Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Anggota rombongan lain, jumlahnya mungkin empat puluh atau lebih, berbaris masuk setelah pasangan tadi. Beberapa mengamari keadaan sekelilingnya seperti turis. Beberapa bahkan memotret. Yang lain-lain tampak bingung, seolaholah cerita yang membawa mereka ke ruangan ini sekarang tak lagi masuk akal. Perhatianku tertarik pada wanita mungil berkulit gelap. Di lehernya melingkar rosario, dan wanita itu mencengkeram salib erat-erat dengan satu tangan. Ia berjalan lebih lambat daripada yang lain, sesekali menyentuh anggota rombongan lain dan bertanya dalam bahasa yang tidak kumengerti. Sepertinya tidak ada yang memahaminya, dan suara wanita itu terdengar semakin panik.

Edward menarik wajahku ke dadanya, tapi terlambat. Aku sudah mengerti.

Begitu ada celah yang memungkinkan untuk lewat, Edward cepat-cepat mendorongku ke arah pintu. Aku bisa merasakan ekspresi ngeri tergurat di wajahku, dan air mataku mulai menggenang.

Aula emas penuh ukiran itu sunyi, kosong tanpa kehadiran siapa pun, kecuali seorang wanita jelita yang tampak bagai patung. Ia memandangi kami dengan sikap ingin tahu, utama aku.

“Selamat datang kembali, Heidi,” Demetri menyapa dari belakang kami.

Heidi tersenyum sambil lalu. Ia mengingatkanku pada Rosalie, meski tidak mirip sama sekali— hanya karena kecantikannya juga begitu luar biasa, tak terlupakan. Aku bagai tak mampu mengalihkan tatapan.

Wanita itu berpakaian begitu rupa untuk semakin menonjolkan kecantikannya. Kakinya yang luar biasa panjang tampak lebih gelap dalam balutan stoking, terpampang jelas di balik rok mininya yang superpendek. Blusnya berlengan panjang dan berleher tinggi namun sangat ketat, dan terbuat dari vinyl merah. Rambut panjangnya yang sewarna kayu mahoni itu mengilap, dan bola matanya berwarna ungu aneh—warna yang hanya mungkin dihasilkan lensa kontak biru yang menutupi iris berwarna merah.

“Demetri,” wanita itu balas menyapa dengan suara selembut sutra, matanya berkelebat dari wajahku ke jubah abu-abu yang dikenakan Edward.

“Boleh juga hasil pancingannya,” puji Demetri padanya, dan mendadak aku memahami dandanannya yang mencolok… ia bukan hanya pemancing, tapi sekaligus juga umpan.

“Trims.” Heidi menyunggingkan senyum memesona. “Kau tidak ikut?”

“Sebentar lagi. Sisakan beberapa untukku.”

Heidi mengangguk dan merunduk melewati pintu sambil melayangkan pandangan ingin tahu sekali lagi ke arahku.

Edward berjalan sangat cepat hingga aku harus berlari-lari untuk bisa mengimbanginya. Tapi belum lagi kami berhasil mencapai pintu berukir di ujung aula, pekik jerit itu telah dimulai.

 

22. PENERBANGAN

DEMETRI meninggalkan kami di ruang penerimaan ramu yang mewah dan ceria iru, tempar wanita bernama Gianna bertugas di balik konter yang mengilat. Musik yang merdu dan ramah mengalun dari pengeras suara yang “Jangan keluar sebelum gelap,” Demerri mengingarkan kami.

Edward mengangguk, dan Demerri bergegas pergi.

Gianna sama sekali tak terkejut mendengar perkataan itu, meski matanya mengawasi jubah yang dipinjam Edward dengan mata menyipit, berspekulasi.

“Kau baik-baik saja.” tanya Edward pelan, terlalu pelan untuk bisa didengar oleh wanita manusia itu. Suaranya kasar – kalau beledu bisa dibilang kasar – oleh perasaan cemas. Pasti karena masih tertekan oleh situasi kami, pikirku.

“Sebaiknya segera dudukkan dia sebelum jatuh,” kata Alice. Sepertinya dia akan kehilangan kendali.”

Saat itu barulah aku sadar tubuhku gemetar, bergetar kuat, sekujurku berguncang sampai gigiku gemeletukan dan ruangan di sekelilingku berputar dan pandanganku kabur. Selama sedetik sempat aku bertanya dalam hati, seperti inikah yang Jacob rasakan sesaat sebelum meledak menjadi werewolf.

