Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Sebuah tangan cokelat halus mengulurkan bolpoin padaku.

“Trims,” gumamku, menarik tutupnya dengan gigi. Tanpa bersuara Jacob mengulurkan notes tempat kami biasa menuliskan pesan-pesan telepon. Kurobek lembaran paling atas dan kulempar begitu saja ke balik bahuku.

Dad, tulisku. Aku bersama Alice. Edward sedang ada masalah. Dad boleh menghukumku kalau aku pulang nanti Aku tahu waktunya sangat tidak tepat. Maafkan aku. Sangat sayang padamu. Bella.

“Jangan pergi,” bisik Jacob. Amarahnya lenyap karena sekarang Alice sudah tak ada lagi di ruangan itu.

Aku tidak mau membuang-buang waktu berdebat dengannya. “Kumohon, kumohon, kumohon jaga Charlie baik-baik,” pintaku sambil melesat kembali ke ruang depan. Alice menunggu di ambang pintu dengan tas disampirkan ke pundak.

“Ambil dompetmu—kau harus membawa KTP. Please, kuharap kau punya paspor. Tak ada waktu untuk membuat paspor palsu.”

Aku mengangguk dan berlari menaiki tangga, lututku lemas oleh perasaan bersyukur karena ibuku sempat ingin menikah dengan Phil di pantai di Meksiko. Tentu saja, seperti semua rencananya yang lain, rencana itu gagal total. Tapi aku sudah telanjur melakukan segala persiapan berkenaan dengan rencananya itu.

Aku menghambur memasuki kamar. Kujejalkan dompet tuaku, T-shirt bersih, dan celana panjang ke dalam ransel, dan cak ketinggalan sikat gigi. Lalu aku melesat lagi menuruni tangga. Perasaan deja vu nyaris terasa mencekik saat ini. Setidaknya, tidak seperti waktu itu—ketika aku harus melarikan diri dari Forks untuk lolos dari kejaran para vampir haus darah, bukan malah menemui mereka—aku tidak perlu berpamitan dengan Charlie secara langsung.

Jacob dan Alice tampak bersitegang di depan pintu yang terbuka, berdiri berjauhan satu sama lain hingga awalnya orang pasti takkan mengira mereka sedang berbicara. Tampaknya mereka tak menggubris kemunculanku kembali yang berisik.

“Mungkin saja kau bisa mengendalikan diri sesekali, tapi kau membawanya ke hadapan lintahlintah yang—” tuduh Jacob dengan nada marah.

“Ya. Kau benar, anjing.” Alice tak kalah garang. “Keluarga Volturi itu inti utama jenis kami— merekalah alasan mengapa bulu kudukmu meremang saat kau mencium bauku. Mereka hakikat mimpi-mimpi burukmu, kengerian di balik instingmu. Aku bukannya tidak menyadari hal itu.”

“Dan kau membawa Bella ke mereka, seperti membawa sebotol anggur ke pesta!” teriak Jacob.

“Kaupikir dia lebih aman bila aku meninggalkannya sendirian di sini, bersama Victoria yang mengincarnya?”

“Kami bisa mengatasi si rambut merah.”

“Kalau benar begitu, mengapa dia masih berburu?”

Jacob menggeram, dan getaran hebat mengguncang tubuhnya.

“Hentikan!” teriakku pada mereka berdua, kalut oleh perasaan tidak sabar. “Nanti saja berdebatnya, kalau kita sudah kembali. Ayo berangkat!’

Alice berbalik menuju mobilnya, menghilang saking buru-burunya. Aku bergegas menyusulnya, otomatis berhenti sebentar untuk berbalik dan mengunci pintu.

Jacob menyambar lenganku dengan tangannya yang gemetar. “Please, Bella. Kumohon.”

Bola matanya yang gelap berkaca-kaca oleh air mata. Tenggorokanku tercekat.

“Jake, aku harus—“

“Tapi kau tidak harus pergi. Sungguh. Kau bisa tinggal di sini bersamaku. Kau bisa tetap hidup. Demi Charlie. Demi aku.”

Mesin Mercedes Carlisle menderum; meraungraung semakin keras saat Alice menginjak pedal gas dengan tidak sabar.

Aku menggeleng, air mataku mengalir turun. Kutarik lenganku dari pegangannya, dan Jacob tidak menahanku.

“Jangan mati, Bella,” katanya dengan suara tercekik. “Jangan pergi. Jangan.”

Bagaimana kalau aku tidak pernah melihatnya lagi?

Pikiran itu menyeruak keluar dari benakku di sela-sela air mata tanpa suara; sedu sedan terlontar dari dadaku. Aku meraih pinggang Jacob dan memeluknya sebentar, mengubur wajahku yang bersimbah air mata di dadanya. Jacob menempelkan tangannya yang besar ke belakang kepalaku, seolah-olah ingin menahanku di sana.

