Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Caius mengacungkan telunjuknya yang panjang kurus padaku. “Dia terlalu banyak tahu. Kau sudah mengekspos rahasia kita.” Suaranya setipis kertas, sama seperti kulitnya.

“Di sini juga ada beberapa manusia dalam sandiwara kalian,” Edward mengingatkan Caius, dan ingatanku langsung melayang pada resepsionis cantik di bawah.

Wajah Caius terpilin membentuk ekspresi baru. Apakah itu dimaksudkan sebagai senyuman?

“Benar,” ia sependapat. “Tapi kalau mereka sudah tidak kami butuhkan lagi, mereka akan menjadi pemuas dahaga kami. Bukan begitu rencanamu untuk gadis yang satu ini Kalau dia membocorkan rahasia kita, apakah kau siap menghabisinya? Kurasa tidak,” dengusnya.

“Aku tidak akan—” aku membuka mulut, masih berbisik. Caius membungkamku dengan tatapan dingin.

“Kau juga tidak berniat menjadikannya salah satu dari kita,” lanjut Caius. “Dengan begitu, dia ancaman bagi eksistensi kita. Meski ini benar, dalam hal ini hanya hiduplah yang dikorbankan. Kau boleh pergi kalau memang mau.”

Edward menyeringai, menunjukkan gigi-giginya.

“Sudah kukira,” kata Caius, dengan ekspresi menyerupai kegembiraan. Felix mencondongkan tubuh, bersemangat.

“Kecuali…” Aro menyela. Kelihatannya ia tidak senang dengan arah pembicaraan ini. “Kecuali kau memang berniat memberinya keabadian?”

Edward mengerucutkan bibir, ragu-ragu sesaat sebelum menjawab. “Dan kalau itu benar?”

Aro tersenyum, kembali senang. “Yah, kalau begitu kau boleh pulang dan menyampaikan salamku pada sobatku Carlisle.” Ekspresinya berubah ragu. “Tapi aku khawatir kau harus bersungguh-sungguh dengan ucapanmu.”

Aro mengangkat tangan di hadapannya. Caius, yang awalnya memberengut marah, berubah rileks.

Bibir Edward mengejang membentuk garis marah. Ia menatap mataku, dan aku membalas tatapannya.

“Ucapkan dengan sungguh-sungguh,” bisikku. “Kumohon.”

Sebegitu menjijikkannyakah ide itu? Apakah Edward lebih suka mati daripada mengubahku? Perutku seperti ditendang.

Edward menunduk menatapku dengan ekspresi tersiksa.

Kemudian Alice melangkah menjauhi kami, maju mendekati Aro. Kami menoleh dan menatapnya. Tangannya terangkat seperti Aro.

Alice tidak mengatakan apa-apa, dan Aro melambaikan tangan kepada para pengawalnya yang bergegas datang untuk menghalangi Alice. Aro menemui Alice di tengah, dan meraih tangannya dengan mata memancarkan kilau tamak dan penuh semangat.

Aro menunduk ke atas tangan mereka yang saling menyentuh mata terpejam saat berkonsentrasi. Alice diam tak bergerak, wajahnya kosong. Aku mendengar Edward menggertakkan gigi.

Semua diam tak bergerak. Aro seakan membeku di atas tangan Alice. Detik demi detik berlalu dan semakin lama aku semakin tertekan, bertanyatanya sampai kapan ini akan terus berlangsung, apakah waktu sudah berlalu terlalu Uma Se belum itu berarti sesuatu yang buruk telah terjadi—lebih buruk daripada keadaan sekarang.

Waktu terus berjalan dan terasa menyiksa, dan sejurus kemudian suara Aro mengoyak keheningan.

“Ha, ha, ha,” ia tertawa, kepalanya masih tertunduk ke depan. Ia mendongak perlahanlahan, matanya cemerlang oleh kegembiraan. “Itu sangat menakjubkan!”

Alice tersenyum kering. “Aku senang Anda menikmatinya.”

“Melihat berbagai hal yang telah kaulihat— terutama peristiwa-peristiwa yang belum terjadi!” Aro menggeleng-geleng takjub.

“Tapi akan terjadi,” Alice mengingatkan, suaranya kalem. “Ya, ya, itu sudah ditentukan. Tentu tidak ada masalah.”

Caius tampak sangat kecewa—perasaan yang tampaknya juga dirasakan Felix dan Jane.

“Aro,” tegur Caius.

“Caius Sayang,” Aro tersenyum. “Jangan cerewet. Coba pikirkan kemungkinan-kemungkinannya! Mereka memang tidak bergabung dengan kita hari ini, tapi kita selalu bisa berharap di masa mendatang. Coba bayangkan kegembiraan yang akan dibawa hanya oleh Alice saja ke keluarga kecil kita… Lagi pula, aku juga sangat ingin melihat bagaimana jadinya Bella nanti!”

