Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Rambut Victoria, berkibar-kibar liar tertiup angin, warnanya seperti api… bersamaku dan Jacob. Apa jadinya kalau tidak ada San, kalau kami hanya berdua…? Aku tak mampu bernapas ataupun bergerak.

Lampu menyala, meski tanganku yang membeku tidak juga berhasil menemukan tombol lampu.

Aku mengerjap-ngerjapkan mata, silau oleh lampu yang tiba-tiba menyala, dan melihat seseorang di sana, menungguku.

 

17. TAMU

DIAM tak bergerak dan putih, dengan mata hitam besar terpaku di wajahku, tamuku menunggu, bergeming di tengah ruang depan, cantik luar biasa.

Sesaat lututku gemetar, dan aku nyaris rubuh. Detik berikutnya aku menghambur menghampirinya.

“Alice, oh, Alice!” pekikku, menubruknya.

Aku lupa betapa kerasnya tubuh Alice; rasanya seperti menabrak dinding semen.

“Bella?” Suara Alice lega bercampur bingung.

Aku memeluknya erat-erat, terengah-engah karena berusaha menghirup sebanyak mungkin aroma kulitnya. Baunya lain dari yang lain—bukan beraroma bunga ataupun rempah-rempah, juga bukan wangi jeruk ataupun musk. Tak satu parfum pun di dunia ini yang bisa menandinginya. Ingatanku tidak bisa mengingatnya dengan tepat.

Aku tidak sadar saat napasku yang terengahengah berubah menjadi sesuatu yang lain – aku baru sadar bahwa aku menangis tersedu-sedu ketika Alice menyeretku ke sofa ruang tamu dan menarikku ke pangkuannya. Rasanya seperti meringkuk dalam pelukan patung baru, tapi lekukan tubuh patung batu itu pas benar dengan bentuk tubuhku. Alice mengusap-usap punggungku dengan lembut, menungguku menguasai diri kembali.

“Aku… maafkan aku,” isakku. “Aku hanya… sangat bahagia… bertemu denganmu!”

“Sudahlah, Bella. Semua baik-baik saja.”

“Ya,” isakku. Dan, kali ini, sepertinya memang begitu.

Alice mendesah. “Aku sudah lupa betapa emosionalnya kau,” katanya, nadanya terdengar tidak suka.

Aku mendongak dan memandangnya dari selasela air mataku. Leher Alice tegang, menjauhiku, bibirnya terkatup rapat. Matanya hitam kelam.

“Oh” aku mengembuskan napas, menyadari masalahnya. Alice haus. Dan aromaku menggoda. Sudah lama sekali aku tak pernah lagi memikirkan hal semacam itu. “Maaf.”

“Ini salahku sendiri. Sudah lama sekali aku tidak berburu. Seharusnya aku tidak membiarkan diriku sehaus itu. Tapi aku terburu-buru hari ini.” Tatapannya yang diarahkan padaku sangat garang. “Omong-omong, maukah kau menjelaskan padaku bagaimana caranya sampai kau masih hidup?”

Pertanyaan ini membuatku kaget dan langsung menghentikan sedu-sedanku. Aku langsung menyadari apa yang terjadi, dan mengapa Alice datang ke sini.

Aku menelan ludah dengan suara keras. “Kau melihatku jatuh.”

“Tidak,” sergah Alice, matanya menyipit. “Aku melihatmu melompat.”

Aku mengerucutkan bibir sambil berusaha memikirkan penjelasan yang tidak terdengar sinting.

Alice menggelengkan kepala. “Sudah kubilang padanya ini bakal terjadi, tapi dia tidak percaya padaku. ‘Bella sudah berjanji,’” Alice menirukan suara Edward dengan sangat sempurna hingga membuatku membeku shock saat kepedihan merobek tubuhku. ‘”Jangan mencoba melihat masa depannya juga,'” sambung Alice, masih mengutip kata-kata Edward. “‘Kita sudah cukup membuatnya menderita.’

“Tapi meski tidak mencari, bukan berarti aku tidak melihat,” lanjut Alice. “Aku bukannya mengawasimu, sumpah, Bella. Hanya saja sudah terjalin hubungan batin denganmu, jadi… waktu aku melihatmu melompat, tanpa pikir panjang aku langsung naik pesawat. Aku tahu pasti sudah terlambat, tapi aku tidak bisa tidak melakukan apa-apa. Kemudian aku sampai di sini, berpikir mungkin aku bisa membantu Charlie, dan tahutahu kau datang.” Alice menggeleng-gelengkan kepala, kali ini karena bingung. Suaranya tegang. “Aku melihatmu tercebur ke air dan aku menunggu dan menunggumu muncul kembali, tapi kau tidak keluar-keluar juga. Apa yang terjadi? Dan tega benar kau berbuat begitu kepada Charlie? Pernahkah kau berhenti sejenak untuk memikirkan dampaknya bagi dia? Dan bagi kakakku? Apa kau pernah berpikir apa yang Edward—”

Aku langsung memotongnya saat itu juga, begitu mendengarnya menyebut nama Edward. Tadi kubiarkan saja dia nyerocos, bahkan setelah aku sadar dia salah paham, hanya untuk mendengar suaranya yang bagaikan denting lonceng merdu itu. Tapi sekarang sudah saatnya menyela.

