Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Ya. Namanya Elizabeth. Elizabeth Masen. Ayahnya, Edward Senior, tidak pernah tersadar selama di rumah sakit. Dia meninggal saat gelombang pertama serangan influenza terjadi. Tapi Elizabeth sadar nyaris hingga menjelang meninggal. Edward mirip sekali dengannya—warna rambutnya juga pirang tembaga, begitu juga matanya, sama-sama hijau.”

“Mata Edward dulu hijau?” gumamku, berusaha membayangkannya.

“Ya…” Carlisle menerawang jauh. “Elizabeth sangat mengkhawatirkan putranya. Dia mempertaruhkan peluangnya untuk selamat dengan berusaha merawat Edward dalam keadaan sakit. Kusangka Edward-lah yang akan lebih dulu meninggal, kondisinya jauh lebih parah daripada ibunya. Saat maut menjemput Elizabeth, prosesnya sangat cepat. Kejadiannya tepat setelah matahari terbenam, dan aku datang untuk menggantikan para dokter yang sudah bekerja seharian. Saat itu rasanya sulit sekali berpura-pura—begitu banyak yang harus ditangani, dan aku tidak butuh istirahat. Betapa bencinya aku harus pulang ke rumah, bersembunyi dalam gelap dan berpurapura tidur padahal begitu banyak orang yang sekarat.

“Pertama-tama aku pergi untuk mengecek keadaan Elizabeth dan putranya. Aku mulai merasa terikat pada mereka–hal yang berbahaya mengingat kondisi manusia yang rapuh. Begitu melihatnya, aku langsung tahu kondisi Elizabeth semakin parah. Demamnya tak terkendali, dan tubuhnya sudah tak kuat lagi melawan.

“Tapi dia tidak tampak lemah, saat dia memandangiku dengan mata menyala-nyala dari ranjangnya.”

‘”Selamatkan dia!’ pintanya padaku dengan suara serak yang sanggup dikeluarkan tenggorokannya.

‘”Aku akan berusaha semampuku’ aku berjanji padanya, meraih tangannya. Demamnya tinggi sekali, hingga ia bahkan tak bisa merasakan tanganku yang sangat dingin itu. Semua terasa dingin di kulitnya.

“’Kau harus bisa,’ desaknya, mencengkeram tanganku begitu kuat hingga aku bertanya-tanya dalam hati apakah ia bisa selamat dari krisis ini. Matanya keras, seperti batu, seperti zambrud. ‘Kau harus melakukan semua yang mampu kaulakukan. Apa yang orang lain tidak bisa, itulah yang harus kaulakukan untuk Edward-ku.’

“Aku ketakutan. Dia menatapku dengan matanya yang tajam menusuk, dan, sesaat, aku yakin dia tahu rahasiaku. Kemudian demam menguasainya, dan dia tak pernah sadar lagi. Dia meninggal hanya satu jam setelah mengutarakan tuntutannya padaku.

“Berpuluh-puluh tahun lamanya aku mempertimbangkan untuk menciptakan pendamping untuk hidupku. Hanya satu makhluk lain yang bisa benar-benar mengenalku, bukan aku yang berpura-pura. Tapi aku tak pernah bisa menemukan pembenaran untukku – melakukan seperti yang pernah dilakukan terhadapku.

“Lalu di sanalah Edward berbaring, sekarat. Jelas sekali dia hanya punya waktu beberapa jam. Di sampingnya terbaring ibunya, entah bagaimana wajahnya tetap tidak tampak tenang, meski dalam kematian.”

Carlisle seperti melihat lagi semuanya, kenangannya tidak pudar meski seabad telah berlalu. Aku juga bisa melihatnya dengan jelas, saat Carlisle bicara—“keputusasaan yang melingkupi rumah sakit, atmosfer kematian yang terlampau kuat. Tubuh Edward panas membara oleh demam, nyawanya terancam seiring dengan detik-detik yang berjalan… sekujur tubuhku lagi-lagi bergidik, mengenyahkan bayangan itu dari pikiranku.

“Kata-kata Elizabeth terngiang-ngiang di kepalaku. Bagaimana dia bisa menebak apa yang bisa kulakukan? Mungkinkah ada orang yang benar-benar menginginkan hal itu untuk anaknya?

“Kupandangi Edward. Meski sakit keras, dia tetap tampan. Ada sesuatu yang murni dan indah tergambar di wajahnya. Seperti yang kuinginkan di wajah anakku kalau aku punya anak.

