Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Bola mata Carlisle yang berwarna gelap tampak tenang dan merenung saat ia menjawab. “Hmm.

Aku paling senang kalau… kemampuanku ini bisa membantu menyelamatkan orang yang kalau tidak kutolong pasti akan meninggal. Senang rasanya mengetahui bahwa, karena kemampuanku, kehidupan orang lain bisa jauh lebih baik karena aku ada. Bahkan indra penciumanku terkadang bisa menjadi perangkat diagnosis yang berguna.” Satu sisi mulutnya terangkat membentuk separo senyuman.

Aku memikirkan hal itu sementara Carlisle mengorek-ngorek lukaku, memastikan semua serpihan kaca telah diambil Lalu ia merogoh-rogoh tasnya, mencari peralatan baru, dan aku berusaha untuk tidak membayangkan jarum dan benang.

“Kau berusaha sangat keras membenahi sesuatu yang sebenarnya bukan salahmu,” kataku sementara sensasi tarikan yang baru mulai terasa di pinggir-pinggir kulitku. “Maksudku, kau tidak minta dilahirkan seperti ini. Kau tidak memilih kehidupan seperti ini, tapi kau tetap berusaha sangat keras untuk menjalaninya dengan baik.”

“Aku bukan hendak membenahi apa-apa,” Carlisle menyanggah halus. “Seperti segalanya dalam hidup, aku hanya memutuskan hendak berbuat apa dengan kehidupan yang kumiliki sekarang.”

“Kau membuatnya terdengar terlalu mudah.”

Carlisle memeriksa lenganku lagi. “Nah, sudah,” ujarnya, menggunting benang. “Sudah beres.” Ia mengolesi kapas bertangkai ukuran besar dengan cairan sewarna sirup banyak-banyak, lalu membalurkannya dengan saksama di seluruh permukaan luka yang sudah dijahit. Baunya aneh; membuat kepalaku berputar. Cairan itu membuat kulitku perih.

“Tapi awalnya,” desakku sementara Carlisle menempelkan kasa panjang menutupi luka, lalu merekatkannya ke kulitku. “Mengapa terpikir olehmu untuk mencoba cara hidup yang lain selain yang lazim bagi kalian?”

Bibir Carlisle terkuak, membentuk senyum pribadi. “Edward tak pernah menceritakannya padamu?”

“Pernah. Tapi aku ingin memahami jalan pikiranmu…”

Wajah Carlisle mendadak berubah serius lagi, dan aku bertanya-tanya dalam hati apakah ia juga memikirkan hal yang sama. Bertanya-tanya apa yang akan kupikirkan saat—aku menolak berpikir itu hanya kemungkinan—itu terjadi padaku.

“Kau tahu ayahku pemuka agama,” kenang Carlisle sambil membersihkan meja dengan hatihati, mengelap semuanya dengan kasa basah, kemudian mengulanginya lagi. Bau alkohol membakar rongga hidungku. “Dia memiliki pandangan yang agak keras terhadap dunia, hal yang mulai kupertanyakan sebelum aku berubah.” Carlisle meletakkan semua kasa kotor dan serpihan kaca ke dalam mangkuk kristal kosong. Aku tidak mengerti maksudnya, sampai kemudian Carlisle menyalakan korek. Kemudian ia membuang batang korek api ke tumpukan kain yang basah oleh alkohol, dan api yang tiba-tiba menyala membuatku melompat kaget.

“Maaf,” katanya. “Nah, sudah… aku tidak sependapat dengan keyakinan yang dianut ayahku. Tapi tidak pernah, selama hampir empat ratus tahun sekarang sejak aku dilahirkan, aku melihat apa pun yang membuatku meragukan keberadaan Tuhan dalam wujud bagaimanapun. Bahkan bayangan dalam cermin pun tidak.”

Aku pura-pura mengamati balutan di lenganku untuk menyembunyikan kekagetanku melihat arah pembicaraan kami. Agama adalah hal terakhir yang kuharapkan bakal menjadi jawabannya. Aku sendiri bisa dibilang tidak memiliki keyakinan. Charlie menganggap dirinya Lutheran, karena itulah agama yang dianut kedua orangtuanya, tapi di hari Minggu ia beribadah di tepi sungai dengan joran dan pancing. Renee sesekali ke gereja, tapi sama seperti affair singkatnya dengan tenis, kerajinan tembikar, yoga, dan kursus bahasa Prancis, ia sudah tertarik pada hal lain saat aku baru mulai menyadari kegemaran barunya.

