Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Ada alasan kedua tentu saja, alasan yang tidak bisa kuungkapkan pada Jasper. Karena bila mereka ada di sana dan keluarga Volturi membunuh Edward, mereka pasti akan melawan keluarga Volturi, Bella.” Alice membuka matanya dan menatapku, memohon. “Kalau saja ada kesempatan kami bisa menang… kalau saja ada kesempatan kami berempat bisa menyelamatkan saudara kami dengan bertempur untuknya, mungkin ceritanya akan lain. Tapi kami tidak bisa, dan, Bella, aku tidak sanggup kehilangan Jasper seperti itu.”

Sadarlah aku mengapa mata Alice memohon pengertianku. Ia melindungi Jasper, dengan mempertaruhkan nyawa kami sendiri, dan mungkin nyawa Edward juga. Aku mengerti, dan aku tidak berpikir buruk tentangnya. Aku mengangguk.

“Apakah Edward tidak bisa mendengarmu?” tanyaku. “Tidak bisakah dia tahu, begitu mendengar pikiranmu, bahwa aku masih hidup, bahwa tidak ada gunanya melakukan hal ini?”

Bukan berarti kalau aku sudah mati ia bisa dibenarkan melakukannya. Aku masih tidak percaya ia sanggup bereaksi seperti ini. Sungguh tak masuk akal! Aku ingat sangat jelas katakatanya hari itu di sofa, ketika kami nonton Romeo dan Juliet bunuh diri, yang satu menyusul yang lain. Aku tidak mau hidup tanpa kau, begitu kata Edward waktu itu, seolah-olah itu kesimpulan yang sangat jelas. Tapi kata-kata yang diucapkannya di hutan saat ia meninggalkanku telah membuyarkan semua itu—secara paksa.

“Kalau dia mendengarkan,” Alice menjelaskan. “Tapi percaya atau tidak, mungkin saja untuk membohongi pikiranmu. Seandainya kau sudah meninggal, aku akan tetap berusaha menghentikannya. Dan aku akan berpikir ‘Bella masih hidup, Bella masih hidup’ sekuat tenaga. Dia tahu itu ”

Kukertakkan gigiku dengan perasaan frustrasi.

“Kalau kami bisa melakukan ini tanpa kau, Bella, aku tidak akan membahayakan keselamatanmu seperti ini. Tindakanku ini sangat tidak bisa dibenarkan.”

“Jangan tolol. Itu hal terakhir yang seharusnya kaukhawatirkan” Aku menggeleng dengan sikap tak sabar. “Ceritakan apa yang kaumaksud waktu bilang kau tidak suka harus membohongi Jasper.”

Alice menyunggingkan senyum muram. “Aku berjanji padanya akan keluar sebelum mereka membunuhku juga. Padahal aku tidak bisa menjamin—itu sangat tidak mungkin.” Alice mengangkat alis, seolah-olah berusaha meyakinkanku untuk lebih serius lagi menanggapi bahaya itu.

“Siapa sebenarnya keluarga Volturi ini?” tanyaku berbisik. “Apa yang membuat mereka jauh lebih berbahaya dari pada Emmett, Jasper, Rosalie, dan kau?” Sulit membayangkan hal lain yang lebih mengerikan daripada itu.

Alice menarik napas dalam-dalam, sekonyongkonyong melayangkan pandangan tidak suka ke balik bahuku Aku menoleh dan masih sempat melihat lelaki yang duduk di seberang gang membuang muka. seakan-akan tidak sedang menguping pembicaraan kami. Kelihatannya ia pengusaha, bersetelan jas lengkap dengan dasi dan laptop di pangkuan. Ketika aku menatapnya kesal, lelaki itu membuka komputer dan dengan lagak terang-terangan memasang headphone di telinganya.

Aku mencondongkan tubuh lebih dekat kepada Alice. Bibirnya tepat di telingaku saat ia membisikkan ceritanya.

“Aku kaget waktu kau mengenali nama itu,” katanya. “Bahwa kau langsung mengerti maksudku—waktu kukatakan Edward pergi ke Italia. Awalnya kukira aku harus menjelaskan. Seberapa banyak yang sudah diceritakan Edward padamu?”

“Dia hanya mengatakan mereka keluarga tua yang berkuasa, seperti bangsawan. Bahwa kau tidak boleh membuat mereka kesal kecuali kau ingin… mati,” bisikku. Kata terakhir itu sangat sulit diucapkan.

