Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Kami selesai duluan. Aku bisa melihat Mike dan partnernya membandingkan 2 slide lagi dan lagi, dan kelompok lain membuka buku di bawah meja.

Aku tak punya pilihan lain kecuali memandangnya. Aku mendongak, dan ia sedang menatapku, pandangan frustasi dan misterius yang sama. Tiba-tiba aku menemukan perbedaan yang tak terkatakan selama ini di wajahnya.

“Kau memakai lensa kontak ya?” kataku tanpa berpikir.

Ia tampak bingung dengan pertanyaanku yang tak terduga. “Tidak.”

“Oh,” gumamku. “Kupikir ada yang berbeda dengan matamu.”

Ia mengangkat bahu dan memalingkan wajah.

Sebenarnya aku yakin ada sesuatu yang berbeda. Aku ingat jelas warna hitam kelam matanya ketika terakhir kali melihatnya—warna itu sangat kontras dengan kulit pucat dan rambutnya yang coklat kemerahan. Hari in warna matanya benar-benar berbeda : cokelat kekuningan yang aneh, lebih gelap daripada mentega, tapi dengan nuansa keemasan yang sama. Aku tidak mengerti kenapa bisa begitu, kecuali ia berbohong tentang lensa kontaknya. Atau barangkali Forks membuatku sinting dalam artian sebenarnya.

Aku menunduk. Tangannya mengepal lagi.

Lalu Mr. Banner menghampiri meja kami, untuk melihat mengapa kami tidak melakukan apa-apa. Ia melihat dari balik bahu, menatap percobaan yang telah selesai, lalu melihat lebih serius untuk memeriksa jawaban kami.

“Jadi, Edward, tidakkah kaupikir Isabella perlu diberi kesempatan menggunakan mikroskop?” tanya Mr. Banner.

“Bella,” Edward meralat ucapan Mr. Banner. “Sebenarnya dia mengidentifikasi 3 dari 5 slide itu.”

Sekarang Mr. Banner menatapku, ekspresinya skeptis.

“Apa kau pernah melakukan percobaan ini sebelumnya?” tanyanya.

Aku tersenyum malu-malu. “Tidak dengan akar bawang merah.”

“Whitefish blastula?”

“Yeah.”

Mr. Banner mengganguk. “Apa kau masuk kelas khusus di Phoenix?”

“Ya.”

“Well,” katanya setelah beberapa saat. “Kupikir kalian cocok menjadi partner.” Ia menggumamkan sesuatu lagi sambil berlalu. Setelah ia pergi, aku mulai mencoret-coret buku catatanku.

“Sayang sekali turun salju, ya kan?” Edward bertanya. Aku punya perasaan ia terpaksa bercakap-cakap denganku. Ketakutan kembali menyelimutiku. Seolah-olah ia telah mendengar percakapanku dengan Jessica saat makan siang tadi dan berusaha membuktikan bahwa aku salah.

“Tidak juga,” jawabku jujur, dan bukannya berpura-pura normal seperti yang lain. Aku masih berusaha menyingkirkan kecurigaan yang tolol ini, dan aku tak bisa berkonsentrasi.

“Kau tidak suka dingin.” Itu bukan pertanyaan.

“Atau basah.”

“Forks pasti bukan tempat menyenangkan bagimu,” ujarnya melamun.

“Kau tak tahu bagaimana rasanya,” gumamku dingin.

Ia tampak terpesona oleh perkataanku, entah untuk alasan apa, aku tak bisa membayangkannya. Wajahnya tampak sangat putus asa hingga aku berusaha untuk tidak memandangnya melebihi batas kesopanan seharusnya.

“Lalu kenapa kau datang kesini?”

Tak seorangpun menayakan itu padaku—tidak blak-blakan seperti dirinya, begitu menuntut jawaban.

“Jawabannya… rumit.”

“Rasanya aku bisa mengerti,” desaknya.

Lama aku diam, lalu membuat kesalahan dengan beradu pandang dengannya. Mata keemasannya yang gelap membuatku bingung, dan aku menjawab tanpa berpikir.

“Ibuku menikah lagi,” kataku.

“Itu tidak terdengar terlalu rumit,” bantahnya, tapi tiba-tiba ia terlihat bersimpati. “Kapan itu terjadi?”

“September lalu.” Suaraku terdengar sedih, bahkan untukku sendiri.

“Dan kau tidak menyukainya,” Edward mencoba menebak, suaranya masih ramah.

“Tidak, Phil baik. Terlalu muda barangkali, tapi cukup baik.”

“Kenapa kau tidak tinggal bersama mereka?”

Aku tak bisa mengerti ketertarikannya, tapi ia terus menatapku dengan pandangan menusuk, seolah kisah hidupku yang sangat membosankan entah mengapa sangat penting.

“Phil sering bepergian. Dia pemain bola.” Aku setengah tersenyum.

