Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Jake menempelkan pipinya yang hangat ke puncak kepalaku.

Jika aku memalingkan wajahku ke samping— jika aku menempelkan bibirku ke bahunya yang telanjang… aku tahu benar apa yang akan terjadi selanjutnya. Mudah sekali. Tidak perlu ada penjelasan apa-apa malam ini.

Tapi bisakah aku melakukannya? Mampukah aku mengkhianati hatiku yang hampa demi menyelamatkan hidupku yang menyedihkan?

Kupu-kupu menggelepar dalam perutku saat aku berpikir untuk memalingkan kepala.

Kemudian, sama jelasnya seperti bila aku berada dalam bahaya besar, suara Edward yang sehalus beledu berbisik di telingaku.

“Berbahagialah,” katanya.

Aku langsung membeku.

Jacob merasakan tubuhku mengejang dan otomatis melepaskan pelukannya, menggapai ke pintu.

Tunggu, aku ingin berseru. Tunggu sebentar. Tapi aku masih terpaku di tempat, mendengarkan gema suara Edward dalam kepalaku.

Udara yang dingin oleh badai berembus masuk ke truk.

“OH!” Napas Jacob tersentak keluar, seolah-olah seseorang meninju perutnya. “Sialan!”

Jacob membanting pintu dan memutar kunci mobil pada saat bersamaan. Kedua tangannya gemetar sangat hebat hingga aku tak tahu bagaimana ia bisa melakukannya.

“Ada apa?”

Jacob meraungkan mesin terlalu cepat; mesin terbatuk-batuk dan mati.

“Vampir,” semburnya.

Darah surut dan kepalaku dan membuatku pening. “Bagaimana kau tahu?’

“Karena aku bisa menciumnya! Sialan!”

Mata Jacob liar, jelalatan menjelajahi jalanan yang gelap. Tampaknya ia tidak terlalu menyadari getaran yang menjalari sekujur tubuhnya. “Berubah atau membawanya pergi dari sini?” desisnya pada diri sendiri.

Ia menunduk menatapku sekilas, melihat sorot mataku yang ketakutan dan wajahku yang pucat, kemudian matanya menyapu jalanan lagi. “Baiklah. Kubawa kau pergi dari sini.”

Mesin menyala dengan suara meraung. Ban-ban berdecit saat ia memutar truk ke arah berlawanan, berbalik menuju satu-satunya tempat kami bisa meloloskan diri. Lampu truk menyapu trotoar, menerangi bagian depan hutan yang gelap, dan akhirnya memantul pada mobil yang diparkir di seberang jalan depan rumahku.

“Berhenti!” aku terkesiap kaget.

Itu mobil hitam—mobil yang kukenal. Aku memang paling tidak tahu apa-apa soal mobil, tapi kalau mobil yang satu itu, aku hafal benar. Itu Mercedez S55 AMG. Aku tahu berapa tenaga kuda daya mesinnya serta warna interiornya. Aku tahu bagaimana rasanya mesin yang bertenaga itu menderum dari bagian dalamnya. Aku tahu bagaimana aroma jok kulitnya yang mewah serta bagaimana lapisan kaca filmnya yang ekstra gelap membuat tengah hari terasa seperti senja dari balik jendela-jendelanya.

Itu mobil Carlisle.

“Berhenti!” pekikku lagi, kali ini lebih keras, karena Jacob memacu trukku secepat-cepatnya menjauhi jalan.

“Apa?!”

“Itu bukan Victoria. Berhenti, berhenti! Aku ingin kembali.”

Jacob menginjak rem begitu dalam hingga aku terpaksa menahan tubuhku di dasbor agar tidak terbentur.

“Itu mobil Carlisle! Itu milik keluarga CuUen. Aku kenal mobil itu.

Jacob melihat fajar merekah di wajahku, dan sekujur tubuhnya berguncang hebat.

“Hei, tenanglah, Jake. Tidak apa-apa. Tidak ada bahaya, kaulihat? Rileks.”

“Yeah, tenang,” sahut Jacob dengan napas terengah-engah, menundukkan kepala dan memejamkan mata. Sementara ia berkonsentrasi agar tidak meledak menjadi serigala, aku menoleh ke belakang dan memandangi mobil hitam itu.

Itu hanya Carlisle, kataku pada diri sendiri. Jangan berharap lebih. Mungkin juga Esme… Hentikan sekarang juga, kataku pada diri sendiri. Hanya Carlisle. Itu saja sudah luar biasa. Lebih dari yang kuharapkan akan pernah terjadi lagi.

