Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Bau?” ulangku.

“Baumu tidak enak,” cetus Alice sambil lalu, keningnya masih berkerut. “Werewolf? Kau yakin soal itu?”

“Yakin sekali,” aku memastikan, meringis saat teringat bagaimana Paul dan Jacob bertarung di jalan. “Kalau begitu kau masih belum bersama Carlisle waktu terakhir kali ada werewolf di Forks?”

“Belum. Aku belum menemukannya.” Alice masih tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tibatiba matanya membelalak, dan ia berpaling, menatapku dengan ekspresi shock. “Sahabatmu werewolf?”

Aku mengangguk malu-malu. “Ini sudah berlangsung berapa lama?”

“Belum lama,” jawabku, suaraku terdengar defensif. “Dia baru beberapa minggu menjadi werewolf!”

Alice membelalak memandangiku. “Werewolf yang masih muda? Itu bahkan lebih parah! Edward benar—kau magnet yang menarik bahaya. Bukankah kau seharusnya menghindari bahaya?”

“Tidak ada yang salah dengan werewolf!” gerutuku, tersinggung mendengar nadanya yang mengkritik.

“Sampai amarah mereka meledak.” Alice menggeleng kuat-kuat. “Dasar kau, Bella. Orang lain pasti bakal hidup lebih baik setelah para vampir meninggalkan kota. Tapi kau langsung bergaul dengan monster-monster pertama yang bisa kautemukan.”

Aku tidak ingin berdebat dengan Alice—aku masih gemetaran saking gembira karena ia benarbenar, sungguh-sungguh ada di sini, hingga aku bisa menyentuh kulit marmernya dan mendengar suaranya yang seperti genta angin—tapi ia sangat keliru.

“Tidak, Alice, para vampir tidak sepenuhnya pergi—tidak semuanya, paling tidak. Justru itulah masalahnya. Kalau bukan karena para werewolf itu, Victoria pasti sudah berhasil menemukanku sekarang. Well kalau bukan karena Jake dan teman-temannya, Laurent pasti berhasil membunuhku sebelum Victoria, kurasa, jadi—”

“Victoria?” desis Alice. “Laurent?”

Aku mengangguk, sedikit waswas melihat ekspresi yang terpancar dari mata hitamnya. Kutuding dadaku sendiri. “Magnet yang menarik bahaya, ingat?”

Alice menggeleng-geleng lagi. “Ceritakan semua padaku— dari awal.”

Aku memoles awal kisahku, sengaja melewatkan cerita tentang motor dan suara-suara itu, tapi membeberkan semua yang terjadi sampai hari ini. Alice tidak menyukai penjelasan singkatku tentang kebosanan dan lompat tebing, jadi aku buru-buru menceritakan tentang api aneh yang kulihat di air dan apa perkiraanku mengenainya. Matanya menyipit hingga nyaris segaris di bagian itu. Aneh juga melihatnya begitu… begitu berbahaya—seperti vampir. Aku menelan ludah dengan susah payah dan melanjutkan kisahku tentang Harry.

Alice mendengarkan ceritaku tanpa menyela. Sesekali, ia menggeleng, dan kerutan di keningnya semakin dalam hingga tampak seperti terpahat secara permanen di kulit marmernya. Ia tidak berbicara dan, akhirnya, aku terdiam, dicekam kesedihan karena kematian Harry. Pikiranku melayang pada Charlie; sebentar lagi ia pulang. Bagaimana kira-kira kondisinya?

“Kepergian kami sama sekali tidak membawa kebaikan bagimu, ya?” gumam Alice.

Aku tertawa satu kali—kedengarannya agak histeris. “Memang tujuannya bukan itu, kan? Kalian pergi bukan demi kebaikanku.”

Alice merengut memandangi lantai beberapa saat. “Well, kurasa aku bertindak impulsif hari ini tadi. Mungkin seharusnya aku tidak ikut campur.”

Bisa kurasakan darah surut dari wajahku. Perutku langsung mulas. “Jangan pergi, Alice,” bisikku. Jari-jariku mencengkeram kerah kemeja putihnya dan aku mulai tak bisa bernapas. “Kumohon, jangan tinggalkan aku.”

Mata Alice membelalak semakin lebar, “Baiklah,” ia memberi penekanan pada setiap katanya. “Aku tidak akan ke mana-mana malam ini. Tarik napas dalam-dalam.”

Aku berusaha menuruti, meski rasanya itu mustahil.

Alice memandangi wajahku sementara aku berkonsentrasi menarik napas. Ia menunggu sampai aku lebih tenang untuk berkomentar.

“Kau kelihatan kacau sekali, Bella.”

“Aku kan tadi tenggelam,” aku mengingatkannya.

