Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Ini tur pribadi,” sahut Alice, menyunggingkan senyum memikat. Ia mengulurkan tangan ke luar jendela, ke terik matahari. Aku menegang, sebelum kemudian sadar bahwa ia mengenakan sarung tangan warna kulit sebatas siku. Alice meraih tangan si penjaga yang masih terangkat sehabis mengetuk kaca jendelanya tadi, lalu menariknya ke dalam mobil. Alice meletakkan sesuatu ke telapak tangan si penjaga, lalu menutup jari-jarinya.

Wajah si penjaga tampak linglung waktu ia menarik kembali tangannya dan memandangi gulungan tebal uang yang kini dipegangnya. Yang terluar adalah lembaran seribu dolar.

“Apakah ini lelucon?” gumam si penjaga.

Senyum Alice membutakan. “Hanya bila Anda menganggapnya lucu.”

Penjaga itu menatap Alice, matanya membelalak lebar. Dengan gugup kulirik jam di dasbor. Kalau Edward tetap dengan rencana semula, kami hanya punya waktu lima menit.

“Aku agak terburu-buru,” ucap Alice, masih tersenyum.

Penjaga itu mengerjap dua kali, kemudian menyurukkan uang itu ke dalam rompinya. Ia mundur selangkah menjauhi jendela dan melambaikan tangan, menyilakan kami lewat. Tampaknya tak ada yang menyadari perpindahan uang secara diam-diam tadi, Alice melaju memasuki kota, dan kami sama-sama mengembuskan napas lega.

Jalanan sangat sempit, dilapisi bebatuan yang warnanya sama dengan bangunan-bangunan cokelat kayu manis pudar yang menutupi jalan dengan bayang-bayangnya. Rasanya seperti yang menutupi berada di gang. Bendera-bendera merah menghiasi dinding, satu sama lain hanya berjarak beberapa meter, berkibar-kibar ditiup angin yang melengking di jalan sempit itu.

Jalanan penuh sesak, dan para pejalan kaki membuat laju kami terhambar.

“Tidak jauh lagi,” Alice menyemangatiku; tanganku mencengkeram pegangan pintu, siap meloncat ke jalan begitu mendapat aba-aba dari Alice.

Alice memacu mobil dengan cepat sambil sesekali mengerem mendadak, dan orang-orang di jalan mengacungkan tinju mereka kepada kami dan meneriakkan kata-kata bernada marah yang untungnya tidak kumengerti. Ia berbelok memasuki jalan kecil yang tak mungkin diperuntukkan bagi mobil; orang-orang yang shock sampai harus menempelkan tubuh rapat-rapat ke ambang pintu di pinggir jalan saat kami lewat. Kami menemukan jalan lain di ujungnya. Bangunan-bangunan di sini lebih tinggi; lantai teratas condong ke jalan dan bertemu di tengah sehingga tak ada sinar matahari menyentuh trotoar—bendera-bendera merah yang berkibar di tiap-tiap sisi nyaris bersentuhan. Kerumunan orang di sini bahkan lebih padat daripada di tempat lain. Alice menghentikan mobil. Aku sudah membuka pintu sebelum mobil sepenuhnya berhenti.

Alice menuding ke jalan yang melebar ke sepetak ruang terbuka yang terang benderang. “Di sana— kita sekarang di selatan alun-alun. Larilah menyeberangi alun-alun, ke kanan menara jam. Aku akan mencari jalan memutar—”

Napas Alice mendadak terkesiap, dan saat ia bicara lagi; suaranya berupa desisan. “Mereka ada di mana-mana!”

Aku langsung tegang, tapi Alice mendorongku keluar mobil. “Lupakan mereka. Waktumu tinggal dua menit. Lari, Bella, lari!” teriaknya, turun dari mobil sambil bicara.

Aku tak sempat melihat Alice melebur dalam bayang-bayang. Aku juga tak sempat menutup pintu mobil di belakangku. Kudorong seorang wanita yang menghalangi jalanku dan berlari sekencang-kencangnya dengan kepala tertunduk, tidak menggubris apa pun kecuali batu-batu tidak rata di bawah kakiku.

Keluar dari lorong yang gelap, mataku dibutakan cahaya matahari yang menyorot tajam ke alunalun utama. Angin menderu menerpaku, menerbangkan rambut hingga menutupi mata dan semakin membutakan mataku. Tidak heran aku tidak melihat pagar betis di depanku sampai aku menabraknya.

