Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Lalu masalah lainnya, satu yang kuingat dari sedikit film horor yang pernah kutonton dan didukung apa yang baru saja kubaca—vampir tidak bisa keluar di siang hari, matahari menjadikan mereka abu. Mereka tidur di dalam peti seharian, dan hanya keluar di malam hari.

Merasa jengkel, kumatikan komputer langsung dari tombol utama, tanpa melalui tahapan semestinya. Di balik kekesalanku, aku merasa malu. Semua ini benar-benar konyol. Aku duduk di kamar, mencari keterangan tentang vampir. Kenapa sih aku ini? Kuputuskan sebagian besar kesalahannya ada pada Forks— dan seluruh Semenanjung Olympic yang selalu hujan.

Aku harus keluar dari rumah, tapi semua tempat yang ingin kukunjungi berjarak tempuh tiga hari perjalanan. Meski begitu aku tetap mengenakan sepatu botku, tak tahu akan ke mana, lalu turun. Kukenakan mantel hujanku tanpa memeriksan cuaca lebih dulu dan menghambur ke luar.

Langit mendung, tapi belum hujan. Kutinggalkan trukku dan berjalan kaki ke timur, menyeberangi pekarangan Charlie menuju hutan terlarang. Dalam waktu singkat rumah dan jalanan di belakangku sudah tidak tampak. Satu-satunya suara yang terdengar adalah bunyi cipratan air yang diciptakan langkah-langkah kakiku dan jeritan burung jay yang tiba-tiba.

Ada jalan kecil yang membimbingku melintasi hutan ini, kalau tidak, aku takkan mengambil risiko berjalan sendirian seperti ini. Aku paling payah kalau soal arah; di lingkungan yang lebih bersahabat saja aku bisa tersesat. Jalan setapak itu semakin memasuki hutan, munurut dugaanku menuju ke timur. Jalan ini mengitari pepohonan cemara, mapel, dan yew. Aku hanya tahu samar-samar nama pepohonan di sekitarku, itu pun karena dulu Charlie pernah menunjukkan pepohonan itu dan memberitahu namanya padaku. Banyak yang tidak kuketahui, dan yang lainnya aku tidak yakin karena tertutup pohon-pohon parasit hijau.

Aku terus mengikuti jalan setapak itu sejauh kemarahanku kepada diri sendiri mendorongku maju. Ketika amarahku memudar, aku memperlambat langkah. Beberapa tetes air jatuh dari dedaunan di atasku, tapi aku tak yakin apakah hujan mulai turun, atau itu hanya tetesan hujan kemarin yang tersisa di ranting-ranting pohon, menjulang tinggi di atasku, perlahan-lahan menetes jatuh ke pangkuan bumi. Pohon yang baru tumbang itu—aku tahu masih baru karena tidak seluruhnya tertutup lumut—bersandar di batang pohon lainnya, membentuk kursi kecil dengan pelindung di atasnya, jaraknya hanya beberapa meter dari jalan setapak. Aku melangkahi belukar dan duduk hati-hati, menjadikan jaketku alas antara kayu yang lembab dengan pakaianku, menyandarkan kepala ke pohon satunya.

Ini tempat yang buruk untuk didatangi. Seharusnya aku tahu, tapi mau kemana lagi? Hutan ini berwarna hijau pekat dan sangat mirip dengan yang ada di mimpiku semalam, membuatku gelisah. Kini setelah decak langkah kakiku tak terdengar lagi, keheningan serasa mencekam. Burung-burung membisu, suara tetesan air semakin sering terdengar, jadi di atas sana pasti sudah turun hujan. Kini setelah aku duduk, belukar itu lebih tinggi dari kepalaku, dan aku tahu seseorang bisa saja berjalan di depan jalan setapak yang hanya satu meter jauhnya, tanpa melihatku.

Di sini, diantara pepohonan, lebih mudah untuk mempercayai kegilaan yang membuatku resah di rumah tadi. Tak ada yang berubah di hutan ini selama ribuan tahun, dan semua mitos serta legenda dari tempat berbeda-beda itu sepertinya lebih mungkin di hutan hijau berkabut ini, daripada di kamar tidurku.

Kupaksa diriku berkonsentrasi pada dua pertanyaan paling penting yang harus kujawab, tapi aku melakukannya dengan sangat enggan.

Pertama, aku harus memutuskan apakah perkataan Jacob tentang keluarga Cullen benar adanya.

