Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Mereka mengirimmu keluar untuk membawa satu tapi kau kembali dengan membawa dua… setengah,” kata pemuda itu, menatapku. “Bagus sekali.”

Jane tertawa—suaranya ceria seperti celotehan bayi.

“Selamat datang kembali, Edward,” Alec menyapanya. “Sepertinya suasana hatimu sudah lebih baik.”

“Sedikit,” Edward membenarkan dengan nada datar. Kulirik wajah Edward yang keras, dan bertanya-tanya dalam hati bagaimana mungkin suasana hatinya bisa lebih buruk dari sekarang.

Alec terkekeh, dan memerhatikan aku yang menempel erat di sisi Edward. “Jadi, inikah si pembuat heboh itu?” tanyanya, skeptis.

Edward hanya tersenyum, ekspresinya sinis. Kemudian tubuhnya mengejang.

“Bodoh,” ucap Felix dengan nada biasa-biasa saja dari belakang.

Edward berbalik, geraman rendah terdengar dari dadanya. Felix tersenyum—tangannya terangkat, telapak tangan mengarah ke atas; ia menekukkan jari-jarinya dua kali, mengundang Edward untuk maju.

Alice menyentuh lengan Edward. “Sabar,” ia mengingatkan.

Mereka bertukar pandang cukup lama, dan aku berharap bisa mendengar apa yang dikatakan Alice padanya. Menurutku pasti ada hubungannya dengan tidak menyerang Felix, karena Edward menarik napas dalam-dalam dan berpaling kembali pada Alec.

“Aro pasti sangat senang bisa bertemu lagi denganmu,” kata Alec, seolah tidak terjadi apa-apa.

“Kalau begitu jangan biarkan dia menunggu terlalu lama,” saran Jane.

Edward mengangguk satu kali.

Alec dan Jane, bergandengan tangan, berjalan mendului kami memasuki aula lain yang luas dan sarat hiasan—apakah ruangan ini ada ujungnya?

Mereka mengabaikan pintu-pintu di ujung aula—pintu-pintu itu seluruhnya dilapisi emas— berhenti di tengah jalan sebelum mencapai ujungnya, dan menggeser panel yang menutupi pintu kayu polos. Pintu itu tidak terkunci. Alec membukakannya untuk Jane.

Aku ingin mengerang saat Edward menarikku memasuki pintu itu. Kami memasuki ruangan yang lagi-lagi terbuat dan batu tua seperti yang ada di alun-alun, di lorong, dan di saluran pembuang limbah. Suasananya juga gelap dan dingin.

Ruang peralihan dari batu itu tidak besar. Di baliknya ada ruangan lain yang lebih terang dan besar menyerupai gua, bentuknya bulat sempurna, seperti menara kasti yang besar… mungkin benar ini menara. Dua lantai ke atas, tampak dua jendela berbentuk celah memanjang, membuat cahaya matahari yang menerobos melaluinya jatuh dalam bentuk persegi panjang di lantai batu di bawahnya. Tidak ada cahaya buatan. Satu-satunya perabot di ruangan itu hanyalah beberapa kursi kayu besar seperti singgasana, yang diletakkan tidak beraturan, rata dengan dinding batu yang melengkung. Di pusat lingkaran, di cekungan pendek, terdapat saluran pembuangan limbah lagi. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah mereka menggunakannya sebagai jalan keluar, seperti lubang di jalan.

Ruang itu tidak kosong. Segelintir orang berkumpul, tampaknya sedang mengobrol santai. Gumaman suara-suara pelan dan halus terdengar bagai dengungan lembut di udara. Saat aku melihat, sepasang wanita pucat bergaun musim panas berhenti di bawah sepetak cahaya matahari, dan, seperti prisma, kulit mereka membiaskan pendar cahaya pelangi ke dinding-dinding cokelat kusam.

Wajah-wajah memesona itu menoleh begitu rombongan kami memasuki ruangan. Sebagian besar makhluk abadi itu mengenakan celana panjang dan kemeja biasa – pokoknya, pakaian yang tidak akan terlihat mencolok di jalan-jalan di bawah sana. Namun lelaki yang pertama kali berbicara mengenakan jubah panjang. Warnanya hitam pekat, dan menyapu lantai. Aku sempat mengira rambut hitam kelamnya yang panjang adalah tudung jubahnya.

“Jane, Sayang, kau sudah kembali!” seru lelaki itu senang. Suaranya terdengar seperti desahan lirih.

Lelaki itu melenggang maju, dan gerakannya begitu luwes sampai-sampai aku ternganga, mulutku terbuka lebar. Bahkan Alice, yang setiap gerakannya terlihat seperti menari, tidak bisa menandinginya.

