Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Alice berdecak kesal. “Kota itu menyelenggarakan perayaan setiap tahun. Menurut legenda, seorang misionaris Katolik, Pastor Marcus-Marcus dari Volturi, begitulah – berhasil mengenyahkan semua vampir dari Voltetra 1500 tahun yang lalu. Konon, sang pastor menjadi martir di Rumania, dalam upayanya menghilangkan wabah. Tentu saja itu hanya omong kosong – vampir itu tidak pernah meninggalkan kota. Tapi dari sanalah hal-hal takhayul seperti salib dan bawang putih berasal. Pastor Marcus sukses menggunakannya. Dan vampir tak pernah mengganggu Volterra, jadi pasti mujarab.”

Alice sinis. “Itu lantas menjadi semacam perayaan di kota, dan penghargaan bagi kepolisian

– bagaimanapun, Volterra kota yang luar biasa aman. Polisilah yang mendapat nama.”

Sadarlah aku apa yang dimaksud Alice dengan ironis. “Mereka pasti tidak senang kalau Edward mengacaukan semuanya justru Pada Hari Santo Marcus, kan?”

Alice menggeleng, ekspresinya muram. Tidak. Mereka akan bertindak sangat cepat.

Aku membuang muka, berjuang melawan kegelisahan yang membuat gigiku ingin menggigit bibir bawahku. Sekarang bukan saat yang tepat untuk berdarah.

Mengerikan, bagaimana matahari tampak sangat tinggi di langit yang biru pucat.

“Dia masih berencana menunggu sampai tengah hari?” tanyaku.

“Ya. Dia memutuskan untuk menunggu. Dan mereka menunggunya.”

“Katakan padaku apa yang harus kulakukan.”

Mata Alice tetap tertuju ke jalan yang berliku— jarum spidometer menyentuh angka paling kanan pada piringan.

“Kau tidak perlu melakukan apa-apa. Dia hanya harus melihatmu sebelum beranjak ke tempat terang. Dan dia harus melihatmu sebelum melihatku.”

“Bagaimana caranya?”

Mobil merah kecil tampak seperti ngebut dalam posisi mundur saat Alice melesat menyalipnya.

“Aku akan mengantarmu sedekat mungkin ke sana, kemudian kau harus berlari ke arah yang kutunjukkan.”

Aku mengangguk.

“Usahakan agar tidak tersandung” Alice menambahkan. Tidak ada waktu untuk gegat otak hari ini.”

Aku mengerang. Itu sangat khas aku— mengacaukan semuanya, menghancurkan dunia, hanya gara-gara kikuk sesaat.

Matahari terus menanjak di langit sementara Alice berpacu menduluinya. Cahayanya sangat terik, dan itu membuatku panik. Jangan-jangan Edward nanti merasa tak perlu menunggu sampai tengah hari.

“Itu,” kata Alice tiba-tiba, menuding kota kastil di puncak bukit terdekat.

Aku menatapnya, merasakan untuk pertama kalinya secercah ketakutan baru. Setiap menit sejak kemarin pagi—rasanya seperti sudah seminggu yang lalu—saat Alice mengucapkan namanya di kaki tangga, hanya ada satu ketakutan. Meski begitu, sekarang, saat aku menatap tembok-tembok bata merah kuno serta menara-menara yang menjulang di puncak bukit terjal, aku merasakan ketakutan lain yang lebih egois merayapi hatiku.

Menurutku kota itu sangat cantik. Namun kota itu benar-benar membuatku sangat ketakutan.

“Volterra,” kata Alice dengan suara datar dan dingin.

 

20. VOLTERRA

KAMI memulai pendakian yang terjal, dan jalanan makin lama makin sesak. Saat jalan berkelok semakin tinggi, mobil-mobil berjajar berimpitan hingga sulit bagi Alice untuk menyelipnyelip di antara mereka. Laju mobil kami melambat dan mulai merangkak di belakang Peugeot kecil cokelat.

“Alice,” erangku. Jam di dasbor tampaknya bergerak semakin cepat.

Hanya ini satu-satunya jalan masuk,” Alice mencoba menenangkan. Tapi suaranya terlalu tegang untuk bisa menenangkan

Mobil-mobil terus beringsut maju, setiap kali hanya mampu bergerak beberapa puluh senti. Terik matahari begitu cemerlang, rasanya sudah berada tepat di atas kepala.

