Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Aku tidak tahu harus mengatakan apa, dan, setelah terdiam sejenak, Alice beralih ke topik-topik lain yang lebih ringan.

Keluarga Cullen telah berkumpul lagi sekarang, kecuali satu orang, menghabiskan liburan musim semi di Denali bersama Tanya dan keluarganya.

Aku mendengarkan dengan penuh semangat, bahkan kabar-kabar yang paling remeh sekalipun. Alice tak pernah menyinggung orang yang paling menarik hatiku, dan aku mensyukurinya. Cukuplah mendengar cerita-cerita tentang keluarga yang dulu aku pernah bermimpi ingin menjadi bagian darinya.

Charlie baru kembali setelah hari gelap, dan ia tampak lebih lelah daripada malam sebelumnya. Ia akan kembali ke reservasi besok pagi-pagi sekali untuk menghadiri pemakaman Harry, jadi ia tidur lebih cepat. Aku tidur di sofa lagi bersama Alice.

Charlie nyaris terlihat seperti orang asing saat berjalan menuruni tangga sebelum matahari terbit, mengenakan setelan jas tua yang tak pernah kulihat sebelumnya. Jasnya dibiarkan tak dikancing; kurasa pasti karena terlalu sesak sehingga tidak bisa dikancing Dasinya agak terlalu lebar untuk mode saat ini Ia berjingkat-jingkat ke pintu, berusaha tidak membangunkan kami. Kubiarkan ia pergi. Pura-Pura tidur, seperti yang dilakukan Alice di kursi malas.

Begitu Charlie keluar, Alice langsung duduk tegak. Di bawah selimut, ia berpakaian lengkap.

“Apa yang akan kita lakukan hari ini?” tanyanya.

“‘Entahlah—kau melihat hal menarik yang bakal terjadi?”

Alice tersenyum dan menggeleng. “Tapi sekarang kan masih pagi sekali.”

Sekian lama menghabiskan waktu di La Push berarti mengabaikan setumpuk pekerjaan di rumah, jadi aku memutuskan untuk membereskannya sekarang. Aku ingin melakukan sesuatu, apa saja, agar hidup Charlie lebih mudah—mungkin membuatnya senang bila pulang dan menemukan rumah bersih dan rapi. Aku memulainya dari kamar mandi—ruangan itulah yang paling menunjukkan tanda-tanda tidak terurus.

Sementara aku bekerja, Alice bersandar di ambang pintu dan mengajukan pertanyaan remeh tentang, Well, teman-teman SMA kami seru apa saja yang mereka kerjakan semenjak ia pergi. Wajahnya tetap tenang dan tanpa emosi, tapi aku bisa merasakan ketidaksukaannya waktu ia sadar betapa sedikitnya yang bisa kuceritakan padanya. Atau mungkin itu hanya perasaan bersalahku setelah menguping pembicaraannya dengan Charlie kemarin pagi.

Aku sedang sibuk berkutat dengan cairan pembersih, menggosok dasar bak mandi, waktu bel pintu berbunyi.

Aku langsung menoleh pada Alice, dan ekspresinya terperangah, nyaris waswas, hal yang aneh; Alice tidak pernah terkejut.

“Sebentar!” seruku ke pintu depan, berdiri, lalu bergegas ke wastafel untuk membasuh kedua lenganku.

“Bella,” kata Alice dengan secercah nada frustrasi dalam suaranya, “kurasa aku bisa menebak siapa yang datang itu, jadi kupikir ada baiknya kalau aku pergi.”

“Menebak?” aku menirukan. Sejak kapan Alice harus menebak sesuatu?

“Bila ini pengulangan dari ketidakmampuanku melihat masa depan seperti yang terjadi kemarin, maka besar kemungkinan yang datang itu Jacob Black atau salah seorang… temannya.”

Aku menatap Alice, mulai paham. “Jadi kau tidak bisa melihat werewolf?”

Alice meringis. “Sepertinya begitu.” Jelas ia jengkel oleh fakta ini—sangat jengkel.

Bel pintu berdering lagi—berbunyi untuk kedua kalinya, cepat dan tidak sabar.

“Kau tidak perlu pergi ke mana-mana, Alice. Kau yang lebih dulu berada di sini.”

Alice mengumandangkan tawa kecilnya yang merdu itu— ada nada sinis di sana. “Percayalah padaku—bukan ide bagus membiarkan aku berada dalam ruangan yang sama dengan Jacob Black.”

Alice mengecup pipiku sekilas sebelum lenyap di balik pintu kamar Charlie—dan keluar dari jendela kamar bagian belakang, tak diragukan lagi.

