Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Jadi, Miss Swan,” dr. Cullen berkata dengan suara sangat merdu, “bagaimana perasaanmu?”

“Aku baik-baik saja,” kataku, mudah-mudahan untuk terakhir kali.

Ia berjalan ke papan pembaca foto rontgen di atas kepalaku dan menyalakannya.

“Hasil rontgenmu bagus,” katanya. “Apa kepalamu sakit? Kata Edward, kepalamu terbentur cukup keras.”

“Tidak apa-apa,” aku mengulangi sambil menghela napas, lalu menatap Edward geram.

Jemari dokter yang dingin meraba ringan tulang tengkorakku. Ia memperhatikan ketika aku meringis.

“Sakit?” tanyanya.

“Tidak juga.” Aku sudah pernah mengalami yang lebih parah.

Aku mendengar suara tawa, dan melihat Edward tersenyum meremehkan. Mataku menyipit.

“Well, ayahmu berada di ruang tunggu—kau bisa pulang dengannya sekarang. Tapi kembalilah kalau kau merasa pusing atau mengalami masalah sekecil apapun dengan penglihatanmu.”

“Bisakah aku kembali ke sekolah?” tanyaku, membayangkan Charlie bakal kelewat perhatian padaku.

“Mungkin sebaiknya kau beristirahat hari ini.”

Aku menatap Edward. “Apakah dia boleh pergi ke sekolah?”

“Harus ada yang menyebarkan kabar gembira bahwa kita selamat,” kata Edward ponggah.

“Sebenarnya,” dr. Cullen meralat, “sepertinya seluruh penghuni sekolah ada di ruang tunggu saat ini.”

“Oh tidak,” erangku, menutupi wajahku dengan tangan.

Alis dr. Cullen terangkat. “Kau mau tinggal disini?”

“Tidak, tidak!” aku berkeras, menurunkan kakiku ke sisi tempat tidur dan langsung melompat. Terlalu cepat—aku terpeleset, dan dr. Cullen menangkapku. Ia tampak waswas.

“Aku baik-baik saja,” aku meyakinkannya lagi. Tak perlu memberitahunya bahwa keseimbanganku tak ada hubungannya dengan kepalaku yang terbentur.

“Minum Tyfenol untuk mengurangi sakitnya,” ia memberikan saran sambil memegangiku.

“Sakitnya tidak separah itu kok,” aku berkeras.

“Kedengarannya kau sangat beruntung,” kata dr. Cullen, tersenyum sambil menandatangani statusku dengan gerakan berlebihan.

“Aku beruntung karena Edward kebetulan ada di sebelahku,” aku menekankann ucapanku dengan menatap Edward lekat-lekat.

“Oh, well, ya,” ujar dr. Cullen, tiba-tiba menyibukkan diri dengan kertas didepannya. Lalu ia berpaling memandang Tyler, dan menghampiri tempat tidur sebelah. Intuisiku tepat, sang dokter sedang memikirkannya.

“Aku khawatir kau harus tinggal bersama kami lebih lama,” ia berkata kepada Tyler, dan mulai memeriksa luka-lukanya.

Begitu dokter memunggungiku, aku bergeser ke sisi Edward.

“Bisakah aku berbicara denganmu sebentar?” aku berbisik. Ia mundur selangkah, rahangnya sekonyong-konyong mengeras.

“Ayahmmu sudah menunggumu,” katanya sepelan mungkin.

Aku memandang dr. Cullen dan Tyler.

“Aku ingin bicara berdua saja denganmu, kalau kau tidak keberatan,” desakku.

Ia menatapku jengkel, lalu berbalik dan berjalan menyusuri ruang panjang itu. Aku nyaris berlari untuk mngejarnya. Begitu kami berbelok di sudut menuju lorong pendek, ia berbalik menghadapku.

“Kau mau apa sih?” tanyanya jengkel. Tatapannya dingin.

Sikapnya yang tak bersahabat mengintimidasiku. Kata-kata yang mengalir tak seketus yang kuinginkan. “Kau berhutang penjelasan padaku,” aku mengingatkannya.

“Aku menyelamatan hidupmu—aku tak berhutang apa-apa padamu.”

Aku tersentak mendengar amarah dalam suaranya. “Kau sudah janji.”

“Bella, kepalamu terbentur, kau tak tahu apa yang kau bicarakan.” Nada suaranya tajam.

Emosiku meluap-luap sekarang, kutatap dia tajam-tajam. “Tak ada yang salah dengan kepalaku.”

Ia balas menantang. “Apa yang kau mau dariku, Bella?”

“Aku mau tahu yang sebenarnya,” kataku. “Aku mau tahu kenapa aku berbohong untukmu.”

“Apa menurutmu yang terjadi?” sergah Edward.

Lalu semua terlontar begitu saja.

