Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Waktunya masuk kelas, dan aku tak boleh terlambat lagi.” Kukumpulkan buku-bukuku dan menjejalkannya ke tas.

Kami berjalan tanpa bicara ke gedung tiga, dan raut wajahnya gelisah. Kuharap apapun yang dipikirkannya akan membawanya ke arah yang benar.

Ketika aku melihat Jessica di kelas Trigono, ia kelihatannya sangat antusias. Ia, Angela, dan Lauren akan berbelanja ke Port Angeles malam ini. Mereka ingin membeli gaun yang akan dikenakan di pesta dansa, dan Jessica ingin aku ikut bersama mereka, meskipun sebenarnya aku tidak perlu membelu gaun. Aku tak bisa memutuskan. Pasti menyenangkan bisa jalan-jalan ke luar kota dengan sahabat-sahabat cewek, tapi Laurent juga bakal ikut. Dan siapa tahu apa yang akan aku lakukan malam nanti… Tapi aku tak boleh membiarkan pikiranku mengembara kesana. Tentu saja aku gembira karena matahari bersinar hari in. Tapi sinar matahari tak sepenuhnya bertanggung jawab atas suasana gembira yang kurasakan saat ini, tidak sama sekali.

Jadi kubilang akan memikirkannya, kubilang akan minta izin Charlie dulu.

Sepanjang perjalannan menuju kelas Spanyol, yang dibicarakan Jessica hanya pesta dansa. Ia kembali membicarakannya lagi setelah kelas selesai lima menit lebih lama, dan kamipun menuju kafetaria untuk makan siang. Aku sendiri terlalu larut dalam penantian yang sarat emosi sehingga tidak menyimak apa yang dibicarakannya. Aku bukan hanya ingin sekali bertemu dengannya, melainkan juga semua keluarga Cullen— untuk membandingkan mereka dengan kecurigaan yang menggayuti pikiranku. Ketika melintasi pintu kafetaria, kurasakan rasa takut pertama yang sesungguhnya menuruni punggungku, lalu menetap di perut. Apakah mereka bisa mengetahui apa yang kupikirkan? Lalu perasaan yang lain menyapuku—apakah Edward menunggu untuk duduk bersamaku lagi?

Seperti biasa mula-mula kau memandang meja keluarga Cullen. Gelombang panik bergejolak dalam perutku ketika menyadari tempat itu kosong. Dengan harapan yang semakin menipis pandanganku menyapu sekeliling kafetaria, berharap menemukannya duduk sendirian, menungguku. Kafetaria itu sudah nyaris penuh—kelas Spanyol menahan kami—tapi tak ada tanda-tanda kehadiran Edward atau saudara-saudaranya. Kesepian menghantamku dengan kekuatan menghancurkan.

Aku berjalan tertatih-tatih di belakang Jessica, sama sekali tak repot-repot berpura-pura mendengarkan.

Sepertinya kami sudah sangat terlambat karena yang lain sudah duduk di meja kami. Aku menghindari kursi kosong di sebelah Mike, dan memilih duduk di sebelah Angela. Samar-samar kuperhatikan Mike mempersilahkan Jessica duduk dengan sopan, dan tentu saja wajah Jessica berseri-seri karenanya.

Angela menanyakan beberapa hal tentang makalah Macbeth-ku. Sebisa mungkin kujawab sewajarnya, meskipun hatiku sedih. Angela juga mengajakku ikut malam ini, dan sekarang aku mengatakan ya, menggapai apa saja yang bisa mengalihkan perhatian.

Aku tersadar aku ternyata masih berharap ketika memasuki pelajaran Biologi dan melihat kursinya kosong. Gelombang kekecewaan melanda diriku lagi.

Sisa hari itu berjalan sangat pelan, muram. Di pelajaran Olahraga kami membahas tentang peraturan bulutangkis, siksaan berikut yang sudah mereka siapkan untukku. Tapi setidaknya itu artinya aku hanya perlu duduk mendengarkan, bukannya terpeleset di lapangan. Bagian terbaiknya adalah, pelatih tidak selesai menjelaskan, jadi besok aku terbebas lagi dari penyiksaan. Lupakan saja kenyataan bahwa lusa mereka akan memberiku raket sebelum melepaskanku untuk menjadi santapan seluruh kelas.