Bel pintu kembali berdering.

 

18. PEMAKAMAN

AKU berlari cepat menuruni tangga dan menyentakkan pintu, membukanya.

Yang datang Jacob, tentu saja. Walaupun “buta”, Alice tidak bodoh.

Ia berdiri nyaris dua meter dari pintu, hidungnya mengernyit tidak suka, tapi wajahnya tenang— seperti topeng. Meski begitu aku tidak termakan oleh sikapnya yang sok tenang; aku bisa melihat kedua tangannya gemetar pelan.

Amarah menjalari tubuhnya. Hal itu membuatku teringat pada siang tak menyenangkan ketika ia lebih memilih Sam ketimbang aku, dan aku merasakan daguku terangkat dengan sikap defensif sebagai respons.

Rabbit milik Jacob menunggu dengan mesin menyala di pinggir jalan, bersama Jared di balik kemudi dan Embry di kursi penumpang. Aku paham maksudnya: mereka takut membiarkan Jacob datang ke sini sendirian. Itu membuatku sedih, sekaligus agak jengkel. Keluarga Cullen tidak seperti itu.

“Hai,” sapaku akhirnya ketika Jarob tak juga bicara.

Jake mengerucutkan bibir, masih berdiri agak jauh dari pintu. Matanya menyapu bagian depan rumah. Aku menggertakkan gigi. “Dia tidak di sini. Kau membutuhkan sesuatu?”

Jacob ragu-ragu. “Kau sendirian?”

“Ya.” Aku mendesah.

“Boleh aku bicara sebentar denganmu?”

“Tentu saja boleh, Jacob. Silakan masuk.”

Jacob menoleh memandangi teman-temannya di mobil. Kulihat Embry menggeleng sedikit. Entah mengapa, itu membuatku jengkel bukan main.

Rahangku kembali terkatup rapat. “Pengecut,” gumamku pelan.

Mata Jacob beralih lagi padaku, alisnya yang hitam tebal berkerut marah di atas matanya yang menjorok masuk. Rahangnya mengeras, dan ia berjalan mengentak-entakkan kaki—tidak ada istilah lain untuk melukiskan caranya berjalan— menghampiriku dan merangsek melewatiku masuk ke rumah.

Aku menatap Jared dan kemudian Embry dulu— aku tidak suka cara mereka menatapku tajam seperti itu; apakah mereka benar-benar mengira aku akan membiarkan Jacob dilukai?—sebelum menutup pintu di depan hidung mereka.

Jacob berdiri di ruang depan di belakangku, memandangi onggokan selimut di ruang tamu.

“Pesta menginap nih?” tanyanya, nadanya sinis.

“Yeah,” jawabku, sama ketusnya. Aku tidak suka melihat Jacob bertingkah seperti ini. “Memangnya kenapa?”

Jacob mengernyitkan hidungnya lagi, seperti mencium suatu yang tidak menyenangkan. “Mana ‘teman’-mu?” Aku bisa mendengar tanda kutip dalam suaranya.

“Ada beberapa hal yang harus dia kerjakan. Dengar, Jacob, apa maumu?”

Ada sesuatu di ruangan ini yang kelihatannya membuat Jacob gelisah—kedua lengannya yang panjang bergetar. Ia tidak menjawab pertanyaanku. Ia malah beranjak ke dapur, matanya jelalatan.

Aku mengikutinya. Ia mondar-mandir di depan konter dapur yang pendek.

“Hei.” seruku, menghalanginya. Jacob berhenti mondar-mandir dan menunduk memandangiku. “Apa masalahmu?”

“Aku tidak suka harus datang ke sini”

Ucapannya menyinggung perasaanku. Aku meringis, dan mata Jacob terpejam.

“Kalau begitu sayang sekali kau harus datang,” gerutuku. “Mengapa tidak langsung saja kausampaikan apa yang perlu kausampaikan supaya kau bisa pergi?”

“Aku hanya perlu mengajukan beberapa pertanyaan padamu. Tidak butuh waktu lama. Kami harus segera kembali untuk menghadiri pemakaman.”

“Oke. Tanyakan saja” Aku mungkin terlalu berlebihan dalam menunjukkan sikap bermusuhan, tapi aku tidak mau Jacob melihat betapa menyakitkannya ini bagiku. Aku tahu aku tidak bersikap adil. Bagaimanapun, aku lebih memilih si pengisap darah ketimbang dia semalam. Aku menyakitinya lebih dulu.

Jacob menghela napas dalam-dalam, dan jarijarinya yang gemetar mendadak diam. Wajahnya mulai tenang seperti topeng.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.