Aku lebih terperangah lagi saat lelaki itu melenggang lebih dekat dan aku bisa melihat wajahnya. Tidak seperti wajah-wajah menarik tapi tidak natural yang mengelilinginya (karena ia tidak menghampiri kami sendirian; seluruh rombongan mengerubunginya dengan rapat, beberapa mengikuti di belakang, yang lain berjalan mendahuluinya dengan sikap waspada khas pengawal). Aku tidak bisa menentukan apakah wajahnya tampan atau tidak. Garis-garis wajahnya memang sempurna. Tapi ia berbeda dari para vampir di sampingnya, sama seperti mereka berbeda denganku. Kulitnya putih transparan, seperti mereka berbeda denganku. Kulitnya putih transparan, seperti kulit bawang, dan tampak sama rapuh – kelihatan sangat kontras dengan rambut hitam panjang yang membingkai wajahnya. Aku merasakan dorongan aneh yang mengerikan untuk menyentuh pipinya, untuk merasakan apakah kulitnya lebih lembut daripada kulit Edward atau Alice, dan bila diraba apakah terasa halus, seperti kapur. Matanya merah, sama seperti makhluk-makhluk lain di sekitarnya, tapi warnanya berselaput, keruh seperti susu; aku penasaran apakah pandangannya terganggu oleh selaput itu.

Vampir itu melenggang menghampiri Jane, merengkuh wajah Jane dengan tangannya yang berlapis kulit setipis kertas, mendaratkan kecupan ringan di bibir tebal Jane, lalu melenggang mundur selangkah.

“Ya, tuan,” Jane tersenyum; ekspresinya membuatnya terlihat seperti bocah malaikat. “Aku membawanya kembali hidup-hidup seperti yang Anda inginkan.”

“Ah, Jane.” Vampir itu tersenyum. “Kau sungguh menenteramkan hatiku.”

Ia mengarahkan matanya yang berkabut ke arah kami, dan senyumnya semakin cerah – menjadi girang.

“Dan Alice dan Bella juga!” soraknya, bertepuk tangan dengan tangannya yang kurus. “Ini benarbenar kejutan yang menggembirakan! Hebat!

Kupandangi vampir itu, shock mendengarnya menyebut nama kami dengan sikap ramah, seolaholah kami teman lama yang mampir tanpa didugaduga.

Vampir itu berpaling pada pendamping kami yang bertubuh besar. “Felix, tolong sampaikan kepada saudara-saudaraku tentang kedatangan tamu-tamu kita. Aku yakin mereka pasti tidak ingin melewatkan kesempatan ini”

“Baik, Tuan” Felix mengangguk dan lenyap di balik pintu tempat kami masuk tadi.

“Kaulihat, Edward?” Vampir aneh itu menoleh dan tersenyum pada Edward, seperti kakek yang sayang tapi marah pada cucunya. “Apa kubilang? Kau senang kan, aku tidak mengabulkan permintaanmu kemarin?”

“Ya, Aro, aku senang,” Edward membenarkan, mempererat pelukannya di pinggangku.

“Aku suka akhir yang membahagiakan.” Aro mendesah. “Itu sangat jarang terjadi. Tapi aku ingin mendengar cerita selengkapnya. Bagaimana itu bisa terjadi? Alice?” Ia berpaling kepada Alice, sorot ingin tahu terpancar dari matanya yang berkabut. Saudaramu sepertinya menganggapmu tidak mungkin salah, tapi jelas ada kesalahan.”

“Oh, aku masih jauh dari sempurna.” Alice menyunggingkan senyum memesona. Ia tampak sangat santai, hanya saja kedua tangannya terkepal erat. “Seperti yang Anda lihat hari ini, aku menyebabkan masalah sesering aku menyelesaikannya.”

“Kau terlalu rendah hati,” cela Aro. “Aku sudah sering melihat bakatmu yang luar biasa, dan harus kuakui, bakatmu benar-benar unik. Hebat!”

Alice melirik sekilas kepada Edward. Itu tidak luput dari perhatian Aro.

“Maaf, kita belum berkenalan, bukan? Aku hanya merasa seperti sudah mengenalmu, dan aku cenderung suka mendului. Saudaramu memperkenalkan kita kemarin, dengan cara yang aneh. Begini, aku juga memiliki sebagian bakat seperti yang dimiliki saudaramu, hanya saja aku memiliki batasan, sedangkan dia tidak.” Aro menggelengkan kepala; nadanya iri.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.