Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Baiklah kalau begitu,” dengkur Felix. Mataku sudah bisa beradaptasi dengan keadaan yang remang-remang, dan kulihat ternyata Felix bertubuh sangat besar, tinggi dan tebal di bagian pundak. Ukuran tubuhnya mengingatkanku pada Emmett.

“Aro pasti kecewa,” desah Demetri.

“Aku yakin dia pasti bisa mengatasi kekecewaannya,” sahut Edward.

Felix dan Demetri beringsut semakin dekat ke mulut gang sedikit demi sedikit memperlebar jarak di antara mereka sehingga bisa menyerang Edward dari dua sisi. Mereka bermaksud memaksanya masuk lebih dalam ke lorong, untuk menghindari keributan. Tak ada pantulan cahaya bisa menyentuh kulit mereka; keduanya aman di balik jubah.

Edward tidak bergerak sedikit pun. Ia menempatkan dirinya dalam bahaya karena melindungiku.

Tiba-tiba Edward menolehkan kepalanya dengan cepat, ke arah kegelapan lorong yang berkelokkelok. Demetri dan Felix melakukan hal yang sama, sebagai respons atas suara atau gerakan yang terlalu halus untuk pancaindraku.

“Bagaimana bila kita menjaga sikap?” sebuah suara merdu mengalun menyarankan. “Ada wanita di sini.”

Alice melenggang ringan ke sisi Edward, pembawaannya tenang. Tak sedikit pun tandatanda ketegangan dalam dirinya. Ia tampak begitu mungil, sangat rapuh. Kedua lengannya yang kecil bergoyang-goyang seperti kanak-kanak.

Meski begitu, baik Demetri maupun Felix langsung menegakkan badan, jubah mereka berputar pelan saat angin berembus sepanjang lorong. Wajah Felix berubah masam. Rupanya mereka tidak suka bila keadaan berimbang.

“Kita tidak sendirian,” Alice mengingatkan mereka.

Demetri menoleh ke belakang. Beberapa meter ke arah alun-alun, keluarga kecil tadi, yang anakanak perempuannya bergaun merah, memandangi kami. Si ibu berbicara dengan nada mendesak pada suaminya, matanya tertuju pada kami berlima. Ia membuang muka waktu Demetri melihat ke arahnya. Sang suami berjalan beberapa langkah menuju alun-alun, dan menepuk bahu salah seorang lelaki berblazer merah.

Demetri menggeleng. “Kumohon, Edward, jangan mempersulit keadaan,” ujarnya.

“Setuju,” Edward menyetujui. “Dan kalau kita pergi dengan tenang sekarang, tidak akan ada orang yang tahu.”

Demetri mendesah frustrasi. “Setidaknya izinkan kami mendiskusikan masalah ini secara lebih tertutup.”

Enam lelaki berblazer merah sekarang bergabung dengan keluarga kecil tadi dan memandangi kami dengan ekspresi waswas. Aku sangat khawatir dengan sikap protektif Edward di depanku—pasti itulah yang memicu kecemasan orang-orang tadi. Ingin rasanya aku berteriak pada mereka untuk lari.

Rahang Edward mengatup dengan suara keras. “Tidak.”

Felix tersenyum.

“Cukup.”

Suara itu tinggi, tajam dan datang dari belakang kami.

Aku mengintip dari bawah lengan Edward dan melihat sosok lain yang kecil dan gelap, berjalan menghampiri kami. Menilik jubahnya yang mengembang, aku tahu itu salah seorang dari mereka. Siapa lagi?

Awalnya kukira sosok itu bocah lelaki. Si pendatang baru itu semungil Alice, dengan rambut cokelat pucat dan lemas yang dipangkas pendek. Tubuh di balik jubahnya—yang berwarna lebih gelap, nyaris hitam—ramping dan memiliki karakteristik feminin sekaligus maskulin. Tapi wajahnya terlalu cantik untuk ukuran laki-laki. Wajahnya yang bermata lebar dan berbibir penuh itu bakal membuat malaikat Botticelli terlihat bagaikan monster menyeramkan. Bahkan walaupun iris matanya merah pucat.

Ukuran tubuhnya sangat tidak signifikan sehingga reaksi para vampir lain begitu melihat kedatangannya membuatku bingung. Ketegangan Felix dan Demetri langsung mencair, dan mereka mundur selangkah dari posisi mereka yang siap menyerang melebur kembali dalam keremangan bayang-bayang bangunan yang bagian atasnya menjorok ke jalan. Edward juga menurunkan kedua lengannya dan berubah rileks—tapi karena kalah.

“Jane,” desahnya, nadanya mengenali bercampur menyerah.

Alice melipat kedua lengannya di dada, ekspresinya datar.

