Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Cahaya remang-remang dari jalan dengan cepat hilang ditelan kegelapan. Suara langkah-langkah kakiku yang tersaruk-saruk bergaung di ruangan yang gelap gulita; kedengarannya sangat lebar, tapi aku tak yakin. Tak ada suara apa-apa selain debar jantungku yang berpacu cepat serta kakiku menginjak batu-batu basah—kecuali satu kali, waktu aku mendengar desahan tidak sabar berbisik di belakangku.

Edward memelukku erat-erat. Dengan tangan satunya ia memegang wajahku, ibu jarinya yang halus menyusuri bibirku. Sesekali aku merasa ia menempelkan wajahnya ke rambutku. Aku sadar ini mungkin satu-satunya kesempatan kami, jadi aku merapatkan diriku lebih dekat padanya.

Saat ini rasanya seakan-akan ia menginginkanku, dan itu sudah cukup untuk menghalau kengerian yang kurasakan, berada di terowongan bawah tanah, bersama para vampir di belakang kami. Mungkin itu tidak lebih daripada perasaan bersalah – perasaan bersalah jugalah yang mendorong Edward datang ke sini untuk mati karena ia yakin gara-gara dialah aku bunuh diri. Tapi aku merasakan bibirnya diam-diam menempel di keningku, dan aku tak peduli apa motivasinya. Setidaknya aku bisa bersamanya lagi sebelum aku mati. Itu lebih baik daripada umur panjang.

Seandainya saja aku bisa menanyakan apa persisnya yang terjadi sekarang. Aku ingin sekali tahu bagaimana kami akan mati – seolah-olah keadaan bisa lebih baik dengan tahu lebih dulu. Tapi aku tak bisa bersuara meskipun dengan berbisik karena kami dikelilingi vampir lain. Yang lain-lain bisa mendengar semuanya – setiap tarikan napasku, setiap detak jantungku.

Jalan setapak di bawah kaki kami terus menurun, membawa kami lebih dalam ke perut bumi, dan itu membuatku merasa dicekam ketakutan pada ruang sempit. Untung ada tangan Edward yang terasa menenangkan di wajahku, hingga aku tidak menjerit.

Aku tidak tahu dari mana cahaya itu berasal, tapi perlahan-lahan suasana di sekelilingku mulai berwarna abu-abu gelap, tak lagi hitam pekat. Kami berada di terowongan melengkung yang rendah. Cairan hitam pekat merembes keluar dari batu-batu kelabu, seolah-olah mengeluarkan tinta.

Tubuhku gemetar, dan kurasa itu karena ketakutan. Baru setelah gigi-gigiku gemeletuk aku menyadari itu karena aku kedinginan. Bajuku masih basah, dan suhu di bawah kota dingin menusuk Begitu pula kulit Edward.

Edward menyadari hal itu pada saat yang bersamaan denganku, lalu ia melepaskan pelukannya dan hanya menggandengku saja.

“T-t-tidak,” kataku dengan gigi gemeletuk, merangkul pinggangnya lagi. Aku tak peduli meskipun tubuhku membeku. Siapa yang tahu berapa lama lagi waktu yang tersisa?

Tangan dingin Edward menggosok-gosok lenganku, berusaha menghangatkanku.

Kami bergegas menyusuri terowongan, atau bagiku rasanya seperti bergegas. Langkahlangkahku yang lamban membuat jengkel seseorang—kurasa pasti Felix—dan aku mendengarnya mendesah jengkel sesekali.

Di ujung terowongan tampak kisi-kisi—batangbatang besinya sudah berkarat, tapi setebal lenganku. Pintu kecil yang terbuat dari batangbatang besi yang lebih tipis dan saling berkaitan terbuka lebar. Edward merunduk melewatinya dan bergegas memasuki ruangan lain yang lebih besar dan terang. Pintu besi itu terbanting menutup dengan suara berdentang nyaring, diikuti bunyi gerendel dipasang. Aku terlalu takut untuk melihat ke belakang.

Di sisi lain ruangan terdapat pintu kayu rendah yang berat. Pintu itu sangat tebal—aku bisa melihatnya karena pintu itu juga terbentang lebar.

Kami melangkah melewati pintu itu, dan aku memandang berkeliling dengan terkejut, dan otomatis langsung rileks. Di sampingku Edward menegang, dagunya mengeras kaku.

