Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Salah satu anggota keluarga Cullen menginap di sini bersamamu,” ujarnya.

“Benar. Alice Cullen.”

Jacob mengangguk khidmat. “Berapa lama dia akan berada di sini?”

“Selama yang dia inginkan.” Nadaku masih menantang. “Rumah ini terbuka baginya.”

“Menurutmu bisakah kau… tolong… menjelaskan padanya tentang yang lain itu— Victoria?”

Wajahku memucat. “Aku sudah bercerita padanya.”

Jacob mengangguk. “Kau perlu tahu bahwa kami hanya bisa mengawasi wilayah kami sendiri dengan adanya seorang anggota keluarga Cullen di sini. Kau baru akan aman bila berada di La Push. Aku tidak bisa lagi melindungimu di sini.”

“Oke,” sahutku, suara nyaris tak terdengar.

Jacob memalingkan wajah, memandang ke luar jendela. Ia tidak melanjutkan kata-katanya.

“Itu saja?”

Dengan mata tetap tertuju ke jendela, Jacob menjawab, “Satu pertanyaan lagi.”

Aku menunggu, tapi ia tidak bicara juga. “Ya?” desakku akhirnya.

“Apakah yang lain-lain juga akan kembali ke sini sekarang?” tanyanya, suaranya pelan dan tenang. Mengingatkanku pada pembawaan Sam yang selalu tenang. Semakin hari Jacob semakin mirip Sam… aku heran sendiri mengapa itu membuatku merasa sangat terganggu.

Sekarang akulah yang diam saja. Jacob menoleh dan memandangi wajahku dengan mata menyelidik.

“Well?” tanyanya. Susah payah ia berusaha menutupi ketegangan di balik ekspresinya yang tenang.

“Tidak,” jawabku akhirnya. Dengan enggan. “Mereka tidak akan kembali.”

Ekspresinya tidak berubah. “Oke. Itu saja.

Kutatap dia dengan garang, kejengkelanku kembali membara.”Well, sekarang kau bisa pergi. Katakan pada Sam monster-monster mengerikan itu tidak kembali untuk menyerang kalian.”

“Oke,” ulang Jacob, tetap tenang.

Sepertinya perkataanku itu menyinggung perasaannya. Jacob cepat keluar dari dapur. Aku menunggu mendengar bunyi pintu depan dibuka, tapi tidak terdengar apa-apa. aku bisa mendengar detak jarum jam di atas kompor, dan dalam hati aku mengagumi kemampuan Jacob bergerak tanpa suara.

Benar-benar kacau. Bagaimana mungkin aku bisa membuatnya menjauh dariku dalam waktu begitu singkat?

Apakah ia akan memaafkanku bila Alice sudah pergi nanti? Bagaimana kalau ia tidak memaafkanku?

Aku bersandar lemas ke konter dan mengubur wajahku dengan kedua tangan. Bagaimana aku bisa mengacaukan semuanya? Tapi apa lagi yang bisa kulakukan yang mungkin membuahkan hasil berbeda? Bahkan saat menoleh ke belakang, aku tak bisa memikirkan cara lain yang lebih baik, tindakan lain yang sempurna.

“Bella…?” tanya Jacob, suaranya gelisah. Aku mengeluarkan wajahku dari balik tangan dan melihat Jacob ragu-ragu di ambang pintu dapur; ternyata ia belum pergi seperti yang kukira. Setelah melihat tetes-tetes bening berkilauan di tanganku, barulah aku sadar bahwa aku menangis.

Ekspresi tenang Jacob kini lenyap; wajahnya cemas dan tak yakin. Ia bergegas kembali dan berdiri di depanku, menunduk sehingga matanya dekat sekali dengan mataku.

“Aku melakukannya lagi, ya?”

“Melakukan apa?” tanyaku, suaraku pecah,

“Melanggar janjiku. Maaf.”

“Tidak apa-apa,” gumamku. “Kali ini penyebabnya aku sendiri.”

Wajah Jake berkerut-kerut. “Aku tahu bagaimana perasaanmu terhadap mereka. Seharusnya aku tidak kaget lagi.”

Aku bisa melihat perubahan di matanya. Ingin rasanya aku menjelaskan bagaimana Alice sesungguhnya, untuk melindunginya dari penghakiman Jacob, tapi seolah-olah ada yang mengingatkanku bahwa sekarang belum waktunya menjelaskan hal itu.

Maka aku hanya bisa berkata, “Maaf,” sekali lagi.

“Bagaimana kalau kita tidak usah mempermasalahkannya lagi, oke? Dia hanya berkunjung, kan? Dia akan pergi, dan keadaan akan kembali normal.”

“Tidak bisakah aku berteman dengan kalian berdua sekaligus?” tanyaku, suaraku tak mampu menyembunyikan kepedihan yang kurasakan.

