Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Apakah mereka ada disini?” Aku memperhatikan para cewek di ujung pantai, membayangkan apakah sekarang aku bisa mengingat mereka.

“Tidak.” Jacob menggeleng. “Rachel mendapat beasiswa untuk belajar di Washington, dan Rebecca sudah menikah dengan peselancar Samoa—sekarang dia tinggal di Hawaii.”

“Menikah. Wow.” Aku terpana mengingat usia di kembar tak beda jauh dariku. Mereka hanya satu tahun lebih tua dariku.

“Jadi, kau menyukai truknya?” tanyanya.

“Aku menyukainya. Truknya hebat.”

 

 

“Yeah, tapi jalannya pelan sekali,” ia tertawa. “Aku lega sekali ketika Charlie membelinya. Ayahku takkan mengizinkanku membuat yang baru kalau kami masih memiliki kendaraan yang menurutnya sempurna.”

“Tidak sepelan itu kok,” sergahku.

“Kau pernah mencoba lebih dari 60 kilometer per jam?”

“Belum,” jawabku.

“Bagus. Kalau begitu jangan.” Ia nyengir.

Aku tak bisa menahan diri untuk tidak balas tersenyum. “Tapi truk itu hebat untuk urusan tabrak menabrak,” kataku membanggakan truk yang sekarang milikku itu.

“Kurasa tank pun tak bisa mengalahkannya,” Jacob menimpali sambil tertawa.

“Jadi, kau bisa merakit mobil?” tanyaku, terkagum-kagum.

“Ya, kalau aku punya waktu dan semua perlengkapannya. Kau tidak tahu dari mana aku meperoleh kemampuan mengotak-atik silinder mesin Volkswagen Rabbit tahun 1986, kan?” candanya. Suaranya serak, namun enak didengar.

“Maaf,” aku tertawa, “aku belum tahu, tapi aku berjanji akan mencari tahu.” Seolah-olah aku tahu saja apa maksudnya tadi. Ia sangat mudah diajak bicara.

Ia tersenyum menawan, memandangku bersahabat, sorot matanya masih coba kupahami. Ternyata bukan hanya aku yang memperhatikan.

“Kau kenal Bella, Jacob?” tanya Lauren—dengan nada yang kupikir kasar—dari seberang.

“Boleh dibilang kami sudah saling kenal sejak aku lahir,” ia tertawa, tersenyum padaku lagi.

“Bagus sekali.” Lauren sama sekali tak terdengar sungguh-sungguh dengan ucapannya, dan matanya yang curiga menyipit.

“Bella,” panggilnya lagi, sambil memperhatikan wajahku. “Aku baru saja bilang pada Tyler, sayang sekali tak satu pun anak-anak Cullen ikut hari ini. Tidakkah ada yang terpikir untuk mengajak mereka?” Ekspresi kepeduliannya tidak meyakinkan.

“Maksudmu anak-anak dr. Carlisle Cullen?” cowok lebih tua bertubuh jangkung bertanya sebelum aku menjawab Lauren, dan tentu saja ini membuat Lauren jengkel. Cowok itu lebih mirip pria dewasa daripada remaja, dan suaranya sangat berat.

“Ya, kau kenal mereka?” Lauren terdengar mengejek, dan setengah berbalik menghadapnya.

“Anak-anak Cullen tidak datang kesini,” jawabnya dengan nada mengakhiri pembicaraan, mengabaikan pertanyaan Lauren.

Tyler, yang mencoba menarik kembali perhatian Lauren, meminta pendapat tentang CD yang dipegangnya. Perhatian Lauren pun teralihkan.

Aku menatap cowok bersuara berat itu, terkejut, tapi ia menatap lurus ke hutan gelap di belakang kami. Katanya anak-anak Cullen tidak datang kesini, tapi nada suaranya seperti mengatakan hal lain—bahwa mereka tidak diizinkan; mereka dilarang datang. Sikapnya meniggalkan kesan janggal bagiku, kucoba mengabaikannya tapi tidak berhasil.

Jacob mengusik ketenanganku. “Jadi, apakah Forks sudah membuatmu sinting?”

“Oh, bagiku itu sesuatu yang ironis.” Aku nyengir. Ia tersenyum penuh pengertian.

Aku masih memikirkan komentar tentang anak-anak Cullen, dan tiba-tiba saja mendapat inspirasi. Rencana bodoh, tapi aku tak punya ide yang lebih bagus. Kuharap Jacob yang masih muda itu belum begitu berpengalaman dengan cewek, sehingga ia tak menyadari usaha menyedihkanku untuk merayunya.

“Kau mau jalan-jalan di pantai bersamaku?” tanyaku, mencoba meniru cara Edward memandang dari balik bulu matanya. Hasilnya tentu saja tidak sama, aku yakin, tapi toh buktinya Jacob langsung berdiri mendengar ajakanku.

