Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Kau bisa melihatku kadang-kadang,” aku mengingatkannya.

Alice menggeleng. “Tidak sejelas aku melihat Edward.”

Aku mendesah. “Kalau saja kau benar-benar bisa melihat masa depanku dengan tepat. Awalnya, waktu kau pertama kali melihat hal-hal tentang aku, bahkan sebelum kita bertemu…”

“Apa maksudmu?”

“Kau melihatku menjadi seperti kalian.” Aku mengatakannya nyaris tanpa suara.

Alice mendesah. “Itu merupakan kemungkinan pada waktu itu.”

“Pada waktu itu,” aku mengulangi.

“Sebenarnya, Bella…” Alice ragu-ragu sejenak, kemudian sepertinya mengambil pilihan. “Jujur saja, rasanya ini jadi semakin konyol. Aku berdebat dengan diriku, apakah aku harus mengubahmu sendiri.”

Kutatap Alice, membeku oleh perasaan shock. Serta-merta pikiranku menolak kata-katanya. Aku tidak boleh terlalu berharap, takut ia berubah pikiran.

“Apakah aku membuatmu takut?” tanya Alice. “Kusangka memang itulah yang kauinginkan.”

“Memang!” aku terkesiap. “Oh, Alice, lakukan sekarang! Aku bisa membantumu—dan aku tidak akan memperlambat larimu. Gigit aku!”

“Ssstt,” Alice memperingatkan. Si pramugara lagi-lagi melihat ke arah kami. “Cobalah berpikir jernih,” bisiknya. “Waktunya tidak cukup. Kita harus sampai di Volterra besok. Padahal kalau aku menggigitmu, kau akan menggeliat-geliat kesakitan berhari-hari.” Alice mengernyitkan muka. “Dan bayangkan saja bagaimana reaksi para penumpang lain.”

Aku menggigit bibir. “Kalau kau tidak melakukannya sekarang, kau akan berubah pikiran.”

“Tidak” Alice mengerutkan kening, ekspresinya tidak senang. “Kurasa aku tidak akan berubah pikiran. Edward pasti akan marah, tapi apa lagi yang bisa dia lakukan?”

Jantungku berdegup semakin kencang. “Tidak ada.”

Alice tertawa pelan, kemudian mendesah. “Kau terlalu percaya padaku, Bella. Aku tidak yakin apakah aku bisa. Bisa-bisa kau malah terbunuh nanti.”

“Aku berani mengambil risiko itu.”

“Kau ini sangat aneh, bahkan untuk ukuran manusia.”

“Trims.”

“Oh Well, saat ini, ini kan hanya hipotesis. Pertama-tama, kita harus bisa melewati hari esok lebih dulu.”

“Benar sekali,” Tapi setidaknya aku punya sesuatu yang bisa diharapkan seandainya kami selamat melewati hari esok. Kalau Alice benarbenar menepati janjinya—dan kalau dia tidak membunuhku—maka Edward boleh mengejar apa saja yang dia inginkan untuk mengalihkan pikirannya, dan aku bisa mengikutinya. Aku tidak akan membiarkannya memikirkan hal lain. Mungkin, kalau aku cantik dan kuat, dia tidak ingin memikirkan hal lain.

“Tidurlah lagi,” Alice menyuruhku. Aku akan membangunkanmu kalau ada perkembangan baru.”

“Baiklah,” gerutuku, yakin aku takkan bisa tidur lagi. Alice mengangkat kedua kakinya ke kursi, merangkulnya dengan kedua tangan dan meletakkan dahinya ke lutut. Ia bergoyang majumundur sambil berkonsentrasi.

Aku meletakkan kepalaku ke kursi, menatapnya, dan tahu-tahu waktu aku sadar, kulihat Alice menurunkan penutup jendela dengan keras, menghalangi cahaya matahari yang mulai merekah di ufuk timur.

“Apa yang terjadi?” gumamku.

“Mereka sudah menolak permintaannya,” kata Alice pelan. Aku langsung bisa melihat antusiasme Alice lenyap sama sekali.

Suaraku tercekat di tenggorokkan karena panik. “Apa yang akan Edward lakukan?”

“Kacau sekali awalnya. Aku hanya bisa melihat sepotong-potong, rencananya berubah-ubah sangat cepat.”

“Apa saja rencananya?” desakku.

“Waktunya sangat tidak tepat,” bisik Alice. “Awalnya dia memutuskan untuk berburu.”

Alice menatapku, melihat mimik tak mengerti tergambar di wajahku.

“Di kota,” ia menjelaskan. “Dia sudah hampir melakukannya. Tapi dia berubah pikiran pada saat-saat terakhir.”

“Dia tidak mau mengecewakan Carlisle,” gumamku. Tidak pada akhirnya.

“Mungkin,” Alice sependapat.