“Setelah bertahun-tahun tak bisa memutuskan, aku langsung bertindak tanpa berpikir lagi. Pertama-tama, kudorong dulu jenazah ibunya ke kamar mayat, lalu aku kembali untuk menjemput Edward. Saat itu rumah sakit kekurangan tenaga dan perhatian untuk menangani setengah saja kebutuhan para pasien. Kamar mayat kosong—dari orang hidup, paling tidak. Diam-diam kubawa Edward keluar dari pintu belakang, kugendong melewati atap-atap rumah, kembali ke rumahku.

“Aku tidak tahu harus bagaimana. Kuputuskan untuk membuat kembali luka seperti yang pernah kuterima dulu, beberapa abad sebelumnya di London. Belakangan, aku merasa bersalah. Luka itu lebih menyakitkan dan lebih lama sembuh daripada yang sebenarnya diperlukan.

“Tapi aku tidak menyesal. Aku tidak pernah menyesal telah menyelamatkan Edward,” Carlisle menggeleng, kembali ke masa kini. Ia tersenyum padaku. “Kurasa sebaiknya kuantar kau pulang sekarang.”

“Biar aku saja,” kata Edward. Ia muncul dari arah ruang makan yang remang-remang, berjalan lambat-lambat untuk ukurannya. Wajahnya datar, ekspresinya tak terbaca, tapi ada yang tidak beres dengan matanya—sesuatu yang coba disembunyikannya sekuat tenaga. Aku merasa perutku seperti diaduk-aduk.

“Carlisle bisa mengantarku,” kataku. Aku menunduk memandang kemejaku; bahan katun biru mudanya basah oleh bercak-bercak darah. Bahu kananku berlepotan krim gula warna pink.

“Aku tidak apa-apa,” Suara Edward datar tanpa emosi. “Kau toh perlu ganti baju. Bisa-bisa Charlie terkena serangan jantung kalau melihatmu seperti itu. Akan kuminta Alice mencarikan baju untukmu.” Edward berjalan lagi keluar dari pintu dapur.

Kupandangi Carlisle dengan sikap waswas. “Dia kalut sekali.”

“Memang,” Carlisle sependapat. “Yang terjadi malam ini adalah apa yang paling ditakutinya bakal terjadi. Membahayakanmu, karena keadaan kami yang seperti ini.”

“Itu bukan salahnya.”

“Bukan salahmu juga.”

Aku mengalihkan tatapanku dan mata Carlisle yang indah dan bijak. Aku tidak sependapat dengannya.

Carlisle mengulurkan tangan dan membantuku berdiri. Kuikuti dia ke ruang utama. Esme sudah kembali; sedang mengepel lantai tempatku jatuh tadi—dengan cairan desinfektan murni tanpa campuran kalau menilik dari baunya.

“Esme, biar aku saja,” Bisa kurasakan wajahku kembali merah padam.

“Aku sudah selesai.” Esme mendongak dan tersenyum padaku. “Bagaimana keadaanmu?”

“Baik-baik saja,” aku meyakinkan dia. “Carlisle menjahit lebih cepat daripada dokter lain yang pernah menanganiku.”

Mereka berdua tertawa.

Alice dan Edward muncul dari pintu belakang. Alice bergegas mendapatiku, tapi Edward berdiri agak jauh, ekspresinya sulit digambarkan.

“Ayolah,” ajak Alice. “Akan kucarikan sesuatu yang tidak begitu mengerikan untuk dipakai.”

Alice menemukan kemeja Esme yang warnanya mendekati warna bajuku tadi. Charlie tak bakal memerhatikan, aku yakin. Perban putih panjang di lenganku tidak tampak terlalu serius setelah aku tak lagi memakai baju yang berlepotan bercak darah. Charlie toh tak pernah terkejut melihatku diperban.

“Alice,” bisikku saat ia kembali berjalan menuju pintu.

“Ya?” Suara Alice tetap pelan, memandangiku dengan sikap ingin tahu, kepalanya ditelengkan ke satu sisi.

“Seberapa parah?” Aku tak yakin apakah berbisik-bisik begini ada gunanya. Walaupun kami di lantai atas, dengan pintu tertutup, mungkin ia tetap bisa mendengarku.

Wajah Alice menegang. “Aku belum bisa memastikan.”

“Jasper bagaimana?”

Alice mendesah. “Dia sangat kesal pada dirinya sendiri. Itu memang lebih sulit baginya dibanding bagi yang lain, dan dia tidak suka merasa diri lemah.”

“Itu bukan salahnya. Bisa tolong katakan padanya aku tidak marah, sama sekali tidak marah padanya, bisa, kan?”

“Tentu saja.”

Edward menungguku di pintu depan. Begitu aku sampai di kaki tangga, ia membukakan pintu tanpa sepatah kata pun.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.