Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Tidak,” aku menyakinkannya. “Aku tidak akan pergi ke pesta dansa.”

“Kenapa tidak?” desak Mike.

Aku tak jadi mengatakan bahaya yang bakal muncul bila aku berdansa, jadi aku langsung menyusun rencana baru.

“Hari Sabtu itu aku akan pergi ke Seattle,” tuturku. Lagipula aku memang perlu ke luar kota—tahu-tahu saja itu waktu yang tepat untuk melakukannya.

“Tak bisakah kau pergi lain kali?”

“Maaf, tidak bisa,” kataku. “Jadi seharusnya kau tidak membuat Jess menunggu lebih lama—itu tidak baik.”

“Yeah, kau benar,” gumamnya, lalu berbalik, dengan muram berjalan ke mejanya. Aku memejamkan mata dan menekan jari-jariku ke kening, mencoba mengusir perasaan bersalah dan simpati dari benakku. Mr. Banner mulai bicara. Aku menghela napas dan membuka mata.

Dan Edward sedang menatapku penasaran, raut frustrasi yang sama dan tak asing bahkan lebih jelas terpancar di matanya yang hitam.

Aku balas menatap, terkejut, berharap ia akan langsung membuang muka. Tapi ia malah terus menatap tajam mataku. Tak diragukan lagi aku akan berpaling. Tanganku mulai gemetaran.

“Mr. Cullen?” panggil Mr. Banner, menunggu jawaban dari pertanyaan yang tak sempat kudengar.

“Siklus Krebs,” jawab Edward, tampak enggan memalingkan wajah dan menatap Mr. Banner.

Aku menunduk memandang bukuku begitu ia tak lagi menatapku, berusaha menenangkan diri. Pengecut seperti biasa, aku menggerai rambutku ke samping bahu kananku untuk menyembunyikan wajah. Aku tak mempercayai aliran emosi yang bergetar dalam diriku—hanya karena ia kebetulan menatapku untuk pertama kali setelah enam minggu lamanya. Aku tak bisa membiarkannya mempengaruhiku seperti ini. Menyedihkan. Lebih dari menyedihkan, ini tidak sehat.

Aku berusaha sangat keras agar tidak memedulikannya selama sisa pelajaran, dan berhubung ini tidak mungkin, setidaknya agar ia tidak tahu bahwa aku peduli. Ketika bel akhirnya berbunyi, aku berbalik memunggunginya untuk mengumpulkan barang-barangku, berharap ia langsung pergi seperti biasa.

“Bella?” Suaranya seharusnya tidak sefamilier itu, seolah-olah aku telah mengenalnya sepanjang hidupku dan bukkannya beberapa minggu yang singkat.

Perlahan aku berbalik, enggan. Aku tak ingin merasakan apa yang kutahu akan kurasakan ketika aku memandang wajahnya yang kelewat sempurna. Ekspresiku hati-hati ketika akhirnya menghadapnya, ekspresinya tidak bisa kutebak. Ia tidak mengatakan apa-apa.

“Apa? Apa kau berbicara denganku lagi?” akhirnya aku bertanya, nada kesal yang tidak disengaja menyelinap dalam suaraku.

Aku memejamkan mata dan menarik napas pelan lewat hidung, sadar aku mengertakkan gigi. Ia menunggu.

“Lalu apa yang kau inginkan, Edward?” aku bertanya, mataku tetap terpejam, lebih mudah berbicara rasional padanya dengan cara ini.

“Aku minta maaf.” Ia terdengar tulus. “Aku tahu sikapku sangat kasar. Tapi lebih baik seperti itu, sungguh.”

Aku membuka mata. Wajahnya sangat serius.

“Aku tidak tahu apa maksudmu,” kataku, hati-hati.

“Lebih baik kalau kita tidak berteman,” ia menjelaskan. “Percayalah.”

Mataku menyipit. Aku pernah mendengar hal itu sebelumnya.

“Sayang sekali kau tidak menyadarinya sejak awal,” desisku tertahan. “Kau jadi tidak perlu repot-repot menyesal begini.”

“Menyesal?”Perkataan itu dan nada suaraku, jelas membuatnya kaget. “Menyesal kenapa?”

“Karena tidak mebiarkan van bodoh itu menimpaku.”

Ia terpana. Ia memandangku keheranan.

Ketika akhirnya bicara, ia nyaris terdengar marah. “Kau pikir aku menyesal telah menyelamatkanmu?”

“Aku tahu kau merasa begitu,” tukasku.

“Kau tidak tahu apa-apa.” Ia jelas sangat marah.

