Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Jadi, apa yang diinginkan Edward Cullen kemarin?” Jessica bertanya di kelas Trigono.

“Aku tidak tahu,” jawabku jujur. “Dia tak pernah mengatakannya.”

“Kau sepertinya agak marah,” pancing Jessica.

“Oh ya?” sahutku, wajahku tetap datar.

“Kau tahu, aku tak pernah melihatnya duduk dengan orang lain kecuali keluarganya. Itu aneh.”

“Memang aneh,” ujarku setuju. Jessica tampak jengkel, ia mengibaskan rambut ikalnya yang berwarna gelap dengan tidak sabar—kurasa ia mengharapkan jawaban yang bisa digosipkannya pada orang lain.

Itulah bagian terburuk dari hari Jumat, dan meskipun aku tahu Edward takkan muncul, aku toh masih berharap. Ketika aku memasuki kafetaria bersama Jessica dan Mike, aku tak bisa menahan diri memandang meja tempat ia biasa duduk. Hari ini hanya Rosalie, Alice, dan Jasper yang duduk mengobrol disana. Dan aku tak bisa mengenyahkan kesedihan yang menyelimutiku ketika menyadari berapa lama lagi aku harus menunggu sampai bisa melihat Edward lagi.

Di mejaku yang biasa, semua sibuk membicarakan rencana besok. Mike sudah ceria lagi, ia menaruh harapan besar pada ramalan cuaca bahwa besok bakal cerah. Aku harus melihatnya sendiri sebelum mempercayainya. Tapi hari ini udara lebih hangat—hampir 15°C. Barangkali rencana jalan-jalan kami tidak bakal kelewat menyedihkan.

Selama makan siang Lauren menatapku dengan kurang bersahabat. Aku tidak mengerti kenapa, sampai ketika kami bersama-sama meninggalkan kafetaria. Aku tepat di belakangnya, hanya sejengkal di belakang rambut pirang keemasannya yang tebal, dan ia tidak menyadarinya.

“…tak tahu kenapa Bella”—ia mencibir ketika menyebut namaku—“tidak duduk dengan keluarga Cullen mulai sekarang,” aku mendengarnya bergumam pada Mike. Aku tak pernah memperhatikan betapa tidak ramah dan sengau suaranya, dan aku terkejut dengan kebencian yang kudengar di dalamnya. Aku benar-benar tak mengenalnya dengan baik selama ini, jelas tak cukup baik baginya untuk tidak menyukaiku—atau begitulah menurutku.

“Dia temanku, dia duduk bersama kita,” Mike berbisik padanya, menunjukkan kesetiaannya padaku, tapi juga sedikit posesif. Aku berhenti untuk membiarkan Jessica dan Angela melewatiku. Aku tak ingin mendengar apa-apa lagi.

Malam itu, saat makan malam, Charlie sepertinya bersemangat mengenai jalan-jalanku ke LA Push besok pagi. Kurasa ia merasa bersalah karena terlalu lama ia hidup dengan kebiasaan itu, sehingga sulit untuk mengubahnya. Tentu saja ia tahu semua nama anak-anak yang akan pergi, dan orangtua mereka, dan barangkali kakek buyut mereka juga. Kelihatannya ia tak keberatan. Aku membayangkan apakah ia akan menyetujui rencanaku pergi ke Seattle bersama Edward Cullen. Bukannya aku bakal memberitahunya.

“Dad, kau tahu tempat bernama Goat Rocks atau semacamnya? Kurasa di selatan Gunung Rainier,” tanyaku santai.

“Yeah, kenapa?”

Aku mengangkat bahu. “Beberapa teman berencana akan kemping disana.”

“Itu bukan tempat yang terlalu bagus buat kemping.” Ia terdengar terkejut. “Terlalu banyak beruang. Kebanyakan orang pergi kesana pada musim berburu.”

“Oh,” gumamku. “Mungkin aku salah mengingat namanya.”

Aku bermaksud pergi tidur, tapi cahaya terang yang tidak biasa membangunkanku. Kubuka mataku dan melihat cahaya kuning terang memancar lewat jendela. Aku tak percaya. Aku bergegas ke jendela untuk memeriksanya, dan bisa dipastikan, matahari bersinar. Bukan di tempat semestinya, terlalu rendah, dan tidak kelihatan terlalu dekat seperti seharusnya, tapi jelas itu matahari. Awan-awan menggantung di langit, tapi potongan langit biru cerah menyeruak di tengahnya. Aku berdiri di jendela selama mungkin, khawatir kalau kutinggalkan, langit biru itu akan lenyap lagi.

