 2 orang gadis, yang satu berambut pirang, yang lain juga berkulit pucat, rambutnya cokelat muda. Setidaknya warna kulitku tidak akan mencolok disini.

Aku menyerahkan lembaran tadi pada seorang guru, laki-laki tinggi botak yang di mejanya terdapat papan nama bertuliskan Mr. Mason. Ia melongo menatapku ketika melihat namaku—bukan respon yang membangun—tentu saja wajahku memerah seperti tomat. Tapi setidaknya ia menyuruhku duduk di meja kosong di belakang tanpa memperkenalkanku pada teman-teman sekelas. Sulit bagi teman-teman baruku untuk menatapku di belakang, tapi entah bagaimana mereka bisa melakukannya. Aku terus menunduk, memandangi daftar bacaan yang diberikan guruku. Bacaan dasar : Brontë, Shakespeare, Chauter, Faulkner. Aku sudah pernah membaca semuanya. Menyenangkan… dan membosankan. Aku membayangkan apakah ibuku mau mengirimkan folder esai-esai lamaku atau apakah menurut dia itu sama dengan menyontek. Aku berdebat dengannya dalam benakku sementara guru terus bicara.

Ketika bel berbunyi, suaranya berupa gumaman sengau. Seorang cowok ceking dengan kulit bermasalah dan rambut hitam licin bagai oli bersandar di lorong dan berbicara kepadaku.

“Kau Isabella Swan, kan?” Ia kelihatan seperti orang yang kelewat suka menolong, tipe anggota klub catur.

“Bella,” aku meralatnya. Semua orang dalam jarak 3 kursi berbalik menghadapku.

“Habis ini kau masuk kelas apa?” tanyanya.

Aku harus memeriksa dulu di dalam tasku. “Mmm, Pemerintahan, dengan Hefferson, di gedung enam.”

Aku tak bisa melihat kemanapun tanpa beradu pandang dengan mata-mata penasaran.

“Aku akan ke gedung empat, aku bisa menunjukkannya padamu…” Jelas tipe kelewat suka menolong. “Aku Eric,” tambahnya.

Aku tersenyum hati-hati. “Terima kasih.”

Kami mengambil jaket dan menerobos hujan, yang sudah reda. Aku berani bersumpah beberapa orang di belakang kami berjalan cukup dekat supaya bisa menguping. Kuharap aku tidak menjadi paranoid.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.