Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Ia menurunkan jendela otomatisnya dan mencondongkan tubuhnya ke kursi di seberangnya. “Masuk, Bella.”

Aku tak menjawab. Dalam pikiranku aku menghitung-hitung kesempatanku untuk mencapai trukku sebelum ia bisa menangkapku. Harus kuakui, tidak mungkin.

“Aku tinggal menyeretmu lagi,” ancamnya, seolah bisa menebak apa yang kurencanakan.

Aku mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diriku seraya naik ke mobilnya. Usahaku tidak begitu berhasil—aku tampak seperti kucing setengah kuyup dan sepatu botku berdecit-decit.

“Ini benar-benar tidak perlu,” kataku.

Ia tak menyahut. Ia menekan tombol kontol, menyalakan pemanas dan menyetel musik. Ketika mobilnya meninggalkan parkiran, aku bersiap-siap menerornya dengan berdiam diri—wajahku sudah cemberut sepenuhnya—tapi aku lalu mengenali musik yang mengalun itu, dan rasa penasaranku mengalahkan niatku semula.

“Claire de Lune?” tanyaku, terkejut.

“Kau tahu Debussy?” Ia juga terdengar terkejut.

“Tidak terlalu,” aku mengakui. “Ibuku suka menyetel musik klasik di rumah kami—aku hanya tahu yang kusuka.”

“Ini juga salah satu favoritku.” Ia memandang menembus hujan, termenung.

Aku mendengarkan musiknya, bersantai di jok kulit abu-abu muda yang kududuki. Mustahil aku tak bereaksi terhadap melodi yang amat kukenal dan menenangkan ini. Hujan membuyarkan semua yang ada di luar jendela menjadi hijau dan kelabu. Aku mulai menyadari mobil melaju cepat sekali; meski stabil dan tenang, sehingga aku tidak merasakan kecepatannya. Hanya kelebatan kota di sisi kami yang menunjukkan betapa cepatnya kami.

“Ibumu seperti apa?” tiba-tiba ia bertanya.

Aku memandangnya, mengamatinya dengan tatapan penasaran.

“Dia sangat mirip denganku, tapi lebih cantik,” kataku. Alisnya terangkat, heran. “Terlalu banyak Charlie dalam diriku. Ibuku punya sifat lebih terbuka, dan lebih berani. Ia tak bertanggung jawab dan sedikit nyentrik, dan juru masak yang sangat payah. Dia teman baikku.” Aku berhenti berbicara. Membicarakan ibuku membuatku sedih.

“Berapa umurmu, Bella?” Suaranya terdengar frustasi kerena alasan yang tak bisa kubayangkan. Ia menghentikan mobil, dan aku tersadar kami sudah tiba di rumah Charlie. Hujan turun sangat deras hingga aku nyaris tak bisa melihat rumah itu sama sekali. Seolah mobil Edward tenggelam di dalam sungai.

“Tujuh belas,” jawabku, sedikit bingung.

“Kau tidak kelihatan seperti berumur tujuh belas.”

Nada suaranya mencela, membuatku tertawa.

“Kenapa?” tanyanya, penasaran lagi.

“Ibuku selalu bilang aku berusia 35 tahun ketika dilahiran dan umurku semakin mendekati paruh baya setiap tahun.” Aku tertawa, lalu menghela napas. “Well, harus ada yang menjadi orang dewasanya.” Aku berhenti sebentar. “Kau sendiri tidak kelihatan seperti murid SMA yang masih baru,” kataku.

Raut wajahnya berubah dan ia langsung mengganti topik pembicaraan.

“Jadi, kenapa ibumu menikah dengan Phil?”

Aku terkejut ia mengingat nama itu; aku baru menyebutnya sekali, itu pun hampir 2 bulan yang lalu. Butuh beberapa saat untuk menjawabnya.

“Ibuku… sangat muda bagi umurnya. Kupikir Phil membuatnya merasa lebih muda lagi. Bagaimanapun juga, dia tergila-gila pada Phil.” Aku menggeleng-gelengkan kepala. Ketertarikan Mom pada Phil merupakan misteri bagiku.

“Kau menyetujuinya?” tanya Edward.

“Apakah itu penting?” tantangku. “Aku ingin dia bahagia… dan Phil laki-laki yang diinginkannya.”

“Kau baik sekali… aku jadi berpikir,” ujarnya kagum.

“Apa?”

“Menurutmu, apa dia akan melakukan hal yang sama untukmu? Siapapun pilihanmu?” Tiba-tiba ia berubah serius, matanya mencari-cari jawaban di mataku.

“Ku-kurasa,” ujarku terbata-bata. “Tapi bagaimanapun, dialah sang orangtua. Jadi agak berbeda.”

“Kalau begitu tak ada yang terlalu menyeramkan? Macam-macam tindikan di wajah dan tato-tato?”

“Kurasa itu salah satunya.”

