Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Aku berusaha terdengar kasual. “Aku bertanya-tanya apa yang terjadi padanya Senin lalu.”

Aku tak sanggup menyimak celotehan Mike sepanjang perjalanan menuju gymnasium, dan pelajaran Olahraga tidak terlalu menarik perhatianku. Mike satu tim denganku hari ini. Ia mau berbaik hati menggantikan posisiku sekaligus menjalankan posisinya, sehingga lamunanku hanya terusik ketika aku mendapat giliran melakukan serve. Anggota timku dengan hati-hati menghindar setiap kali giliranku tiba.

Hujan hanya rintik-rintik ketika aku berjalan ke lapangan parkir, tapi aku merasa lebih gembira setelah berada di trukku yang kering. Kunyalakan mesin penghangat, sekali ini tidak memedulikan suara mesin yang meraung-raung. Aku membuka jaket, melepas tudungnya, dan menggeraikan rambut lembabku agar mengering dalam perjalanan pulang.

Aku memandang sekelilingku, memastikan tidak ada siapa-siapa. Saat itulah aku menangkap sosok pucat yang diam tak bergerak itu. Edward Cullen sedang bersandar di pintu depan Volvo, yang jaraknya 3 mobil dariku, matanya menatapku lekat-lekat. Aku langsung mengarahkan pandangan dan memundurkan truk begitu terburu-buru hingga nyaris menabrak sebuah Toyota Corolla berkarat. Toyota itu beruntung, aku menginjak rem tepat pada waktunya. Trukku jenis penghancur. Aku menarik napas panjang, masih melihat ke sisi lain mobil, dan berhati-hati mundur lagi, kali ini lebih baik. Aku memandang lurus ke depan ketika melewati Volvo itu, namun sekilas aku bersumpah melihatnya tertawa.

 

 

3. Fenomena

Ketika paginya aku membuka mata, ada sesuatu yang berbeda.

Ada cahaya. Masih cahaya hijau kelabu yang khas hari mendung di hutan, tapi bagaimanapun juga cerah. Aku menyadari tak ada kabut menyelubungi jendelaku.

Aku melompat dari tempat tidur untuk melihat keluar, lalu mengerang ngeri.

Lapisan salju yang sempurna menutupi halaman, melapisi atap trukku, dan membuat jalanan menjadi putih. Tapi bukan itu bagian terburuknya. Hujan yang turun kemarin telah membeku—melapisi pepohonan membentuk jarum dalam pola yang sangat indah, dan menjadikan jalan setapak licin dan berbahaya. Aku sendiri sudah cukup kerepotan agar tidak terpeleset saat jalanan kering, jadi mungkin lebih aman kalau aku tidur lagi sekarang.

Charlie sudah berangkat sebelum aku turun. Dilihat dari berbagai sisi, hidup bersama Charlie bagaikan hidup sendirian, dan aku mendapati diriku sendiri bersorak-sorai dan bukannya kesepian.

Aku sarapan semangkuk sereal dan jus jeruk. Aku merasa bersemangat untuk pergi ke sekolah, dan ini membuatku takut. Aku tahu bukan lingkungan yang menstimulasiku untuk belajar yang membuatku bersemangat, ataupun bertemu teman-teman baruku. Kalau mau jujur, semangatku pergi ke sekolah lebih karena Edward Cullen. Dan itu sangat, sangat bodoh.

Aku seharusnya menghindari cowok itu setelah omonganku yang tidak cerdas dan memalukan kemarin. Dan aku curiga padanya, kenapa ia harus berbohong tentang matanya? Aku masih takut dengan sifat permusuhan yang kadang-kadang terpancar dalam dirinya, dan aku masih tak sanggup bicara setiap kali melihat wajahnya yang sempurna. Aku sangat sadar kelompokku dan kelompoknya sama sekali tidak cocok. Jadi tak seharusnya aku kepingin bertemu dengannya hari ini.

Butuh konsentrasi penuh untuk bisa sampai dengan selamat ke truk. Aku nyaris kehilangan keseimbangan ketika akhirnya sampai di truk, tapi aku berhasil berpegangan di kaca spion dan menyelamatkan diriku. Jelas hari ini bakal menjadi mimpi buruk.