Reaksi yang langsung muncul adakah menentangnya. Rasanya konyol dan tidak wajar mempercayai kegilaan itu. Tapi lalu apa? Batinku. Tak ada penjelasan rasional mengenai bagaimana aku masih hidup saat ini. Aku membuat daftar lagi dalam pikiranku mengenai hal-hal yang kuamati sendiri : kecepatan dan kekuatan yang mustahil, perubahan mata dari hitam menjadi emas dan hitam lagi, ketampanan yang tidak manusiawi, kulit yang pucat dan dingin. Terlebih lagi—hal-hal kecil yang muncul perlahan-lahan—bagaimana mereka tak pernah tampak makan, keanggunan mengagumkan dalam gerak mereka. Dan caranya kadang-kadang bicara, dengan frase dan irama tidak biasa yang lebih tepat digunakan dalam novel kuno daripada percakapan di kelas pada abad ke-21. Ia membolos ketika kami menggolongkan darah. Ia tidak menolak ajakan jalan-jalan ke pantai sampai ketika ia mendengar ke mana tujuan kami. Ia sepertinya tahu apa yang dipikirkan orang-orang sekitarnya… kecuali aku. Ia telah memberitahuku bahwa ia jahat, berbahaya…

Mungkinkan keluarga Cullen adalah vampir?

Well, mereka memang sesuatu. Sesuatu di luar pembenaran rasional telah terjadi di depan mataku yang tidak percaya. Entah itu makhluk dingin versi Jacob ataukah teori superhero-ku sendiri, Edward Cullen bukanlah… manusia. Ia lebih dari itu.

Jadi—barangkali. Inilah jawabanku sekarang.

Lalu pertanyaan paling penting dari semuanya. Apa yang akan kulakukan kalau dugaanku benar?

Jika Edward benar vampir—aku nyaris tak bisa memaksa diriku memikirkan kata itu—apa yang harus kulakukan? Melibatkan orang lain jelas tak mungkin. Aku bahkan tak mempercayai diriku sendiri; siapapun pasti menganggapku bergurau.

Sepertinya ada dua pilihan. Pertama mengikuti nasihatnya : bersikap pintar, menghindarinya sebisa mungkin. Membatalkan rencana kami, mengabaikannya sebisaku. Berpura-pura ada kaca tebal tak bisa tembus di antara kami. Memintanya menjauhiku—dan kali benar-benar serius.

Tiba-tiba aku merasa sangat putus asa memikirkan kemungkinan tersebut. Pikiranku menolak rasa sakit itu, dan bergegas beralih ke pilihan lain.

Aku tak bisa melakukan yang lain. Lagipula, seandainya ia… jahat, sejauh ini ia belum melakukan sesuatu yang bisa menyakitiku. Sebaliknya aku bisa habis digilas mobil Tyler kalau saja ia tidak langsung bertindak cepat. Amat sangat cepat, sergahku dalam hati, hingga itu mungkin saja murni tindakan spontan. Tapi kalau menyelamatkan nyawa adalah tindakan spontan baginya, seberapa jahatkah ia? tukasku marah. Kepalaku berputar dalam lingkaran jawaban yang tak berujung.

Satu hal yang aku yakin, kalau memang yakin. Gambaran gelap Edward dalam mimpiku semalam hanyalah cerminan ketakutan terhadap cerita Jacob, bukannya karena Edward sendiri. Tetap saja ketika aku menjerit ketakutan karena serangan serigala itu, bukanlah rasa takut akan serigala itu yang membuatku meneriakkan kata ‘tidak’. Itu adalah ketakutanku bahwa ia bisa terluka—bahkan ketika ia memanggilku dengan taringnya yang panjang dan runcing. Aku mengkhawatirkan-nya.

Dari situlah aku mendapatkan jawabanku. Aku benar-benar tidak tahu bahwa sebelumnya juga ada pilihan. Aku sudah terlibat terlalu jauh. Sekarang setelah tahu—seandainya aku benar-benar tahu—tak ada yang bisa kulakukan tentang rahasiaku yang menakutkan itu. Karena ketika aku memikirkan Edward, suaranya, matanya yang menyihir, daya tarik kepribadiannya, aku tak menginginkan yang lain kecuali berada di dekatnya saat ini. Meskipun… tapi aku tak bisa memikirkannya. Tidak disini, kala aku sendirian di hutan yang mulai gelap ini. Tidak ketika hujan membuat suasana teramat temaram bagai langit di bibir malam di bawah payung dedaunan, berderai-derai bagaikan langkah-langkah kaki melintasi lantai bumi. Aku bergidik ngeri dan langsung bangkit dari tempat persembunyian, waswas jalan setapak itu telah lenyap tersapu hujan.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.