“Ikuti aku,” kata Jane lagi, suaranya yang kekanak-kanakan terdengar monoton. Ia berbalik dan melenggang tanpa suara memasuki kegelapan.

Felix melambaikan tangan pada kami, menyuruh kami berjalan duluan sambil tersenyum mengejek.

Alice langsung berjalan mengikuti Jane. Edward merangkul pinggangku dan menarikku berjalan di sampingnya. Lorong yang kami lewati menikung sedikit ke bawah dan semakin menyempit. Aku mendongak memandang Edward dengan berbagai pertanyaan berkecamuk di mataku, tapi Edward hanya menggeleng. Meskipun aku tak bisa mendengar yang lain-lain berjalan di belakang kami, aku yakin mereka ada di sana.

“Well, Alice,” kata Edward dengan sikap seperti mengajak ngobrol sementara kami berjalan. “Kurasa seharusnya aku tidak kaget melihatmu datang ke sini.”

“Itu salahku,” Alice menyahut dengan nada yang sama. “Jadi sudah kewajibanku pula untuk meluruskannya.”

“Apa yang sebenarnya terjadi?” Suara Edward sopan, seakan-akan tidak begitu tertarik. Aku yakin pasti karena ada pihak-pihak lain yang ikut mendengarkan di belakang kami.

“Ceritanya panjang.” Alice melirik sekilas ke arahku. “Singkatnya, dia memang melompat dari tebing, tapi bukan karena mau bunuh diri. Belakangan ini Bella menyukai olahraga ekstrem.”

Wajahku memerah dan aku memandang lurus ke depan, menatap bayang-bayang gelap yang tak bisa lagi kulihat. Bisa kubayangkan apa yang didengar Edward dalam pikiran Alice sekarang. Nyaris tenggelam, diburu vampir-vampir, berteman dengan werewolf…

“Hm,” ucap Edward pendek, dan nadanya tidak lagi terdengar biasa-biasa saja.

Lorong meliuk-liuk, masih terus menurun, jadi aku tidak melihat jalan itu buntu hingga kami sampai di depan tembok bata yang datar dan tak berjendela. Vampir mungil bernama Jane tadi tidak terlihat.

Tanpa ragu dan tanpa menghentikan langkah sedikit pun. Alice melenggang menuju dinding. Kemudian dengan tangkas ia menyelinap masuk ke lubang yang menganga di jalan.

Kelihatan seperti saluran limbah, menjorok di titik terendah jalan yang berbatu. Aku tidak menyadarinya sampai Alice mendadak lenyap, tapi kisi-kisi penutupnya digeser separuh. Lubang itu kecil dan gelap gulita.

Aku langsung mogok.

“Tidak apa-apa, Bella,” kara Edward pelan. Alice akan menangkapmu.”

Kupandangi lubang itu dengan sikap ragu. Kurasa Edward pasri akan turun lebih dulu, kalau saja tidak ada Demetri dan Felix menunggu, sinis dan diam, di belakang kami.

Aku berlutut dan meringkuk, mengayunkan kedua kakiku ke lubang yang sempit.

“Alice?” bisikku, suaraku gemetar.

“Aku di sini, Bella,” Alice meyakinkanku. Suaranya terdengar terlalu jauh di bawah hingga tak berhasil menenangkan hatiku.

Edward memegangi pergelangan tanganku— tangannya terasa seperti batu di musim dingin— lalu menurunkan aku ke kegelapan.

“Siap?” tanyanya.

“Lepaskan dia,” seru Alice.

Aku memejamkan mata sehingga tidak bisa melihat kegelapan, menutupnya rapat-rapat dengan penuh ketakutan, mengatupkan mulut agar tidak menjerit. Edward menjatuhkanku.

Aku jatuh tanpa suara, tak jauh dari atas lubang. Udara mendesir melewatiku selama setengah detik, kemudian, tepat ketika aku mengembuskan napas keras-keras, kedua lengan Alice yang sudah menunggu menangkapku.

Tubuhku pasti bakal memar-memar; lengan Alice sangat keras. Ia membantuku berdiri tegak.

Suasana di dasar lubang remang-remang, tapi tidak gelap gulita. Cahaya dari lubang di atas membiaskan kilauan samar, terpancar basah dari batu-batu di bawah kakiku. Cahaya sempat hilang sedetik, dan sejurus kemudian wajah Edward yang putih samar-samar muncul di sampingku. Ia merangkul pundakku, memelukku rapat di sisinya, dan mulai menggiringku maju dengan cepat. Aku melingkarkan kedua lenganku di pinggangnya yang dingin, berjalan tersandung-sandung dan tersaruksaruk di permukaan batu yang tidak rata. Suara kisi-kisi berat digeser menutupi saluran limbah di belakang kami, berdentang mantap dan keras.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.