Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Aku berpaling kembali pada Aro dan mengangkat tanganku pelan-pelan di hadapanku. Tanganku gemetar.

Aro melenggang menghampiriku, dan aku yakin ia sengaja memasang mimik tenang untuk meyakinkan aku. Namun garis-garis wajahnya kelewat aneh, terlalu asing dan menakutkan, untuk dapat meyakinkan aku. Mimik wajahnya lebih percaya diri daripada kata-katanya tadi.

Aro mengulurkan tangan, seperti hendak menjabat tanganku, dan menempelkan kulitnya yang aneh ke kulitku. Kulitnya terasa keras sekaligus rapuh—lebih menyerupai serpih daripada granit—dan lebih dingin daripada yang kukira.

Matanya yang berkabut tersenyum memandangiku, dan mustahil bagiku untuk mengalihkan pandangan. Matanya memesona dengan cara yang ganjil dan tidak menyenangkan.

Wajah Aro berubah di depan mataku. Rasa percaya diri itu goyah dan mula-mula menjadi keraguan, baru kemudian tidak percaya sebelum akhirnya tenang kembali, membentuk topeng ramah.

“Sangat menarik,” ucapnya sambil melepaskan tanganku dan kembali ke tempatnya.

Mataku berkelebat memandang Edward, dan, walaupun wajahnya tenang, ia tampak sedikit puas pada diri sendiri.

Aro terus dalam ekspresi menerawang. Sesaat ia diam, matanya berkelebat menatap kami bertiga. Kemudian tiba-tiba ia menggelengkan kepalanya.

“Ini pertama kalinya,” katanya pada diri sendiri. “Aku jadi penasaran apakah dia juga imun terhadap bakat-bakat kita yang lain… Jane, Sayang?”

“Tidak!” Edward mengucapkan kata itu sambil menggeram Alice menyambar lengannya, memeganginya. Edward menepiskannya.

Si mungil Jane tersenyum bahagia pada Aro. “Ya, Tuan?”

Edward benar-benar menggeram sekarang, suara itu terlontar dari dalam dirinya, matanya menatap Aro garang dengan sorot berapi-api. Ruangan sunyi senyap, semua memandanginya dengan tercengang dan tak percaya, seolah-olah ia melakukan sesuatu yang sangat memalukan dan tak bisa diterima. Kulihat Felix menyeringai penuh harap dan maju satu langkah. Aro meliriknya, dan Felix langsung menegang, seringaiannya berubah jadi ekspresi merajuk.

Lalu ia berbicara kepada Jane. “Aku ingin tahu, sayangku, apakah Bella imun terhadapmu.”

Aku nyaris tak bisa mendengar suara Aro karena geraman marah Edward. Edward melepaskan aku, bergerak untuk menyembunyikanku dari pandangan mereka. Caius melayang ke arah kami, bersama rombongannya, untuk menonton.

Jane berbalik menghadapi kami dengan senyum memesona tersungging di wajah.

“Jangan!” pekik Alice saat Edward menerjang gadis mungil itu.

Sebelum aku sempat bereaksi, sebelum semua orang lain bisa melompat ke tengah mereka, sebelum para pengawal Aro sempat mengejang, Edward sudah terjatuh ke lantai

Tak ada yang menyentuhnya, tapi ia tergeletak di lantai baru, menggeliat-geliat kesakitan, semenara aku menatapnya dengan penuh kengerian.

Tane hanya tersenyum padanya sekarang, dan mendadak aku mengerti. Inilah yang dimaksud Alice mengenai bakat luar biasa, mengapa semua orang memperlakukan Jane dengan hormat dan mengapa Edward melemparkan diri di depannya sebelum Jane bisa melakukannya terhadapku.

“Hentikan!” aku menjerit, suaraku bergema dalam kesunyian, melompat ke depan di antara mereka. Tapi Alice merangkulku sekuat-kuatnya dengan kedua tangan, tak peduli aku merontaronta. Tidak ada suara yang keluar dari bibir Edward saat ia menggeliat-geliat di lantai batu. Kepalaku serasa mau pecah karena tidak tega melihatnya.

“Jane,” Aro memanggilnya dengan suara tenang. Jane mendongak cepat masih tersenyum senang, matanya bertanya-tanya. Begitu memalingkan wajah, Edward berhenti menggeliat-geliat.

Aro menelengkan kepala ke arahku.

Jane mengarahkan senyumnya padaku.

Aku bahkan tidak membalas tatapannya. Aku memandangi Edward dari dekapan tangan Alice, masih meronta-ronta tanpa hasil.