Ketika kami berjalan ke utara melewati bebatuan aneka warna, menuju garis batas yang pebuh driftwood, awan akhirnya menutupi langit, membuat laut gelap dan suhu turun. Kumasukkan tanganku ke saku jaket.

“Jadi, berapa umurmu? Enam belas?” tanyaku, berusaha tidak terlihat seperti orang bodoh ketika mengerjap-ngerjapkan mata seperti yang dilakukan cewek-cewek di televisi.

“Aku baru saja berumur 15,” ia mengaku malu-malu.

“Sungguh?” Keterkejutanku benar-benar palsu. “Kupikir kau lebih tua.”

“Untuk anak seusiaku, tubuhku cukup tinggi,” jelasnya.

“Kau sering ke Forks?” aku sengaja bertanya, berharap jawabannya ya. Benar-benar konyol. Aku khawatir ia akhirnya merasa jijik dan menuduhku bersandiwara, tapi kelihatannya ia masih merasa tersanjung.

“Tidak terlalu,” ia mengaku keheranan. “Tapi setelah mobilku selesai, aku bisa pergi sesering yang kumau—setelah aku dapat SIM,” lanjutnya.

“Siapa cowok yang sedang berbicara dengan Lauren?” Dia kelihatan agak tua untuk bergaul dengan kita.” Aku sengaja meletakkan diriku di kelompok yang lebih muda, mencoba menunjukkan bahwa aku lebih memilih Jacob.

“Itu Sam—umurnya 19,” ia memberitahuku.

“Apa sih maksudnya soal keluarga dokter itu?” tanyaku polos.

“Keluarga Cullen? Oh, mereka tak seharusnya datang ke reservasi.” Ia memalingkan wajah, memandang Pulau James, ketika membenarkan apa yang kutangkap dari perkataan Sam.

“Kenapa tidak?”

Ia menatapku sambil menggigit bibir. “Upss, aku tak seharusnya mengatakan apa-apa tentang itu.”

“Oh, aku takkan bilang siapa-siapa, aku hanya penasaran.” Aku berusaha tersenyum semenawan mungkin, sambil bertanya-tanya apakah terlalu berlebihan.

Ia balas tersenyum menawan. Lalu satu alisnya terangkat dan suaranya lebih parau dari sebelumnya.

“Kau suka cerita-cerita seram?” tanyanya, suara tak menyenangkan.

“Aku suka,” kataku bersemangat.

Jacob beralih ke onggokan kayu terdekat yang akar-akarnya menjulur seperti kaki laba-laba besar yang pucat. Ia duduk di salah satu akar sementara aku duduk di bawahnya. Ia memandang bebatuan, senyum merekah di ujung bibirnya yang lebar. Aku tahu ia sedang mencoba membuatku jatuh hati. Aku berusaha mengabaikannya.

“Tidakkah kau mengetahui satu saja legenda kami, tentang asal-muasal kami—maksudku suku Quileute?” ia memulai ceritanya.

“Tidak juga,” jawabku jujur.

“Well, ada banyak legenda, beberapa dipercayai terjadi pada masa Banjir—konon katanya, para leluhur Quileute mengikat kano mereka di ujung pohon tertinggi di pegunungan untuk bisa selamat, sepertin Nuh dan bahteranya.” Ia tersenyum, untuk menunujukkan padaku ia tidak terlalu mempercayai sejarah. “Legenda lainnya mengatakan kami keturunan serigala—dan serigala-serigala masih bersaudara dengan kami. Membunuh mereka berarti melanggar hukum suku.”

“Lalu ada cerita tentang yang berdarah dingin.” Suaranya semakin rendah.

“Yang berdarah dingin?” tanyaku kaget, tak lagi berpura-pura.

“Ya, ada cerita-cerita tentang yang berdarah dingin, cerita-cerita itu sama tuanya dengan legenda serigala, dan beberapa yang lain belum terlalu tua. Menurut legenda itu kakek buyutku sendiri mengenal beberapa dari mereka. Dialah yang membuat kesepakatan yang mengharuskan mereka menjauhi tanah kami.” Jacob memutar bola matanya.

“Kakek buyutmu?” aku memberanikan diri untuk bertanya.

“Dia tetua suku, seperti ayahku. Kau tahu, yang berdarah dingin adalah musuh alami serigala—well, bukan serigala sesungguhnya, tapi serigala yang menjelma menjadi manusia, seperti leluhur kami. Kau bisa menyebutnya werewolf—serigala jadi-jadian.”

“Werewolf punya musuh?”

“Hanya satu.”

Aku menatapnya serius, berharap bisa menyamarkan kejengkelanku menjadi kekaguman.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.