Mobil-mobil merayap satu per satu menuju kota. Setelah kami semakin dekat, aku bisa melihat mobil-mobil diparkir * Pinggir jalan dan orang-orang turun, berjalan kaki. Mulanya kukira itu karena mereka tidak sabar – sesuatu yang bisa kupahami. Tapi kemudian mobil melewati tikungan, dan aku bisa melihat lapangan parkir di luar tembok kota, serta kerumunan orang berjalan melewati gerbang. Tak ada yang diizinkan masuk dengan mengendarai mobil.

“Alice,” bisikku mendesak.

“Aku tahu,” jawabnya. Wajahnya seperti pahatan es.

Sekarang setelah aku menyadarinya, dan karena mobil merayap sangat lambat hingga aku bisa melihat keadaan sekelilingku, ternyata hari sangat berangin. Orang-orang yang berdesak-desakan menuju pintu gerbang mencengkeram topi erat-erat dan menepis rambut dari wajah mereka. Pakaian mereka berkibaran. Aku juga melihat warna merah di mana-mana. Baju merah, topi merah, bendera merah menjulur bagaikan pita-pita panjang di samping gerbang, berkibar-kibar ditiup angin— tepat di depan mataku, syal merah terang yang dililitkan seorang wanita di rambutnya mendadak terbang tertiup angin. Syal itu terpilin ke udara, menggeliat-geliat seperti makhluk hidup. Wanita itu meraih syalnya, melompat ke udara, tapi syal itu berkibar lebih tinggi, seutas warna merah darah dengan latar belakang dinding tembok kuno yang kusam.

“Bella” Alice berkata dengan nada rendah dan mendesak. “Aku tidak bisa melihat apa yang akan diputuskan penjaga itu di sini—kalau aku tidak bisa masuk, kau harus masuk sendiri. Kau harus berlari. Tanya saja jalan menuju Palazzo dei Priori, dan berlarilah ke arah yang mereka tunjukkan. Jangan sampai tersesat.”

“Palazzo dei Priori, Palazzo dei Priori,” aku mengulang-ulang nama itu, berusaha menghafalnya.

“Atau ‘menara jam’, kalau mereka bisa berbahasa Inggris. Aku akan memutar dan berusaha mencari tempat sepi di belakang kota supaya bisa memanjat tembok.”

Aku mengangguk. “Palazzo dei Priori.”

“Edward akan berada di bawah menara jam, di utara alun-alun. Di sebelah kanannya ada gang sempit, dan dia menunggu di sana, di bawah bayang-bayang. Kau harus menarik perhatiannya sebelum dia keluar ke bawah terik matahari.”

Aku mengangguk-angguk cepat.

Alice sudah mendekati bagian depan barisan. Tampak seorang lelaki berserat biru laut mengarahkan arus lalu lintas, membelokkan mobil-mobil menjauhi lapangan parkir yang penuh. Mobil-mobil itu berputar arah dan kembali untuk mencari tempat parkir di pinggir jalan. Lalu tibalah giliran Alice.

Lelaki berseragam itu menggerak-gerakkan tangannya dengan sikap ogah-ogahan, tidak memerhatikan. Alice menekan pedal gas, menyusup di sampingnya, melaju menuju gerbang. Lelaki itu meneriakkan sesuatu pada kami, tapi tetap berdiri di tempat, melambai-lambaikan tangan kalang-kabut pada mobil berikut agar tidak meniru kelakuan buruk kami.

Lelaki di pintu gerbang mengenakan seragam yang sama. Saat kami mendekat, gerombolan turis melewati kami, memenuhi trotoar, memandang dengan sikap ingin tahu Porsche mewah yang memaksa masuk itu.

Si penjaga berdiri tepat di tengah jalan. Alice memiringkan mobil hati-hati sebelum berhenti. Sinar matahari menerpa jendelaku, dan Alice terlindung oleh bayang-bayang. Dengan cekatan tangannya terulur ke belakang kursi dan menyambar sesuatu dari dalam tasnya.

Penjaga itu menghampiri mobil dengan ekspresi kesal, lalu dengan marah mengetuk kaca jendela Alice.

Alice menurunkan kaca jendelanya separo, dan kulihat penjaga itu terperangah sedikit begitu melihat wajah yang menyembul di balik kaca mobil yang gelap.

“Maaf hanya bus pariwisata yang diperkenankan masuk k, kota hari ini, Miss,” kata penjaga itu dengan bahasa Inggris patah-patah yang berlogat kental. Nadanya kini meminta maaf, seolah-olah menyesal harus menyampaikan kabar buruk pada wanita yang sangat memesona.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.