“Apakah dia terkenal?” tanyanya, balas tersenyum.

“Barangkali tidak. Dia bukan pemain andal. Benar-benar liga kecil. Dia sering berpindah-pindah.”

“Dan ibumu mengirimmu ke sini supaya dia bisa bepergian bersamanya.” Lagi-lagi ia melontarkan dugaan, bukan pertanyaan.

Dahiku mengerut. “Tidak, ia tidak mengirimku kesini. Aku sendiri yang mau.”

Alisnya bertaut. “Aku tidak mengerti,” katanya, dan ia tampak bingung tanpa sebab mendengar kenyataan ini.

Aku menghela napas. Kenapa aku menjelaskan semua ini kepadanya? Ia terus menatapku penasaran.

“Mula-mula ia tinggal denganku, tapi dia merindukan Phil. Ini membuatnya tidak bahagia… jadi sudah kuputuskan sudah waktunya menghabiskan waktu yang berkualitas bersama Charlie.” Suaraku terdengar muram ketika selesai bercerita.

“Tapi sekarang kau tidak bahagia,” ujarnya.

“Terus?” tantangku.

“Itu tidak adil.” Ia mengangkat bahu, namun tatapannya masih tajam.

Aku tertawa sinis. “Tidakkah ada yang pernah memberitahumu? Hidup tidak adil.”

“Aku yakin pernah mendengarnya di suatu tempat sebelum ini,” timpalnya datar.

“Ya sudah, itu saja,” kataku, bertanya-tanya kenapa ia masih memandangiku seperti itu.

Tatapannya berubah menilai. “Kau pandai berpura-pura,” katanya pelan. “Tapi aku berani bertaruh kau lebih menderita daripada yang kauperlihatkan kepada orang lain.”

Aku nyengir, menahan keinginanku untuk menjulurkan lidahku seperti anak berumur 5 tahun, lalu memalingkan wajah.

“Apa aku salah?”

Aku mencoba mengabaikannya.

“Kurasa tidak,” gumamnya puas.

“Kenapa ini penting buatmu?” tanyaku jengkel. Aku terus menghindari pandangannya, mengawasi Mr. Banner yang sedang berkeliling.

“Pertanyaan yang sangat bagus,” ujarnya, teramat pelan hingga kupikir ia sedang berbicara pada dirinya sendiri. Bagaimanapun setelah hening sebentar aku memutuskan itu satu-satunya jawaban yang bisa kudapat.

Aku menghela napas, memandang marah ke papan tulis.

“Apakah aku mengganggumu?” tanya Edward. Ia terdengar senang.

Aku memandangnya tanpa berpikir… dan sekali lagi mengatakan yang sebenarnya. “Tidak juga. Aku lebih kesal pada diriku sendiri. Ekspresiku sangat mudah ditebak—ibuku selalu menyebutku buku yang terbuka.” Wajahku merengut.

“Kebalikannya, aku malah sulit menebakmu.” Terlepas dari semua yang kukatakan dan diduganya, ia terdengar bersungguh-sungguh.

“Kalau begitu kau pasti sangat pintar membaca sifat orang di kelasku.”

“Biasanya.” Ia tersenyum lebar, memamerkan sederet gigi putih bersih yang sempurna.

Mr. Banner menyuruh murid-murid tenang, dan aku berbalik lega untuk mendengarkan. Aku tak percaya telah menceritakan kehidupanku yang membosankan kepada cowok aneh namun tampan ini, yang mungkin membenciku atau tidak. Ia tampak menikmati percakapan kami, tapi sekarang bisa kulihat, dari sudut mataku, bahwa ia menjauh lagi dariku, tangannya dengan tegang mencengkeram ujung meja.

Aku berusaha terlihat menyimak ketika Mr. Banner menjelaskan dengan menggunakan transparasi OHP, tentang apa yang telah kulihat tanpa kesulitan lewat mikroskop. Tapi aku tak bisa mengumpulkan pikiranku.

Ketika bel akhirnya berbunyi, Edward langsung meninggalkan kelas dengan gerakan anggun seperti yang dilakukannya Senin lalu. Dan seperti Senin lalu, aku memandangi kepergiannya dengan terkagum-kagum.

Mike dengan cepat melompat ke sisiku dan merapikan buku-bukuku. Aku membayangkannya dengan ekor bergoyang-goyang.

“Itu buruk sekali,” erangnya. “Semua slide itu mirip. Kau beruntung berpasangan dengan Cullen.”

“Gampang saja buatku,” kataku, terkejut mendengar ucapannya. Aku langsung menyesal. “Aku pernah melakukan percobaan ini, itu saja,” lanjutku sebelum perasaannya terluka.

“Cullen tampak cukup ramah hari ini,” ia berkomentar ketika kami mengenakan jas hujan. Mike tidak tamapak senang.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.