Jacob menggeleng lambat-lambat. “Tidak, kurasa tidak bisa.”

Aku mengisap ingus dan memandangi kakinya yang besar. “Tapi kau mau menungguku, kan? Kau akan tetap menjadi temanku, walaupun aku juga menyayangi Alice?”

Aku tidak mendongak, takut melihat pikiran Jacob berkaitan dengan kalimat terakhirku tadi. Jacob tidak langsung menjawab, jadi mungkin ada benarnya aku tidak melihat tadi.

“Yeah, aku akan selalu menjadi temanmu,” katanya parau. “Tak peduli siapa pun yang kausayangi.”

“Janji?”

“Janji.”

Aku bisa merasakan lengan Jacob meliukku, dan aku bersandar di dadanya, masih terisak-isak. “Menyebalkan.”

“Yeah.” Kemudian Jacob mengendusi rambutku dan berseru, “Hueek.”

“Apa!” sergahku. Aku mendongak dan melihat hidung Jacob mengernyit lagi. “Mengapa semua orang bersikap begitu padaku? Aku kan tidak bau!”

Jacob tersenyum sedikit. “Ya. kau bau—baumu seperti mereka. Hah. Terlalu manis—manis memuakkan. Dan… dingin. Membakar hidungku.”

“Sungguh?” Aneh. Bau Alice wangi sekali. Bagi manusia, setidaknya. “Tapi kalau begitu, mengapa Alice juga menganggapku bau sekali?”

Senyum Jacob langsung lenyap. “Hah. Mungkin baginya bauku juga tidak terlalu enak. Hah.”

“Well, bau kalian baik-baik saja menurutku.” Aku meletakkan kepalaku di dadanya lagi. Aku akan sangat kehilangan Jacob kalau dia pergi meninggalkanku nanti. Seperti makan buah simalakama saja—di satu sisi aku ingin Alice tetap di sini selamanya. Aku bisa mati—secara metaforis—bila dia meninggalkanku. Tapi bagaimana aku bisa tahan hidup tanpa bertemu Jacob? Benar-benar kacau, pikirku lagi.

“Aku pasti akan merindukanmu,” bisik Jacob, menyuarakan pikiranku. “Setiap menit. Mudahmudahan sebentar lagi dia pergi.”

“Tidak harus seperti itu, Jake.”

Jacob mendesah. “Tidak, memang harus begitu, Bella. Kau… sayang padanya. Jadi lebih baik bila aku tidak dekat-dekat dengannya. Aku tidak yakin akan cukup bisa mengendalikan diri untuk menghadapinya. Sam pasti marah kalau aku melanggar kesepakatan, dan–” nadanya berubah sarkastis—”mungkin kau juga tidak suka kalau aku membunuh temanmu.”

Aku terkejut mendengar perkataannya, tapi Jacob justru semakin mempererat lengannya, menolak melepaskanku. “Tidak ada gunanya menghindari kebenaran. Memang begitulah keadaannya, Bells.”

“Aku tidak suka keadaannya seperti itu.”

Jacob membebaskan satu tangan sehingga bisa mengangkat daguku dengan tangan cokelatnya yang besar dan memaksaku menatapnya. “Yeah. Lebih mudah dulu, ketika kita masih sama-sama manusia, ya?”

Aku mendesah.

Kami saling memandang lama sekali. Tangannya panas membara di kulitku. Di wajahku, aku tahu tidak tergambar emosi apa pun kecuali kesedihan sendu—aku tidak ingin mengucapkan selamat berpisah sekarang, meski hanya sebentar. Mulanya wajah Jacob merefleksikan wajahku, namun ketika kami sama-sama tak mengalihkan pandangan, ekspresinya berubah.

Ia melepaskanku, mengangkat tangannya yang lain untuk membelai pipiku dengan ujung-ujung jari, terus hingga ke dagu. Aku bisa merasakan jari-jarinya bergetar—kali ini bukan karena marah. Ia menaruh telapak tangannya ke pipiku, sehingga wajahku terperangkap oleh kedua tangannya yang panas membara.

“Bella,” bisiknya.

Aku membeku.

Tidak! Aku belum mengambil keputusan tentang ini. Entah apakah aku mampu melakukannya, dan sekarang aku sedang tak bisa berpikir. Tapi sungguh tolol jika aku mengira menolaknya sekarang takkan menghasilkan konsekuensi apaapa.

Aku membalas tatapannya. Ia bukan Jacob-ku. tapi ia bisa menjadi milikku. Wajahnya sangat kukenal dan kusayang. Dalam begitu banyak hal, aku memang mencintainya. Ia penghiburku, pelabuhanku yang aman. Sekarang mi, aku bisa memilih untuk menjadikannya milikku.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.