Aku mendengar suara yang tidak masuk akal, bunyi robekan aneh, meningkahi musik merdu yang mengalun di latar belakang. Karena tubuhku terguncang hebat, aku tak bisa memastikan dari mana suara itu berasal.

“Ssstt, Bella, ssstt, bisik Edward sambil menarikku ke sofa paling jauh dari pandangan manusia yang ingin tahu di meja.

“Kurasa dia histeris. Mungkin sebaiknya kautampar saja dia,” Alice menyarankan.

Edward memandangnya sekilas dengan kalut.

Kemudian aku mengerti. Oh. Itu suaraku. Bunyi robekan itu ternyata isak tangis yang keluar dari dadaku. Itulah yang membuat tubuhku berguncang-guncang.

“Tidak apa-apa, kau aman, tidak apa-apa,” bujuk Edward berkali-kali. Ia mengangkatku ke pangkuannya dan menyelubungi tubuhku dengan jubah wolnya yang tebal, melindungiku dari kulitnya yang dingin.

Aku tahu sungguh tolol bereaksi seperti ini. Siapa yang tahu sampai kapan aku bisa melihat wajahnya? Ia selamat, aku selamat, dan ia bisa meninggalkan aku begitu kami bebas. Dengan mata dipenuhi air mata seperti ini hingga aku tak bisa melihat garis-garis wajahnya dengan jelas adalah kesia-siaan—kegilaan.

Namun di balik mataku, tempat air mata tak dapat menghapus bayangan itu, aku masih dapat melihat wajah putih seorang wanita mungil yang mencengkeram rosario.

“Orang-orang itu,” seduku.

“Aku tahu,” bisik Edward.

“Sungguh mengerikan.”

“Ya. memang. Seandainya kau tidak melihatnya tadi.”

Aku membaringkan kepalaku di dadanya yang dingin, menyeka maniku dengan jubah yang tebal. Aku menarik napas dalam-dalam beberapa kali, berusaha menenangkan diri.

“Ada yang bisa kubantu?” sebuah suara bertanya sopan. Ternyata Gianna, mencondongkan tubuh di balik bahu Edward dengan raut wajah prihatin namun tetap profesional sekaligus menjaga jarak. Tampaknya ia sama sekali tidak merasa risi berada hanya beberapa sentimeter dari vampir yang galak. Entah ia benar-benar tidak menyadarinya, atau sangat baik dalam menjalankan tugasnya.

‘Tidak,” Edward menjawab dingin.

Gianna mengangguk, tersenyum padaku, kemudian menghilang.

Aku menunggu sampai ia jauh. “Apakah dia tahu apa yang berlangsung di sini?” tanyaku, suaraku pelan dan parau. Aku mulai bisa menguasai diri, tarikan napasku mulai tenang.

“Ya. Dia tahu semuanya,” Edward menjawab pertanyaanku.

“Tahukah dia bahwa mereka akan membunuhnya suatu hari nanti?”

“Dia tahu kemungkinannya begitu,” jawab Edward.

Jawabannya membuatku terkejut.

Wajah Edward sulit dibaca. “Dia berharap mereka akan memutuskan untuk mempertahankannya.”

Aku merasa darah surut dari wajahku. “Dia ingin menjadi salah satu dari mereka?”

Edward mengangguk, matanya tajam menatap wajahku, mengamati reaksiku.

Aku bergidik. “Bagaimana mungkin dia menginginkan hal itu?” bisikku, lebih ditujukan pada diriku sendiri, bukan karena ingin mendapat jawaban. “Bagaimana mungkin dia bisa setega itu, melihat orang-orang digelandang memasuki ruangan mengerikan itu, dan ingin menjadi bagian dari semua itu?”

Edward tidak menjawab. Ekspresinya berkerut, merespons perkataanku barusan.

Saat aku menatap wajahnya yang begitu rupawan, berusaha memahami perubahannya, mendadak terpikir olehku bahwa aku benar-benar berada di sini, dalam pelukan Edward, betapapun singkatnya, dan bahwa kami tidak—saat ini— hendak dibunuh.

“Oh, Edward,” isakku, dan aku menangis lagi. Reaksi yang benar-benar tolol. Air mataku terlalu deras sehingga aku tak bisa melihat wajahnya lagi, dan itu tak bisa dimaafkan. Padahal jelas aku hanya punya waktu sampai matahari terbenam. Bagaikan kisah dongeng, dengan tenggat waktu yang akan mengakhiri keajaiban.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.