Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Aku tergesa-gesa menghabiskan makananku tanpa merasakannya—yang kurasakan hanya perih saat makanan meluncur di tenggorokanku yang luka. Kebanyakan aku haus; pasti ada setengah galon air laut yang terminum olehku. Tingginya kadar garam dalam tubuhku membuatku dehidrasi.

Aku beranjak untuk mencoba nonton TV sambil menunggu.

Ternyata Alice sudah di sana, duduk di tempat tidurnya yang telah kusiapkan. Matanya bagaikan butterscotch cair. Ia tersenyum dan menepuknepuk bantal. “Trims.”

“Kau datang lebih awal,” seruku, gembira.

Aku duduk di sebelahnya dan menyandarkan kepalaku di bahunya. Ia melingkarkan lengannya yang dingin di bahuku dan mendesah.

“Bella. Harus kami apakan kau?”

“Entahlah,” aku mengakui. “Aku benar-benar sudah berusaha sekuat tenaga.”

“Aku percaya padamu.”

Lalu kami terdiam

“Apakah—apakah dia…” Aku menghela napas dalam-dalam. Lebih sulit menyebut namanya dengan suara keras, walaupun aku bisa memikirkannya sekarang. “Apakah Edward tahu kau di sini?” Aku tidak tahan untuk tidak bertanya. Bagaimanapun, itu kepedihanku. Aku akan membereskannya setelah Alice pergi nanti, aku berjanji pada diriku sendiri, dan merasa mual memikirkannya.

“Tidak.”

Hanya ada satu kemungkinan bahwa itu benar. “Dia tidak sedang bersama Carlisle dan Esme?”

“Dia datang beberapa bulan sekali.”

“Oh.” Kalau begitu ia pasti masih sibuk menikmati hal-hal lain yang bisa mengalihkan pikirannya. Aku memfokuskan rasa ingin tahuku pada topik lain yang lebih aman. “Kauhilang tadi kau terbang ke sini… Kau datang dari mana?”

“Aku sedang di Denali. Mengunjungi keluarga Tanya.”

“Apakah Jasper ada di sini? Dia datang bersamamu?”

Alice menggeleng. “Dia tidak suka aku ikut campur. Kami sudah berjanji…” Suaranya menghilang, kemudian nadanya berubah. “Menurutmu Charlie tidak keberatan aku datang ke sini?” tanyanya, terdengar waswas.

“Charlie menganggapmu baik sekali, Alice”

“Well, sebentar lagi kita akan tahu.”

Benar saja, beberapa detik kemudian aku mendengar suara mobil memasuki halaman. Aku melompat dan bergegas membukakan pintu.

Charlie tersaruk-saruk pelan meniti jalan, matanya tertuju ke tanah dan bahunya terkulai. Aku menghampirinya; ia bahkan tidak melihatku sampai aku memeluk pinggangnya. Ia membalas pelukanku dengan sepenuh hati.

“Aku ikut sedih mendengar tentang Harry, Dad”

“Aku akan sangat kehilangan dia,” gumam Charlie.

“Bagaimana keadaan Sue?”

“Dia seperti orang linglung, seperti belum bisa mencernanya. Sam menemaninya sekarang…” Volume suaranya hilang-timbul. “Kasihan anakanak itu. Leah hanya setahun lebih tua daripada kau, sementara Seth baru empat belas…” Charlie menggeleng-gelengkan kepala.

Sambil tetap merangkulku, Charlie berjalan lagi menuju pintu.

“Em, Dad?” Kupikir lebih baik aku mengingatkannya dulu. “Dad pasti tidak akan menyangka siapa yang sedang di sini sekarang.”

Charlie menatapku kosong. Kepalanya menoleh dan melihat Mercedez yang diparkir di seberang jalan, cahaya lampu teras terpantul di bodinya yang dicat hitam mengilat. Sebelum ia sempat bereaksi, Alice sudah berdiri di ambang pintu.

“Hai, Charlie,” sapanya pelan. “Maaf aku datang pada saat yang sangat tidak tepat.”

“Alice Cullen?” Charlie memicingkan mata, memandangi sosok mungil di depannya, seolaholah meragukan matanya sendiri. “Alice, benarkah itu kau?”

“Ini memang aku,” Alice membenarkan. “Kebetulan aku sedang berada di sekitar sini.”

“Apakah Carlisle…?”

“Tidak, aku sendirian.”

Baik Alice maupun aku tahu bukan Carlisle sebenarnya yang ingin ditanyakan Charlie. Lengannya mencengkeram bahuku lebih erat.

“Dia boleh menginap di sini, kan?” pintaku. “Aku sudah memintanya.”

“Tentu saja,” jawab Charlie datar. “Kami senang menerimamu di sini, Alice.”

