Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Sulit melihat sekarang. Tanpa kerumunan yang menahan angin, angin menampar wajahku dan membakar mataku. Entah itukah yang membuat air mataku merebak, atau apakah aku menangis kalah saat jam kembali berdentang.

Sebuah keluarga kecil beranggotakan empat orang berdiri paling dekat dengan mulut gang. Dua gadis mengenakan gaun merah, dengan pita senada menghiasi rambut gelap mereka yang diikat ke belakang. Sang ayah tidak tinggi. Sepertinya aku bisa melihat sesuatu yang benderang di keteduhan, tepat di atas bahunya. Aku menghambur ke arah mereka, berusaha melihat dari balik air mataku yang pedih. Jam berdentang, dan gadis terkecil menutup telinganya rapat-rapat.

Gadis yang lebih tua, tingginya hanya sepinggang ibunya, merangkul kaki sang ibu dan memandang ke dalam bayang-bayang di belakang mereka. Kulihat gadis itu menarik-narik siku ibunya dan menuding ke keteduhan. Jam berdentang, dan aku sudah sangat dekat sekarang.

Aku sudah cukup dekat sehingga bisa mendengar suara si sadis kecil yang melengking tinggi. Ayahnya menatapku terperanjat saat aku menghambur menghampiri mereka, meneriakkan nama Edward berkali-kali dengan suara serak.

Si gadis yang lebih tua tertawa terkikik dan mengatakan sesuatu pada ibunya, menuding lagi ke bayang-bayang dengan sikap tidak sabar.

Aku meliuk melewati sang ayah—ia buru-buru berkelit, mengamankan bayinya agar tidak tertabrak olehku—dan berlari sekencangkencangnya ke ruang gelap di belakang mereka sementara jam berdentang nyaring di atas kepalaku.

“Edward, jangan!” jeritku, tapi suaraku hilang ditelan gemuruh lonceng yang bergaung.

Aku bisa melihatnya sekarang. Dan bisa kulihat bahwa ia tidak melihatku.

Itu benar-benar Edward, kali ini bukan halusinasi. Dan tahulah aku delusiku ternyata lebih kacau daripada yang kusadari; bayanganku tentang Edward tak seindah aslinya.

Edward berdiri, tak bergerak seperti patung, hanya beberapa meter dari mulut gang. Matanya terpejam, lingkaran di bawahnya berwarna ungu tua, kedua lengannya terkulai rileks di sisi tubuhnya, telapak tangan mengarah ke atas. Ekspresinya sangat damai, seolah sedang membayangkan hal-hal menyenangkan. Kulit dadanya yang seperti marmer telanjang—sehelai kain putih teronggok dekat kakinya. Cahaya yang memantul dari jalan alun-alun yang dilapisi batu gemerlap samar oleh kilau yang terpantul dari kulitnya.

Belum pernah aku melihat pemandangan yang lebih indah daripada itu—bahkan saat aku berlari, terengah-engah dan berteriak-teriak, tak urung aku terpesona. Dan tujuh bulan terakhir tak berarti apa-apa. Kata-katanya di hutan dulu tak berarti apa-apa. Bukan masalah bila ia tidak menginginkanku. Aku tidak akan pernah menginginkan hai lain selain dirinya, tak peduli betapa pun lamanya aku hidup.

Jam berdentang, dan Edward melangkah lebar menuju cahaya.

“Tidak!” jeritku. “Edward, lihat aku!”

Edward tidak mendengarkan. Bibirnya tersenyum kecil. Ia mengangkat kakinya, siap mengambil langkah yang akan membawanya langsung ke bawah sorotan matahari.

Aku menabraknya begitu keras hingga kekuatannya pasti akan membuatku tersungkur ke tanah seandainya kedua lengannya tidak menangkap dan memegangiku. Benturan itu membuatku kehabisan napas dan menyentakkan kepalaku ke belakang.

Mata Edward yang gelap perlahan-lahan terbuka sementara jam kembali berdentang.

Ia menunduk, menatapku dengan keterkejutan tanpa suara.

“Luar biasa,” ucapnya, suaranya yang merdu itu terdengar takjub, sedikit geli. “Carlisle benar.”

“Edward,” aku berusaha menarik napas, tapi tidak ada yang suara yang keluar. “Kau harus kembali ke tempat teduh. Kau harus pindah!”

Edward tampak terpesona. Tangannya membelai pipiku lembut. Sepertinya ia tidak sadar aku berusaha memaksanya kembali. Rasanya seperti mendorong tembok. Jam berdentang tapi Edward tidak bereaksi.

