Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Jadi kau tahu, kan,” lanjut Jacob, “secara tradisional, yang berdarah dingin adalah musuh kami. Tapi kawanan yang datang ke wilayah kami pada masa kakek buyutku berbeda. Mereka tidak memburu seperti yang dilakukan jenis mereka—mereka seharusnya tidak berbahaya bagi suku kami. Jadi kakek buyutku membuat kesepakatan damai dengan mereka. Kalau mereka mau berjanji untuk tidak menginjak tanah kami, kami tidak akan memberitahu kawanan mereka lainnya yang bermuka pucat mengenai mereka.” Ia mengedip.

“Kalau mereka tidak berbahaya, lalu kenapa…” Aku mencoba mengerti, berusaha supaya ia tidak menyadari betapa seriusnya aku menanggapi cerita seramnya.

“Selalu berbahaya bagi manusia untuk berada dekat dengan mereka yang berdarah dingin, meskipun mereka beradap seperti halnya klan ini. Kau takkan pernah tahu kapan mereka benar-benar lapar hingga tak bisa menahan diri.” Ia sengaja memberi tekanan pada kata-katanya barusan.

“Apa maksudmu dengan ‘beradab’?”

“Mereka menyatakan tidak memburu manusia. Konon, entah bagaimana caranya, mereka memburu binatang sebagai ganti manusia.”

“Aku berusaha terdengar tetap tenang. “Lalu apa hubungannya dengan keluarga Cullen? Apakah mereka termasuk yang berdarah dingin yang ditemui kakek buyutmu?”

“Tidak.” Jacob tiba-tiba berhenti. “Mereka adalah kelompok yang sama.”

Ia pasti berpikir raut wajahku yang ketakutan disebabkan ceritanya. Ia tersenyum senang, dan melanjutkan ceritanya lagi.

“Sekarang jumlah mereka bertambah, seorang perempuan dan laki-laki baru, tapi sisanya sama saja. Pada masa kakek buyutku, mereka sudah mengenal pemimpinnya, Carlisle. Dia sudah sering datang dan pergi bahkan sebelum bangsa kalian datang kesini.” Jacob berusaha menahan senyumnya.

“Lalu mereka itu apa?” akhirnya aku bertanya. “Apakah yang berdarah dingin?”

Ia tersenyum misterius.

“Peminum darah,” jawabnya, suaranya membuat bulu kuduk meremang. “Bangsa kalian menyebutnya vampir.”

Aku memandang ombak besar setelah ia menjawab pertanyaanku. Aku tak tahu bagaimana rupaku.

“Kau merinding,” ia tertawa gembira.

“Kau pencerita yang baik,” aku memujinya, sambil masih menatap ombak.

“Cerita yang cukup sinting, ya? Tak heran ayahku tak ingin kami membicarakannya dengan orang lain.”

Aku belum dapat menahan emosiku, jadi aku tak berpaling menatapnya.

“Kurasa aku baru saja melanggar kesepakatan kami,” Jacob tertawa.

“Aku akan menyimpannya rapat-rapat,” kataku berjanji, kemudian bergidik.

“Tapi sungguh, jangan bilang apa-apa pada Charlie. Dia agak marah pada ayahku ketika mendengar beberapa anggota suku kami tak lagi pergi ke rumah sakit begitu tahu dr. Cullen mulai bekerja disana.”

“Tentu, aku takkan bilang.”

“Jadi, apakah menurutmu kami ini penduduk yang percaya takhayul atau apa?” tanyanya bercanda, namun sedikit waswas. Aku masih belum mengalihkan pandanganku dari lautan.

Aku berbalik dan tersenyum sewajar mungkin.

“Tidak. Kupikir kau sangat mahir menceritakan kisah-kisah seram. Bulu kudukku masih berdiri, lihat, kan?” Aku mengulurkan lengan.

“Keren.” Ia tersenyum.

Lalu suara batu-batu beradu menyadarkan kami seseorang sedang mendekat. Kami serentak mendongak dan melihat Mike dan Jessica lima puluh meter dari kami.

“Disini kau rupanya, Bella,” Mike terdengar lega, melambai-lambaikan tangannya tinggi-tinggi.

“Itu pacarmu?” tanya Jacob, menyadari nada cemburu yang terpancar dari suara Mike. Aku terkejut rasa cemburu itu begitu nyata.

“Tidak, tentu saja bukan,” bisikku. Aku sangat berterima kasih kepada Jacob, dan ingin sekali membuatnya sesenang mungkin. Aku mengedip padanya, tentunya berhati-hati supaya Mike tidak melihat. Jacob tersenyum, senang karena rayuanku yang payah.