“Terima kasih, Charlie. Aku tahu waktunya sangat tidak tepat.”

“Tidak, tidak apa-apa, sungguh. Aku akan sangat sibuk melakukan apa yang bisa kulakukan untuk keluarga Harry; aku senang ada yang menemani Bella.”

“Makan malam sudah siap di meja, Dad,” aku memberi tahu ayahku.

“Trims, Bell” Ia meremas bahuku sekali lagi sebelum tersaruk-saruk ke dapur.

Alice kembali ke sofa, dan aku mengikutinya. Kali ini dialah yang merangkul bahuku.

“Kau kelihatan capek.”

“Yeah,” aku sependapat, dan mengangkat bahu. “Begitulah kalau habis mengalami peristiwa yang nyaris menyebabkan kematian… Jadi, apa pendapat Carlisle mengenai kedatanganmu ke sini?”

“Dia tidak tahu. Dia dan Esme sedang pergi berburu. Beberapa hari lagi dia kembali.”

“Kau tidak akan memberi tahu dia, kan… kalau dia datang lagi nanti?” tanyaku. Alice tahu yang kumaksud kali ini bukan Carlisle.

“Tidak. Bisa-bisa dia ngamuk nanti,” jawab Alice muram. Aku tertawa, kemudian mendesah.

Aku tidak kepingin tidur. Aku ingin berjaga sepanjang malam, mengobrol dengan Alice. Lagi pula, tidak masuk akal bila aku lelah, karena seharian tadi aku tidur di sofa Jacob. Tapi tenggelam benar-benar menguras habis tenagaku, tapi mataku tak mau diajak kompromi. Kuletakkan kepalaku bahunya yang sekeras batu, dan terhanyut dalam tidur yang lebih tenang daripada yang bisa kuharapkan.

Aku bangun pagi-pagi sekali, dari tidur nyenyak tanpa mimpi, merasa segar bugar tapi kaku. Aku terbaring di sofa, di bawah selimut yang kusiapkan untuk Alice, dan aku bisa mendengarnya mengobrol dengan Charlie di dapur. Kedengarannya Charlie sedang membuatkan sarapan untuknya.

“Seberapa parah keadaannya, Charlie?” tanya Alice lirih, dan awalnya kukira mereka sedang membicarakan keluarga Clearwater.

Charlie mendesah. “Parah sekali.”

“Ceritakan semua padaku. Aku ingin tahu persis apa yang terjadi setelah kami pergi.”

Sejenak tidak terdengar apa-apa kecuali pintu rak dapur ditutup dan pemantik api di kompor dinyalakan. Aku menunggu, tegang.

“Aku tidak pernah merasa begitu tak berdaya,” Charlie memulai lambat-lambat. “Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Minggu pertama itu— aku sampai mengira mungkin dia perlu dirawat di rumah sakit. Dia tidak mau makan atau minum, juga tidak mau bergerak. Dr. Gerandy bolak-balik menyebut istilah ‘katatonik’, tapi aku tidak mengizinkannya menemui Bella. Aku takut itu akan membuatnya ketakutan.”

“Tapi akhirnya dia normal lagi?”

“Aku meminta Renee datang dan membawanya ke Florida. Pokoknya aku tidak mau menjadi orang yang… seandainya dia harus dirawat di rumah sakit atau sebangsanya. Aku berharap tinggal dengan ibunya bisa membantu. Tapi waktu kami mulai mengemasi pakaiannya, tiba-tiba saja dia bangun. Aku pernah melihat Bella mengamuk seperti itu. Dia bukan anak pemarah, tapi, ya ampun, saat itu dia mengamuk habis-habisan. Dia menghamburkan pakaiannya ke mana-mana dan berteriak-teriak, tidak mau disuruh pergi— kemudian akhirnya dia mulai menangis. Menurutku, itulah titik baliknya. Aku tidak membantah waktu dia bersikeras ingin tetap tinggal di sini… dan awalnya dia benar-benar seperti sudah membaik…”

Suara Charlie menghilang. Sulit mendengarnya mencurahkan isi hati seperti ini, tahu betapa aku sudah sangat menyusahkannya.

“Tapi?” desak Alice.

“Dia kembali bersekolah dan bekerja, makan, tidur, dan mengerjakan PR. Dia menjawab bila ditanya. Tapi dia… kosong. Matanya hampa. Banyak hal kecil yang hilang—dia tidak mau mendengarkan musik lagi; aku bahkan pernah menemukan setumpuk CD rusak di tong sampah. Dia tidak membaca; dia tidak mau berada di ruangan yang sama bila TV menyala, meskipun sejak dulu dia memang jarang nonton TV Akhirnya aku mengerti—Bella sengaja menghindar dari segala sesuatu yang mengingatkannya pada… dia.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.