Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Lalu dia langsung menutup telepon,” bentak Jacob. Sekujur tubuhnya bergetar, membuatku ikut terguncang.

Alice menyentakkan kepalanya kembali ke arahku. “Bagaimana persisnya kata-katanya?”

“Dia bilang, ‘Dia tidak ada di sini,’ dan waktu Carlisle bertanya Charlie ke mana, Jacob menjawab, ‘Dia sedang menghadiri pemakaman.’”

Alice mengerang dan merosot lemas.

“Katakan padaku, Alice,” bisikku.

“Itu tadi bukan Carlisle,” katanya dengan sikap tak berdaya.

“Jadi menurutmu aku pembohong?” raung Jacob dari sampingku.

Alice mengabaikannya, memfokuskan diri pada wajahku yang kebingungan.

“Itu tadi Edward.” Alice mengucapkannya sambil berbisik dengan suara tercekat. “Dia mengira kau sudah mati.”

Pikiranku mulai bekerja lagi. Kata-kata itu bukanlah yang kutakutkan, dan kelegaan menjernihkan pikiranku.

“Rosalie memberi tahu dia bahwa aku bunuh diri, benar, kan?” tanyaku, mendesah saat tubuhku mulai rileks kembali.

“Benar,” Alice mengakui, matanya berkilat marah. “Dalam pembelaannya, dia memang benarbenar memercayainya. Mereka terlalu mengandalkan penglihatanku meskipun penglihatanku tidak sempurna. Tapi Rosalie sampai melacak keberadaan Edward hanya untuk menyampaikan hal itu! Apakah dia tidak sadar… atau peduli…?” Suara Alice menghilang dalam kengerian.

“Dan waktu Edward menelepon ke sini, dia mengira yang dimaksud Jacob adalah pemakamanku,” aku tersadar. Sakit rasanya mengetahui aku tadi sudah sangat dekat dengannya, hanya beberapa sentimeter saja dari suaranya. Kuku-kukuku terbenam di kulit lengan Jacob, tapi ia bergeming.

Alice menatapku aneh. “Kau tidak kalut,” bisiknya.

“Well, waktunya memang sangat tidak tepat, tapi semua bisa diluruskan kembali. Kalau dia menelepon lagi nanti, dia bisa diberitahu tentang… kejadian… sebenarnya…” Suaraku menghilang. Tatapan Alice membuat kata-kataku tersangkut di tenggorokkan.

Mengapa Alice sepanik ini? Mengapa wajahnya berkerut-kerut oleh sikap kasihan bercampur ngeri? Apa yang dikatakannya pada Rosalie di telepon barusan? Sesuatu tentang penglihatannya… dan penyesalan Rosalie; Rosalie takkan pernah menyesali apa pun yang terjadi padaku. Tapi bila dia menyakiti keluarganya, saudara lelakinya…

“Bella,” bisik Alice. “Edward tidak akan menelepon lagi. Dia percaya pada Rosalie.”

“Aku. Tidak. Mengerti.” Mulutku membentuk setiap kata tanpa suara. Aku tidak sanggup mendorong udara keluar dari mulutku untuk mengucapkan kata-kata yang akan membuat Alice menjelaskan maksudnya.

“Dia pergi ke Italia.”

Seketika aku langsung mengerti.

Ketika suara Edward terngiang kembali dalam ingatanku, suaranya bukan lagi imitasi sempurna dari delusiku. Hanya nada datar dan lemah seperti yang terekam dalam ingatanku. Tapi kata-katanya saja sudah cukup mengoyak dadaku dan membuatnya menganga lebar. Kata-kata itu berasal dari saat ketika aku berani mempertaruhkan segala yang kumiliki pada fakta bahwa ia mencintaiku.

Well aku tidak mau hidup tanpa kau, kata Edward waktu itu ketika kami menonton Romeo dan Juliet meninggal, persis di ruangan ini. Tapi aku tidak tahu bagaimana melakukannya… aku tahu Emmett dan Jasper tidak akan mau membantu… jadi kupikir mungkin aku akan pergi ke Italia dan melakukan sesuatu untuk memprovokasi Volturi… Kau tidak boleh membuat kesal keluarga Volturi. Kecuali kau memang ingin mati.

Kecuali kau memang ingin mati.

“TIDAK!” Penyangkalan setengah berteriak itu terdengar sangat nyaring setelah kata-kata yang diucapkan sambil berbisik, hingga membuat kami semua terlonjak kaget. Aku merasa darah menyembur ke wajahku saat aku menyadari apa yang telah dilihat Alice. “Tidak! Tidak, tidak, tidak! Tidak boleh! Dia tidak boleh melakukan hal itu!”

