Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Alice memang sekarang kembali, tapi itu tidak mengubah apa-apa. Cinta sejari telah hilang selama-lamanya. Sang pangeran takkan pernah kembali untuk mengecupku dan membangunkanku dari tidur yang panjang. Lagi pula, aku juga bukan seorang putri. Jadi apa protokol cerita dongeng untuk ciuman-ciuman lain? Ciuman sepele yang tidak memusnahkan mantra?

Mungkin akan mudah—seperti menggenggam tangannya atau dirangkul olehnya. Mungkin akan terasa menyenangkan. Mungkin tidak akan terasa seperti pengkhianatan. Lagi pula, memangnya aku mengkhianati siapa? Hanya diriku.

Sambil tetap menatap mataku, Jacob mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku. Tapi aku masih belum bisa memutuskan.

Dering telepon membuat kami sama-sama melompat kaget, namun tidak membuyarkan konsentrasi Jacob. Ia menarik tangannya dari bawah daguku dan menyambar gagang telepon, tapi sambil tetap memegang pipiku dengan tangannya yang lain. Matanya yang gelap tak beralih sedikit pun dari mataku. Pikiranku terlalu kacau untuk bisa bereaksi, bahkan mengambil kesempatan dari gangguan yang mendadak itu.

“Kediaman keluarga Swan,” jawab Jacob, suara seraknya rendah dan dalam

Seseorang menyahut, dan sikap Jacob sertamerta berubah. Ia menegakkan badan, dan tangannya terjatuh dari wajahku. Matanya langsung berubah datar, wajahnya kosong, dan aku berani mempertaruhkan sisa dana kuliahku yang tidak seberapa bahwa yang menelepon itu pasti Alice.

Kesadaranku pulih dan tanganku terulur, meminta telepon. Jacob tak menggubrisku.

“Dia tidak ada di sini,” jawab Jacob, dan katakatanya bernada garang.

Orang yang menelepon itu mengatakan sesuatu, sepertinya meminta tambahan informasi, karena Jacob menambahkan dengan sikap enggan, “Dia sedang menghadiri pemakaman.”

Lalu Jacob menutup telepon. “Dasar pengisap darah kurang ajar,” gerutunya pelan. Ia kembali menunjukkan wajah yang seperti topeng getir itu.

“Siapa itu, kenapa kau menutup telepon begitu saja?” aku terkesiap, marah. “Ini rumahku, dan itu teleponku!”

“Tenang! Justru dia yang menutup telepon duluan!”

“Dia? Dia siapa?”

Jacob menyemburkan gelar itu dengan nada mengejek. “Dr. Carlisle Cullen.”

“Mengapa kau tidak memberikan teleponnya padaku?!”

“Dia tidak minta bicara denganmu kok,” jawab Jacob dingin. Wajahnya tenang, tanpa ekspresi, tapi kedua tangannya gemetar. “Dia bertanya di mana Charlie dan kujawab. Kurasa aku tidak melanggar etika apa pun.”

“Dengar aku, Jacob Black—”

Tapi Jacob jelas tidak mendengarkan katakataku. Ia menoleh ke belakang dengan cepat, seolah-olah ada orang yang memanggilnya dari ruangan lain. Matanya membelalak lebar dan tubuhnya mengejang, lalu mulai bergetar. Otomatis aku ikut mendengarkan juga, tapi tidak terdengar suara apa-apa.

“Bye, Bells.” semburnya, lalu tergesa-gesa menuju pintu depan.

Aku berlari mengejarnya. “Ada apa?”

Kemudian aku menabraknya, saat ia berhenti, menggoyang-.oyanskan badan dengan bertumpu Pada tumit, memaki pelan. Tiba-tiba ia berbalik lagi, menyenggolku keras. Aku goyah dan rubuh ke lantai, kedua kakiku tersangkut di kakinya.

“Sialan, aduh!” protesku saat Jacob buru-buru menyentakkan kakinya, membebaskannya dari belitan kakiku.

Susah payah aku bangkit kembali sementara Jacob berlari menuju pintu belakang; mendadak ia kembali membeku. Alice berdiri tak bergerak di kaki tangga.

“Bella,” panggilnya dengan suara tercekat. Aku cepat-cepat berdiri dan menghambur mendapatinya. Mata Alice nanar dan menerawang jauh, wajahnya tegang dan pucat pasi seperti mayat. Tubuhnya yang langsing bergetar karena pergolakan di dalam dirinya.

“Alice, ada apa?” pekikku. Aku merengkuh wajahnya dengan kedua tangan, berusaha menenangkannya.

Matanya mendadak terfokus ke mataku, membelalak oleh kesedihan.

“Edward,” hanya itu yang ia bisikkan.