Aku senang bisa meninggalkan sekolah akhirnya. Itu artinya aku bisa bebas menekuk wajahku dan mengasihani diriku sebelum nanti malam pergi bersama Jessica dan kawan-kawan. Tapi tepat setelah aku masuk ke rumah, Jessica menelepon membatalkan rencana kami. Aku mencoba terdengar ceria ketika ia bercerita bahwa Mike mengajaknya makan malam—aku benar-benar lega karena Mike akhirnya mengerti— tapi semangatku terdengar tidak tulus di telingaku sendiri. Jessica menunda rencana belanja kami jadi besok malam.

Yang berarti aku hanya tinggal sedikit hal untuk mengalihkan perharian. Aku membumbui ikan untuk makan malam, dan menyiapkan salad dan roti sisa semalam, jadi tak ada apa-apa lagi yang bisa kukerjakan. Aku menghabiskan setengah jam mengerjakan PR, tapi lalu berhasil menyelesaikannya dengan cepat.

Kuperiksa e-mail-ku, membaca tumpukan surat dari ibuku, yang semakin lama semakin sisis. Aku menghela napa dan mengetik jawaban singkat.

Mom, Maaf. Aku nggak ada di rumah. Aku pergi ke pantai dengan beberapa teman. Dan aku harus membuat makalah.

Alasanku terdengar menyedihkan, jadi aku menyerah saja

Hari ini cuaca cerah—aku tahu, aku juga terkejut—jadi aku akan keluar dan menyerep vitamin D sebanyak yang kubisa. Aku sayang kau.

Bella.

Kuputuskan untuk mengahabiskan waktu satu jam membaca sesuatu yang tak ada hubungannya dnegan pelajaran sekolah. Aku membawa beberapa buku ke Forks, dan yang paling tebal merupakan kumpulan karya Jane Austen. Aku memilihnya dan pergi ke halaman belakan. Dlaam perjalanan turun aku menyambar selembar selimut tua usang dari lemari di tangga teratas.

Di luar, di halaman kecil Charlie yang berbentuk persegi, selimutnya kulipat dua lalu kuhamparkan di bawah pepohonan, di atas rumput tebal yang selalu agak basah, tapi peduli seberapa lama matahari menyinarinya. Aku berbaring menelungkup, mengangkat dan menyilangkan pergelangan kaki, membalik-balik halaman novel itu, mencoba memutuskan karya mana yang paling menarik. Favoritku adalah Pride and Prejudice dan Sense and Sensibility. Baru-baru ini aku telah membaca yang pertama, jadi kupilih Sense and Sensibility. Setelah samapai bab tiga aku pun teringat bahwa tokoh pahlawan di cerita itu kebetulan bernama Edward. Dengan marah kuganti bacaanku dengan Mansfield Park, tapi pahlawan di buku itu bernama Edmund, hampir mirip. Memangnya tak ada nama lain di akhir abad kedelapan belas ya? Kubanting buku itu hingga menutup, mereasa jengkel, lalu berguling hingga terlentang. Kutarik lengan bajuku setinggi mungkin dan memejamkan mata. Aku tidak memikirkan apa pun kecuali kehangatan yang kurasakan pada kulitku, ujarku kasar pada diri sendiri. Angin masih sepoi-sepoi, tapi mampu meniup bulu-bulu halus di wajahku, dan rasanya agak geli. Kutarik rambutku ke atas, membirkannya mengering di selimut diatas kepalaku, dan kembali berkonsentrasi pada kehangatan yang menyentuh kelopak mata, tulang pipi, hidung, bibir, lengan bawah, leher, menembus kausku yang tipis.

Hal berikut yang kusadari adalah suara mobil patroli Charlie memasuki halaman. Aku langsung terbangun, duduk, menyadari sinar matahari sudah lenyap di balik pohon. Rupanya aku tertidur. Aku mengedarkan pandang, bingung karena perasaan yang muncul tiba-tiba bahwa aku tak lagi sendirian.

“Charlie?” panggilku. Tapi aku mendengar pintunya terbanting menutup.

Aku melompat, merasa gugup dan konyol, mengumpulkan selimut yang sekarang lembab dan bukubukuku. Aku berlari masuk untuk memanaskan minyak, saat sadar waktu makan malam sudah tiba. Charlie sedang menggantungkan sabuk senjatanya dan melepaskan sepatu bot ketika aku masuk.

“Maaf, Dad, makan malam belum siap—aku ketiduran di luar sana.” Aku mengatakannya sambil menguap.

“Jangan khawatir,” katanya. “Aku hanya ingin cepat-cepat nonton pertandingan kok.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.