Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Jadi Edward…”

“Berencana melecehkan peraturan itu di kota mereka sendiri—kota yang diam-diam telah mereka kuasai selama tiga ribu tahun, sejak Zaman Etruria. Saking protektifnya terhadap kota mereka, mereka tidak mengizinkan perburuan di dalam tembok kota. Bisa jadi Volterra kota teraman di dunia—setidaknya dari serangan vampir.”

“Tapi katamu tadi mereka tidak pernah meninggalkan kota. Lantas bagaimana mereka makan?”

“Mereka tidak pergi. Mereka membawa makanan mereka dari luar, terkadang dari tempat-tempat sangat jauh. Dengan begitu para pengawal punya kegiatan lain bila tidak sedang menghabisi para vampir yang membelot. Atau melindungi Volterra dari hal-hal yang tak diinginkan…”

“Dari situasi seperti ini, seperti Edward,” aku menyelesaikan kalimatnya. Menakjubkan betapa mudahnya mengucapkan nama Edward sekarang. Aku tak yakin apa perbedaannya. Mungkin karena aku tak berniat hidup lebih lama lagi kalau tak bisa bertemu dengannya. Atau tidak hidup sama sekali, kalau kami terlambat. Tenang rasanya karena tahu aku bisa mengakhirinya dengan mudah.

“Aku ragu mereka pernah menghadapi situasi seperti ini,” gumam Alice, kesal. “Tak banyak vampir yang ingin bunuh diri.”

Suara yang keluar dari mulutku sangat pelan, tetapi Alice sepertinya mengerti itu jerit kesedihan. Ia dengan lengannya yang kurus dan kokoh.

“Kita akan berusaha semampu kita, Bella. Ini belum berakhir.”

“Memang belum.” Aku membiarkan Alice menghiburku, meski tahu ia menganggap peluang kami sangat kecil. “Dan keluarga Volturi akan menghabisi kita kalau kita gagal.”

Alice menegang. “Sepertinya kau malah senang.”

Aku mengangkat bahu.

“Hentikan, Bella, atau kita berbalik di New York dan kembali ke Forks.”

“Apa?”

“Kau tahu maksudku. Kalau kita terlambat menyelamatkan Edward, aku akan berusaha sekuat tenaga mengembalikanmu ke Charlie, dan aku tak mau kau berulah macam-macam. Mengerti?”

“Tentu, Alice.”

Alice mundur sedikit agar bisa memelototiku. “Jangan macam-macam.”

“Sumpah pramuka ” tukasku.

Alice memutar bola matanya.

“Biarkan aku berkonsentrasi sekarang. Aku akan mencoba melihat apa yang direncanakannya.”

Sebelah tangan Alice tetap merangkulku, tapi ia menyandarkan kepalanya ke kursi dan memejamkan mata. Ia menempelkan tangan satunya ke sisi wajah, mengusap-usapkan ujung jarinya ke pelipis.

Aku mengawasinya dengan takjub. Akhirnya ia diam, tak bergerak sama sekali.

Menit-menit berlalu, dan kalau aku tidak mengenalnya, aku mungkin mengira Alice tertidur. Aku tidak berani mengganggunya untuk bertanya.

Aku tidak mengizinkan diriku membayangkan kengerian yang akan kami hadapi, atau, yang lebih mengerikan, kemungkinan bahwa kami bakal gagal—tidak kalau aku tak ingin menjerit sekeraskerasnya.

Aku juga tak bisa mengantisipasi apa-apa. Mungkin kalau aku sangat, sangat, sangat beruntung, aku bisa menyelamatkan Edward, bagaimanapun caranya. Tapi aku tidak setolol itu, mengira dengan menyelamatkannya, aku bisa tinggal bersamanya. Aku tidak berbeda, tidak lebih istimewa daripada sebelumnya. Tak ada alasan baru mengapa ia menginginkanku sekarang. Bertemu dengannya dan kemudian kehilangan dia lagi…

Kulawan rasa sedih itu. Ini harga yang harus kubayar untuk menyelamatkan hidupnya. Aku akan membayarnya.

Film diputar, dan penumpang di sebelahku memasang headphone. Terkadang aku melihat juga sosok-sosok yang berkelebat di layar monitor yang kecil, tapi tidak tahu apakah itu film roman atau horor.

Rasanya seperti berabad-abad baru pesawat mulai mengurangi ketinggian untuk mendarat di New York City. Alice bergeming dalam trance-nya. Aku bingung harus bagaimana. Kuulurkan tanganku untuk menyentuhnya, tapi lalu kutarik lagi. Ini terjadi belasan kali sebelum pesawat terguncang menyentuh landasan.

“Alice,” kataku akhirnya. “Alice, kita harus turun.”

Aku menyentuh lengannya.

