Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Aku memutuskan untuk tidur lebih awal malam itu. Charlie terus-menerus mengawasiku, membuatku merasa tidak nyaman. Aku berhenti di perjalanan untuk mengambil 3 Tyfenol di kamar mandi. Obat ini lumayan membantu, dan begitu rasa sakitnya mereda, aku tertidur pulas.

Itu adalah malam pertama aku memimpikan Edward Cullen .

 

 

4. Undangan

Dalam mimpiku sangat gelap, dan cahaya samar-samar di sana terpancar dari kulit Edward. Aku tak bisa melihat wajahnya, hanya punggungnya ketika ia menjauh dari diriku, meninggalkanku dalam kegelapan. Tak peduli seberapa cepat aku berlari, aku tak bisa mengejarnya; tak peduli seberapa keras aku memanggil, ia tak pernah berbalik. Karena ketakutan, aku terbangun di tengah malam dan tidak bisa tidur lagi untuk waktu yang sepertinya lama sekali. Setelah itu ia nyaris ada dalam mimpiku setiap malam, tapi selalu bayangan yang tak pernah bisa kujangkau.

Selama sebulan setelah kecelakaan itu segalanya terasa tidak nyaman, menegangkan, dan pada awalnya memalukan.

Yang membuatku cemas, aku mendapati diriku menjadi perhatian selama sisa minggu itu. Tyler Crowley selalu mengikuti kemana saja aku pergi, terobsesi untuk memperbaiki segalanya, entah dengan cara apa. Aku mencoba menyakinkannya bahwa yang kuinginkan melebihi segalanya adalah agar ia melupakan kejadian itu— terutama karena aku baik-baik saja—tapi ia tetap berkeras. Ia mengikuti dan duduk bersamaku di meja makan siang yang sekarang penuh orang. Mike dan Eric bahkan tak kalah sebal padanya ketimbang yang mereka rasakan satu sama lain. Dan aku jadi khawatir telah mengundang penggemar yang tak kuinginkan.

Tak seorangpun sepertinya peduli tentang Edward, meskipun aku terus-menerus menceritakan bahwa dialah sang pahlawan—bagaimana dia menarikku dan nyaris saja ikut terlindas. Aku berusaha terdengar meyakinkan. Jessica, Mike, Eric, dan orang-orang lain selalu berkomentar bahwa mereka tidak melihatnya sampai van itu ditarik.

Aku bertanya-tanya mengapa tak seorangpun melihatnya berdiri jauh dariku, sebelum ia tiba-tiba, dengan tidak mungkinnya, menyelamatkan hidupku. Merasa kecewa, aku menyadari alasan yang masuk akal— tak seorangpun menyadari keberadaan Edward seperti aku. Tak seorangpun memperhatikannya seperti aku. Betapa menyedihkan.

Edward tak pernah dikelilingi orang-orang yang penasaran ingin mendengar cerita itu dari sudut pandangnya. Orang-orang menghindarinya seperti biasa. Keluarga Cullen dan Hale duduk di meja yang sama seperti biasa, tidak makan, hanya mengobrol sendiri. Tak satupun dari mereka, terutama Edward, memandang ke arahku lagi.

Ketika ia duduk di sebelahku di kelas, dan sejauh mungkin, sepertinya ia sama sekali tak menyadari kehadiranku. Hanya kadang-kadang, ketika tangannya tiba-tiba mengepal—kulitnya meregang bahkan lebih putih dari tulangnya—aku berpikir ia tidak secuek penampilannya.

Ia berharap tak pernah menarikku dari depan mobil Tyler—tak ada kesimpulan lain yang bisa kutarik selain itu.

Aku sangat ingin bicara dengannya, dan aku sudah berusaha melakukannya sehari setelah kecelakaan. Terkahir kali aku bertemu dengannya, di luar ruang UGD, kami berdua begitu marah. Aku masih marah karena ia tak mau mengatakan yang sebenarnya kepadaku, meskipun aku tidak akan memberitahu siapapun. Tapi nyatanya ia toh telah menyelamatkan nyawaku, entah bagaimana caranya. Dan dalam sekejap kemarahanku berganti rasa syukur yang mengagumkan.

Ia sudah duduk ketika aku sampai di kelas Biologi, tanpa melirik kanan-kiri. Aku duduk, berharap ia akan berpaling ke arahku. Ia tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia menyadari aku berada disana.

“Halo, Edward,” sapaku ramah, mencoba terlihat sopan.