“Kau harus mengerti,” ujar Alice, suaranya lebih lambat, lebih terukur. “Kami keluarga Cullen unik dalam banyak hal, lebih daripada yang kauketahui. Sebenarnya… justru tidak normal kalau begitu banyak di antara kami bisa hidup bersama dalam damai. Sama halnya dengan keluarga Tanya di utara, dan Carlisle berspekulasi bahwa dengan tidak mengisap darah manusia, akan lebih mudah bagi kami untuk bisa hidup beradab, membentuk ikatan yang didasarkan pada kasih, bukan sematamata untuk bertahan hidup atau perasaan nyaman. Bahkan kelompok kecil James yang terdiri atas tiga vampir itu bisa dikatakan besar— dan kaulihat sendiri betapa mudahnya Laurent meninggalkan mereka. Biasanya jenis kami bepergian sendirian, atau berpasang-pasangan. Keluarga Carlisle yang terbesar saat ini, sepanjang pengetahuanku, kecuali satu keluarga lain. Keluarga Volturi.

“Aslinya, mereka bertiga, Aro, Caius, dan Marcus.”

“Aku pernah melihat mereka,” gumamku. “Di lukisan di ruang kerja Carlisle.”

Alice mengangguk. “Dua wanita bergabung dengan mereka kemudian, dan mereka berlima membentuk keluarga. Entahlah, tapi menurutku usia merekalah yang memberi mereka kemampuan untuk hidup bersama dengan damai. Usia mereka tiga ribu tahun lebih. Atau mungkin bakat khusus mereka yang membuat mereka sengaja bertoleransi. Seperti Edward dan aku, Aro dan Marcus juga… berbakat.”

Alice melanjutkan ceritanya sebelum aku sempat bertanya. “Atau mungkin juga kecintaan mereka pada kekuasaan yang menyatukan mereka. Menyebut mereka dengan istilah bangsawan adalah sangat tepat.”

“Tapi kalau hanya lima—”

“Lima yang membentuk keluarga,” Alice mengoreksi. “Itu belum termasuk pengawal mereka.”

Aku menghela napas dalam-dalam. “Kedengarannya… serius.”

“Oh, memang,” Alice meyakinkan aku. “Ada sembilan pengawal tetap, begitulah yang terakhir kami dengar. Yang lain-lain… tidak tetap. Gontaganti. Dan banyak di antara mereka juga berbakat

– dengan bakat-bakat luar biasa, membuat apa yang bisa kulakukan terlihat seperti tipuan murahan. Mereka dipilih keluarga Volruri karena kemampuan mereka, baik cara fisik maupun yang lain.”

Aku membuka mulut, tapi lalu menutupnya lagi. Kurasa aku tak ingin tahu seberapa kecil peluang menang dari mereka.

Alice mengangguk lagi, seolah-olah mengerti apa yang kupikirkan. “Mereka jarang terlibat konfrontasi. Tak ada yang setolol itu hingga mau mencari gara-gara dengan mereka. Mereka tetap tinggal di kota dan hanya pergi untuk melaksanakan kewajiban.”

“Kewajiban?” aku keheranan.

“Edward tidak menceritakan padamu apa yang mereka lakukan?”

“Tidak,” jawabku, merasa wajahku kosong tanpa ekspresi.

Alice melongok lagi ke balik bahuku, ke arah si lelaki pengusaha, lalu mendekatkan bibirnya yang sedingin es ke telingaku.

“Ada alasan mengapa Edward menyebut mereka bangsawan… kelas penguasa. Selama beribu-ribu tahun, mereka menjadi pihak yang menegakkan peraturan kami—itu berarti menghukum para pelanggarnya. Mereka melaksanakan kewajiban itu dengan tegas.”

Mataku terbelalak shock. “Jadi ada peraturan?” tanyaku, suaraku kelewat keras.

“Ssstt!”

“Kenapa tak ada yang memberi tahuku sebelumnya?” bisikku marah. “Maksudku, aku ingin menjadi… salah satu dari kalian! Kenapa tidak ada yang menjelaskan aturan-aturannya padaku?”

Alice berdecak melihat reaksiku. “Peraturannya tidak terlalu rumit, Bella. Hanya ada satu larangan—dan kalau kaupikir benar-benar, kau mungkin bisa menebaknya sendiri.”

Aku berpikir sebentar. “Tidak, aku tidak tahu.”

Alice menggeleng, kecewa. “Mungkin aturannya terlalu jelas. Kami – hanya harus merahasiakan eksistensi kami.”

“Oh,” gumamku. Memang jelas sekali.

“Itu masuk akal, dan kebanyakan kami tidak butuh diawasi,” lanjut Alice. “Tapi setelah beberapa abad, terkadang salah seorang di antara kami ada yang bosan. Atau gila. Entahlah. Dan saat itulah keluarga Volturi menengahi sebelum perbuatan para vampir itu bisa mengakibatkan hal buruk bagi mereka, atau bagi kami semua.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.