“Ada vampir di rumahmu,” desis Jacob. “Tapi kau malah ingin kembali?”

Aku meliriknya, dengan enggan mengalihkan mataku dari Mercedes itu—takut mobil itu bakal menghilang begitu aku melirik ke tempat lain.

“Tentu saja,” kataku, suaraku hampa karena terkejut mendengar pertanyaannya. Tentu saja aku ingin kembali.

Wajah Jacob mengeras saat aku memandanginya, membentuk topeng getir yang kusangka sudah lenyap untuk selamanya. Tepat sebelum topeng iu menutupi wajahnya, aku sempat menangkap kejang pengkhianatan berkelebat dari matanya. Kedua tangannya masih gemetar. Ia tampak sepuluh tahun lebih tua daripadaku.

Ia menarik napas dalam-dalam. “Kau yakin itu bukan tipuan?”

“Itu bukan tipuan. Itu Carlisle. Antar aku kembali!”

Guncangan hebat melanda bahunya yang lebar, tapi matanya datar dan tanpa emosi. “Tidak.”

“Jake, tidak apa-apa—”

“Tidak. Pulanglah sendiri, Bella.” Suara Jacob terdengar bagai tamparan – aku tersentak saat suaranya menghantamku. Dagunya mengejang dan mengendur.

“Begini, Bella,” sambungnya dengan suara sama kerasnya. “Aku tidak bisa kembali ke sana. Ada kesepakatan atau tidak, itu musuhku yang ada di dalam sana.”

“Tidak seperti itu—”

“Aku harus segera memberi tahu Sam. Ini mengubah semuanya. Kami tidak boleh tertangkap saat ada dalam teritorial mereka.”

“Jake, ini bukan perang!”

Jacob tak menggubris kata-kataku. Dia memasukkan gigi netral lalu melompat keluar dari pintu, membiarkan mesin tetap menyala.

“Bye, Bella,” serunya sambil menoleh sebentar. “Aku benar-benar berharap kau tidak mati.” Ia berlari kencang menembus kegelapan, tubuhnya bergetar sangat hebat hingga sosoknya terlihat kabur; ia sudah lenyap sebelum aku sempat membuka mulut untuk memanggilnya kembali.

Rasa bersalah membuatku terhenyak sebentar. Apa yang kulakukan pada Jacob?

Tapi rasa bersalah tak mampu menahanku terlalu lama.

Aku bergeser ke kursi sebelah dan memasukkan gigi. Kedua tanganku getaran, sama seperti tangan Jake tadi, dan aku harus berkonsentrasi penuh. Lalu dengan hati-hati aku memutar truk dan membawanya lagi ke rumahku.

Gelap gulita setelah aku mematikan lampu mobil. Charlie begitu tergesa-gesa berangkat hingga lupa menyalakan lampu teras. Sejenak aku sempat ragu, memandangi rumah itu, muram disaput bayang-bayang. Bagaimana kalau ternyata memang tipuan?

Kupandangi lagi mobil hitam itu, nyaris tak terlihat di gelap malam. Tidak. Aku kenal mobil itu.

Meski begitu, tetap saja tanganku gemetar, bahkan lebih hebat daripada sebelumnya, saat aku meraih kunci di atas pintu. Saat memegang kenop pintu untuk membuka kuncinya, kenop terputar dengan mudah dalam genggamanku. Kubiarkan pintu terbentang lebar. Ruang depan gelap pekat.

Aku ingin menyerukan sapaan, tapi tenggorokanku kelewat kering. Sepertinya aku tak mampu menarik napas.

Aku maju selangkah memasuki rumah dan meraba-raba mencari tombol lampu. Hitam pekat— seperti air hitam tadi… Mana sih tombol lampu?

Sama seperti air yang hitam tadi, dengan api Jingga menyala menjilat-jilat di atasnya, meski itu tidak mungkin. Tidak mungkin itu kobaran api, tapi kalau begitu apa…? Jari-jariku menyusuri dinding, masih mencari-cari, masih gemetar…

Tiba-tiba sesuatu yang dikatakan Jacob sore tadi bergema dalam pikiranku, akhirnya otakku bisa juga mencernanya… Dia kabur ke arah laut—lebih menguntungkan bagi para pengisap darah itu di sana. Itulah sebabnya aku langsung bergegas pulang—aku takut dia akan menduluiku berenang ke sini.

Tanganku mengejang saat masih mencari tombol lampu, sekujur tubuhku membeku kaku, saat aku sadar mengapa aku mengenali warna Jingga aneh di air itu.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.