Ia menoleh sedikit tanpa memandang mataku, mengangguk sekali, lalu berpaling lagi.

Dan itulah kontak terakhirku dengannya, meskipun ia ada disana, sejengkal dariku, setiap hari. Kadangkadang aku memerhatikannya, tak sanggup menahan diriku—meskipun hanya dari jauh, di kafetaria atau di parkiran. Kuperhatikan matanya yang keemasan semakin hari semakin gelap. Tapi di kelas aku seolah tak memedulikannya, seperti ia juga tak memedulikanku. Aku benar-benar merana. Dan mimpi-mimpiku berlanjut.

Meskipun aku berlagak tak peduli, emosi yang terpancar dalam e-mail-e-mail-ku membuat Renée menyadari keadaanku yang tertekan. Ia menelepon beberapa kali, mengkhawatirkan aku. Aku berusaha meyakinkannya, bahwa cuacalah yang membuatku sedih.

Setidaknya Mike senang melihat kebisuan antara aku dan pasangan lab-ku. Bila kulihat ia khawatir aksi penyelamatan Edward yang gagah berani bisa saja membuatku terkesan, dan Mike lega menyadari yang terjadi adalah kebalikannya. Ia semakin percaya diri, duduk di ujung mejaku sebelum pelajaran Biologi dimulai, mengabaikan Edward, seperti ia mengabaikan kami semua.

Salju benar-benar lenyap setelah hari bersalju yang berbahaya itu. Mike kecewa tidak bisa main perangperangan salju lagi, tapi senang perjalanan ke pantai akan segera terwujud. Meski begitu hujan terus-menerus turun dan minggu demi minggu pun berlalu.

Jessica membuatku menyadari 1 masalah lagi—ia menelepon hari Selasa pertama bulan Maret untuk meminta izin mengajak Mike ke pesta dansa musim semi 2 minggu lagi.

“Kau yakin tidak keberatan… kau tak ingin mengajaknya?” ia mendesak terus ketika aku mengatakan sama sekali tidak keberatan.

“Tidak, Jess, aku tak akan pergi,” aku meyakinkannya. Berdansa sudah jelas di luar kemampuanku.

“Bakal asyik banget lho.” Usahanya membujukku benar-benar setengah hati, aku curiga Jessica lebih menikmati popularitasku yang tidak biasa dan bukannya kehadiranku yang sesungguhnya.

“Bersenang-senanglah dengan Mike,” aku mendukungnya.

Keesokan harinya aku terkejut Jessica tidak cerewet seperti biasa di kelas Trigono dan Spanyol. Ia diam saja ketika berjalan di sebelahku menuju kelas, dan aku takut menanyakan alasannya. Kalau Mike menolak ajakannya, pasti akulah orang terakhir yang ingin diberitahunya.

Kekhawatiranku semakin menguat saat makan siang, ketika Jessica duduk sejauh mungkin dari Mike, berbincang sangat akrab dengan Eric. Mike juga diam, tidak seperti biasa.

Mike masih diam ketika mengantarku ke kelas, wajahnya yang suram pertanda buruk. Tapi ia tidak mengungkit-ungkit masalah itu hingga aku duduk di kursi dan ia bertengger di mejaku. Seperti biasa, aku sadar Edward duduk cukup dekat hingga aku bisa menyentuhnya, namun toh begitu jauh seolah ia hanyalah rekaan imajinasiku.

“Jadi,” kata Mike menatap lantai, “Jessica memintaku pergi dengannya ke pesta dansa musim semi.”

“Bagus dong.” Aku berusaha terdengar ceria dan bersemangat. “Kau akan bersenang-senang dengan Jessica.”

“Well…” ia berkata ragu sambil mengamati senyumku, jelas tidak menyukai reaksiku. “Aku bilang padanya aku akan memikirkannya.”

“Kenapa kau bilang begitu?” Kubiarkan kekecewaan memancar dari nada suaraku, meskipun aku lega Mike tidak langsung mengatakan tidak.

Wajahnya memerah ketika menunduk lagi. Aku merasa iba.

“Aku bertanya-tanya kalau-kalau… well, kalau kau berencana mengajakku.”

Aku berhenti sesaat, membenci perasaan bersalah yang menyelimutiku. Tapi dari sudut mata kulihat kepala Edward tanpa sadar miring ke arahku.

“Mike, kurasa kau harus bilang ya padanya,” kataku.

“Apa kau sudah mengajak seseorang?” Apakah Edward sadar Mike menatap nanar ke arahnya?

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.