“Dia tidak apa-apa,” bisik Alice padaku dengan suara kaku. Saat Alice berbicara Edward duduk, lalu berdiri dengan tangkas. Matanya menatap mataku, sorot matanya tampak ketakutan Awalnya kukira ketakutan itu karena apa yang batu saja dialaminya. Tapi kemudian ia berpaling cepat ke arah Jane, lalu kembali padaku – dan ketegangan di wajahnya mengendur, berubah lega.

Aku memandangi Jane juga dan ia tidak lagi tersenyum. Ia menatapku garang, dagunya mengeras oleh kuatnya ia berkonsentrasi. Aku mengkeret, menunggu datangnya rasa sakit.

Tidak terjadi apa-apa.

Edward sudah berdiri di sampingku lagi. Disentuhnya lengan Alice dan Alice menyerahkanku padanya.

Tawa Aro meledak. “Ha, ha, ha,” tawanya. “Hebat sekali!”

Jane mendesis frustrasi, mencondongkan tubuh ke depan, seolah-olah bersiap menerjang.

“Jangan kecewa, Sayang,” kata Aro dengan nada menenangkan, meletakkan tangannya yang seringan bedak ke bahu Jane. “Dia mengacaukan kita semua”

Bibir atas Jane melengkung ke belakang, memamerkan giginya sementara ia terus menatapku garang.

“Ha, ha, ha,” lagi-lagi Aro terbahak. “Kau sangat berani, Edward, menahan sakit tanpa suara. Aku pernah meminta Jane melakukannya padaku satu kali—hanya karena ingin tahu.” Ia menggeleng kagum.

Edward melotot, jijik.

“Jadi mau kita apakan kau sekarang?” Aro mendesah.

Edward dan Alice mengejang. Ini bagian yang mereka tunggu-tunggu sejak tadi. Aku mulai gemetar.

“Kurasa tidak ada kemungkinan kau berubah pikiran?” Aro bertanya pada Edward dengan sikap penuh harap. “Bakatmu akan menjadi tambahan yang sangat baik untuk kelompok kecil kami.”

Edward ragu-ragu. Dari sudut mata kulihat Felix dan Jane meringis.

Edward seakan menimbang setiap kata dengan seksama, sebelum mengucapkannya. “Kurasa… tidak… usah.”

“Alice?” tanya Aro, masih berharap. “Mungkin kau tertarik bergabung dengan kami?”

“Tidak, terima kasih,” jawab Alice.

“Dan kau, Bella?” Aro mengangkat alisnya.

Edward mendesis, rendah di telingaku, kutatap Aro dengan pandangan kosong. Apakah ia bergurau? Atau ia benar-benar serius menanyakan apakah aku ingin tinggal untuk makan malam?

Kesunyian itu dikoyakkan oleh suara Caius, si vampir berambut putih.

“Apa?” tuntutnya pada Aro; suaranya, meski tak lebih dari sekadar bisikan, Terdengar datar.

“Caius, masa kau tidak melihat potensi di sini?” Aro mencelanya dengan sikap sayang. ‘Aku belum pernah melihat bakat prospektif lain yang sangat menjanjikan sejak kita menemukan Jane dan Alec. Dapatkah kaubayangkan kemungkinannya bila dia menjadi salah seorang di antara kita?”

Caius membuang muka dengan ekspresi sengit. Mata Jane berapi-api karena tersinggung dibanding-bandingkan.

Edward menahan marah di sampingku. Aku bisa mendengar gemuruh di dadanya, yang nyaris menjadi geraman. Aku harus berusaha agar amarahnya tidak membuatnya celaka.

“Tidak, terima kasih,” aku angkat bicara dengan suara yang tak lebih dari bisikan, suaraku gemetar karena takut.

Aro mendesah. “Sayang sekali. Sungguh sia-sia.”

Edward mendesis. “Bergabung atau mati, begitu? Aku sudah bisa menduganya waktu kami dibawa ke ruangan ini. Hukummu tidak berarti apa-apa.”

Nada suara Edward membuatku terkejut. Ia terdengar berang, tapi ada sesuatu yang disengaja dalam cara penyampaiannya – seolah-olah ia memilih kata-kata yang akan ia ucapkan dengan begitu saksama.

“Tentu saja tidak,” Aro mengerjap, terperangah. “Kami memang sudah berkumpul di sini, Edward, menunggu Heidi kembali. Bukan karena kau.”

“Aro,” Caius mendesis. “Hukum mengklaim mereka.”

Edward menatap Caius garang, “Bagaimana bisa?” tuntutnya. Dia pasti bisa membaca pikiran Caius, tapi sepertinya bertekad membuatnya mengutarakan pikiran itu dengan suara keras.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.