Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Kami nyaris tak bisa berbicara; aku sangat khawatir akan mengatakan hal-hal yang bisa membuatnya sedih—hal-hal kecil saja bisa membuatnya kalut—dan dia tidak pernah memulai pembicaraan. Dia baru menjawab bila kutanya.

“Dia sendirian terus sepanjang waktu. Tidak pernah membalas telepon teman-temannya, dan setelah beberapa saat, mereka berhenti menelepon.

“Pendek kata, rasanya seperti tinggal dengan mayat hidup. Aku masih mendengar dia menjerit dalam tidurnya…”

Aku nyaris bisa melihatnya bergidik. Aku sendiri juga bergidik waktu ingat. Kemudian aku mendesah. Ternyata aku tidak berhasil memperdaya Charlie dengan berpura-pura terlihat baik-baik saja. Sedikit pun dia tidak terperdaya.

“Aku sangat menyesal mendengarnya, Charlie,” ucap Alice, nadanya muram.

“Itu bukan salahmu.” Cara Charlie mengucapkan hal itu menunjukkan dengan jelas bahwa ia menganggap ada orang yang bertanggung jawab dalam hal itu. “Sejak dulu kau selalu baik padanya.”

“Sepertinya dia sudah lebih baik sekarang”

“Yeah. Sejak dia bergaul dengan Jacob Black, aku melihat banyak kemajuan. Pipinya mulai merona lagi bila dia pulang, matanya juga kembali bercahaya. Dia lebih bahagia.” Charlie terdiam sejenak, dan suaranya berbeda waktu berbicara lagi. “Jacob satu atau dua tahun lebih muda daripada Bella, dan aku tahu dia dulu menganggap Jacob sebagai teman, tapi kurasa mungkin hubungan mereka sekarang lebih daripada itu, atau mengarah ke sana paling tidak.” Charlie mengucapkannya dengan nada yang nyaris seperti mengajak perang. Itu peringatan, bukan bagi Alice, tapi agar Alice meneruskannya ke pihak lain. “Walaupun lebih muda, Jake sangat dewasa,” sambung Charlie, nadanya masih defensif. “Dia mengurus ayahnya secara fisik seperti Bella mengurus ibunya secara emosional. Itu mendewasakan dia. Anaknya juga tampan—mirip ibunya. Dia cocok dengan Bella,” Charlie menandaskan.

“Kalau begitu, untunglah Bella memiliki dia,” Alice sependapat.

Charlie mengembuskan napas panjang, merasa tidak punya lawan lagi. “Oke, kurasa itu terlalu melebih-lebihkan. Entahlah… bahkan meskipun sudah ada Jacob, sesekali aku masih melihat sesuatu di matanya, dan aku bertanya-tanya apakah bisa memahami betapa sakit hatinya sesungguhnya. Itu tidak normal, Alice, dan itu… itu membuatku takut. Sama sekali tidak normal. Tidak seperti… ditinggal seseorang, tapi seolaholah seperti ada yang meninggal.” Suara Charlie pecah.

Memang seperti ada yang meninggal—seolaholah akulah yang meninggal. Karena rasanya lebih dari sekadar kehilangan seseorang yang merupakan cinta paling sejati dalam hidupku. Tapi juga kehilangan seluruh masa depan, seluruh keluarga— seluruh hidup yang telah kupilih…

Charlie melanjutkan ceritanya dengan nada tak berdaya. “Aku tidak tahu apakah Bella akan bisa melupakannya—aku tak yakin apakah dia bisa pulih dari sesuatu seperti ini. Sejak dulu dia selalu konstan dalam segala hal. Dia bukan tipe orang yang melupakan masa lalu, atau yang bisa berubah pikiran.”

“Dia memang berbeda dari yang lain,” Alice membenarkan dengan suara kering.

“Dan Alice…” Charlie ragu-ragu sejenak. “Kau tahu aku sayang padamu, dan bisa kulihat dia senang bisa bertemu lagi denganmu, tapi… aku agak khawatir bagaimana kunjunganmu ini akan berakibat padanya.”

“Aku juga begitu, Charlie, aku juga begitu. Aku tidak akan datang seandainya tahu keadaannya seperti ini. Maafkan aku.”

“Jangan meminta maaf, Sayang. Siapa yang tahu? Mungkin ini akan berdampak baik baginya.”

“Mudah-mudahan kau benar.”

Lama tidak terdengar suara apa-apa kecuali bunyi garpu menggesek piring dan suara Charlie mengunyah. Aku bertanya-tanya dalam hati di mana Alice menyembunyikan makanannya.