“Yang kutahu kau tak ada di dekatku—Tyler juga tidak melihatmu, jadi jangan bilang aku mengarang semuanya. Van itu mustinya sudah menghancurkan kita berdua—tapi nyatanya tidak, dan tanganmu meninggalkan lekukan di badan mobil itu—juga di mobil yang lain, dan kau sama sekali tidak terluka—dan van itu seharusnya menghancurkan kakiku, tapi kau menahannya…” Aku bisa mendengar betapa itu terdengar sinting, dan aku tak bisa melanjutkannya. Aku begitu marah sehingga bisa merasakan air mata mulai menggenangi mataku, aku berusaha menahannya dengan menggertakkan gigiku.

Ia menatapku tak percaya. Tapi wajahnya tegang, tampak bersalah.

“Kaupikir aku mengangkat mobil van itu dari atas tubuhmu?” nada suaranya mempertanyakan kewarasanku, tapi itu justru membuatku semakin curiga. Itu seperti kalimat yang dibawakan dengan sangat baik sekali oleh seorang aktor berbakat.

Aku hanya mengangguk sekali, rahangku mengeras.

“Tak ada yang bakal mempercayai itu, kau tahu.” Suaranya terdengar mengejek sekarang.

“Aku takkan memberitahu siapa-siapa.” Aku mengucapkan setiap kata dengan pelan, hati-hati mengendalikan amarahku.

Wajahnya tampak kaget. “Lalu kenapa kau mempermasalahkannya?”

“Ini penting buatku,” desakku. “Aku tak suka berbohong—jadi sebaiknya ada alasannya yang baik mengapa aku melakukannya.”

“Tak bisakah kau berterima kasih saja dan melupakannya?”

“Terima kasih.” Aku menunggu, marah dan berharap.

“Kau takkan menyerah, kan?”

“Tidak.”

“Kalau begitu… kuharap kau menikmati kekecewaanmu.”

Kami saling menatap marah dalam hening. Akulah yang pertama bicara, berusaha untuk tetap fokus. Perhatianku nyaris teralihkan oleh wajahnya yang pucat dan menawan. Rasanya seperti menatap malaikat penghancur.

“Kenapa kau bahkan peduli?” tanyaku dingin.

Ia berhenti, dan sesaat wajahnya yang indah tak disangka-sangka berubah rapuh.

“Aku tak tahu,” bisiknya.

Lalu ia berbalik dan menjauh.

Aku sangat marah, hingga butuh beberapa menit agar bisa bergerak. Setelah bisa berjalan, aku melangkah pelan menuju pintu keluar di ujung lorong.

Ruang tunggu lebih tidak menyenangkan dari yang kukhawatirkan. Sepertinya semua wajah yang kukenal di Forks ada disana, menatapku. Charlie bergegas ke sisiku, aku mengangkat tangan.

“Aku tidak apa-apa,” kuyakinkan dirinya dengan nada jengkel. Aku masih kesal, tak ingin bebasa-basi.

“Apa kata dokter?”

“Dr. Cullen memeriksaku, dan katanya aku baik-baik saja dan bisa pulang.” Aku menghela napas. Mike, Jessica, dan Eric ada disana, mulai bergabung dengan kami. “Ayo,” pintaku.

Charlie meletakkan lengannya di punggungku, tidak benar-benar menyentuhku, lalu membimbingku ke pintu keluar yang terbuat dari kaca. Aku melambai malu-malu ke arah teman-temanku, berharap bisa menunjukkan bahwa mereka tidak perlu khawatir lagi. Rasanya sangat lega—itulah pertama kali aku merasakannya—berasda di mobil patroli.

Sepanjang perjalanan kami berdiam diri. Aku begitu larut dalam pikiranku sampai-sampai tidak menyadari keberadaan Charlie di dekatku. Aku yakin sikap Edward di lorong tadi merupakan jawaban atas halhal aneh yang baru kusaksikan, yang masih tak bisa kupercaya.

Ketika kami tiba di rumah, Charlie akhirnya bicara.

“Mm… kau harus menelepon Renée.” Ia menunduk bersalah.

Aku terkejut. “Kau memberitahu Mom!”

“Maaf.”

Aku membanting pintu mobil patroli sedikit lebih keras daripada yang seharusnya ketika keluar.

Tentu saja ibuku histeris. Aku harus memberitahunya setidaknya tiga puluh kali bahwa aku baik-baik saja sebelum ia bisa tenang. Ia memohon supaya aku mau pulang—melupakan kenyataan bahwa saat itu rumah kosong—tapi permohonan Mom lebih mudah kutolak daripada yang kubayangkan. Aku asyik dengan misteri yang disimpan Edward. Dan agak lebih terobsesi kepada Edward. Bodoh, bodoh, bodoh. Aku tidak terlalu ingin meninggalkan Forks sebagaimana seharusnya, sebagaimana yang seharusnya diinginkan orang normal dan waras.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.