“Bukan itu maksudku. Kau berantakan.”

Aku tersentak. “Dengar, aku sudah berusaha semampuku.”

“Apa maksudmu?”

“Ini tidak mudah. Aku sedang berjuang mengatasinya.”

Kening Alice berkerut. “Sudah kubilang pada Edward,” katanya pada diri sendiri.

“Alice,” aku mendesah. “Kaukira kau bakal menemukan apa tadi? Maksudku, selain aku mati? Apakah kau berharap akan menemukanku dalam keadaan ceria dan bernyanyi-nyanyi gembira? Kau kan tahu bagaimana aku.”

“Memang. Tapi harapanku begitu.”

“Kalau begitu berarti aku bukan orang paling tolol di dunia.”

Telepon berdering.

“Itu pasti Charlie,” kataku, berdiri dengan susah payah. Kusambar tangan Alice yang sekeras batu dan kuseret ia bersamaku ke dapur. Aku takkan melepaskannya dari pandanganku.

“Charlie?” seruku di corong telepon.

“Bukan, ini aku,” sahut Jacob.

“Jake!”

Alice mengamati ekspresiku.

“Hanya ingin memastikan kau masih hidup,” kata Jacob masam.

“Aku baik-baik saja. Sudah kubilang itu bukan— ”

“Yeah. Aku mengerti. Bye,” Jacob langsung menutup telepon.

Aku mendesah dan menengadahkan kepala, menatap langit-langit. “Gawat.”

Alice meremas tanganku. “Mereka tidak suka aku datang.”

“Memang tidak. Tapi itu toh bukan urusan mereka.”

Alice merangkul bahuku. “Jadi apa yang kita lakukan sekarang?” tanyanya. Sesaat ia seperti bicara pada dirinya sendiri. “Banyak yang harus dilakukan. Membereskan yang belum selesai.”

“Melakukan apa?”

Wajah Alice mendadak terlihat hati-hati. “Aku tidak begitu yakin… aku harus menemui Carlisle.”

Apakah dia harus pergi secepat ini? Perutku langsung mulas.

“Tidak bisakah kau tinggal dulu di sini?” pintaku. “Please? Sebentar saja. Aku sangat rindu padamu.” Suaraku pecah.

“Kalau menurutmu itu ide bagus” Matanya terlihat tidak senang. .

“Menurutku itu ide bagus. Kau bisa menginap di sini – Charlie pasti senang sekali.”

“Aku kan punya rumah, Bella”

Aku mengangguk, kecewa tapi tidak menyerah. Alice ragu-ragu, mengamanku.

“Well aku kan perlu mengambil baju ganti, paling tidak.”

Aku memeluknya. “Alice, kau baik sekali!”

“Dan kurasa aku harus berburu. Segera,” imbuhnya kaku.

“Uups” Aku langsung mundur selangkah.

“Kau bisa kan, menghindari masalah satu jam saja?” tanyanya skeptis. Kemudian, sebelum aku sempat menjawab, Alice mengacungkan satu jari dan memejamkan mata. Wajahnya datar dan kosong selama beberapa detik.

Kemudian matanya terbuka dan ia menjawab pertanyaannya sendiri. “Ya, kau akan baik-baik saja. Setidaknya malam ini.” Ia meringis. Bahkan saat mengernyit seperti itu, ia masih terlihat seperti malaikat.

“Nanti kau kembali, kan?” tanyaku, suaraku kecil. “Aku janji—satu jam.”

Kulirik jam di meja dapur. Alice tertawa dan mencondongkan tubuh cepat-cepat untuk mengecup pipiku. Detik berikutnya ia sudah pergi.

Aku menarik napas dalam-dalam. Alice akan kembali. Tiba-tiba aku merasa jauh lebih enak.

Banyak sekali yang harus kulakukan untuk menyibukkan diri sambil menunggu. Mandi jelas jadi prioritas pertama. Sambil menanggalkan pakaian, aku mengendusi bahuku, tapi tidak bisa mencium bau apa pun kecuali bau garam dan rumput laut. Aku jadi penasaran apa maksud Alice mengatakan tubuhku bau sekali.

Setelah tubuhku bersih, aku kembali ke dapur. Tidak terlihat tanda-tanda Charlie sudah makan, jadi mungkin ia lapar jika pulang nanti. Aku bergumam tanpa nada sambil menyibukkan diri di dapur.

Sementara kaserol hari Kamis kemarin sedang dipanaskan di microwave, aku memasang seprai di sofa dan meletakkan bantal tua. Alice tidak membutuhkannya, tapi Charlie perlu melihatnya. Aku berhati-hati untuk tidak mengawasi jam dinding. Tak ada alasan untuk panik; Alice sudah berjanji.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.