Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Dan juga jauh lebih kuat,” Edward menambahkan dengan nada kering. Ditatapnya Alice sementara ia menjelaskan dengan cepat. “Aro membutuhkan kontak fisik untuk bisa mendengarkan pikiranmu, tapi dia bisa mendengar lebih banyak daripada aku. Kau tahu aku hanya bisa mendengarkan pikiran yang sedang melintas dalam pikiranmu saat ini. Aro bisa mendengar semua pikiran yang pernah singgah di kepalamu.

Alice mengangkat alisnya yang indah, dan Edward menelengkan kepala.

Itu juga tak luput dari perhatian Aro.

“Tapi bisa mendengar dari jauh…” Aro mendesah, melambaikan tangan pada mereka berdua, dan pertukaran pikiran yang baru saja terjadi. “Itu akan sangat menyenangkan.”

Aro memandang ke balik bahu kami. Semua kepala ikut berpaling ke arah yang sama, termasuk Jane, Alice dan Demetri, yang berdiri tanpa suara di sebelah kami.

Aku yang terakhir menoleh. Felix sudah kembali, dan di belakangnya melenggang dua lelaki berjubah hitam. Keduanya sangat mirip dengan Aro, salah satunya bahkan juga berambut hitam tergerai. Yang satunya bahkan juga berambut hitam tergerai. Yang satunya lagi berambut putih terang seperti salju – seputih wajahnya – yang tergerai lepas ke bahu. Kulit wajah mereka samasama setipis kertas.

Lengkap sudah trio yang tergambar pada lukisan Carlisle, tidak berubah meski tiga ratus tahun telah berlalu semenjak lukisan itu dibuat.

“Marcus, Caius. lihat!” seru Aro. “Bella ternyata masih hidup, dan Alice datang bersamanya! Hebat, bukan?”

Tak seorang pun di antara mereka tampak setuju dengan pemilihan kata hebat yang digunakan Aro. Si vampir berambut hitam terlihat sangat bosan, seakan-akan sudah terlalu sering menyaksikan antusiasme Aro yang meluap-luap selama berabad-abad. Wajah vampir yang lain masam di bawah rambutnya yang seputih salju.

Ketidaktertarikan yang mereka tunjukkan tak mengurangi semangat Aro.

“Mari kita dengar ceritanya bersama-sama,” Aro nyaris berdendang dengan suaranya yang sehalus bulu.

Si vampir tua berambut putih menjauh, melenggang menghampiri salah satu singgasana kayu. Yang lain berhenti di sebelah Aro, dan ia mengulurkan tangan, mulanya kukira hendak meraih tangan Aro. Tapi ia hanya menyentuh telapak tangan Aro sekilas dan kemudian menjatuhkan tangannya kembali. Aro mengangkat sebelah alisnya yang hitam. Aku jadi heran bagaimana kulitnya yang setipis kertas itu tidak remuk oleh gerakan tersebut.

Edward mendengus sangat pelan, dan Alice memandanginya, ingin tahu.

“Terima kasih, Marcus,” ujar Aro. “Itu sangat menarik,”

Sadarlah aku, sedetik terlambat, bahwa Marcus membiarkan Aro mengetahui pikirannya.

Marcus kelihatannya tidak tertarik. Ia melenggang menjauhi Aro, mendekati vampir satunya yang pastilah bernama Caius, yang duduk menempel di dinding. Dua vampir yang mendampinginya mengikuti tanpa suara di belakangnya—pengawal, seperti yang sudah kuduga sebelumnya. Aku bisa melihat dua wanita bergaun musim panas yang berdiri mengapit Caius dengan sikap sama. Agak konyol menurutku bila vampir membutuhkan pengawal, tapi mungkin para vampir tua itu sama rapuhnya seperti yang ditunjukkan kulit mereka.

Aro menggelengkan kepala. “Luar biasa,” ucapnya. “Benar-benar luar biasa.”

Ekspresi Alice frustrasi. Edward berpaling padanya dan menjelaskan dengan ringkas dan suara pelan. “Marcus bisa melihat hubungan. Dia terkejut melihat betapa kuatnya hubungan kita.”

Aro tersenyum. “Sangat menyenangkan,” ulangnya lagi. Lalu ia berbicara pada kami. “Agak sulit membuat Marcus terkejut, aku bisa memastikan.”

Kutatap wajah Marcus yang datar seperti mayat, dan aku percaya.

