Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Lalu Mr. Banner masuk, dan mengabsen kamu satu per satu. Ia memain-mainkan beberapa kotak kecil di tangannya. Diletakkannya kotak-kotak itu di meja Mike, menyuruhnya membagikannya ke yang lain.

“Oke, guys, aku mau kalian mengambil satu potongan dari masing-masing kotak,” kata Mr. Banner seraya mengambil sepasang sarung tangan karet dari saku jas lab-nya, lalu mengenakannya. Suara yang keras terdengar ketika sarung tangan itu masuk hingga pergelangan tangannya terdengar tidak menyenangkan bagiku. “Yang pertama kalian ambil seharusnya kartu indikator, ia melanjutkan, meraih kartu persegi dengan empat persegi diatasnya, lalu memperlihatkannya kepada kami. “Yang kedua aplikator segi empat—” ia mengangkat sesuatu yang mirip sisir yang nyaris tak bergerigi “—dan yang ketiga jarum suntik kecil steril.” Ia mengangkat benda kecil yang terbuat dari plastik biru dan membukanya. Dari jauh ujung jarumnya tidak kelihatan, tapi perutku langsung mulas.

“Aku akan berkeliling dengan air tetes untuk mempersiapkan kartu kalian, jadi tolong jangan mulai sebelum aku datang.” Ia mulai dari meja Mike lagi, berhati-hati meneteskan setetes air pada masing-masing keempat kotak itu. “Lalu aku mau kalian dengan hati-hati menusuk jari kalian dengan jarum…” Ia meraih tangan Mike dan menusukkan jarum itu ke ujung jari tengah Mike. Oh, tidak. Cairan lengket mengalir keluar di hadapanku.

“Taruh setetes darah, sedikit saja, pada masing-masing kotak.” Ia memeragakannya, meremas jari Mike hingga darahnya mengalir. Aku menelan liurku karena tegang, perutku rasanya mau meledak.

“Kemudian oleskan ke kartu,” ia selesai dengan peragaannya, memperlihatkan kartu yang sudah ditetesi darah kepada kami. Aku memejamkan mata, berusaha mendengar penjelasannya dengan telingaku yang berdenging.

“Palang Merah menggelar acara donor darah di Port Angeles akhir pekan yang akan datang, jadi kupikir kalian harus tahu golongan darah kalian.” Ia terdengar bangga. “Kalian yang belum genap 18 tahun perlu izin dari orangtua—aku punya formulir izinnya di mejaku.”

Ia berkeliling dengan air tetesnya. Kutempelkan pipiku ke permukaan meja yang hitam, mencari kesejukan dan berusaha tetap sadar. Di sekelilingku aku bisa mendengar jeritan, suara anak-anak mengeluh, dan suara tawa ketika teman-teman sekelas menusuk jari mereka. Aku menghirup napas pelan lewat mulutku.

“Bella, kau baik-baik saja?” tanya Mr. Banner. Suaranya terdengar sangat dekat, mengagetkanku.

“Aku sudah tahu golongan darahku, Mr. Banner,” kataku lemah. Aku takut mengangkat kepala.

“Apa kau mau pingsan?”

“Ya, Sir,” gumamku, diam-diam menendang diriku sendiri karena tidak membolos.

“Ada yang mau menolong bawa Bella ke UKS?” seru Mr. Banner.

Aku tak perlu melihat untuk mengetahui Mike-lah yang mengajukan diri.

“Kau bisa jalan?” tanya Mr. Banner.

“Ya,” bisikku. Keluarakan saja aku dari sini, pikirku. Kalau perlu, aku akan merangkak.

Mike sepertinya bersemangat sekali ketika memeluk pinggangku dan menarik lenganku ke bahunya. Aku menyandarkan tubuhku sepenuhnya padanya ketika kami berjalan keluar dari kelas.

Mike menarikku pelan menyeberangi sekolah. Ketika kami tiba di sekitar kafetaria, tidak terlihat dari gedung empat, kalau-kalau Mr. Banner memperhatikan, aku berhenti.

“Biarkan aku duduk dulu sebentar,” aku memohon padanya.

Ia membantuku duduk di ujung jalan setapak.

“Dan apapun yang kau lakukan, jaga tanganmu,” kataku mengingatkan. Aku masih sangat pusing. Aku merebahkan diri dengan posisi miring, menempelkan pipi ke lapisan semen yang dingin dan lembap, memejamkan mata. Sepertinya ini agak membantu.

“Wow, kau pucat, Bella,” kata Mike khawatir.

“Bella?” suara yang berbeda memanggil dari jauh.

Tidak! Tolong biarkan suara yang sangat kukenal itu hanya imajinasi.

