Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Lewat sini, Bella!” Aku mengenali suara Mike memanggil-manggil dari antara pepohonan yang gelap, tapi aku tak bisa melihatnya.

“Kenapa?” tanyaku, masih berusaha melepaskan diri dari cengkraman Jacob, kini putus asa menginginkan matahari.

Tapi Jacob melepaskan tanganku dan mendengking. Sekonyong-konyong ia jatuh ke lantai hutan yang gelap, sekujur tubuhnya gemetaran. Ia menggeliat-geliat di tanah sementara aku menyaksikannya dengan ngeri.

“Jacob!” jeritku. Tapi ia sudah lenyap. Dari tempatnya tadi berada muncul serigala besar berwarna merah kecoklatan dengan sepasang mata hitam. Serigala itu memalingkan wajah ke pantai, bulu-bulu tengkuknya meremang. Terdengar geraman pelan di antara taring-taringnya yang keluar.

“Lari, Bella!” seru Mike dari belakang.Tapi aku tidak berpaling. Aku sedang memandang cahaya yang menyinariku dari pantai.

Lalu Edward muncul dari balik pepohonan, kulitnya bercahaya samar, matanya gelap dan berbahaya. Ia mengulurkan satu tangan dan menyuruhku datang padanya. Serigala itu mengeram-geram di kakiku.

Aku maju selangkah, menghampiri Edward. Ia tersenyum, dan giginya tajam, runcing.

“Percayalah padaku,” ujarnya, suaranya mendengkur.

Aku melangkah sekali lagi.

Serigala itu melompat ke antara diriku dan si vampir, taringnya siap menerkam leher Edward.

“Tidak!” teriakku, langsung bangkit dari tempat tidur.

Gerakanku yang tiba-tiba membuat headphone-ku terlepas dari CD player yang tergeletak di meja samping tempat tidur, kemudian jatuh di lantai kayu.

 

 

Lampu kamar masih menyala, aku duduk di tempat tidur masih berpakaian lengkap dan mengenakan sepatu. Aku memandang jam di lemari pakaian, bingung. Sudah pukul 05.30.

Aku mengerang, menjatuhkan diri lagi ke tempat tidur dengan wajah menelungkup sambil melepaskan sepatu bot. Aku tak bisa tidur lagi. Aku menggulingkan tubuh dan berbaring terlentang, membuka kancing jinsku, melepaskannya dengan susah payah sambil berusaha agar tubuhku tetap lurus. Bisa kurasakan rambutku yang diikat menusuk-nusuk tengkuk. Aku berbaring menyamping dan melepaskan ikatan rambutku, lalu cepat-cepat menyisirnya dengan jemari. Aku menutup mataku lagi dengan bantal.

Percuma, tentu saja. Alam bawah sadarku telah menemukan bayangan yang tepat yang dengan putus asa kucoba hindari. Aku harus menghadapinya sekarang.

Aku duduk, kepalaku berputar-putar sebentar ketika darah mengalir turun. Lebih baik mandi dulu, batinku, senang menundanya selama mungkin. Kuambil tas perlengkapan mandiku.

Acara mandinya tidak berlangsung selama yang kuharapkan. Bahkan meski sudah berlama-lama mengeringkan rambut, tak ada lagi yang bisa kulakukan di kamar mandi. Hanya dengan berbungkus handuk, aku pergi ke kamar. Aku tidak tahu apakah Charlie masih tidur, atau sudah pergi. Kuintip dari jendela, mobil patrolinya sudah tidak ada. Ia pergi memancing lagi.

Perlahan-lahan aku berpakaian, mengenakan sweaterku yang paling nyaman, lalu membereskan tempat tidur—sesuatu yang tak pernah kulakukan. Aku tak bisa menundanya lebih lama lagi. Jadi aku menghampiri meja belajar dan menyalakan komputer tuaku.

Aku benci menggunakan internet disini. Modemku sudah ketinggalan jaman, layanan servis gratisnya buruk; untuk men-dial-up saja butuh waktu lama hingga kuputuskan membuat semangkuk sereal sambil menunggu.

Aku makan pelan-pelan, mengunyah setiap suapan dengan sempurna. Setelah selesai kucuci mangkuk dan sendoknya, lalu menyimpannya. Kakiku kram ketika menaiki tangga. Kuambil CD player-ku dulu, memungutnya dari lantai dan meletakkannya tepat di tengah-tengah meja. Kulepaskan headphone-nya, dan menyimpannya di laci lemari. Lalu aku menyetel CD yang sama, langsung ke bagian yang berisik.