 

21. VONIS

KAMI berada di aula yang terang benderang dan tidak mencolok. Dindingnya putih kusam, lantainya dilapisi karpet abu-abu. Lampu-lampu neon persegi panjang terpasang dalam jarak yang sama di sepanjang langit-langit. Hawa di sini lebih hangat, dan aku bersyukur karenanya. Ruangan ini tampak sangat ramah dibandingkan saluran pembuangan limbah berdinding batu yang gelap dan mengerikan tadi.

Sepertinya Edward tidak sependapat dengan penilaianku. Matanya memandang garang ke lorong aula yang panjang, ke sosok kurus hitam yang berdiri di ujung sana, dekat lift.

Ia menarikku bersamanya, sementara Alice berjalan di sisiku yang lain. Pintu yang berat menutup dengan suara berderit di belakang kami, kemudian terdengar bunyi gerendel digeser.

Jane menunggu di dekat lift, sebelah tangan memegangi pintu agar tetap terbuka untuk kami. Ekspresinya apatis.

Begitu masuk ke lift, tiga vampir yang bekerja untuk keluarga Volturi terlihat semakin rileks. Mereka menyingkapkan jubah mereka, membiarkan penutup kepala terbuka dan terkulai di pundak. Baik Felix maupun Demetri sama-sama memiliki kulit sewarna zaitun—kelihatan aneh dikombinasikan dengan raut wajah mereka yang pucat seperti kapur. Rambut hitam Felix dipangkas pendek, sementara rambut Demetri tergerai lepas berombak-ombak ke bahunya. Mata mereka merah tua di bagian pinggir, tapi semakin gelap hingga nyaris hitam di sekitar pupil. Di balik jubah, baju mereka modern, pucat, dan biasa. Aku mengkeret di sudut, menempel pada Edward. Tangannya masih menggosok-gosok lenganku. Matanya tak pernah lepas memandangi Jane.

Perjalanan dengan lift singkat saja; kami melangkah memasuki ruangan yang kelihatannya seperti ruang penerimaan tamu yang mewah. Dinding-dindingnya berlapis panel kayu, lantainya ditutup karpet tebal empuk berwarna hijau. Tak ada jendela, tapi lukisan-lukisan besar bergambar pemandangan daerah pedesaan Tuscan yang diterangi cahaya lampu benderang tergantung di mana-mana sebagai pengganti jendela. Sofa-sofa kulit berwarna lembut ditata membentuk kelompok-kelompok yang nyaman, dan meja-meja mengilap dihiasi vas-vas kristal penuh karangan bunga berwarna-warni meriah. Aroma bungabunga itu mengingatkanku pada rumah duka.

Di tengah ruangan berdiri konter tinggi mengilap dari kayu mahoni. Aku ternganga keheranan melihat seorang wanita berdiri di baliknya.

Wanita itu bertubuh tinggi, dengan kulit gelap dan mata hijau. Ia akan terlihat sangat cantik di perusahaan lain—tapi tidak di sini. Karena ia juga manusia, sama seperti aku. Aku tidak mengerti apa yang dikerjakan wanita manusia itu di sini, sikapnya begitu rileks, dikelilingi para vampir.

Wanita itu tersenyum sopan menyambut kedatangan kami. “Selamat siang, Jane,” sapanya. Tidak ada keterkejutan di wajahnya saat ia melirik rombongan Jane. Tidak juga Edward yang dada telanjangnya berkilau samar tertimpa cahaya lampu putih, atau bahkan aku, yang acak-acakan dan sangat jelek bila dibandingkan dengannya.

Jane menangguk. “Gianna.” Ia terus berjalan menuju sepasang pintu ganda di bagian belakang ruangan, dan kami semua mengikuti.

Saat Felix melewati meja. ia mengedipkan mata pada Gianna, dan wanita itu tertawa.

Di sisi dalam pintu kayu itu terdapat ruang penerimaan tamu lain yang berbeda jenisnya. Bocah lelaki pucat bersetelan abu-abu mutiara bisa dikira kembaran Jane. Rambutnya lebih gelap, dan bibirnya tidak sepenuh bibir Jane, namun sama memikatnya. Ia maju menghampiri kami. Sambil tersenyum tangannya terulur pada Jane. “Jane.”

“Alec,” sahut Jane memeluk pemuda itu. Mereka berciuman pipi. Kemudian pemuda itu menatap kami.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.