Sambil mengemudi ke sekolah, kualihkan ketakutanku bakal terjatuh dan spekulasi yang bukan-bukan tentang Edward Cullen, dengan memikirkan Mike dan Eric, dan betapa berbedanya sikap cowok-cowok terhadapku sisini. Aku yakin aku tampak sama persis seperti ketika di Phoenix. Barangkali cowok-cowok di tempat asalku telah menyaksikan aku perlahan-lahan melewati semua tahap kedewasaan yang membuat canggung dan masih memandangku dengan cara itu. Mungkin karena aku masih baru sisini, tempat sesuatu yang baru jarang-jarang ada. Mungkin kecanggunganku dianggap menarik dan bukannya menyedihkan, membuatku kelihatan seperti cewek yang sedang kesusahan. Apapun alasannya, sikap Mike yang seperti anak anjing dan sikap Eric yang bersaing dengannya sangat mengganggu. Aku tak yakin apakah aku tidak akan memilih diabaikan saja.

Trukku sepertinya tidak masalah dengan es yang melapisi jalanan. Meski begitu, aku mengemudi sangat pelan, tak ingin tergelincir.

Ketika turun dari truk sesampainya di sekolah, aku tahu kenapa aku nyaris tidak mendapat masalah. Aku melihat sesuatu berwarna perak, dan aku berjalan ke bagian belakang truk—dengan hati-hati berpegangan pada sisi truk untuk menjaga keseimbangan—dan memeriksa banku. Ada rantai tipis saling berkaitan membentuk intan di sekelilingnya. Charlie telah bangun entah sepagi apa untuk mengikatkan rantai salju di trukku. Tenggorokkanku tiba-tiba tercekat. Aku tak terbiasa diurus, dan perhatian Charlie yang diamdiam ini mengejutkanku.

Aku sedang berdiri di pojok belakang truk, berjuang melawan gelombang emosi mendadak yang ditimbulkan rantai salju itu, ketika mendengar suara aneh.

Itu suara lengkingan tinggi, yang segera berubah sangat keras hingga memekakan telinga. Aku mendongak, benar-benar terkejut.

Aku melihat beberapa hal bersamaan. Tidak ada yang bergerak lambat seperti di film-film. Sebaliknya semburan adrenalin membuat otakku bekerja lebih cepat, dan dengan jelas aku menyerap detail beberapa hal secara serentak.

Edward Cullen berdiri 4 mobil dariku, memandangku ngeri. Wajahnya tampak mencolok diantara lautan wajah disana, semua membeku dengan ekspresi terkejut yang sama. Tapi yang lebih mengerikan adalah van biru gelap yang meluncur, bannya terkunci dan mengerem hingga berdecit, berputar-putar tak terkendali di lapangan parkir yang tertutup es. Mobil itu nyaris menabrak bagian belakang trukku, dan aku berdiri diantara keduanya. Aku bahkan tak sempat memejamkan mata.

Persis sebelum aku mendengar bunyi tabrakan keras van di badan truk, sesuatu menerjangku, keras, tapi bukan dari arah yang semula kuduga. Kepalaku membentur aspal yang tertutup es, dan aku merasakan sesuatu yang padat dan dingin menindihku ke tanah. Aku terbaring di trotoar di belakang mobil cokelat yang terparkir di sebelah truk. Tapi aku tak sempat memperhatikan yang lainnya, karena van itu masih meluncur mendekat. Mobil itu berputar-putar mengerikan di dekat belakang truk, masih berputar dan meluncur, nyaris menabrakku lagi.

Suara mengumpat pelan membuatku sadar ada seseorang bersamaku, dan tak mungkin aku tidak mengenali suara itu. Sepasang tangan putih yang panjang terulur melindungiku, dan van itu bergetar hingga berhenti hanya sejengkal dari wajahku, tangan-tangan besar itu untungnya pas dengan rongga badan van.

Lalu tangannya bergerak sangat cepat hingga tampak samar. Yang satu tiba-tiba mencengkram bagian bawah van, dan sesuatu menarikku, mengayun-ayunkan kakiku seakan-akan aku boneka mainan, sampai kakiku menabrak ban mobil coklat itu. Suara gemuruh besi beradu memekakkan telinga, dan van itu berhenti, lalu terdengar suara kaca pecah, berhamburan ke jalanan—tepat si tempat kakiku berada satu detik sebelumnya.

Benar-benar hening untuk waktu yang lama sebelum terdengar jeritan. Dalam kekacauan yang tibatiba, aku bisa mendengar lebih dari satu orang meneriakkan namaku. Tapi lebih jelas lagi daripada semua teriakan itu, aku bisa mendengar suara pelan dan waswas Edward Cullen di telingaku.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.