Sambil menghela napas aku berbalik menghadap komputer. Layarnya sudah dipenuhi iklan pop-up. Aku duduk di kursi lipatku yang keras dan menutup jendela-jendela kecil itu. Akhirnya aku bisa mengakses search engine favoritku. Kututup beberapa iklan pop-up yang masih bermunculan, lalu mengetik satu kata.

Vampir.

Tentu saja butuh waktu yang sangat lama. Ketika hasil pencariannya muncul, ada banyak pilihan yang harus dibaca—semuanya mulai dari film dan acara televisi hingga permainan sandiwara, grup metal underground, dan perusahaan kosmetik gotik.

Lalu aku menemukan situs yang tepat—Vampir A-Z. Aku tak sabar menunggu situs itu hingga terdownload sempurna, sambil cepat-cepat menutup iklan-iklan yang bermunculan di layar. Akhirnya selesai— latar belakang putih sederhana dengan tulisan hitam, kelihatannya seperti situs pendidikan. Dua kutipan di halaman depan situs itu menyambutku.

Di seantero dunia hantu dan setan yang luas dan gelap, tak ada figur yang begitu mengerikan, tak ada figur yang begitu dibenci dan menyeramkan, namun memiliki daya tarik yang begitu mencengkram, seperti sang vampir, yang bukan hantu ataupun setan, namun memiliki kekuatan gelap dan kualitas yang mengerikan serta misterius.—Pdr. Montague Summers

Jika di dunia ini ada keterangan yang benar-benar terbukti, keterangan itu adalah mengenai vampir. Semuanya lengkap : laporan resmi, surat tersumpah dari orang-orang terkenal, ahli bedah, para imam, hakim; pembuktian hukum adalah yang paling lengkap. Dan dengan semua itu, siapakah di luar sana yang percaya vampir?—Rosseau

Selain itu situs tersebut berisi daftar seluruh mitos vampir yang ada di seluruh dunia, tersusun secara alfabetik. Pertama-tama aku memilih Danag, vampir Filipina yang menanam taro—sejenis tumbuhan berbuah kentang—di kepulauan itu dahulu kala. Menurut mitos itu, Danag bekerja sama dengan manusia selama bertahun-tahun, tapi pada suatu hari kerja sama itu berakhir ketika jari seorang wanita terluka dan satu Danag menghisap habis darah yang mengalir dari lukanya.

Aku membaca uraiannya dengan saksama, mencari apa saja yang tidak asing bagiku, apalagi masuk akal. Sepertinya seluruh mitos tentang vampir ini berpusat pada wanita cantik sebagai yang jahat dan anakanak sebagai korban; mereka juga sepertinya merupakan gagasan yang diciptakan untuk menjelaskan mortalitas tingkat tinggi kepada anak-anak, dan memberi alasan pada para pria untuk berselingkuh. Kebanyakan cerita itu melibatkan roh-roh tanpa raga dan peringatan tentang pemakaman yang tidak layak. Tak banyak yang kedengarannya seperti film-film yang kutonton, dan hanya sedikit sekali, seperti Estrie dari Yahudi dan Upier dari Polandia, yang bahkan terobsesi soal meminum darah.

Hanya tiga catatan yang menarik perhatianku : Varacolaci dari Rumania, sosok yang tak bisa mati sangat kuat yang bisa tampil sebagai manusia rupawan berkulit pucat, Nelapsi dari Slovakua, makhluk ekstarkuat dan cepat hingga bisa membantai seluruh desa hanya sejam setelah tengah malam, dan satunya lagi Stegoni benefici.

Mengenai yang terakhir ini, hanya ada satu kalimat pendek.

Stregoci benefici : vampir Italia, konon memihak kebaikan, dan musuh abadi semua vampir jahat.

Rasanya lega ada satu catatan kecil, satu-satunya mitos di antara ratusan lainnya yang mengungkapan keberadaan vampir yang baik.

Meski begitu, secara keseluruhan hanya sedikit yang mirip dengan cerita Jacob atau pengamatanku sendiri. Aku telah membuat katalog kecil ketika membaca dan membandingkannya dengan masing-masing mitos. Kecepatan, kekuatan, keindahan, kulit pucat, warna mata yang berganti-ganti; lalu kriteria yang diberikan Jacob : peminum darah, musuh werewolf, berkulit dingin, dan abadi. Sedikit sekali mitos yang cocok bahkan dengan salah satu kriteria.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.