Aneh sekali, padahal aku tahu saat itu kami berada dalam bahaya maut. Namun detik itu aku merasa damai. Utuh. Aku bisa merasakan jantungku berpacu kencang di dadaku, darah mendesir panas dan cepat mengisi pembuluh darahku lagi. Paru-paruku dipenuhi aroma harum yang menguar dari kulitnya. Seakan-akan tak pernah ada lubang di dadaku. Aku sempurna – bukan sembuh, karena seolah-olah memang tak pernah ada luka di sana.

“Aku tidak percaya prosesnya ternyata cepat sekali. Aku tidak merasa apa-apa, hebat sekali mereka,” renung Edward, memejamkan matanya lagi dan menempelkan bibirnya ke rambutku. Suaranya bagaikan madu dan beledu. “Kematian, yang mengisap madu dari desah napasmu, tak memiliki kuasa terhadir kecantikanmu,” bisiknya, dan aku mengenali sebaris kalimat yang diucapkan Romeo di kuburan. Jam berdentang untuk terakhir kali. “Aroma tubuhmu juga persis sama,” sambung Edward. “Jadi mungkin inilah neraka. Aku tidak peduli. Aku akan menerimanya.”

“Aku belum mati,” selaku. “Dan kau juga belum! Kumohon, Edward, kita harus pindah. Mereka pasti tidak jauh dari sini!”

Aku memberontak dalam pelukannya, dan alis Edward bertaut bingung.

“Apa?’ tanyanya sopan.

“Kita tidak mati, belum! Tapi kita harus pindah dari sini sebelum keluarga Volturi—”

Pemahaman berkelebat di wajahnya saat aku bicara. Belum lagi aku selesai bicara. Edward tibatiba menarikku menjauhi tepi keteduhan, membalikkan badanku dengan mudah hingga punggungku menempel di dinding bata, dan ia memunggungiku menghadap ke gang. Kedua lengannya terbentang lebar, melindungi, di depanku.

Aku mengintip dari bawah lengannya dan melihat dua sosok hitam keluar dari balik bayangbayang.

“Salam, Tuan-Tuan,” suara Edward tenang dan ramah, di permukaan. “Kurasa aku tidak membutuhkan layanan kalian hari ini. Aku akan sangat berterima kasih, bila kalian bersedia menyampaikan ucapan terima kasihku kepada tuan-tuan kalian.”

“Bagaimana kalau kita pindahkan pembicaraan ke tempat lain yang lebih memadai?” suara halus berbisik dengan nada mengancam.

“Menurutku itu tidak perlu.” Suara Edward lebih keras sekarang. “Aku tahu instruksimu, Felix. Aku tidak melanggar aturan apa pun.”

“Felix hanya bermaksud menegaskan keberadaan matahari,” kata bayang-bayang lain dengan nada menenangkan. Mereka tersembunyi di balik jubah abu-abu gelap yang panjangnya mencapai tanah dan mengembang tertiup angin. “Mari kita cari tempat yang lebih teduh.”

“Aku akan menyusul tepat di belakang kalian,” ujar Edward kering. “Bella, bagaimana kalau kau kembali ke alun-alun dan menikmati festival?”

“Tidak, bawa gadis itu,” bayang-bayang pertama berkata entah bagaimana bisa memperdengarkan nada mengerling dalam bisikannya.

“Kurasa tidak.” Sikap pura-pura ramah yang ditunjukkan Edward langsung lenyap. Suara Edward datar dan dingin. Ia sedikit mengubah posisi tubuhnya, dan bisa kulihat ia siap-siap bertarung.

“Tidak.” Aku hanya mampu menggerakkan mulut tanpa suara.

“Ssst,” bisik Edward, ditujukan hanya padaku.

“Felix,” bayang-bayang kedua, yang lebih bisa mengerti, mengingatkan. “Jangan di sini.” Ia berpaling kepada Edward. “Aro hanya ingin bicara lagi denganmu, kalau kau sudah memutuskan untuk tidak lagi memaksa kami menurun keinginanmu.”

“Tentu saja,” Edward setuju. “Tapi biarkan gadis ini pergi.”

“Aku khawatir itu tidak mungkin,” bayangbayang sopan itu menyahut dengan sikap menyesal. “Kami memiliki aturan yang harus ditaati.”

“Kalau begitu aku khawatir tidak akan bisa menerima undangan Aro, Demetri.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.