“Dia langsung membulatkan tekad begitu temanmu mengonfirmasi bahwa sudah terlambat untuk menyelamatkanmu.”

“Tapi dia… dia yang pergi! Dia tidak menginginkanku lagi! Apa bedanya itu sekarang? Dia toh sudah tahu aku bakal meninggal suatu saat nanti!”

“Menurutku dia memang tidak berniat hidup lagi setelah kau tidak ada,” ujar Alice pelan.

“Berani betul dia!” jeritku. Aku berdiri sekarang, dan Jacob bangkit dengan sikap ragu, lagi-lagi menempatkan dirinya di antara Alice dan aku.

“Oh, minggirlah, jacob!” Kusikut tubuhnya yang gemetar itu dengan sikap tidak sabar. “Apa yang bisa kita lakukan?” tanyaku pada Alice. Pasti ada yang bisa kami lakukan. “Apakah kita tidak bisa meneleponnya? Bisakah Carlisle menghubunginya?”

Alice menggeleng-geleng. “Itu hal pertama yang kucoba. Dia membuang ponselnya ke tong sampah di Rio—teleponku dijawab orang lain…,” bisiknya.

“Kaubilang tadi kita harus bergegas. Bergegas bagaimana? Ayo kita lakukan, apa pun itu!”

“Bella, aku – aku tidak bisa memintamu untuk…” Suaranya menghilang dalam kebimbangan.

“Minta saja!” perintahku.

Alice memegang bahuku dengan kedua tangan, memegangiku jari-jarinya membuka dan menutup secara sporadis untuk memberi penekanan pada kata-katanya. “Mungkin saja kita sudah terlambat. Aku melihatnya mendatangi keluarga Volturi… dan minta mati.” Kami sama-sama bergidik, dan mataku tiba-tiba buta. Aku mengerjap-ngerjapkan mata, mengusir air mata yang merebak. “Sekarang tergantung pada pilihan mereka. Aku tidak bisa melihatnya sampai mereka mengambil keputusan.

Tapi kalau mereka mengatakan tidak, dan itu mungkin saja terjadi—Aro kan, menyayangi Carlisle, dan tidak mau membuatnya sedih – Edward punya rencana cadangan. Keluarga Volturi sangat protektif terhadap kota mereka. Kalau Edward melakukan sesuatu yang mengoyakkan kedamaian tempat itu, menurut perkiraannya, mereka pasti akan bertindak untuk menghentikannya. Dan dia benar. Mereka memang akan bertindak.”

Kutatap Alice dengan dagu mengejang frustrasi. Aku belum mendengar alasan apa pun yang bisa menjelaskan mengapa kami masih berdiri di sini.

“Jadi kalau mereka setuju mengabulkan permintaannya, berarti kita terlambat. Kalau mereka menolak, dan Edward menjalankan rencananya untuk membuat mereka marah, kita juga terlambat. Kalau dia melakukan kecenderungan teatrikal-nya… mungkin kita masih punya waktu.”

“Ayo kita pergi!”

“Dengar, Bella! Terlepas dari apakah kita nanti terlambat atau tidak, kita akan berada di jantung kota Volturi. Aku akan dianggap kaki tangan Edward bila dia berhasil. Kau akan menjadi manusia yang bukan hanya terlalu banyak tahu, tapi juga membangkitkan selera. Besar kemungkinan mereka akan menghabisi kita— walaupun dalam kasusmu hukumannya mungkin menjadikanmu menu makan malam.”

“Jadi itukah sebabnya kita tidak kunjung berangkat juga?” tanyaku dengan sikap tak percaya. “Aku akan pergi sendirian kalau kau takut.” Dalam hati aku menghitung jumlah uang di rekeningku, dan bertanya-tanya apakah Alice bersedia meminjamkan kekurangannya padaku.

“Aku hanya takut membuatmu terbunuh.”

Aku mendengus sebal. “Setiap hari juga aku hampir terbunuh kok! Katakan padaku apa yang perlu kulakukan!”

“Tulis pesan untuk Charlie. Aku akan menelepon perusahaan penerbangan.”

“Charlie,” aku terkesiap.

Bukan berarti keberadaanku di sini bisa melindunginya, tapi sanggupkah aku meninggalkannya sendirian di sini untuk menghadapi… .

“Aku tidak akan membiarkan apa pun menimpa Charlie.” Suara pelan Jacob terdengar parau bercampur marah. “Masa bodoh dengan kesepakatan.”

Aku mendongak dan menatapnya, tapi Jacob merengut melihat ekspresiku yang panik.

“Cepatlah. Bella,” sela Alice dengan nada mendesak. Aku berlari ke dapur, menyentakkan laci-laci hingga terbuka dan membuang semua isinya ke lantai, kalang-kabut mencari bolpoin.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.