Toko Olympic Outfitters milik keluarga Newton terletak di utara kota. Aku sudah pernah melihatnya, tapi belum pernah singgah disana—sudah lama aku tidak membutuhkan perlengkapan kemping. Di lapangan parkir aku mengenali mobil Suburban Mike dan Sentra Tyler. Ketika aku memarkir trukku di sebelah mobil mereka, aku bisa melihat anak-anak lain berkumpul di depan Suburban. Eric ada disana, bersama dua cowok lain yang juga sekelas denganku; aku cukup yakin namanya Ben dan Conner. Jess ada disana, diikuti Angela dan Lauren. Tiga cewek lagi berdiri bersama mereka, yang satu aku ingat jatuh di gymnasium minggu Jumat lalu. Cewek itu menatapku jijik ketika aku keluar dari truk, membisikkan sesuatu pada Lauren. Lauren mengibaskan rambut pirangnya yang halus dan memandangku dengan tatapan mengejek.

Jadi sekarang dimulailah hari-hariku yang menyedihkan.

Setidaknya Mike senang melihatku.

“Kau datang!” serunya, gembira. “Sudah kubilang hari bakal cerah, kan?”

“Sudah kubilang aku bakal datang,” aku mengingatkan.

“Kami sedang menunggu Lee dan Samantha… kecuali kau mengundang seseorang,” Mike menambahkan.

“Tidak,” ujarku berbohong, berharap tidak ketahuan. Tapi aku juga berharap ada mukjizat dan Edward muncul.

Mike tampak puas.

“Maukah kau ikut mobilku? Pilihannya hanya itu atau minivan ibu Lee.”

“Oke.”

Ia tersenyum bahagia. Betapa mudahnya membuat Mike senang.

“Kau boleh membawa senjata,” ujarnya. Aku mengulum senyum. Tidak mudah membuat Mike dan Jessica senang sekaligus. Bisa kulihat Jessica menatap marah pada kami.

Meski begitu, jumlah anak yang ikut ternyata membantuku. Lee mengajak dua orang lagi, sehingga semua mobil penuh. Aku berhasil menyelipkan Jessica diantara Mike dan aku, duduk di kursi depan Suburban Mike. Mike tampak kecewa, tapi setidaknya Jess kelihatan puas.

Jarak antara La Push dan Fork hanya 15 mil. Sepanjang jalan kesana dipenuhi hutan hijau lebat yang indah sekali, dan Sungai Quillayute yang lebar. Aku senang bisa duduk dekat jendela—keadaan di dalam Suburban agak sesak dengan 9 penumpang—dan aku berusaha menyerap sinar matahari sebanyak mungkin.

Aku sudah sering mengunjungi pantai-pantai di sekitar La Push selama kunjunganku ke Forks pada musim panas bersama Charlie, sehingga jalan panjang melingkar menuju First Beach sudah tak asing lagi bagiku. Tapi tetap saja mempesona. Airnya kelabu gelap, bahkan di bawah sinar matahari sekalipun, tampak pucat menjorok ke pantai berbatu yang berwarna keabu-abuan. Pulau-pulau bermunculan dari perairan pelabuhan dengan tebing-tebing curam di sisinya, naik ke puncak yang tak beraturan, dan dimahkotai pepohonan cemara yang menjulang. Pantainya hanya dilapisi sehamparan sempit pasir, yang setelah itu berubah menjadi bebatuan besar halus yang jumlahnya ribuan, yang dari kejauhan tampak abu-abu, namun dari dekat warnanya seperti segala macam bebatuan : merah bata, hijau laut, lavender, biru, abu-abu, keemasan yang kusam. Garis pantai penuh dengan driftwood raksasa yang memutih karena terpaan air laut yang asin, beberapa berimpitan di bibir hutan, beberapa sendirian, jauh dari jangkauan ombak.

Angin kencang bertiup bersama ombak, sejuk dan asin. Burung-burung pelikan melayang diatas buih ombak sementara camar dan elang terbang di atas mereka. Awan-awan masih mengelilingi langit, seolah mengancam akan menutupinya sewaktu-waktu, tapi sementar matahari bersinar cerah di langit yang biru.

Kami berjalan menuju pantai, Mike memimpin di depan menuju lingkaran driftwood yang sepertinya telah digunakan orang-orang yang juga berpesta seperti kami. Ada api unggun disana, penuh abu hitam. Eric dan cowok yang kukira bernama Ben, mengumpulkan patahan ranting driftwood dari sisi yang kering di dekat hutan, dan tak lama kemudian tampaklah tumpukan ranting diatas sisa-sisa abu.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.