“Alice, aku bukan mau bunuh diri.”

Alice menatapku ragu. “Jadi maksudmu, kau tidak terjun dari tebing?”

“Bukan, tapi…” aku meringis. “Itu kulakukan hanya untuk bersenang-senang.”

Ekspresinya mengeras.

“Aku pernah melihat teman-teman Jacob terjun dari tebing,” sergahku. “Kelihatannya… asyik, dan aku sedang bosan…”

Ia menunggu.

“Aku tidak mengira badai akan memengaruhi arus air. Sebenarnya, aku bahkan tidak memikirkan air sama sekali.”

Alice tidak percaya begitu saja. Kentara sekali ia masih mengira aku mencoba bunuh diri. Kuputuskan untuk mengalihkan pikirannya. “Jadi kalau kau melihatku terjun, mengapa kau tidak melihat Jacob?”

Alice menelengkan kepalanya ke satu sisi, perhatiannya terusik.

Aku melanjutkan. “Memang benar aku mungkin sudah tenggelam seandainya Jacob tidak melompat menyusulku. Well, oke, bukan mungkin lagi. Tapi untunglah dia menyusulku, dan dia menarikku ke permukaan, dan kurasa dia menyeretku ke pantai, walaupun saat itu aku pingsan jadi tidak tahu apaapa. Aku tidak mungkin tenggelam lebih dari satu menit sebelum dia menyambarku. Bagaimana kau bisa tidak melihatnya?”

Kening Alice berkerut bingung. “Ada orang yang menarikmu keluar?”

“Ya. Jacob menyelamatkan aku.”

Kutatap Alice dengan sikap ingin tahu sementara berbagai emosi berkecamuk di wajahnya. Ia merasa terganggu oleh sesuatu—visinya yang tidak sempurna? Tapi aku tak yakin. Kemudian ia mencondongkan tubuh dan mengendus bahuku.

Aku langsung mengejang.

“Jangan konyol,” kecamnya, mengendusiku lagi.

“Kau sedang apa?”

Alice mengabaikan pertanyaanku. “Siapa yang bersamamu barusan? Kedengarannya kalian tadi bertengkar.”

“Jacob Black. Dia… sahabatku, begitulah. Setidaknya, dulu…” Ingatanku melayang pada wajah Jacob yang marah dan merasa dikhianati, bertanya-tanya dalam hati apa statusnya bagiku sekarang.

Alice mengangguk, sepertinya sibuk memikirkan hal lain.

“Apa?”

“Entahlah,” tukasnya. “Aku tak yakin itu berarti apa.”

“Well, aku tidak tewas, setidaknya.”

Alice memutar bola matanya. “Sungguh tolol Edward, mengira kau bisa bertahan hidup sendirian. Belum pernah kulihat orang yang begitu mudah tersangkut pada hal-hal tolol yang mengancam nyawa.”

“Aku bertahan kok,” tegasku.

Alice memikirkan hal lain. “Jadi, kalau arus air terlalu kuat bagimu, bagaimana Jacob ini bisa menolongmu?”

“Jacob itu… kuat”

Alice mendengar keengganan dalam suaraku, dan alisnya terangkat.

Aku menggigit bibir sejenak. Ini rahasia atau bukan? Dan kalau ini rahasia, kepada siapa aku lebih berpihak? Jacob, atau Alice?

Terlalu sulit menyimpan rahasia, aku memutuskan. Jacob tahu semuanya, jadi mengapa Alice tidak?

“Begini, Well dia itu… werewolf,” aku mengakui dengan sikap buru-buru. “Suku Quileute berubah menjadi serigala bila ada vampir di sekitar mereka. Mereka sudah kenal Carlisle sejak dulu sekali. Apakah saat itu kau sudah bersama Carlisle?”

Alice ternganga sejenak, tapi sejurus kemudian pulih dari kekagetannya, matanya mengerjap cepat. “Well, kalau begitu pantas ada bau itu,” gerutunya. “Tapi apakah itu menjelaskan apa yang tidak kulihat?” Ia berpikir, kening porselennya berkerut.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.