“Alice, aku harus menanyakan sesuatu padamu,” kata Charlie canggung.

Alice tetap tenang. “Silakan.”

“Dia tidak bermaksud kembali ke sini untuk berkunjung, bukan?” Aku bisa mendengar amarah tertahan dalam suara Charlie.

Alice menjawab dengan nada lembut dan menenangkan. “Dia bahkan tidak tahu aku kemari. Terakhir kali aku bicara dengannya, dia sedang di Amerika Selatan.”

Tubuhku langsung tegang mendengar informasi baru ini, dan membuka telingaku lebar-lebar.

“Baguslah kalau begitu,” dengus Charlie. “Well, kuharap dia senang di sana.”

Untuk pertama kali terdengar secercah nada kaku dalam suara Alice. “Aku tidak akan berasumsi apa-apa, Charlie.” Aku tahu bagaimana matanya berkilat bila ia menggunakan nada itu.

Terdengar suara kursi didorong menjauhi meja, menggesek lantai dengan suara keras. Aku membayangkan Charlie berdiri; tak mungkin Alice menghasilkan suara seberisik itu. Keran diputar, airnya menciprat membasahi piring.

Sepertinya mereka tidak akan membicarakan Edward lagi, maka kuputuskan sekaranglah waktunya bangun.

Aku berbalik, sengaja membuat pegas sofa berderit. Lalu aku menguap dengan suara keras.

Suara-suara di dapur langsung terdiam.

Aku menggeliat dan mengerang.

“Alice?” panggilku pura-pura lugu; suaraku yang parau karena tenggorokanku sakit membuat sandiwaraku semakin meyakinkan.

“Aku di dapur, Bella,” seru Alice, tak ada tandatanda dalam suaranya bahwa ia curiga aku menguping pembicaraan mereka tadi. Tapi ia memang pandai menyembunyikan hal-hal semacam itu.

Charlie harus berangkat saat itu—ia akan membantu Sue Clearwater mengurus segala sesuatu berkaitan dengan pemakaman Harry. Ini pasti akan jadi hari yang sangat panjang dan membosankan seandainya tidak ada Alice. Ia belum mengatakan kapan akan pergi, dan aku juga tidak bertanya. Aku tahu itu takkan bisa dihindari, tapi aku sengaja tidak mau memikirkannya.

Kami malah mengobrol tentang keluarganya— semua kecuali satu.

Carlisle bekerja shift malam di Ithaca dan mengajar paruh waktu di Cornell. Esme merestorasi sebuah rumah yang didirikan pada abad ketujuh belas, sebuah monumen bersejarah, di hutan di utara kota. Emmett dan Rosalie sempat pergi berbulan madu lagi ke Eropa selama beberapa bulan, tapi sekarang sudah kembali. Jasper juga berada di Cornell, kali ini belajar filosofi. Sementara Alice melakukan beberapa riset pribadi, berkaitan dengan informasi yang tanpa sengaja kutemukan untuknya musim semi lalu. Ia berhasil melacak keberadaan rumah sakit jiwa tempatnya menghabiskan tahun-tahun terakhirnya sebagai manusia. Kehidupan yang tidak diingatnya sama sekali.

“Namaku dulu Mary Alice Brandon,” Alice bercerita padaku dengan suara pelan. “Aku punya adik perempuan bernama Cynthia. Anak perempuannya—keponakanku—masih hidup dan tinggal di Biloxi.”

Kau berhasil mengetahui alasan mereka memasukkanmu ke… tempat itu?” Apa yang membuat orangtua sanggup melakukan hal seekstrem itu? Walaupun putri mereka bisa melihat hal-hal yang akan terjadi di masa depan…

Alice menggeleng, mata topaz-nya berpikir. “Tak banyak yang bisa kutemukan mengenai mereka. Aku meneliti semua koran lama yang disimpan di mikrofilm. Keluargaku tidak sering disebut-sebut; mereka bukan bagian dari lingkaran sosial yang diberitakan di koran-koran. Yang ada hanya berita pertunangan kedua orangtuaku, juga pertunangan Cynthia,” Nama itu diucapkan dengan sikap canggung. “Kelahiranku juga diumumkan… begitu juga kematianku. Aku menemukan hiburanku. Aku juga mencuri formulir pendaftaranku ke rumah sakit jiwa dari arsip lama rumah sakit. Tanggal aku masuk ke sana dan tanggal di nisanku sama.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.