Aku memalingkan wajah dan menelan semua tuduhan liar yang ingin kulontarkan kepadanya. Kukumpulkan semua buku-bukuku, lalu berdiri dan berjalan ke pintu. Aku bermaksud meninggalkan kelas dengan gaya dramatis, tapi tentu saja ujung sepatu botku tersangkut sudut pintu sehingga buku-buku jatuh berantakan. Aku terdiam beberapa saat, sempat berpikir untuk pergi saja. Lalu aku menghela napas dan membungkuk untuk memungutinya. Ia ada disana, ia sudah menyusun semuanya kembali. Ia menyerahkan buku-buku itu padaku, wajahnya tegang.

“Terima kasih,” kataku dingin.

Matanya menyipit. “Sama-sama,” balasnya geram.

Aku langsung bangkit berdiri, berpaling darinya, dan melangkah ke gymnasium tanpa menoleh. Keadaan di gymnsium kacau. Kami belajar basket. Anggota timku tidak pernah mengoper bola padaku, dan itu bagus, tapi aku sering sekali terjatuh. Kadang-kadang aku menyeret orang lain jatuh bersamaku. Hari ini aku lebih kacau daripada biasanya karena kepalaku penuh dengan Edward. Aku mencoba berkonsentrasi pada kakiku, tapi pikiran itu terus muncul persis ketika aku membutuhkan keseimbangan.

Seperti biasa, rasanya lega ketika sekolah usai. Aku nyaris berlari ke truk, banyak orang yang ingin kuhindari. Kecelakaan itu hanya meninggalkan sedikit kerusakan pada trukku. Aku harus mengganti lampu belakangnya, dan kalau mahir mengecat aku akan mengecat ulang trukku. Orangtua Tyler terpaksa menjual van mereka.

Aku nyaris terkena serangan jantung saat berbelok dan melihat sosok yang tinggi dan gelap bersandar di sisi trukku. Lalu aku sadar itu hanya Eric. Aku mulai melangkah lagi.

“Hei, Eric,” sapaku.

“Hai, Bella.”

“Ada apa?” tanyaku sambil membuka pintu. Aku tidak memperhatikan nada suaranya yang kaku, jadi kata-katanya berkutnya mengagetkanku.

“Ehh, aku hanya bertanya-tanya… maukah kau pergi ke pesta dansa musim semi denganku?” Suaranya bergetar.

“Kupikir ceweklah yang mengajak,” kataku, terlalu bingung untuk berdiplomasi.

“Well, ya,” ia mengakuinya malu-malu.

Aku berhasil menenangkan diri dan berusaha tersenyum hangat. “Terima kasih untuk ajakannya, tapi aku akan pergi ke Seattle hari itu.”

“Oh,” katanya. “Well, mungkin lain kali.”

“Tentu,” aku menyetujuinya, lalu menggigit bibir. Aku tak ingin dia kelewat serius menanggapinya.

Dengan malas-malasan ia kembali ke dalam sekolah. Aku mendengar suara tawa samar-samar.

Edward sedang melangkah melewati depan trukku, menatap lurus ke depan, bibirnya terkaput. Aku membuka pintu, melompat masuk, dan membantingnya keras-keras. Kupacu trukku hingga mengeluarkan suara memekakkan dan mundur ke jalanan. Edward sudah berada di mobilnya, hanya selang 2 kendaraan, meluncur mulus dihadapanku, memotong jalanku. Ia berhenti disana—menunggu keluarganya; aku bisa melihat mereka berempat berjalan kemari, tapi masih di sekitar kafetaria. Aku menimbang-nimbang untuk menyengol bemper Volvo yang mengkilap itu, tapi ada kelewat banyak saksi. Mobil-mobil lain sudah mulai antre. Tepat di belakangku, Tyler Crowler dengan Sentra bekas yang baru dibelinya melambai padaku. Aku terlalu jengkel untuk menyapanya.

Ketika duduk disana, memandang kemana saja kecuali mobil di depanku, aku mendengar suara ketukan di jendela truk. Aku memandang, ternyata Tyler. Aku melirik spionku, bingung. Mobilnya masih menyala, pintunya terbuka. Aku mencondongkan tubuhku ke sisi truk untuk membuka jendela. Keras sekali. Aku berhasil membukanya separuh, lalu menyerah.

“Maaf, Tyler, Cullen menghalangiku.” Aku kesal—jelas kemacetan ini bukan salahku.

“Oh, aku tahu—aku hanya ingin menanyakan sesuatu selagi kita terjebak disini.” Ia nyengir.

Ini tidak mungkin terjadi.

“Maukah kau mengajakku ke pesta dansa musim semi?” lanjutnya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.