Aro tampak yakin sekali. Apakah ia tidak sadar betapa subjektifnya penglihatan Alice? Bahwa ia bisa memutuskan untuk mengubahku hari ini, kemudian mengubahnya besok? Sejuta keputusan kecil, baik keputusannya maupun keputusan banyak pihak lain – juga Edward – dapat saja mengubah jalan hidupnya, sehingga dengan demikian, masa depan pun akan ikut berubah.

Dan apakah ada artinya bila Alice bersedia, apakah ada bedanya bila aku benar-benar berubah menjadi vampir, bila itu justru menjijikkan bagi Edward? Bila kematian, baginya, merupakan alternatif yang lebih baik daripada memilikiku di sisinya selamanya, menjadi gangguan yang abadi? Meski sangat ketakutan, aku merasa diriku terbenam dalam perasaan depresi, tenggelam di dalamnya…

“Kalau begitu kami boleh pergi sekarang?” tanya Edward datar.

“Ya, ya,” jawab Aro riang. “Tapi datanglah lagi kapan-kapan. Ini benar-benar mengasyikkan!”

“Dan kami juga akan mengunjungi kalian,” Caius berjanji, matanya tiba-tiba separuh terpejam, seperti tatapan kadal yang kelopak matanya tebal. “Untuk memastikan kalian menepati bagian kalian. Kalau aku jadi kau, aku tidak akan menunda terlalu lama. Kami tidak pernah menawarkan kesempatan kedua.”

Rahang Edward mengeras, tapi ia mengangguk.

Caius tersenyum sinis dan melenggang kembali ke tempat Marcus masih duduk, tidak bergerak dan tidak tertarik.

Felix mengerang.

“Ah, Felix,” Aro tersenyum geli. “Sebentar lagi Heidi datang. Sabarlah.”

“Hmmm,” Ada semacam kecemasan dalam suara Edward. “Kalau begitu, mungkin sebaiknya kami pergi saja sekarang.”

“Benar,” Aro sependapat. “Itu ide bagus. Kecelakaan bisa saja terjadi Tapi kumohon kau mau menunggu di bawah sampai hari gelap, kalau kau tidak keberatan.”

“Tentu saja,” Edward setuju, sementara aku meringis membayangkan harus menunggu seharian sebelum bisa keluar dari sini.

“Dan ini,” Aro menambahkan, memberi isyarat kepada Felix dengan satu jari. Felix langsung datang menghampirinya, dan Aro membuka jubah abu-abu yang dikenakan vampir bertubuh besar itu, melepasnya dari pundaknya. Dilemparkannya jubah itu pada Edward. “Ambillah. Kau agak terlalu menarik perhatian.”

Edward memakai jubah itu, menurunkan penutup kepalanya.

Aro mendesah. “Cocok untukmu.”

Edward tertawa, tapi mendadak terdiam, menoleh ke belakang. “Terima kasih, Aro. Kami akan menunggu di bawah.”

“Selamat jalan, sobat-sobat muda,” kata Aro, matanya cemerlang saat ia memandang ke arah yang sama.

“Ayo kita pergi,” kata Edward, nadanya mendesak sekarang.

Demetri memberi isyarat agar kami mengikutinya, kemudian beranjak menuju pintu tempat kami datang tadi. Tampaknya, itu satusatunya jalan keluar.

Edward menarik tanganku dan berjalan cepatcepat. Alice merapat di sisiku yang lain, wajahnya keras.

“Masih kurang cepat,” gumamnya.

Aku mendongak padanya, ketakutan, tapi Alice hanya tampak sedih. Saat itulah pertama kalinya aku mendengar celotehan orang-orang mengobrol— keras dan kasar—terdengar dari arah ruang depan.

“Well, ini tidak biasa,” dentum suara kasar seorang laki-laki.

“Sangat abad pertengahan,” balas seorang wanita dengan suaranya yang melengking tinggi dan tidak enak didengar.

Serombongan besar orang melewati pintu yang kecil, memenuhi ruangan berdinding baru yang lebih kecil. Demitri memberi isyarat pada kami agar menepi. Kami menempel rapat-rapat di dinding yang dingin untuk memberi jalan pada mereka.

Pasangan yang berjalan paling depan, orang-orang Amerika kalau mendengar aksennya, memandang berkeliling dengan sikap menilai.

“Selamat datang, Tamu-Tamu! Selamat datang di Volterra!” Aku bisa mendengar Aro berseru riang dari ruangan menara yang besar.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.