“Apa yang terjadi—apakah dia sakit?” Suaranya lebih dekat sekarang, dan ia terdengar muram. Aku tidak sedang berkhayal. Aku terus memejamkan mata, berharap diriku mati. Atau setidaknya, tidak muntah.

Mike tampak sangat khawatir. “Kurasa dia pingsan. Aku tidak tahu apa yang terjadi, dia bahkan tidak menusuk jarinya.”

“Bella.” Edward sudah disebelahku sekarang, lega. “Kau bisa mendengarku?”

“Tidak,” erangku. “Pergilah.”

Ia tertawa.

“Aku sedang membawanya ke UKS,” Mike menjelaskan dengan nada defensif, “tapi dia tak bisa berjalan lebih jauh lagi.”

“Aku akan mengantarnya,” kata Edward. Aku masih bisa mendengar senyuman dalam kata-katanya. “Kau bisa kembali ke kelas.”

“Tidak,” protes Mike. “Aku yang seharusnya melakukannya.”

Tiba-tiba jalan setapak seolah lenyap dari bawahku. Kubuka mataku karena terkejut. Edward telah menggendongku, begitu mudahnya seolah beratku hanya lima kilo, bukannya 55.

“Turunkan aku!” Kumohon, kumohon, jangan biarkan aku muntah di tubuhnya. Ia sudah berjalan sebelum aku selesai bicara.

“Hei!” seru Mike, yang tertinggal jauh di belakang kami.

Edward mengabaikannya. “Kau tampak kacau,” katanya padaku, nyengir.

“Turunkan aku,” keluhku. Ayunan langkahnya tidak membuatku lebih baik. Ia membopongku dengan lembut, menaruh seluruh berat tubuhku pada lengannya—dan ini sepertinya tidak mengganggunya.

“Jadi kau pingsan karena melihat darah?” ia bertanya. Sepertinya ini menghiburnya.

Aku tidak menyahut. Kupejamkan mataku lagi dan dengan segenap tenaga melawan mualku. Kukatupkan bibirku rapat-rapat.

“Bahkan dengan darahmu sendiri,” lanjutnya, menikmati perkataannya.

Aku tidak tahu bagaimana ia membuka pintu sambil menggendongku, tapi tiba-tiba suasananya hangat, jadi aku tahu kami berada di dalam ruangan.

“Ya ampun,” aku mendengar suara perempuan terkesiap.

“Dia pingsan di kelas Biologi,” Edward menjelaskan.

Kubuka mataku. Aku berada di kantor TU, dan Edward sedang berjalan melewati konter menuju ruang perawatan. Miss Cope, petugas TU yang berambut merah, berlari mendahului Edward dan membukakan pintu untuknya. Juru rawat keibuan itu seperti di novel-novel, terkagum-kagum ketika Edward membawaku ke dalam ruangan dan meletakkanku hati-hati di atas kertas berkeresak yang menutupi kasur tipis dari vynil cokelat. Lalu ia pindah, berdiri rapat di dinding, sejauh mungkin di ujung ruangan yang sempit itu. Matanya memancarkan kegembiraan.

“Dia hanya sedikit lemah,” Edward meyakinkan si perawat yang kebingungan. “Mereka sedang menggolongkan darah di kelas Biologi.”

Juru rawat itu mengangguk penuh pengertian. “Pasti ada saja yang pingsan.”

Edward melontarkan ejekan pelan.

“Berbaring saja sebentar, ya, Sayang; nanti juga sembuh.”

“Aku tahu,” desahku. Mualnya sudah hilang.

“Apakah ini sering terjadi?” perawat bertanya.

“Kadang-kadang,” aku mengakuinya. Edward terbatuk untuk menyamarkan tawanya lagi.

“Kau boleh kembali ke kelas sekarang,” ia memberitahu Edward.

“Aku disuruh menemaninya.” Ia mengatakannya dengan nada sangat meyakinkan—sehingga meskipun perawat mengerucutkan bibir—ia tidak membantah,

“Aku akan mengambil kompres untukmu, Sayang,” perawat berkata kepadaku, lalu bergegas meninggalkan ruangan.

“Kau benar,” erangku, membiarkan mataku terpejam.

“Biasanya memang begitu—tapi kali ini dalam hal apa, ya?”

“Membolos adalah sesuatu yang menyehatkan.” Aku mencoba bernapas teratur.

“Tadi kau sempat membuatku takut,” akunya setelah beberapa saat. Nada suaranya membuatnya terdengar seperti sedang mengakui kelemahan yang memalukan. “Kupikir Newton sedang menyeret mayatmu untuk dikubur di hutan.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.