“Sungguh sulit dimengerti, bahkan sekarang,” renung Aro, menatap lengan Edward yang melingkari pinggangku. Sulit bagiku mengikuti jalan pikiran Aro yang ruwet. Aku berusaha mengikuti dengan susah payah. “Bagaimana kau bisa berdiri sedekat itu dengannya?”

“Bukan berarti mudah,” jawab Edward tenang.

“Namun tetap saja—la tua cantante! Sungguh mubazir!”

Edward tertawa datar, “Aku menganggapnya lebih sebagai harga yang harus dibayar.”

Aro merasa skeptis. “Harga yang sangat tinggi.”

“Kesempatan memang berharga mahal.”

Aro terbahak. “Kalau saja aku tidak bisa mencium aromanya melalui pikiranmu, aku tidak mungkin percaya godaan terhadap darah seseorang bisa sekuat itu. Aku sendiri belum pernah merasakan hal seperti itu. Kebanyakan kita rela menukar apa saja untuk dapat memiliki anugerah sebesar itu, tapi kau malah…”

“Menyia-nyiakannya,” Edward menyelesaikan kata-kata Aro, suaranya kini terdengar sinis.

Lagi-lagi Aro terbahak. “Ah, betapa kangennya aku pada sobatku, Carlisle! Kau mengingatkan aku padanya—hanya saja dia tidak segalak kau.”

“Carlisle jauh melebihi aku dalam banyak hal lain.”

“Tak pernah terpikir olehku, aku akan pernah melihat Carlisle kehilangan kendali diri, tapi kau membuatnya malu.”

“Itu tidak benar.” Edward terdengar tidak sabar. Seolah-olah ia muak dengan basa-basi ini. Itu membuatku semakin takut; mau tak mau aku jadi berusaha membayangkan apa yang ia harapkan bakal terjadi.

“Aku senang melihat kesuksesannya,” renung Aro. “Kenanganmu mengenainya adalah anugerah bagiku, meski itu membuatku sangat takjub. Aku heran karena ternyata aku… justru senang melihat kesuksesannya di jalan tak lazim yang dipilihnya. Kukira dia akan tersia-sia, melemah seiring berjalannya waktu. Aku sempat mencela rencananya menemukan pihak-pihak lain yang setuju dengan pandangannya yang aneh. Namun bagaimanapun aku senang karena ternyata aku keliru.”

Edward tidak menanggapi.

“Tapi pertahanan dirimu!” Aro mendesah. “Aku tidak tahu kekuatan sehebat itu ternyata ada. Membiasakan diri mengabaikan godaan sedahsyat itu, bukan hanya sekali melainkan berkali-kali— seandainya tidak merasakannya sendiri, aku pasti tidak akan percaya.”

Edward membalas pandangan kagum Aro tanpa ekspresi. Aku cukup mengenali wajahnya—waktu tidak banyak mengubahnya—untuk mengetahui bahwa di balik ekspresinya yang tenang, tersimpan amarah yang menggelora. Susah payah aku berusaha mempertahankan napasku tetap tenang.

“Hanya mengingat bagaimana dia begitu menggairahkan bagimu…” Aro terkekeh. “Membuatku haus.”

Edward mengejang.

“Jangan merasa terganggu,” Aro meyakinkannya. “Aku tidak bermaksud mencelakakannya. Tapi aku sangat ingin tahu, mengenai satu hal secara khusus.” Ia menatapku dengan sikap sangat tertarik. “Bolehkah?” tanyanya penuh semangat, mengangkat sebelah tangan.

“Tanya saja padanya.” Edward menyarankan dengan nada datar.

“Tentu saja, kurang ajar benar aku!” seru Aro. “Bella,” ia berbicara sendiri padaku sekarang. “Aku takjub karena kau satu-satunya yang merupakan pengecualian terhadap bakat Edward yang mengagumkan itu—sungguh sangat menarik hal semacam itu bisa terjadi! Dan aku jadi ingin tahu. berhubung bakat kami serupa dalam banyak hal, apakah kau mau berbaik hati mengizinkan aku untuk mencoba – melihat apakah kau merupakan pengecualian bagiku juga?”

Mataku serta-merta melirik Edward dengan penuh ketakutan. Meski bertanya dengan sikap sopan yang berlebihan, aku tak yakin aku punya pilihan. Ngeri rasanya membayangkan mengizinka Aro menyentuhku, namun tak urung diam-diam aku tertarik oleh kesempatan menyentuh kulitnya yang aneh ini.

Edward mengangguk menyemangati – apakah karena ia yakin Aro tidak akan mencelakakanku, atau karena memang tak ada pilihan aku tidak tahu.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.