“Jadi, kalau aku mendapat SIM-ku…” ia memulai lagi.

“Kau harus mengunjungiku di Forks. Kita harus nongkrong bareng sesekali.” Aku merasa bersalah saat mengatakannya, mengingat aku telah memanfaatkannya. Tapi aku benar-benar menyukai Jacob. Ia sangat mudah diajak berteman.

Mike sudah di dekat kami sekarang, bersama Jessica yang masih tertinggal beberapa langkah. Bisa kulihat Mike menatap Jacob dengan pandangan menilai, dan tampak puas melihat penampilannya yang jelas lebih muda dari kami.

“Kau dari mana saja?” tanya Mike, meski jawabannya sudah jelas di hadapannya.

“Jacob baru saja menceritakan beberapa legenda daerah ini,” jawabku. “Sangat menarik.”

Aku tersenyum hangat kepada Jacob, dan ia balas tersenyum.

“Well,” Mike berhenti, sambil berhati-hati mengamati keakrabanku dengan Jacob. “Kita akan berkemaskemas—sepertinya sebentar lagi hujan.”

Kami memandang langit yang mulai mendung. Sepertinya memang akan hujan.

“Oke.” Aku melompat berdiri. “Aku datang.”

“Senang bertemu lagi denganmu,” kata Jacob, dan aku berani bertaruh ia sedang menggoda Mike.

“Aku juga. Kalau nanti Charlie datang untuk menemui Billy, aku akan ikut,” aku berjanji padanya.

Jacob tersenyum. “Akan kutunggu.”

“Terima kasih,” ucapku tulus.

Kukenakan tudung kepalaku ketika kami berjalan menyeberangi bebatuan menuju tempat parkir. Beberapa tetes hujan mulai berjatuhan, meninggalkan noda hitam pada bagian yang ditetesinya. Ketika kami sampai di Suburban, anak-anak lain sudah selesai memasukkan barang-barang mereka ke bagasi. Aku merangkak ke jok belakang di sebelah Angela dan Tyler. Aku beralasan sudah cukup melihat pemandangan selama perjalanan tadi. Angela hanya memandang ke luar jendela, memandangi badai yang semakin dahsyat, dan Lauren beringsut ke jok tengah mendekati Tyler, sehingga aku bisa dengan mudah menyandarkan kepala, memejamkan mata dan berusaha santai.

 

 

7. Mimpi buruk

Aku memberitahu Charlie PR-ku banyak, dan tidak ingin makan apa-apa. Ada pertandingan basket yang amat dinantikannya, dan tentu saja aku berlagak tidak tahu apa istimewanya pertandingan itu. Karenanya, ia tidak mencurigai ekspresi maupun nada suaraku.

Begitu sampai di kamar, aku mengunci pintu. Aku mencari-cari di mejaku sampai menemukan headphone tuakum dan memasangkannya ke CD player kecilku. Kuambil CD hadiah Natal dari Phil. Isinya lagulagu dari salah satu band favoritnya, tapi bas dan suara teriakannya kelewat berlebihan. Aku memasukkan CD itu, menekan tombol Play, dan membesarkan volumenya sampai telingaku sakit. Aku memejamkan mata, tapi cahaya lampu masih menyilaukan, jadi kututup setengah wajahku dengan bantal.

Aku mendengarkan musiknya dengan saksama, mencoba memahami liriknya, menguraikan pola dentuman drumnya yang rumit. Setelah 3 kali memutar CD itu, setidaknya aku sudah hafal chorus-nya. Begitu aku bisa menikmati suara-suara yang ingar-bingar itu, aku terkejut menyadari ternyata aku menyukai band ini.

Berhasil. Dentuman bising itu membuatku tak mungkin berpikir. CD-nya kuputar berulang-ulang, sampai aku bisa ikut menyanyikannya, hingga, akhirnya, aku tertidur.

Aku membuka mata dan menyaksikan tempat yang tak asing lagi. Setengah menyadari diriku sedang bermimpi, aku mengenali cahaya kehijauan hutan. Aku bisa mendengar suara ombak menghantam karang tak jauh dari tempatku berada. Aku mencoba mengikuti suara itu, tapi Jacob Black ada disana, menarik-narik tanganku, membawaku kembali ke bagian hutan yang paling kelam.

“Jacob, ada apa?” aku bertanya. Wajahnya ketakutan dan ia menarikku sekuat tenaga sementara aku menolak; tak ingin pergi ke tengah kegelapan.

“Lari, Bella, kau harus lari!” bisiknya ketakutan.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.