Tubuhku bereaksi lebih cepat daripada yang sanggup ditangkap oleh otakku begitu mendengar jawabannya. Awalnya aku tak mengerti mengapa ruangan berputar atau dari mana raungan hampa di telingaku ini berasal. Pikiranku bergerak sangat lambat, tak mampu mencerna wajah Alice yang muram dan apa hubungan hal itu dengan Edward, sementara tubuhku saat itu sudah goyah, mencari kelegaan dalam ketidaksadaran sebelum kenyataan dapat menghantamku telak-telak.

Tangga terlihat miring dalam sudut yang sangat tidak lazim.

Suara Jacob yang marah tiba-tiba terdengar di telingaku, mendesis menghamburkan kata-kata makian. Samar-samar aku merasa tidak senang. Teman-teman barunya jelas memberi pengaruh yang tidak baik.

Aku terbaring di sofa tanpa mengerti mengapa aku bisa berada di sana, dan Jacob masih terus mengumpat-umpat. Rasanya seperti ada gempa bumi—sofa berguncang-guncang di bawah tubuhku.

“Kauapakan dia?” tuntut Jacob.

Alice tak menggubrisnya. “Bella? Bella, sadarlah. Kita harus bergegas.”

“Jangan mendekat,” tegur Jacob.

“Tenanglah, Jacob Black,” Alice memerintahkan. “Jangan sampai kau berubah dalam jarak sedekat itu dengannya.”

“Kurasa aku tidak punya masalah dalam mengendalikan diri,” sergah Jacob, tapi suaranya terdengar sedikit lebih dingin.

“Alice?” Suaraku lemah. “Apa yang terjadi?” tanyaku, walaupun aku tidak ingin mendengarnya.

“Aku tidak tahu,” Alice tiba-tiba meraung. “Apa yang dia pikirkan?!”

Susah payah aku berusaha mengangkat tubuhku, meski kepalaku pusing. Sadarlah aku bahwa aku mencengkeram tangan Jacob untuk menyeimbangkan diri. Dialah yang berguncangguncang, bukan sofanya.

Alice mengeluarkan ponsel perak kecil dari dalam tas sementara mataku memandanginya. Jari-jarinya menekan cepat serangkaian tombol, begitu cepatnya hingga tampak kabur.

“Rose, aku harus bicara dengan Carlisle sekarang.” Suaranya tajam saat melontarkan katakata itu. “Baiklah, pokoknya segera setelah dia kembali. Tidak, aku akan naik pesawat. Dengar, kau sudah dapat kabar dari Edward?”

Alice terdiam sekarang, mendengarkan dengan ekspresi yang semakin lama semakin ngeri. Mulutnya ternganga, membentuk huruf O penuh kengerian, dan ponsel di tangannya bergetar hebat.

“Mengapa?” ia terkesiap. “Mengapa kau berbuat begitu, Rosalie?”

Apa pun jawabannya, itu membuat dagu Alice mengeras karena marah. Matanya berkilat-kilat dan menyipit.

“Well kau salah besar dua kali, Rosalie, jadi itu pasti akan jadi masalah, bukan?” tanyanya tajam. “Ya, benar. Dia baik-baik saja—ternyata aku salah… Ceritanya panjang… Tapi kau juga salah dalam hal itu, karena itulah aku menelepon… Ya, memang itulah yang kulihat.”

Suara Alice sangat kaku dan bibirnya tertarik ke belakang. “Sudah agak terlambat untuk itu, Rose. Simpan saja penyesalanmu untuk orang yang memercayainya.” Alice menutup ponsel lipatnya keras-keras.

Ia tampak tersiksa saat berpaling menatapku.

“Alice,” semburku cepat-cepat. Aku belum sanggup membiarkannya bicara. Aku butuh beberapa detik lagi sebelum ia berbicara dan katakatanya menghancurkan apa yang tersisa dalam hidupku. “Alice, Carlisle sudah kembali. Dia baru saja menelepon…”

Alice menatapku kosong. “Kapan?” tanyanya dengan suara bergaung hampa.

“Setengah menit sebelum kau muncul.”

“Apa katanya?” Ia benar-benar fokus sekarang, menunggu jawabanku.

“Aku tidak sempat bicara dengannya.” Mataku melirik Jacob.

Alice mengalihkan tatapannya yang tajam menusuk pada Jacob. Jacob tersentak, tapi bergeming di dekatku. Ia duduk dengan sikap canggung, hampir seperti berusaha menamengiku dengan tubuhnya.

“Dia minta bicara dengan Charlie, dan kukatakan Charlie tidak ada,” sergah Jacob dengan nada tidak senang.

“Hanya itu?” tuntut Alice, suaranya sedingin es.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.