“Cukupkah waktunya?” Saat aku bicara, terasa ada perubahan tekanan udara dalam kabin pesawat. Aku bisa merasakan pesawat mengurangi ketinggian.

“Mudah-mudahan cukup—kalau Edward tetap pada keputusan terakhirnya, mungkin.”

“Apa itu?”

“Mudah saja. Dia akan berdiri di bawah terik matahari.”

Berdiri di bawah terik matahari. Hanya itu.

Itu saja sudah cukup. Bayangan Edward berdiri di tengah padang rumput—kulitnya berkilauan dan berpendar-pendar seolah-olah terbuat dari jutaan berlian—terpatri sangat jelas dalam ingatanku. Tak seorang manusia pun yang melihatnya akan melupakannya. Keluarga Volturi tidak mungkin mengizinkan itu terjadi. Tidak bila mereka ingin tetap merahasiakan keberadaan mereka di kota itu.

Kupandangi seberkas cahaya abu-abu yang menerobos masuk lewat jendela-jendela terbuka. “Kita akan terlambat” bisikku, kerongkonganku tercekat oleh kepanikan.

Alice menggeleng. “Saat ini, dia cenderung ingin melakukan hal yang melodramatis. Dia ingin dirinya ditonton sebanyak mungkin orang, jadi dia akan memilih alun-alun utama, di bawah menara jam. Tembok-tembok di sana tinggi. Dia akan menunggu sampai matahari tepat di atas kepala.

“Jadi kita punya waktu sampai tengah hari?”

“Kalau kita beruntung. Kalau dia tetap dengan keputusannya.”

Suara pilot bergaung melalui interkom, mengumumkan, pertama dalam bahasa Prancis lalu Inggris, bahwa kami akan segera mendarat. Lampu sabuk pengaman menyala dengan suara berdenting.

“Seberapa jauh perjalanan dari Florence ke Volterra?”

“Tergantung seberapa cepat kau menyetir… Bella?”

“Ya?”

Alice menatapku dengan sikap spekulatif. “Bagaimana pendapatmu tentang pencurian mobil mewah?

Sebuah Porsche kuning terang berhenti dengan suara rem berdecit nyaring beberapa meter di depanku yang berjalan mondar-mandir, tulisan TURBO dengan huruf-huruf melengkung perak terpampang di bagian belakangnya. Semua orang di trotoar bandara yang penuh sesak memerhatikan mobil itu.

“Cepat, Bella!” Alice berteriak tak sabar lewat jendela yang terbuka.

Aku berlari ke pintu dan melompat masuk, rasanya ingin sekali menutupi wajahku dengan stoking hitam seperti pencuri.

“Ya ampun, Alice,” keluhku. “Apa kau tidak bisa memilih mobil lain yang lebih mencolok untuk dicuri?”

Interior mobil itu berlapis kulit hitam, dan jendela-jendelanya dilapisi kaca film gelap. Rasanya lebih aman berada di dalam, seperti malam hari.

Alice meliuk-liukkan mobil, terlalu kencang, menerobos lalu lintas bandara yang ramai— menyusup di antara ruang-ruang lowong tipis di antara mobil-mobil sementara aku tegang ketakutan dan tanganku meraba-raba mencari sabuk pengaman.

“Pertanyaan yang lebih penting,” Alice mengoreksi, “apakah aku tidak bisa mencuri mobil lain yang bisa berlari lebih cepat, dan jawabannya tidak. Aku beruntung.”

“Aku yakin akan sangat menenteramkan kalau jalan-jalan diblokir.”

Alice tertawa keras. “Percayalah padaku, Bella. Kalaupun ada pemblokiran jalan, itu terjadi di belakang kita.” Diinjaknya pedal gas dalam-dalam, seolah ingin membuktikan kata-katanya.

Mungkin seharusnya aku melihat-lihat pemandangan di luar jendela, ke kota Florence kemudian Tuscan yang kulewati dengan sangat cepat hingga pemandangan terlihat kabur. Ini perjalanan pertamaku ke mana pun, dan mungkin juga yang terakhir. Tapi cara Alice menyetir membuatku ngeri, meskipun aku tahu aku bisa memercayainya di balik kemudi. Dan aku terlalu tersiksa oleh perasaan gelisah hingga tak ingin melihat perbukitan atau kota-kota berpagar tembok yang tampak bagaikan kastil di kejauhan.

“Ada lagi yang kaulihat?”

“Ada sesuatu yang terjadi,” gumam Alice. “Semacam festival. Jalan-jalan dipenuhi orang dan bendera-bendera merah. Sekarang tanggal berapa?”

Aku tidak yakin. “Tanggal sembilan belas, mungkin?’

“Well, ironis sekali. Ini hari Santo Marcus.”

“Berarti apa?”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.