Aku yakin semua ini kedengarannya aneh, karena keluar dari mulut vampir. Carlisle nyengir, tahu penggunaan kata itu secara sambil lalu selalu berhasil membuatku shock. “Tapi aku berharap masih ada tujuan dalam hidup ini. bahkan bagi kami. Sulit memang, harus kuakui,” sambung Carlisle dengan nada tak acuh. “Bagaimanapun juga, kami telah dikutuk. Tapi aku berharap, dan mungkin ini harapan konyol, bahwa kami bisa mendapatkan sedikit penghargaan karena telah mencoba.”

“Menurutku itu tidak konyol,” gumamku. Aku tak bisa membayangkan ada orang, termasuk Tuhan, yang tidak terkesan pada Carlisle. Lagi pula, satu-satunya surga yang kuinginkan adalah yang ada Edward-nya. “Dan kurasa orang lain pun tak ada yang berpikir begitu.”

“Sebenarnya, kau orang pertama yang sependapat denganku.”

“Memangnya yang lain-lain tidak merasakan hal yang sama?” tanyaku, terkejut, pikiranku hanya tertuju pada satu orang secara khusus.

Carlisle kembali menebak jalan pikiranku. “Edward sependapat denganku sampai batas tertentu. Tuhan dan surga itu ada… begitu juga neraka. Tapi dia tidak percaya ada kehidupan setelah kematian untuk jenis kami,” Suara Carlisle sangat lembut; ia memandang ke luar jendela besar di atas bak cuci, ke kegelapan. “Kau tahu, menurut dia, kami sudah kehilangan jiwa kami.”

Aku langsung teringat kata-kata Edward siang tadi: kecuali kau memang ingin mati—atau apa sajalah istilahnya untuk kamu. Sebuah bola lampu seakan menyala di kepalaku.

“Jadi itulah masalahnya, bukan?” aku menduga. “Itulah sebabnya dia begitu sulit mengabulkan keinginanku.”

Carlisle berbicara lambat-lambat. “Aku memandang… putraku. Kekuatannya, kebaikannya, kecemerlangan yang terpancar darinya—dan itu justru semakin mengobarkan semangat itu, keyakinan itu, lebih dari yang sudah-sudah. Bagaimana mungkin tidak ada kehidupan setelah kematian untuk makhluk sebaik Edward?”

Aku mengangguk penuh semangat, setuju.

“Tapi kalau keyakinanku sama seperti Edward bahwa jiwa kami sudah hilang…” Carlisle menunduk memandangiku dengan sorot mata tak terbaca. “Seandainya kau meyakini hal yang sama seperti yang diyakininya. Tegakah kau merenggut jiwanya?”

Cara Carlisle memfrasekan pertanyaan itu menghalangi jawabanku. Seandainya ia bertanya apakah aku rela mempertaruhkan jiwaku untuk Edward, jawabannya jelas. Tapi apakah aku rela mempertaruhkan jiwa Edward? Kukerucutkan bibirku dengan sikap tak suka. Itu bukan barter yang adil.

“Sekarang kau mengerti masalahnya.”

Aku menggeleng, sadar sifat keras kepalaku mulai muncul.

Carlisle mendesah.

“Itu pilihanku,” aku berkeras.

“Itu juga pilihannya,” Carlisle mengangkat tangan begitu melihatku hendak membantah. “Terlepas dari apakah dia bertanggung jawab melakukan hal itu terhadapmu.”

“Dia bukan satu-satunya yang bisa melakukannya,” Kupandangi Carlisle dengan sikap spekulatif.

Carlisle tertawa, ketegangan langsung mencair. “Oh, tidak. Kau harus membereskan masalah ini dengan dia!’ Tapi sejurus kemudian ia menghela napas panjang. “Itu bagian yang aku tidak akan pernah bisa yakin. Kupikir, dalam banyak hal lain, aku sudah melakukan yang terbaik dengan apa yang harus kulakukan. Tapi benarkah tindakanku yang membuat orang lain menjalani kehidupan seperti ini? Aku tak bisa memutuskan.”

Aku tidak menjawab. Aku membayangkan bagaimana jadinya hidupku seandainya Carlisle menolak godaan untuk mengubah keberadaannya yang sendirian… dan bergidik.

“Ibu Edward-lah yang membuatku yakin dengan keputusanku” Suara Carlisle nyaris hanya bisikan. Matanya menerawang kosong ke luar jendela yang gelap.

“Ibunya?” Setiap kali aku bertanya kepada Edward tentang orangtuanya, ia hanya berkata mereka sudah lama meninggal dan ingatannya kabur. Sadarlah aku ingatan Carlisle terhadap orangtua Edward, meski pertemuan mereka sangat singkat, pastilah sangat jelas.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.