“Selamat tinggal, Jake.” Kutarik tangannya dari rambutku, dan kuaum telapaknya. Aku tak sanggup menatap wajahnya. “Maaf,” bisikku.

Kemudian aku berbalik dan berlari ke mobil. Pintu penumpang sudah terbuka, menunggu. Kulempar ranselku ke belakang dan masuk, membanting pintu di belakangku.

“Jaga Charlie baik-baik!” aku menoleh dan berteriak ke luar jendela, tapi Jacob sudah tidak tampak lagi. Saat Alice menginjak pedal gas kuatkuat dan – ban mobil berderit keras bagaikan lengkingan suara manusia – memutar mobil dengan cepat ke arah jalan, mataku tertumpu pada cabikan sesuatu berwarna putih, dekat pinggir pepohonan. Cabikan sepatu.

 

19. BERPACU

KAMI berhasil naik pesawat hanya beberapa detik sebelum jadwal keberangkatan, dan siksaan sesungguhnya dimulai. Pesawat bertengger di apron dengan mesin menyala sementara para pramugari melenggang—begitu santainya—di sepanjang lorong pesawat, menepuk-nepuk tas yang disimpan di kompartemen di atas tempat duduk, memastikan semuanya beres. Pilot-pilot mencondongkan tubuh dari kokpit, mengobrol dengan pramugari-pramugari ketika mereka lewat. Tangan Alice terasa keras di pundakku, menahanku tetap di kursi sementara aku bergerakgerak gelisah.

“Ini lebih cepat daripada berlari,” Alice mengingatkanku dengan suara pelan.

Aku hanya mengangguk sambil terus bergerakgerak.

Akhirnya pesawat bergulir pelan, sedikit demi sedikit menambah kecepatan dan itu semakin menyiksaku. Kusangka aku bakal lega setelah pesawat akhirnya lepas landas, tapi ketidaksabaran yang kurasakan ternyata tak berkurang juga.

Alice sudah mengangkat telepon dari punggung kursi di depannya sebelum pesawat berhenti menanjak, sengaja memunggungi pramugari yang menatapnya tidak setuju. Namun sesuatu di ekspresiku membuat pramugari itu mengurungkan niatnya untuk menghampiri dan menegur kami.

Aku berusaha menulikan telinga dari bisik-bisik Alice dengan Jasper; aku tak ingin mendengar kata-katanya lagi, tapi ada juga beberapa yang tanpa sengaja terdengar olehku.

“Aku tidak yakin, aku bolak-balik melihatnya melakukan berbagai hal berbeda, berkali-kali berubah pikiran… Pembunuhan massal di kota, menyerang penjaga, mengangkat mobil di atas kepala di alun-alun kota… kebanyakan hal-hal yang akan mengekspos mereka—dia tahu itu cara paling cepat memaksa mereka bereaksi…

“Tidak, tidak bisa.” Suara Alice semakin pelan hingga nyaris tak terdengar, walaupun aku duduk hanya beberapa sentimeter di sebelahnya. Aku menajamkan pendengaran. “Katakan pada Emmett, jangan… Well, susul Emmett dan Rosalie dan bawa mereka kembali… Pikirkan baik-baik, Jasper. Kalau dia melihat salah seorang di antara kita, menurutmu, apa yang akan dia lakukan?”

Alice mengangguk. “Tepat sekali. Menurutku Bella-lah satu-satunya kesempatan—kalau masih ada kesempatan… aku akan melakukan apa pun yang masih bisa dilakukan, tapi siapkan Carlisle; kemungkinannya kecil.”

Lalu ia tertawa, kemudian suaranya tercekat. “Aku juga sudah memikirkan hal itu… Ya, aku janji.” Suaranya berubah memohon. “Jangan ikuti aku. Aku janji, Jasper. Bagaimanapun caranya, aku akan keluar… Dan aku cinta padamu.”

Alice menutup telepon, dan bersandar di kursinya dengan mata terpejam. “Aku benci harus berbohong padanya.”

“Ceritakan semua padaku, Alice,” pintaku. “Aku tidak mengerti. Menapa kau menyuruh Jasper menghentikan Emmett, menapa mereka tidak boleh datang menolong kita?”

“Dua alasan,” bisik Alice, matunya masih terpejam. “Yang pertama sudah kukatakan padanya. Kami bisa saja berusaha menghentikan Edward sendiri—kalau Emmett bisa menemukannya, mungkin kami bisa meyakinkan dia bahwa kau masih hidup. Tapi kami takkan berhasil mendekati Edward diam-diam. Dan kalau dia melihat kami datang mencarinya, dia justru akan bertindak lebih cepat. Dia akan melemparkan Buick ke tembok batu atau semacamnya, dan keluarga Volturi akan melumpuhkannya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.