Tak ada ruang lowong, tak ada celah sedikit pun di antara tubuh-tubuh yang saling berimpitan itu. Kudorong mereka dengan marah, melawan tangantangan yang balas mendorongku. Kudengar seruan-seruan kesal dan bahkan jerit kesakitan saat aku berjuang menerobos kerumunan, tapi tidak ada yang dilontarkan dalam bahasa yang kukenal. Wajah-wajah kabur yang penuh amarah dan kekagetan, lagi-lagi dikelilingi warna merah. Seorang wanita berambut pirang cemberut padaku, dan syal merah yang melilit lehernya tampak seperti luka mengerikan. Seorang anak yang dipanggul di atas bahu seorang laki-laki, menunduk dan nyengir padaku, bibirnya terbuka, memamerkan taring vampir dari plastik.

Kerumunan itu mendesak-desakku, memutar badanku ke arah yang salah. Aku senang ada menara jam yang bisa menjadi patokan, kalau tidak aku pasti sudah kehilangan arah. Tapi kedua jarum jam yang terpampang di sana beringsutingsut mengarah ke matahari yang tak kenal belas kasihan, dan walaupun aku mendorong kerumunan sekuat tenaga, aku tahu aku terlambat. Aku balikan belum sampai setengah jalan. Aku tidak akan berhasil. Aku tolol, lamban, dan aku manusia, dalami semua akan mari karenanya.

Aku berharap Alice bisa keluar. Aku berharap Alice akan melihatku dari balik bayang-bayang gelap dan tahu aku telah gagal, supaya ia bisa pulang ke Jasper.

Aku memasang telinga, berusaha mendengarkan di balik seruan-seruan bernada marah, suara yang akan menjadi pertanda bahwa hal yang kutakutkan telah terjadi: napas tertahan, mungkin teriakan, saat seseorang melihat Edward.

Namun saat itu ada celah di tengah kerumunan—aku bisa melihat ruang kosong di depan. Cepat-cepat aku berlari menghampirinya, tidak menyadarinya sampai tulang keringku memar menabrak bata. Rupanya ada kolam air mancur besar berbentuk segiempat, tepat di tengah alun-alun.

Aku nyaris menangis lega saat mengayunkan kakiku ke pinggir kolam dan berlari mengarungi air selutut. Air bercipratan di sekelilingku saat aku berlari melintasi air kolam. Bahkan di bawah terik matahari, angin yang bertiup terasa sangat dingin, dan basah membuat dingin itu menyakitkan. Tapi kolam air mancur itu sangat lebar; aku jadi bisa menyeberangi pusat alun-alun hanya dalam beberapa detik. Aku tidak berhenti saat mencapai sisi seberang—aku menggunakan dinding kolam yang rendah sebagai tumpuan, dan melemparkan diri ke tengah kerumunan.

Kini orang-orang justru menghindariku, tak ingin terciprat air dingin yang menetes-netes dari bajuku yang basah saat aku berlari. Aku menengadah, menatap jam lagi.

Dentang lonceng yang dalam dan menggemuruh bergaung ke segenap penjuru alun-alun. Getarannya terasa hingga ke batu-batu di bawah kakiku. Anak-anak menangis, menutup telinga. Dan aku mulai berteriak sambil berlari,

“Edward!” jeritku, tahu itu sia-sia. Kerumunan ini terlalu berisik, dan suaraku terengah-engah karena lelah. Tapi aku tak bisa berhenti berteriak.

Jam kembali berdentang. Aku berlari melewati seorang anak dalam gendongan ibunya— rambutnya nyaris putih di bawah cahaya matahari yang terik. Sekelompok lelaki jangkung, semuanya mengenakan blazer merah, berteriak mengingatkan saat aku menghambur menerobos mereka. Jam berdentang lagi.

Di balik para lelaki berblazer itu, tampak celah di tengah kerumunan, ruang kosong di antara para pengunjung yang berdesak-desakan di sekelilingku. Mataku menyapu lorong gelap di sebelah kanan alun-alun segiempat luas di bawah menara jam. Aku tak bisa melihat jalan—terlalu banyak orang yang menghalangiku. Jam kembali berdentang.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.