Pelan-pelan sekali mata Alice terbuka. Ia menggeleng sebentar.

“Ada yang baru?” tanyaku pelan, takut terdengar lelaki di sebelahku.

“Tidak juga,” jawab Alice sambil mengembuskan napas, nyaris tak bisa kutangkap. “Dia semakin dekat. Dia sedang memutuskan bagaimana dia akan memintanya.”

“Kami harus berlari mengejar pesawat yang akan membawa kami ke Italia, tapi itu bagus – lebih baik begitu daripada harus menunggu. Alice memejamkan mata dan kembali hanyut ke trance seperti sebelumnya. Aku menunggu sesabar mungkin. Ketika hari kembali gelap aku membuka penutup jendela untuk memandang ke luar, ke kegelapan yang menghampar tak ada bedanya dengan memandangi penutup jendela.

Aku bersyukur selama beberapa bulan ini aku banyak berlatih mengendalikan pikiran. Jadi, alihalih memikirkan berbagai kemungkinan mengerikan, tak peduli apa pun kata Alice, aku tidak berniat tetap hidup, aku berkonsentrasi memikirkan masalah-masalah lain yang lebih ringan. Misalnya saja, apa yang akan kukatakan pada Charlie sepulangnya aku nanti? Itu masalah pelik yang cukup menyita pikiran selama beberapa jam. Dan Jacob? Ia berjanji akan menunggu, tapi apakah janji itu masih berlaku? Apakah aku akan sendirian di Forks nanti, tanpa siapa-siapa sama sekali? Mungkin aku tidak ingin benahan hidup, tak peduli apa pun yang terjadi.

Rasanya baru beberapa detik kemudian Alice mengguncang bahuku—ternyata aku ketiduran.

“Bella,” desisnya, suaranya agak terlalu keras di kabin gelap yang dipenuhi orang-orang yang sedang tidur.

Aku tidak mengalami disorientasi—tidurku belum cukup lama.

“Ada apa?”

Mata Alice berkilat di bawah lampu baca remang-remang dari barisan di belakang kami.

“Tidak ada apa-apa.” Alice tersenyum senang. “Kabar baik. Mereka berunding, tapi sudah memutuskan untuk menolak permintaannya.”

“Keluarga Volturi?” gumamku, masih mengantuk.

“Tentu saja, Bella, perhatikan. Aku bisa melihat apa yang akan mereka katakan.”

“Beritahu aku.”

Seorang pramugara berjingkat-jingkat menyusuri lorong, menghampiri kami. “Boleh saya ambilkan bantal untuk Anda?” Bisikan pelannya seperti menegur kami karena kami bercakap-cakap cukup keras.

“Tidak, terima kasih.” Alice menengadah dan tersenyum lebar padanya, senyumnya luar biasa manis. Pramugara itu tampak keheranan saat berbalik dan tersaruk-saruk kembali ke tempatnya.

“Beritahu aku,” bisikku, nyaris tak terdengar. Alice berbisik-bisik di telingaku. “Mereka tertarik padanya—menurut mereka, bakat Edward bisa sangat berguna. Mereka akan menawarinya tinggal bersama mereka.”

“Apa yang akan dikatakan Edward?”

“Aku belum bisa melihatnya, tapi berani taruhan pasti seru” Alice nyengir lagi. “Ini kabar baik pertama—titik terang pertama. Mereka tertarik; mereka benar-benar tak ingin menghancurkan dia—mubazir, begitulah istilah yang akan digunakan Aro—dan mungkin itu cukup membuat Edward menjadi kreatif. Semakin banyak waktu yang dia habiskan untuk memikirkan rencananya, semakin baik bagi kita.”

Penjelasan itu tak cukup membuatku berharap, membuatku merasakan kelegaan yang jelas sekali dirasakan Alice. Masih begitu banyak kemungkinan kami bisa terlambat. Dan kalau aku tidak bisa melewati tembok kota Volturi, aku tidak akan mampu menghentikan Alice menyeretku kembali ke rumah.

“Alice?”

“Apa?”

“Aku bingung. Bagaimana kau bisa melihat sejelas itu? Sementara di lain waktu, kau melihat kejadian-kejadian yang sangat jauh – peristiwaperistiwa yang tidak terjadi?’

“Mata Alice berubah kaku. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah ia bisa menebak isi pikiranku.

“Aku bisa melihatnya dengan jelas karena peristiwanya langsung dan dekat, dan karena aku benar-benar berkonsentrasi. Kejadian-kejadian yang sangar jauh datang sendiri – itu hanya pencuatan sekelebat, kemungkinan-kemungkinan saman Tambahan lagi, aku melihat jenisku lebih jelas daripada aku melihat jenismu. Edward bahkan lebih mudah lagi, karena hubunganku sangat dekat dengannya.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.