“Menurutmu bagaimana?”

Tapi ia mengabaikan pertanyaanku dan menanyakan hal lain. “Apakah pikirmu aku bisa menyeramkan?” Satu alisnya terangkat dan secercah senyum membuat wajahnya tampak sedikit cerah.

Sesaat aku berpikir mana yang sebaiknya kukatakan, kebenaran atau kebohongan. Kuputuskan untuk mengatakan yang sejujurnya. “Hmm… kupikir kau bisa, kalau mau.”

“Apakah sekarang kau takut padaku?” Senyumnya lenyap dan wajahnya yang indah sekonyong-konyong serius.

“Tidak.” Tapi aku menjawab terlalu cepat. Ia kembali tersenyum.

“Jadi, apakah sekarang kau mau menceritakan tentang keluargamu?” aku bertanya untuk mengalihkan perhatiannya. “Pasti ceritamu lebih bagus daripada aku.”

Ia langsung berhati-hati. “Apa yang ingin kauketahui?”

“Keluarga Cullen mengadopsimu?” tanyaku.

“Ya.”

Beberapa saat aku jadi ragu. “Apa yang terjadi dengan orangtuamu?”

“Mereka meninggal bertahun-tahun yang lalu.” Suaranya datar.

“Maafkan aku,” gumamku.

“Aku tak begitu ingat mereka. Sekarang Carlisle dan Esme sudah cukup lama menjadi orangtua bagiku.”

“Dan kau menyayangi mereka.” Itu bukan pertanyaan. Perasaan itu tampak jelas dari caranya membicarakan mereka.

“Ya.” Ia tersenyum. “Aku tak pernah membayangkan dua orang lain yang lebih baik.”

“Kau sangat beruntung.”

“Aku tahu.”

“Kakak dan adikmu?”

Ia melirik jam di dasbor.

“Saudara-saudaraku, juga Jasper dan Rosalie, akan sangat kecewa kalau mereka harus kehujanan menungguku.”

“Oh, maaf, kurasa kau harus pergi.” Aku tak ingin keluar dari mobil.

“Dan barangkali kau ingin trukmu kembali ke rumah sebelum Kepala Polisi Swan pulang, jadi kau tidak perlu memberitahunya tentang insiden di kelas Biologi.” Ia tersenyum padaku.

“Aku yakin dia sudah mendengarnya. Tak ada rahasia di Forks.” Aku mendesah.

Ia tertawa, ada kekhawatiran dalam tawanya.

“Selamat bersenang-senang di pantai… cuacanya bagus untuk berjemur.” Ia memandangi hujan yang masih turun.

“Apa aku akan bertemu denganmu besok?”

“Tidak, Emmett dan aku memulai akhir pekan lebih awal.”

“Apa yang akan kalian lakukan?” Seorang teman boleh menanyakan itu, kan? Kuharap suaraku tidak terdengar terlalu kecewa.

“Kami akan mendaki Goat Rocks Wilderness, di selatan Rainier.”

Aku ingat Charlie pernah bilang keluarga Cullen sering pergi kemping.

“Oh, well, selamat bersenang-senang.” Aku berusaha terdengar antusias. Kurasa aku tak berhasil membodohinya. Senyum tipis merekah di ujung bibirnya.

“Maukah kau melakukan sesuatu untukku akhir pekan ini?” Ia berbalik dan menatapku lekat-lekat, matanya yang keemasan menyala-nyala.

Aku mengangguk putus asa.

“Jangan tersinggung, tapi kau sepertinya tipe orang yang dengan mudah tertarik bahaya seperti magnet. Jadi… cobalah tidak jatuh ke lautan atau tertabrak atau semacamnya, oke?” Ia tersenyum sangat lebar.

Keputusasaan memudar ketika ia berbicara. Aku memandangnya.

“Akan kuusahakan,” ujarku marah ketika melompat menerobos hujan. Aku membanting pintu mobil sekuat tenaga.

Ia masih tersenyum ketika berlalu dari pandanganku.

 

 

6. Kisah-Kisah Seram

Ketika duduk di kamarku, berusaha berkonsentrasi pada bagian ketiga Macbeth, aku menunggu-nunggu suara trukku. Kupikir, meskipun di tengah guyuran hujan, aku pasti akan mendengar deru mesinnya. Tapi ketika aku mengintip dari balik tirai—lagi—truk itu tiba-tiba sudah disana.

Aku sama sekali tak menanti-nantikan hari Jumat, dan ini melebihi sesuatu yang tidak kuharapkan. Tentu saja ada komentar-komentar tentang insiden aku pingsan. Terutama Jessica, seperrtinya ia sudah mendengar semuanya. Untungnya Mike tidak bilang apa-apa, dan sepertinya tak seorangpun tahu Edward terlibat. Meski begitu, Jessica punya banyak sekali pertanyaan mengenai kejadian saat makan siang.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.